HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal
5.1.2 Faktor Eksternal Kunci
Berdasarkan hasil lingkungan eksternal yang telah diidentifikasi, didapatkan faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman pemasaran perusahaan. Faktor-faktor eksternal tersebut diperoleh dari penguraian secara detail dari enam Faktor-faktor internal yang kemudian disusun dalam Matriks EFE untuk mengetahui strategi apa yang cocok untuk digunakan sesuai dengan kondisi perusahaan. Hasil identifikasi faktor eksternal kunci PT Evia Maju Bersama adalah sebagai berikut.
A. Peluang
Faktor peluang berasal dari eksternal perusahaan. Faktor-faktor peluang dalam pemasaran produk Abon Cabe Evia adalah sebagai berikut.
1. Pertumbuhan Konsumsi Cabai Per Kapita Meningkat Sebesar 4,11% pada Tahun 2020
Konsumsi cabai mengalami peningkatan pada tahun 2020. Hal ini disebabkan karena kebutuhan sehingga tidak bisa terhindarkan, selain itu juga dikarenakan
88 industri pengolahan cabai yang berkembang (Arfani dkk, 2013:6). Pertumbuhan konsumsi cabai per kapita dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Pertumbuhan Konsumsi Cabai Per Kapita Tahun 2018-2020
Tahun Konsumsi (kg/kap) Pertumbuhan (%)
2018 5,72
2019 5,14 -10,14
2020 5,35 4,11
Sumber : Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, (diolah)
Berdasarkan Tabel 12, dapat diketahui bahwa pertumbuhan konsumsi cabai pada tahun 2020 mengalami peningkatan dari tahun 2019 yaitu sebesar 4,11%. Hal tersebut menjadi peluang bagi pemasaran produk, sebagaimana bahan baku produk Abon Cabe Evia yaitu berupa cabai yang sudah diolah, karena dapat menjual produk untuk konsumen lebih banyak.
2. PDRB DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Meningkat dari Tahun 2017-2019
Pendapatan pada Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten meningkat pada tahun 2017-2019. Hal ini dipengaruhi oleh level pendidikan, potensi pengalaman, jenis kelamin, domisili, dan jenis pekerjaan (Pertiwi, 2015). PDRB Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Tahun 2017-2019 dapat dilihat pada Tabel 13.
89 Tabel 13. PDRB Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Tahun 2017-2019
Provinsi 2017 2018 2019
DKI Jakarta 1.635.359,15 1.735.208,29 1.836.198,49 Jawa Barat 1.349.822,50 1.429.171,09 1.504.776,35
Banten 32.947,60 34.183,75 35.331,45
Sumber : BPS DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten
Berdasarkan Tabel 13, dapat diketahui bahwa pendapatan untuk Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Tahun 2017-2019. Hal ini menjadi peluang bagi pemasaran produk, karena dengan pendapatan yang meningkat, maka berpotensi untuk meningkatkan daya beli produk Abon Cabe Evia.
3. Jumlah Penduduk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Meningkat Pada Tahun 2020
Jumlah penduduk di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten meningkat dari tahun 2010 ke tahun 2020. Hal ini disebabkan karena determinan demografi, seperti kelahiran, kematian, dan migrasi yang menjadi faktor utama tingginya jumlah penduduk (Suartha, 2016:8). Jumlah penduduk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Jumlah Penduduk DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten 2010 dan 2020
Provinsi 2010 2020
DKI Jakarta 9.607.787 10.562.088
Jawa Barat 43.053.730 48.274.160
Banten 10.632.166 11.904.562
Sumber : BPS DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten
90 Berdasarkan Tabel 14, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten meningkat pada tahun 2020. Hal tersebut menjadi peluang bagi pemasaran produk, karena dengan jumlah penduduk yang bertambah dapat memberi potensi yaitu bertambahnya konsumen produk Abon Cabe Evia.
