RESORPSI AKAR PADA PERAWATAN ORTODONTI
3.2 Resorpsi Akar Eksternal
3.2.1 Mekanisme Resorpsi Akar Eksternal
3.2.2.1 Faktor Biologis
Faktor biologis meliputi faktor genetik, keadan gigi, kesehatan rongga mulut , kondisi sistemik, kebiasaan, jenis kelamin, dan usia pasien. Resorpsi akar pada pasien yang memiliki faktor resiko tinggi lima kali lebih besar dibandingkan pasien lain yang beresiko rendah, walaupun besar dan lama kekuatan diberikan sama (Gambar 11).2-3
Gambar11. Histologi apikal akar dari dua buah premolar dengan perawatan yang identik selama 3 minggu (a) pada pasien yang beresiko tinggi terhadap resorpsi (tanda panah) hampir mengenai pulpa.(b) Pada pasien yang beresiko rendah; permukaan akar utuh tanpa terjadi resorpsi1
3.2.2.1.1 Faktor Genetik
Interleukin-1 (IL -1) dan TNF merupakan sitokin pro-inflamasi yang menginduksi sintesis beberapa protein dan menyebabkan inflamasi akut ataupun kronis. Al-Qawasmi mengidentifikasi hubungan antara ketidakseimbangan gen IL-1B dengan resorpsi akar eksternal pada pasien yang dirawat ortodonti. Kandidat gen lain yang juga memicu terjadinya resorpsi akar eksternal adalah TNSALP, yang memegang peran penting dalam mineralisasi dan pembentukan sementum. Bila TNSALP tidak berfungsi dengan baik, formasi sementum aseluler menjadi rusak dan perbaikan akar terhambat. Ngan (2004) meneliti kontribusi genetik dalam terjadinya resorpsi akar pada perawatan ortodonti dan mendapati bahwa adanya hubungan keluarga terutama saudara kandung memperlihatkan hubungan genetik terhadap resorpsi akar.1-4,15,21,34
3.2.2.1.2 Keadaan Gigi
Tiap individu memiliki akar yang berbeda-beda. Lavender dan Malmgren (1988) membagi jenis-jenis bentuk akar menjadi lima kelompok, yaitu : normal, pendek, tumpul, bengkok, dan bentuk pipet (Gambar 12).15
Mirabella dan Artun menganggap bahwa bentuk akar merupakan faktor resiko resorpsi akar yang signifikan. Sameshima dan Sinclair melaporkan bahwa gigi dengan morfologi akar yang abnormal cenderung mengalami resorpsi akar bila dibandingkan dengan akar gigi yang normal. Pada bentuk akar yang tidak normal, bila kekuatan ortodonti difokuskan pada daerah tertentu di apeks gigi , maka resorpsi akar lebih mudah terjadi. Perawatan ortodonti pada gigi yang akarnya belum tumbuh sempurna juga dapat menyebabkan resorpsi akar.2,15,18
Selain morfologi, keadaan gigi yang pernah mengalami trauma, apabila dilakukan perawatan ortodonti, akan lebih beresiko mengalami resorpsi akar daripada
gigi yang tidak mengalami trauma. Pada tahun 1974, Wickwire mengungkapkan
bahwa gigi yang dirawat endodonti menyebabkan peningkatan resorpsi akar. Namun pada penelitian yang dilakukan Spurrier pada tahun 1990 dan Mirabella pada tahun 1995 menyebutkan bahwa gigi yang dirawat endodonti menurunkan insidens resorpsi akar.12
Menurut Lee dan Kjar, maloklusi yang berat, misalnya openbite juga memperparah resorpsi akar. Overjet yang besar menunjukkan tingkat resorpsi yang lebih besar pada gigi maksila, terutama gigi insisivus sentralis, insisivus lateralis dan
kaninus. Sedangkan overbite yang besar hanya menunjukkan resorpsi akar yang tinggi pada insisivus lateral maksila.1-3,12,15,17,19
Pada pasien yang baru saja melakukan transplantasi gigi , dokter gigi harus menunggu paling sedikit 3 bulan pasca transplantasi sebelum memberikan kekuatan pada gigi. Reaksi gigi yang ditransplantasi terhadap kekuatan ortodonti sama dengan gigi normal lainnya.42
Gambar 12. Klasifikasi bentuk akar oleh Lavender dan Malmgren (1988) A) Normal B) Pendek C) Tumpul D) Bengkok E) Bentuk pipet15
