• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI TOKOH UTAMA DALAM

3.1 Pembentukan Kepribadian

3.1.1 Pembentukan Kepribadian Mon

3.1.1.2 Faktor Diri

Kepribadian Mon dalam menentukan arah hidupnya yang berdasarkan dirinya sendiri dilandaskan pada segala pikiran, penilaian, keyakinan, sikap, dan perasaannya. Hal ini terlihat pada saat Mon bekerja keras supaya mendapatkan uang agar tidak hidup miskin. Sikap kerja kerasnya untuk mewujudkan sebuah obsesinya merupakan sikap hidup Mon.

(142) “Yang kutahu adalah aku harus memiliki uang. aku harus menjual polis sebanyak mungkin supaya mendapat komisi yang menggunung. Aku memang tidak serakah ingin kaya raya tetapi aku bosan miskin.” (Fang, 2007: 54)

(143) “Coba lihat sekarang, rumahku tidak punya kursi, saluran air, dan telepon sudah diputus karena menunggak, lalu apakah aku harus kembali hidup primitif kalau aliran listrik juga diputus?” (Fang, 2007: 54)

Meski Mon sangat menginginkan kekayaan untuk hidup yang lebih baik, namun Mon tidak mau memiliki kekayaan dengan jalan yang pintas. Mon memiliki harga diri yang tinggi dan tidak serakah, terlihat ketika Mon menolak Pak Lolok yang ingin menjadikannya istri kedua.

(144) Mon tidak mau menjadi selir Pak Lolok. Selir hanyalah perempuan nomor dua. Walaupun selir pilihan, tetap saja bukan perempuan nomor satu. Dan tidak pernah ada dalam kamus hidup Mon menjadi orang (perempuan) nomor dua. Ia harus selalu nomor satu. Ia adalah ratu.

Memang Pak Lolok kaya raya. Pak Lolok bahkan lebih kaya dari pada tuan Tumini. Mon tahu berapa ratus juta yang dihamburkan Pak Lolok di atas meja judi. Berapa pun uangnya habis, kantongnya tidak pernah kering. (Fang, 2007: 49)

(145) Mon tidak merasa seserakah Tumini yang hanya dengan modal telur bisa menjadi nyonya. Ia tidak berambisi menimbun berlian seperti nyonya rumah.” (Fang, 2007: 47)

(146) “Yang kutahu adalah aku harus memiliki uang. Aku harus menjual polis sebanyak mungkin supaya mendapat komisi yang menggunung. Aku memang tidak serakah ingin kaya raya tetapi aku bosan miskin.” (Fang, 2007: 54)

Menurut Mon daripada ia menjadi istri Pak Lolok lebih baik ia meminjam uang untuk membeli Tanda Tanya. Karena rasa percaya dirinya sebagai seorang ratu ia bisa meluluhkan hati Pak Lolok untuk meminjamkan uang dan sesuai dengan perkiraannya Mon bisa mengganti uang yang telah dipinjamkan Pak Lolok.

(147) Senyummu memang cantik...meluluhkan hati orang... Kamu memang secantik ratu. Termasuk meluluhkan hati Pak Lolok agar memberikan pinjaman padanya untuk membeli Tanda Tanya. Ia pergunakan uangnya itu untuk membayar uang mukanya. Ia ingin rumah itu menjadi miliknya, bukan sekedar tanda tanya lagi. Menurut perhitungannya, gemerincing uang akan terus mengalir ke dalam kantongnya. Ia pasti sanggup membayar cicilan rumah itu. (Fang, 2007: 52)

Agar bisa mengganti uang Pak Lolok dan membayar cicilan rumah, maka Mon berpikir tidak boleh kehabisan tenaga. Ini dimaksudkan agar Mon selalu bisa menghasilkan wajah dan senyum cantiknya supaya ia terus bisa memperoleh pendapatan.