4. Cita Rasa Makanan Pedas Disukai Oleh Masyarakat
Cita rasa pedas disukai oleh masyarakat. Manusia memakan makanan pedas karena menyukai rasa terbakar yang diakibatkan oleh makan pedas. Cabai menghasilkan senyawa capsaicin yang merupakan zat pemicu rasa pedas. Apabila cabai menghasilkan senyawa capsaicin, otak manusia diperdaya untuk mempercayai bahwa lidah benar-benar terbakar, namun sebenarnya tidak ada kerusakan jaringan yang terjadi. Menurut Rozin (1982:20), hubungan manusia dengan cabai merupakan situasi dimana manusia merasakan sebuah sensasi ekstrem tanpa harus merasa benar-benar terluka. Dengan demikian, cita rasa makanan pedas yang disukai oleh masyarakat dapat berpeluang untuk produk abon cabe evia juga disukai masyarakat.
5. Adanya Program Pengembangan UKM dari Pemerintah
UKM merupakan salah satu jenis usaha perorangan yang bisa bertahan dengan bantuan nyata dari pemerintah. Salah satu hal yang menjadi peluang bagi pemasaran produk abon cabe yaitu adanya program pengembangan UKM dari pemerintah. Perusahaan telah mengikuti pelatihan/sosialisasi yang
91 diselenggarakan oleh Pusdiklat Kementerian Perdagangan mengenai manajemen dan teknik pemasaran, seperti teknik dasar pemasaran, strategi harga, dan manajemen keuangan. Selain itu, perusahaan juga menerima dukungan dari pemerintah Kabupaten Bogor dalam hal promosi produk, seperti pameran dan bazar. Dengan demikian, hal ini dapat membuat para pelaku usaha mendapat wawasan baru yang akan diterapkan. Sebagaimana berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menyebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menumbuhkan Iklim Usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi aspek promosi dagang yang ditujukan untuk meningkatkan promosi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang pemasaran yang dilakukan dengan cara melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran; menyebarluaskan informasi pasar; meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pemasaran; menyediakan sarana pemasaran yang meliputi penyelenggaraan uji coba pasar, lembaga pemasaran, penyediaan rumah dagang, dan promosi Usaha Mikro dan Kecil;
memberikan dukungan promosi produk, jaringan pemasaran, dan distribusi; serta menyediakan tenaga konsultan profesional dalam bidang pemasaran.
6. Kebijakan Sertifikasi Kehalalan Produk dan Keamanan Produk Makanan dan Minuman
Kebijakan pemerintah terkait sertifikasi halal dan keamanan produk makanan dan minuman menjadi peluang bagi pemasaran produk. Kebijakan tersebut
92 membuat para pelaku usaha wajib memiliki sertifikat halal dan sertifikat produksi pangan. Hal ini berdasarkan UU RI No.33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal pasal 4 menyebutkan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah No.28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan pasal 43 menyebutkan bahwa pangan olahan yang diproduksi oleh industry rumah tangga wajib memiliki Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Kebijakan pemerintah tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjamin kehalalan dan keamanan produk yang akan dipasarkan. Dengan demikian, hal tersebut membuat konsumen lebih percaya terhadap produk yang akan dipasarkan karena sudah terjamin kehalalan dan keamanannya.
7. Perkembangan Penggunaan Teknologi Informasi dalam Pemasaran Produk
Perkembangan teknologi informasi dapat menjadi peluang dalam pemasaran produk. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang digunakan dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dan mempercepat usaha pemasaran dan promosi produk. Selain itu dengan memanfaatkan teknologi informasi juga dapat menjangkau konsumen lebih luas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Febriyantoro dan Arisandi (2018:74) bahwa penggunaan digital marketing membantu pelaku usaha dalam menginformasikan dan berinteraksi secara langsung dengan konsumen. Penggunaan digital marketing dapat memperluas pangsa pasar, meningkatkan awareness bagi konsumen karena pelaku usaha rutin memperbarui
93 informasi mengenai produk setiap hari sekali serta meningkatkan penjualan karena beberapa UKM juga berkolaborasi dengan beberapa marketplace.
