• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMBATALAN NIKAH DAN PEMALSUAN IDENTITAS

B. Faktor dan Akibat Pemalsuan Identitas

Kompilasi Hukum Islam melalui Pasal 12 Ayat 2 telah mengantisipasi kekurangan hal yang tersebut dalam Pasal 27 ayat 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dikemukakan bahwa perkawinan dapat dibatalkan tidak hanya salah sangka mengenai diri suami atau istri tetapi juga termasuk penipuan. Penipuan tidak dilakukan oleh pihak pria saja, tetapi dapat juga dilakukan oleh pihak wanita. 34

Pihak pria biasanya penipuan dilakukan dalam bentuk pemalsuan identitas, misalnya pria tersebut sudah pernah kawin tetapi dikatakannya masih jejaka atau

33

Manan, Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 42.

34

Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqhu Madzahibil al-Khamasah, terjemahan Afif Muhammad, cet. Ke-1, (Jakarta: Basrie Press, 1994), h. 28.

bentuk perbuatan licik lainnya sehingga perkawinan tersebut dapat berlangsung. Penipuan yang dilakukan oleh pihak wanita biasanya menyembunyikan kekurangan yang ada pada dirinya, misalnya dikatakana tidak ada cacat fisik, tetapi kenyataannya tidak demikian. 35

Dalam hukum islam lembaga pembatalan perkawinan disebut dengan lembaga

Khiyar, yaitu keadaan yang dianggap merusak atau membatalkan akad nikah.

Lembaga khiyar ada dua bentuk, yaitu Khiyar Aib, karena salah seorang dari suami atau istri menderita sakit gila sebelum atau pada waktu perkawinan dilangsungkan atau salah satu pihak menderita penyakit berbahaya lainnya yang baru diketahui setelah perkawinan dilaksanakan, Tubb yaitu kemaluan pria telah putus dan lemah syahwatnya tidak mampu melangsungkan kewajibannya sebagai laki-laki, tumbuh daging atau tulang pada kemaluan istri sehingga tidak mungkin terjadinya persetubuhan. Kemudian Khiyar Isar, yaitu alasan pembatalan karena kemiskinan suami, istri dapat mengajukan pembatalan perkawinan kepada hakim apabila si suami tidak mampu memberikan kebutuhan rumah tangga sesuai dengan status sosial kehidupan mereka. 36

Penyakit gila yang diderita oleh suami atau istri akan membawa dampak negatif dalam pembinaan keluarga bahagia dan sejahtera. Bagaimana mungkin terbina suatu keluarga yang harmonis apabila salah satu pihak tidak normal

35

Ibid. h. 29.

36

َikirannya. Menurut Muhammad Jawad Muُhniyah bahwa Imam Malik, Syaَi‟i dan Hambali sepakat bahwa suami boleh membatalkan perkawinan akibat sakit gila yang diderita istrinya, demikian pula sebaliknya.37 Mereka berbeda pendapat dalam rinciannya, Syafii dan Hambali mengatakan bahwa karena penyakit gila, pembatalan perkawinan dapat ditetapkan keduanya, baik setelah bercampur atau belum, tanpa harus menunggu beberapa waktu lamanya. Sedangkan Imam Malik mensyaratkan adanya ancaman bahaya bagi yang waras apabila bergaul dengan orang yang gila. 38

Kemudian apabila gila itu terjadi setelah akad nikah, yang berhak atas pembatalan perkawinan hanya pihak istri saja, ini pun setelah diberi tenggang waktu satu tahun. Sedangkan Madzhab Imamiyah mengatakan bahwa suami tidak boleh membatalkan perkawinan karena istrinya kemungkinan menjatuhkan talak, sedangkan istri boleh mengajukan pembatalan karena suaminya gila, baik terjadi sebelum maupun sesudah akad atau setelah persetubuhan. Wanita berhak atas mahar penuh bila sudah dicampuri dan tidak berhak bila belum dicampuri. 39

Tentang masalah impotensi, para ahli hukum Islam seluruh madzhab sepakat bahwa istri dapat mengajukan pembatalan perkawinan. Perbedaan pendapat mereka dalam hal apabila suami impotent terhadap istrinya, sedangkan dengan wanita lain tidak, apakah istri dapat membatalkan perkawinannya, Imam Syafii, Hambali dan

37

Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqhu Madzahibil al-Khamasah, terjemahan Afif Muhammad, cet. Ke-1, (Jakarta: Basrie Press, 1994), h. 35.