(148) Maka Mon bukan saja menjadi gasing yang berputar, ia mulai menjadi mesin pencetak wajah. Ia tidak boleh kehabisan persediaan wajah dan senyum. Untuk itu ia tidak boleh kehabisan tenaga. Maka ia memakan semua yang bisa dimakan. Setiap jam ia makan. Makan apa saja. (Fang, 2007: 56)

Namun lama-kelamaan Mon merasa lelah dan muak karena melihat wajah cantik yang mekanik. Wajah cantik yang bukan dari hati namun terbentuk karena ada maksud yang terselubung. Ia merasa wajah-wajah cantik yang ia buat merupakan wajah-wajah palsu dan wajah yang bukan dirinya.

(149) Mon muak harus terus tersenyum dan menampilkan wajah cantik, karena senyumnya bukan senyum si cantik yang keluar dari dalam hati. Senyumnya adalah senyum mekanik. Ada tombol-tombol yang disetel secara otomatis kepada siapa ia harus melebarkan jarak kedua bibirnya. Ia tersenyum hanya karena membutuhkan uang dari orang-orang yang diberikan senyuman.” (Fang, 2007: 54)

(150) Cerminnya memantulkan si busuk yang dieraminya sudah menetas menjadi ulat yang mengorek-ngorek semua liang dan belulang. Tidak tampak wajah ratu anggun cemerlang di sana. Yang membayang adalah wajah hamba sahaya. Pucat, letih, lesu tanpa gairah. (Fang, 2007: 58)

(151) Karena ia sudah benci melihat wajah-wajah di cerminnya. Ia tidak mau melihat wajah-wajah cantik lagi yang memantul dari sana. Ia tahu bahwa cermin ternyata penipu nomor satu. Mon tidak yakin lagi bahwa wajah yang memantul dari cermin itu adalah wajahnya. (Fang, 2007: 59)

Mon harus rela kehilangan pekerjaannya di asuransi karena Mon merasa lelah. Namun bukannya Mon sedih karena kehilangan pekerjaannya, Mon justru senang karena ia sudah tidak lagi memakai wajah-wajah palsu yang selalu Mon pakai. Mon pun ingin kembali menjalani hidup yang biasa tanpa tekanan darimanapun. Mon menginginkan untuk hidup tenang tanpa gangguan. Dari kejadian ini, Mon menjadi seorang yang pasrah dalam menjalani kehidupannya.

(152) Ia sudah tidak mau menjadi ratu. Ia pusing menjadi gasing. Ia ingin berhenti.

Tepatnya diberhentikan karena gasingnya sudah tidak mampu berputar lagi, karena persediaan wajah di lacinya sudah habis, karena ia bukan ratu lagi.

Tetapi itu bukan masalah bagi Mon. Ia memang ingin membuang kartu ratunya!

Karena ia sudah benci melihat wajah-wajahnya di cerminnya. Ia tidak mau melihat wajah-wajah cantik lagi yang memantul dari sana.

Karena ia sudah benci melihat wajah-wajah di cerminnya. Ia tidak mau lagi melihat wajah-wajah cantik lagi yang memantul dari sana. (Fang, 2007: 59) (153) Ia puas! Ia tidak perlu lagi menjadi ratu.

Ia tidak usah menjadi gasing. Ia tidak harus mencetak wajah dan senyuman.

Ia melengos tidak menoleh lagi.

Ia membangun mimpi baru di atas keping beling. (Fang, 2007: 60)

(154) Ia ingin tidur nyenyak di kasur yang memberikan mimpi indah. Bangun ketika matahari menghujani kehangatan dari jendela Tanda Tanya. Lalu membiaran angin yang menggelitik pipinya ketika ia menikmati secangkir teh tawar hangat dan sepotong pisang goreng yang renyah. Mon ingin duduk di beranda menyulam malam menjadi satu kenangan yang tak cuma sepenggal. Membuat gambar dari benang wol yang disilang-silangkan di atas kain berlubang. Ia ingin membuat gambar indah dihidupnya yang berlubang-lubang. (Fang, 2007: 62)

(155) Ia bosan gelap. Ia ingin terang.