B. Ancaman
Faktor ancaman berasal dari eksternal perusahaan. Faktor-faktor ancaman dalam pemasaran produk Abon Cabe Evia adalah sebagai berikut.
1. Harga Bahan Baku Cabai Merah Keriting dan Cabai Rawit di Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Anyar Bogor dan Tangerang Fluktuatif
Komoditas cabai sebagai bahan baku produk Abon cabe Evia menjadi salah satu penyumbang inflasi pada tahun 2020 yang menyebabkan harga cabai menjadi tinggi (Antara News, 2021). Tingginya harga cabai menyebabkan konsumsi cabai lebih tinggi. Harga cabai merah keriting dan rawit merah tahun 2018-2020 dapat dilihat pada Tabel 15 berikut.
Tabel 15. Harga Cabai Merah Keriting dan Rawit Merah Tahun 2017-2020
Tahun Harga Cabai (Rp) Harga Cabai (Rp) Harga Cabai (Rp) Merah Sumber : Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional
Berdasarkan Tabel 15, dapat diketahui bahwa harga cabai merah keriting dan cabai rawit merah sebagai bahan baku utama produk Abon Cabe Evia fluktuatif dan
94 cenderung mengalami kenaikan. Apabila harga bahan baku cabai fluktuatif maka harga menjadi tidak stabil, yang berarti daya tawar pemasok tinggi terhadap industri, karena pemasok mampu mempengaruhi industri melalui kemampuannya menaikkan harga. Hal ini menjadi ancaman bagi pemasaran produk, sehingga menyebabkan perusahaan tidak dapat memasarkan produk abon cabe dengan optimal karena produksi produknya tidak stabil akan berpengaruh terhadap daya beli serta penjualan.
2. Perubahan Cuaca Mengakibatkan Pasokan Bahan Baku Cabai Berkurang
Perubahan cuaca dapat mengakibatkan pasokan bahan baku cabai berkurang.
Cabai merupakan bahan baku utama produk Abon Cabe Evia, yaitu cabai merah keriting dan cabai rawit merah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Soekartawi (1995) dalam Nauly (2016) bahwa pasokan cabai biasanya berkurang pada musim hujan karena sebagian besar cabai yang ditanam di lahan sawah berkompetisi dengan padi. Berkurangnya pasokan cabai menyebabkan lonjakan pada harga cabai, sementara permintaan konstan setiap hari dan bahkan meningkat pada musim tertentu (Nauly, 2016:62). Farid dan Subekti (2012) dalam Nauly (2016) menyatakan bahwa fluktuasi harga cabai terjadi karena produksi cabai bersifat musiman, faktor hujan, biaya produksi dan panjangnya saluran distribusi. Dengan demikian, hal ini menjadi ancaman bagi pemasaran produk karena perusahaan tidak dapat memasarkan produk abon cabe dengan optimal karena produksi produknya tidak stabil sebab pasokan bahan baku cabai berkurang.
95 3. Penerapan Pajak Penghasilan Sebesar 0,5% Bagi Badan Berbentuk Perseroan
Terbatas Dengan Omzet Kurang Dari Rp.4,8M
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2018 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu, menyebutkan bahwa tarif pajak penghasilan yang bersifat final sebesar 0,5% bagi badan berbentuk perseroan terbatas yang menerima atau memperoleh penghasilan tidak melebihi Rp.4,8 milyar dalam satu tahun. Kebijakan pemerintah tersebut menjadi ancaman untuk pemasaran perusahaan. Hal ini dikarenakan penerapan pajak tidak melihat realita, seperti pendapatan yang tidak stabil dan cenderung sedikit namun harus tetap menyetorkan pajak dengan jumlah pajak yang tetap bahkan cenderung bertambah.