38

Ibid. h. 37.

39

Maliki mengatakan bahwa apabila suami tidak mampu melaksanakan tugas seksualnya, maka istrinya berhak menjatuhkan pilihan berpisah, meskipun suami itu mampu melakukan persetubuhan dengan wanita yang lain. 40

Sedangkan di kalangan Madzhab Imamiyah mengatakan bahwa pilihan untuk membatalkan nikah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan alasan impotensi terhadap semua wanita, apabila impoten terjadi hanya pada istrinya, sedangkan dengan wanita lain tidak, maka istri tidak dapat mengajukan pembatalan perkawinannya pada hakim, karena seorang laki-laki yang dapat menggauli wanita tertentu jelas secara hakiki bukan impoten. Kalau tidak ada bukti, maka harus dilihat oleh seorang perempuan yang ditunjuk untuk memeriksa apakah istri itu masih perawan atau tidak, sedangkan kalau istri janda, maka suami diwajibkan untuk bersumpah sebab dialah yang menolak tuduhan istrinya itu. Kalau suami bersedia disumpah, maka tertolak tuduhan istrinya itu, jika suami menolak untuk bersumpah maka istrinya diminta untuk bersumpah dan menunda perkara selama satu tahun. Jika dalam kurun waktu satu tahun kondisinya masih seperti biasa, maka setelah satu tahun itu berlaku, hakim menawarkan pilihan kepadanya apakah akan melanjutkan ikatan perkawinannya atau membatalkan mereka. 41

Tentang penyakit lain, seperti sopak dan kusta, Imam Syaَi‟I, Imam Malik dan Hambali berpendapat bahwa kedua penyakit tersebut merupakan cacat bagi

40

Manan, Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 56.

41

kedua belah pihak. Kedua belah pihak boleh membatalkan perkawinan manakala setelah akad diketahui adanya penyakit tersebut pada pasangannya. Orang yang menderita penyakit tersebut para ahli hukum Islam mempersembahkan dengan orang berpenyakit gila. Sementara itu Imam Malik sebagaimana dikutip oleh Muhammad Jawad Mughniyah mengemukakan bahwa kaum wanita boleh membatalkan perkawinan manakala penyakit tersebut ditemukan sebelum dan sesudah akad nikah, sedangkan laki-laki boleh melakukan pembatalan perkawinan jika ditemukan penyakit kusta dalam diri wanita tersebut sebelum atau ketika akad. 42

Penyakit sopak jika ditemukan sebelum akad nikah, maka kedua belah pihak memiliki hak untuk membatalkan perkawinannnya. Tetapi jika sopak terjadi setelah perkawinan, maka hak tersebut hanya diperbolehkan kepada pihak wanita dan tidak untuk pihak laki-laki. Adapun penyakit sopak yang ringan yang ditemukan sesudah akad nikah, tidak berpengaruh terhadap keberlangsungan akad. Terhadap kedua penyakit ini hakim memberikan masa tenggang waktu setahun penuh untuk melakukan penyembuhannya, jika tidak dapat sembuh, maka pembatalan perkawinan baru dapat diajukan. 43

2. Akibat Hukum

Akibat hukum dari pemalsuan identitas yang terjadi bisa berupa pembatalan pernikahan yang berarti sebelumnya telah terjadi perkawinan, lalu dibatalkan karena

42

Ibid. h. 60. 43

Manan, Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 69.

adanya pelanggaran terhadap aturan-aturan tertentu. Ada kesan pembatalan perkawinan sebagai akibat hukum dari terjadinya pemalsuan identitas karena tidak berfungsinya pengawasan baik dari pihak keluarga atau pejabat berwenang sehingga perkawinan itu terlanjur terlaksana kendati setelah itu ditemukan pelanggaran terhadap undang-undang perkawinan atau hukum munakahat. 44