Ia enggan malam. Ia rindu siang. (Fang, 2007: 63)

Sebelum Mon menikmati hidupnya yang tidak lagi penuh tekanan. Mon harus menghadapi Buang yang tidak lagi memberikan rasa nyaman kepadanya. Mon merasa hidupnya tidak lagi seindah dulu maka Mon ingin meninggalkan Buang, tetapi Buang tidak mau. Mon dan Buang pun bertengkar hebat setelah Buang memaksa Mon untuk melayani nafsunya. Pertengkaran ini membuat Mon kehilangan jari-jari tangannya. Namun bagi Mon itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kedamaian dan ketenangan yang diperolehnya nanti setelah Buang meninggalkannya.

(156) Mon memasukkan kelima jarinya ke dalam rongga mulut bajingan itu dan mengobok-oboknya. Ia menarik lidahnya. Ia ingin lidah Buang putus. Kali ini Buang tidak tinggal diam. Ia berusaha menarik tangan Mon keluar dari mulutnya. Tetapi tangan Mon semakin menyodok-nyodok ke dalam. Tidak pikir panjang, maka Buang mengatupkan gerahamnya kuat-kuat. Ia menggigit kelima jari Mon yang ada di dalam mulutnya. Ia mau mengunyah jari-jari itu seperti mengunyah kerupuk. Mon menjerit melolong kesakitan. Ia berusaha meloloskan tangannya dari gigitan Buang. Tetapi gigitan Buang terlalu kuat. Darah mengucur meleleh di mulut Buang. Rasa sakit yang luar biasa membuat Mon juga berusaha menarik jemarinya untuk lolos dari kunyahan Buang.

Mereka tarik-menarik. Mereka saling adu kuat. Mon hendak memutuskan lidah Buang. Buang hendak memutuskan jari-jari Mon. Dan cressss....!!! Tiga jari Mon putus di dalam mulut Buang bertepatan dengan putusnya lidah Buang dari tempatnya. (Fang, 2007: 64)

Setelah lepas dari pekerjaan dan Buang, Mon merasa menikmati hidupnya yang berkelana mengikuti kakinya. Mon pergi dari satu terminal ke terminal lainnya, Mon juga pergi ke mall, kafe, hotel-hotel berbintang, bandara, dan lain-lain untuk memperhatikan dan mempelajari apa yang dapat dipelajarinya. Ia pun mendapatkan pelajaran untuk selalu pasrah dalam menjalani kehidupan tanpa harus berpura-pura penuh kemunafikan.

(157) Ia pergi naik-turun angkot dari satu terminal ke terminal lain mencangkung melihat banyak orang yang berseliweran. Bau pesing jamban umum menguap. Puntung rokok berterbangan. Ludah berceceran. Kuku hitam berdaki. Kulit kusam berkerak. Gigi-geligi berselip nikotin.

Sepulangnya ia selalu bercerita bagaimana orang-orang yang ditemuinya tadi adalah orang-orang yang legawa dengan nasibnya. Walaupun mereka cuma sopir angkot, kernet, penjual tisu, penjual koran dan tidak pernah punya mimpi besok akan seperti apa, tetapi orang-orang itu selalu tertawa lebar. (Fang, 2007: 117)

(158) Lalu Mon juga bercerita tentang orang-orang yang ditemuinya di plaza, mal, kafe, hotel-hotel berbintang, bandara, bahwa banyak orang berdasi, berkacamata, berpakaian trendi dan wangi. Ada petugas yang membuang puntung rokok di tong sampah, membersihkan lantai sehingga tidak ada bercak ludah, menyemprotkan wewangian di toilet. Orang-orang itu berjabat tangan, saling mencium pipi, saling memeluk dan juga tertawa lebar.

Mon menyambung ceritanya ketika Mon mengintip jantung mereka ternyata berdebar-debar kencang seperti menunggu kartu yang hendak dibuka di atas meja judi. Sel-sel di kepala mereka seperti aliran listrik yang saling menyetrum bila sudah berbicara mengenai uang. Satu sama lain tidak pernah mau kalah atau mengalah. Masing-masing memakai topeng di wajah sementara menyembunyikan belati di punggung. (Fang, 2007: 118) Dalam pencariannya akan hidup, Mon pun bertemu dengan Tongki dan berguru padanya. Selama tinggal dengan Tongki, Mon banyak mendapatkan ilmu darinya, namun sayang ilmu itu tidak dapat Mon lakukan karena Mon merasa bahwa ilmu yang didapatnya tidak sesuai dengan hati nuraninya. Terlihat ketika setiap kali Mon mempraktekkan ilmunya, Mon justru melakukan sebaliknya. Namun, anehnya Mon justru menikmati kenikmatan batin yang didapatnya ketika Mon melakukan hal yang berkebalikan dari yang diajarkan oleh Tongki.