4. Pembatasan Sosial Kegiatan Masyarakat Pada Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Akibat Pandemi Covid-19
Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) disebutkan bahwa pemberlakuan pembatasan kegiatan dilakukan di seluruh provinsi di wilayah Pulau Jawa dan Bali dengan pertimbangan bahwa pada wilayah tersebut memenuhi unsur tingkat kematian diatas rata-rata tingkat kematian nasional, tingkat kesembuhan dibawah rata-rata tingkat kesembuhan nasional, tingkat kasus aktif diatas rata-rata tingkat kasus aktif nasional, dan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit untuk Intensive Care Unit (ICU) dan ruang isolasi diatas 70%. Dalam instruksi tersebut disebutkan pula agar
96 berupaya untuk mencegah dan menghindari kerumunan, baik dengan cara persuasif kepada semua pihak maupun melalui cara penegakan hukum dengan melibatkan aparat keamanan. Dengan adanya pembatasan kegiatan tersebut, dapat menjadi ancaman bagi pemasaran produk karena dapat membatasi ruang gerak masyarakat untuk membeli produk Abon Cabe Evia, selain itu dapat menghambat kegiatan promosi dan pemasaran yang dilakukan
5. Adanya Pesaing Baik Pesaing Lama Maupun Pendatang Baru dalam Industri Cabai Olahan
Terdapat beberapa pesaing maupun pendatang baru dalam industri olahan cabai yang berada di wilayah pemasaran perusahaan. Pesaing tersebut menawarkan produk sejenis dengan harga abon cabai yang lebih mahal dan beragam. Dengan berkembangnya produk abon cabai yang beredar di wilayah pemasaran perusahaan, maka semakin banyak produk sejenis yang menjadi pilihan bagi konsumen. Hal ini berdampak pada penjualan produk Abon Cabe Evia karena para pesaing pasti memiliki strategi untuk mempertahankan posisi pasar dan menguasai pasar, sebagaimana yang dinyatakan oleh David (2016:59) bahwa perusahaan yang berada di industri akan mempertahankan posisi mereka dengan mengambil tindakan untuk menghalangi pendatang baru. Dengan demikian, hal ini dapat mengancam pemasaran produk dan dapat mempengaruhi penjualan.
Berdasarkan proses identifikasi faktor eksternal yang dilakukan melalui kuesioner pertama dan wawancara kepada narasumber, didapatkan pengelompokan faktor eksternal kunci yang menghasilkan peluang dan ancaman. Hasil
97 pengelompokan tersebut dianalisis menggunakan kuesioner kedua untuk dihitung pembobotan dan penentuan rating. Pemberian bobot diperoleh menggunakan faktor kepentingan (paired comparison), kemudian penentuan rating diperoleh dengan memberikan peringkat. Hasil dari rata-rata kuesioner bobot dan rating berdasarkan keempat narasumber dimasukkan ke dalam matriks EFE.
Perhitungan pada matriks EFE dilakukan terhadap faktor-faktor eksternal PT Evia Maju Bersama yang dapat menjadi peluang dan ancaman bagi perusahaan.
Matriks EFE digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi lingkungan eksternal pemasaran perusahaan. Pada matriks tersebut, dilakukan pengolahan data berdasarkan bobot dan rating dari faktor internal kunci yang kemudian akan menjadi penentu posisi perusahaan. Hasil perhitungan matriks EFE yang telah diisi oleh keempat narasumber dapat dilihat pada Tabel 16.