Jika ini terjadi, maka Pengadilan Agama dapat membatalkan perkawinan tersebut atas permohonan pihak-pihak yang berkepentingan. Adapun pihak-pihak yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan adalah para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami dan istri dan orang-orang yang memiliki kepentingan langsung terhadap kepentingan tersebut. 45

Suatu perkawinan dapat batal demi hukum dan bisa dibatalkan oleh pengadilan. Secara sederhana ada dua sebab terjadinya pembatalan perkawinan. Pertama, pelanggaran prosedur perkawinan. Kedua, pelanggaran terhadap materi perkawinan. Contoh pertama, misalnya tidak terpenuhinya syarat-syarata wali nikah, tidak dihadiri para saksi dan alasan prosedural lainnya. Sedangkan yang kedua contohnya adalah perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman, terjadi salah sangka mengenai calon suami dan istri. 46

Akibat hukum dari pemalsuan identitas akan berujung pada pembatalan perkawinan yang akan berdampak pada berpisahnya antara suami dan istri. Akibat 44 Ibid. h. 27. 45 Ibid. h. 29. 46 Ibid. h. 30.

putusnya perkawinan karena perceraian diungkapkan dalam Pasal 41 Undang undang Perkawinan, yaitu:

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak- anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya.

b. Bapak yang bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan serta biaya pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri. 47 Dalam Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) perihal sanksi akibat hukum dari adanya pemalsuan identitas adalah pembatalan perkawinan sehingga perkawinan tersebut menjadi tidak sah lagi, hal tersebut diatur pada Bagian 6 Buku I Burgerlijk

Wetboek tentang batalnya perkawinan. Suatu perkawinan dapat dibatalkan dengan

alasan-alasan sebagai berikut:

a. Karena adanya perkawinan rangkap (poligami)

b. Karena tidak adanya persetujuan yang bebas diantara para pihak

c. Karena salah satu pihak dianggap tidak cakap melakukan perbuatan hukum

47

Rusdiana, Kama dan Jaenal Arifin, Perbandingan Hukum Perdata, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), h. 44.

d. Karena salah satu pihak atau masing-masing pihak belum mencapai umur yang ditentukan menurut Undang-undang dan belum mendapat izin

e. Karena adanya larangan perkawinan

f. Karena perkawinan yang dilangsungkan akibat dari suatu hubungan zina g. Karena tidak adanya izin dari pihak yang berkepentingan, antara lain orang

tua dan wali. 48

Untuk melakukan pembatalan perkawinan harus dilakukan dengan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan tersebut. Pembatalan perkawinan tersebut baru terjadi setelah dinyatakan dalam putusan pengadilan yang telah in kracht van

gewijsde. Pasal 85 Burgerlijk Wetboek menegaskan batalkan suatu perkawinan hanya

dapat dinyatakan oleh hakim. 49

Setiap penduduk harus mencatatkan perkawinannya di Pegawai Kantor Catatan Sipil agar terhindar dari masalah-masalah yang menyangkut perceraian suatu perkawinan. Catatan sipil adalah catatan tentang peristiwa penting mengenai keperdataan seseorang seperti kelahiran, perkawinan, perceraian dan kematian. Dalam pencatatan ini, pemerintah menugaskan kepada kantor/lembaga pencatatan sipil dengan tujuan agar setiap warga masyarakat dapat memiliki bukti-bukti otentik

48

Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) dengan tambahan Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Pokok Agraria, Jakarta: Pradnya Paramitha. h. 46.

49

Rusdiana, Kama dan Jaenal Arifin, Perbandingan Hukum Perdata, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), h. 14.

tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sehubungan dengan dirinya, untuk memperlancar aktifitas pemerintah di bidang kependudukan, untuk mendapatkan data-data selengkap mungkin agar status warga masyarakat dapat diketahui. Petugas yang melakukan pencatatan adalah Pegawai Kantor Pencatatan Sipil yang merupakan sebuah lembaga. Ia mencatatnya dalam daftar-daftar/register-register tertentu untuk selanjutnya dibuat akta catatan sipil (akta kelahiran, akta perkawinan, akta perceraian dan akta kematian). 50

C. Hikmah Pembatalan Nikah

Dokumen terkait