(159) Semakin belajar kepada Tongki, Mon semakin tahu bagaimana cara untuk memperkaya diri. Rupanya itu yang dilakukan Tongki selama ini. Tetapi semakin Mon tahu, entah kenapa Mon semakin tidak bisa mempraktikkan ilmu yang didapatnya dari Tongki. Semakin mencoba ilmu itu batinnya semakin menggeliat. (Fang, 2007: 179)

(160) Alih-alih mengambil barang orang lain, tangannya malah mengembalikannya. Ia memutuskan menikmati barangnya sejumlah yang ada. Tak mengapa, biar sedikit dan buruk tetapi miliknya sendiri. (Fang, 2007: 179)

(161) Ketika semua selesai makan, dilihatnya orang-orang berebut mengeluarkan uang untuk membayar makanan dan minuman. Mereka saling mendahului untuk membayar satu sama lain. Cuma ia yang berdiam diri. Setelah usai, ia melihat orang-orang itu bersalaman denngan senyum lebar. Mereka membuat jalinan persahabatan dengan ikhlas. Dan semua memandangnya dengan pandangan yang tidak bisa dimengertinya. Mon merasa pipinya panas.

Mon tidak sanggup melakukan itu. Maka di lain waktu, ia juga gantian membayar makanan dan minuman. Ternyata kegembiraan juga mengalir di hatinya ketika ia bisa ikut bercerita tertawa sambil menikmati kudapan bersama-sama. Kehangatan itu ada ketika bisa saling berbagi. (Fang, 2007: 179)

(162) Dan matanya melihat orang-orang tersenyum kepadanya. Orang-orang yang menerima pemberian dengan sumringah dan mata berbinar. Selain itu ternyata dengan memberi ia tidak menjadi kekurangan malah menjadi berkelimpahan. Karena ketika ia memberi kue kepada orang lain ternyata ada orang lain yang memberikan pizza kepadanya. Saat ia menyerahkan setangkai kembang, di saat lain ada yang mengalungkan seuntai mutiara untuknya. (Fang, 2007: 181)

Faktor diri sangat mempengaruhi kepribadian tokoh Mon. Tokoh Mon memiliki sikap hidup untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dengan cara bekerja keras (kutipan 142-143). Tokoh Mon juga memiliki sikap hidup yang tidak serakah meskipun menginginkan kekayaan (kutipan 144-146). berwajah seperti seorang ratu membuat tokoh Mon memiliki rasa percaya diri tinggi (kutipan 147-148). Namun, rasa lelah dan jenuh membuat keyakinan dan kepercayaan diri tokoh Mon hilang (kutipan 149-151), meskipun kehilangan pekerjaan tidak membuat tokoh Mon patah semangat, namun justru membuat tokoh Mon senang dan memulai hidupnya dari awal lagi (kutipan 152-155), dan lebih bersikap legawa atau berpasrah diri dalam menerima jalan hidupnya (kutipan 151-158). Selain itu, pada saat tokoh Mon mempelajari ilmu yang diajarkan Tongki, tokoh Mon tidak melakukannya karena menyadari hal itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. (kutipan 159-162).

Berdasarkan analisis di atas penulis menyimpulkan bahwa pembentukan kepribadian tokoh Mon yang berdasarkan pada faktor lingkungan dan faktor diri membentuk kepribadian tokoh Mon menjadi seorang pekerja keras yang berkeinginan kuat. Namun, kepribadian tokoh Mon berubah menjadi seseorang yang bersikap legawa atau berpasrah diri dalam menjalankan hidupnya sesuai dengan hati nuraninya.

3.1.2 Pembentukan Kepribadian Bulan

Dokumen terkait