3.2.2.1.3 Kesehatan Rongga Mulut
Kehilangan tulang alveolar cenderung terjadi pada pasien dewasa, karena pasien dewasa lebih berpotensial mengalami penyakit periodontal seperti gingivitis dan periodontitis. Eliasson, dkk (1982) meneliti bahwa dengan tidak adanya plak sewaktu kekuatan ortodonti diberikan, maka kehilangan tulang akibat perawatan ortodonti tidak akan terjadi. Boyd, dkk (1989) membandingkan suatu kelompok orang dewasa yang semuanya mengalami periodontitis dengan suatu kelompok orang dewasa dan remaja yang mempunyai periodontium sehat. Kelompok yang mengalami
periodontitis menjalani terapi periodontal sebelum di beri penanganan orthodonti selam 3 bulan. Lalu kedua group diberi penanganan ortodonti. Hasilnya tidak ada perbedaan berarti pada kedua kelompok itu. Hal ini menunjukkan bahwa perawatan ortodonti aman dilakukan pada pasien yang memiliki jaringan periodontal yang sehat walaupun kehilangan tulang alveolar. Resorpsi akar sebanyak sepertiga apikal tidak dapat menyebabkan gigi goyang, kecuali resorpsi akar diikuti dengan kehilangan tulang alveolar. Oleh karena itu, selama perawatan ortodonti, kesehatan jaringan pendukung gigi harus diperhatikan.1-3,20,22
3.2.2.1.4 Kondisi Sistemik
Penyakit-penyakit sistemik seperti diabetes, arthritis, dan asma serta malnutrisi merupakan faktor predisposisi yang mempercepat terjadinya resorpsi akar pada perawatan ortodonti. Pasien asma kronis baik yang mendapatkan perawatan maupun tidak, memiliki resiko yang tinggi terhadap resorpsi akar, yang dapat dilihat dari penumpulan drastis pada akar molar maksila. Hal ini dapat terjadi karena dekatnya akar dengan sinus maksila yang terinflamasi dan atau tanpa mediator inflamasi pada pasien-pasien ini. Pasien yang alergi, misalnya terhadap rumput, serbuk bunga, bulu binatang, nikel, dan makanan juga rentan terhadap resorpsi akar. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Owman-Moll dan Kurol (2000) pada pasien yang mengalami resorpsi akar , kebanyakan alergi terhadap serbuk bunga dan bulu binatang.1-3,21
3.2.2.1.5 Kebiasaan
Kebiasaan buruk seperti menggigit kuku merupakan salah satu faktor predisposisi resorpsi akar pada perawatan ortodonti. Penelitian yang dilakukan pada 63 pasien yang terdiri dari kelompuk uji dan kelompok kontrol dimana pasien memiliki kebiasaan menggigit kuku menunjukkan panjang akar gigi insisivus sentralis dan lateralis rahang atas dan bawah berkurang. Selain itu, kelompok yang diuji juga menunjukkan kehilangan crest alveolar yang signifikan pada regio anterior. Namun tidak ada perbedaan panjang mahkota yang signifikan antara kelompok yang diuji dengan kelompok kontrol. Kebiasaan lain, seperti bruksism atau adanya traumatik oklusi juga merupakan faktor predisposisi dari resorpsi akar.1-3,20,21
3.2.2.1.6 Jenis Kelamin
Penelitian yang dilakukan Baumrind, dkk (1996) pada sekelompok pasien dewasa yang melakukan perawatan ortodonti menunjukkan prevalensi resorpsi akar yang lebih besar pada pria daripada wanita. Sedangkan Kjar (1995) menemukan prevalensi yang lebih besar pada wanita daripada pria. Kjar juga menemukan tidak ada perbedaan resorpsi akar signifikan antara laki-laki dan perempuan yang pernah melakukan perawatan endodonti.1-3,21,23
3.2.2.1.7 Usia
Semua jaringan yang terlibat dalam proses resorpsi menunjukkan perubahan seiring bertambahnya usia. Membran periodontal menjadi aplastik dan kurang vaskular, tulang menjadi lebih padat, avaskular dan aplastik, serta pembentukan
kolagen lebih lambat. Perubahan ini dapat dilihat dari tingkat kerentanan yang lebih besar pada orang dewasa.1-3,21