98 Tabel 16. Matriks EFE PT Evia Maju Bersama
No Faktor Eksternal Kunci Bobot Rating Skor
Peluang
1 Pertumbuhan konsumsi cabai per kapita meningkat
sebesar 4,11% pada tahun 2020 0,097 2,75 0,267
2 PDRB DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten
meningkat dari tahun 2017-2019 0,092 2,25 0,207
3 Jumlah penduduk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan
Banten meningkat pada tahun 2020 0,081 1,75 0,142 4 Cita rasa makanan pedas disukai oleh masyarakat 0,093 4 0,372 5 Adanya program pengembangan UKM dari
pemerintah 0,087 4 0,348
6 Kebijakan sertifikasi kehalalan produk dan keamanan
produk makanan dan minuman 0,098 3,75 0,368
7 Perkembangan penggunaan teknologi informasi
dalam pemasaran produk 0,091 3,25 0,296
Sub Total 1,999
Ancaman
8 Harga bahan baku cabai merah keriting dan cabai rawit di Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Anyar Bogor dan Tangerang fluktuatif
0,073 3,25 0,237 9 Perubahan cuaca mengakibatkan pasokan bahan baku
cabai berkurang 0,078 3,5 0,273
10 Penerapan pajak penghasilan sebesar 0,5% bagi badan berbentuk perseroan terbatas dengan omzet kurang dari Rp.4,8M
0,072 2,75 0,198 11 Pembatasan sosial kegiatan masyarakat pada wilayah
DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akibat pandemi covid-19
0,069 2,5 0,173 12 Adanya pesaing baik pesaing lama maupun
pendatang baru dalam industri cabai olahan 0,078 1,5 0,117
Sub Total 0,998
TOTAL 1 2,997
Sumber : Data primer, diolah (2021)
Berdasarkan hasil perhitungan matriks EFE, diperoleh faktor peluang utama pemasaran perusahaan, yaitu cita rasa makanan pedas disukai oleh masyarakat dengan skor sebesar 0,372. Faktor tersebut menjadi faktor peluang utama dan harus dapat dimanfaatkan oleh perusahaan dengan baik. Hal ini dikarenakan manusia
99 menyukai sensasi rasa terbakar yang dihasilkan oleh zat pemicu rasa pedas (senyawa capsaicin) yang terkandung di dalam cabai. Faktor lain yang menjadi peluang pemasaran perusahaan berturut-turut adalah kebijakan sertifikasi kehalalan produk dan keamanan produk makanan dan minuman dengan skor sebesar 0,368, adanya program pengembangan UKM dari pemerintah dengan skor sebesar 0,348, perkembangan penggunaan teknologi informasi dalam pemasaran produk dengan skor sebesar 0,296, pertumbuhan konsumsi cabai per kapita meningkat sebesar 4,11% pada tahun 2020 dengan skor sebesar 0,267, PDRB DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten meningkat dari Tahun 2017-2019 dengan skor sebesar 0,207, dan jumlah penduduk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten meningkat pada tahun 2020 dengan skor sebesar 0,142.
Sedangkan faktor yang menjadi ancaman utama pemasaran perusahaan, yaitu perubahan cuaca mengakibatkan pasokan bahan baku cabai berkurang dengan skor 0,273. Faktor tersebut dapat memberikan ancaman yang cukup berpengaruh terhadap pemasaran perusahaan. Hal ini sebaiknya dapat diatasi dengan menyiapkan persediaan produk setengah jadi berupa cabai yang sudah dikeringkan agar dapat lebih tahan lama dan dapat mengatasi pasokan bahan baku cabai yang berkurang sehingga perusahaan dapat memasarkan produk secara optimal. Faktor lain yang menjadi ancaman pemasaran perusahaan berturut-turut adalah harga bahan baku cabai merah keriting dan cabai rawit di Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Anyar Bogor dan Tangerang fluktuatif dengan skor sebesar 0,237, penerapan pajak penghasilan sebesar 0,5% bagi badan berbentuk perseroan terbatas dengan omzet kurang dari Rp.4,8M dengan skor sebesar 0,198, pembatasan sosial kegiatan
100 masyarakat pada wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akibat pandemi covid-19 dengan skor sebesar 0,173, dan adanya pesaing baik pesaing lama maupun pendatang baru dalam industri cabai olahan dengan skor sebesar 0,117.
Berdasarkan perhitungan pada matriks EFE, diperoleh skor pada faktor peluang sebesar 1,999, sedangkan skor untuk faktor ancaman sebesar 0,998. Total skor pada matriks EFE sebesar 2,997. Berdasarkan David (2016:65), hal ini menunjukkan bahwa perusahaan merespon dengan baik terhadap peluang dan ancaman yang ada karena total skor diatas 2,5.