BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
2) Faktor Eksternal Penyebab Penyimpangan Perilaku Siswa
Al-Azhar Sidorenggo Kabupaten Malang
a. Faktor teman sepergaulan atau sekolah
Selain di rumah seorang anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah begitu juga siswa di MTs Al-Azhar dimana kegiatan belajar dilaksanakan pada siang hari sampai pukul 5 sore. Dimana secara tidak langsung juga membawa dampak terhadap perkembangan perilaku atau moral siswa.
Kasus tiga siswa yang minum minuman keras di sekolah merupakan salah satu contoh faktor penyimpangan perilaku siswa
64 Wawancara dengan WAKA Kesiswaan Ibu Tutuk pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 13.40-selesai
yang disebabkan teman sepergaulan atau sebaya yang dilakukan disekolah.
Ibu Tutuk juga menjelaskan bahwa:
“penyebab anak-anak melanggar seperti itu kebanyakan karena mereka siswa tetapi bergaul dengan orang kampung meski tidak seumuran sehingga belum masanya mereka melakukan sesuatu hal dan tidak tahu konsekuensinya ya tetap dilakukan” .65
Dari penuturan bu Tutuk juga didapatkan fakta bahwa banyak siswa yang bergaul dengan orang yang lebih dewasa atau salah dalam memilih teman bergaul dimana pada usia remaja tersebut anak akan lebih mudah menyerap atau menerima hal-hal atau pengaruh yang diberikan teman karena mereka sedang mencari jati diri.
Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan pak Nur selaku guru BK yang menyatakan bahwa salah satu penyebab penyimpangan perilaku atau pelanggaran siswa adalah pengaruh teman baik di lingkungan sekolah maupun dirumah, salah satunya beliau pernah menangani seorang siswa yang overdosis obat batuk karena ajakan teman di lingkungan rumahnya yang mempengaruhi66 hal senada juga disampaikan oleh para siswa yang di wawancara banyak yang melakukan pelanggaran dikarenakan ajakan teman atau melihat orang-orang sekitar yang melakukan pelanggaran yang sama di luar sekolah.
65 Wawancara dengan WAKA Kesiswaan Ibu Tutuk pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 13.40-selesai
b. Faktor media massa
Faktor media massa juga memiliki andil yang sangat besar dalam terbentuknya moral siswa. Dimana pada zaman ini teknologi sangat mudah diakses oleh siapa saja termasuk siswa usia sekolah yang seharusnya dibatasi dan diawasi dalam menerima informasi dari media masa baik melalui tv, internet, maupun media yang lainnya. Tanpa pengawasan dan pengarahan yang baik oleh orang tua tentu akan menghasilkan hal-hal negatif kepada diri siswa.
Seperti penuturan bapak Nur bahwa:
“anak-anak mudah terpengaruh hal-hal negatif salah satunya mencontoh dari internet atau tv, dimana banyak hal-hal negatif itu mudah diakses di media-media tersebut. Di tv saja banyak tayangan-tanyangan yang kadang tidak untuk ditonton seusia mereka sudah ditonton kemudian diinternet atau media sosial juga demikian”.67
Media internet atau media sosial yang kini banyak diminati di kalangan muda tentu sangat berperan besar terhadap moral siswa, padahal banyak hal-hal yang seharusnya tidak diakses oleh anak di usia sekolah contohnya tanyangan-tayangan mengandung kekerasan di youtube, mencari teman di sosial media yang kita tid ak ketahui secara nyata, dan game online yang menyebabkan siswa kurang belajar.
c. Faktor Lingkungan masyarakat
Faktor yang tak kalah penting adalah lingkungan masyarakat dimana siswa tinggal dan banyak juga dibentuk dimana lingkungan
ia tinggal dan bergaul. Ketika lingkungan masyarakat kurang kondusif untuk pertumbuhan siswa tentu akan memberi dampak yang kurang baik juga terhadap perilaku siswa.
Hal senada di ungkapkan oleh bu Tutuk yang menjelaskan bahwa lingkungan sekitar yang merupakan daerah perbatasan kabupaten Malang dan kabupaten Lumajang menyebabkan kurangnya pantauan dari aparat kepolisian dan merupakan daerah yang sepi mentyebabkan banyaknya pengedar narkoba, orang minum-minuman keras, dan lain-lain dan banyak siswa yang berteman dengan teman selain teman sekolah atau orang dewasa di lingkungan rumah yang kemudian cukup berdampak terhadap perilaku siswa.68
Menyambung yang disampaikan bu Tutuk, Hal senada di sampaikan oleh bu Rani yang merupakan warga sekitar sekolah bahwa :
“masyarakat di lingkungan sekolah sini kan tepatnya daerah yang rawan banyak tindak kriminal yang kemudian menyebabkan kenakalan pada anak disamping itu juga kurangnya kesadaran pentingnya pendidikan pada masyarakat sehingga banyak anak yang putus sekolah kemudian mempengaruhi anak lain yang sekolah dan kemudian menyebabkan siswa menjadi pelanggar di sekolah”.69
Hal lain yang menguatkan pernyataan yang disampaikan bu Tutuk dan Rani adalah ketika peneliti melewati dan berkeliling daerah desa Sidorenggo, banyak ditemui anak-anak usia
68 Wawancara dengan WAKA Kesiswaan Ibu Tutuk pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 13.40-selesai
69 Wawancara dengan warga sekitar sekolah bu Rani pada tanggal 20 Maret 2020 pukul 10.20-selesai
sudah putus sekolah yang ke warung kopi di jam-jam sekolah, pada sore hari ditemukan adanya kegiatan balap liar yang dilaksanakan tidak jauh dari lokasi sekolah, dan sebelumnya juga peneliti memperoleh kabar valid mengenai dua orang pengguna dan pengedar narkoba yang tertangkap pihak kepolisian di lingkungan desa ini.
Hal tersebut juga disampaikan oleh Faris Azizi kelas VII A bahwa ia sering membolos dan nongkrong hingga pagi karena ajakan tetangga dan juga teman di luar sekolah yang lebih dewasa.70
Gambar 4.3 Skema Penyebab Perilaku Menyimpang
3. Strategi Sekolah dalam Menanggulangi Penyimpangan Perilaku Siswa
di MTs Al-Azhar Sidorenggo Kabupaten Malang
Berdasakan temuan penelitian terkait dengan strategi sekolah dalam menanggulangi perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa di MTs Al-Azhar Sidorenggo Malang, dikelompokkan dalam 3 bagian yaitu :
70 Wawancara dengan siswa kelas VII B Faris Azizi pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 14.46 -selesai
a. Strategi Preventif (Pencegahan)
Upaya preventif atau pencegahan adalah upaya atau strategi dilakukan oleh sekolah untuk mencegah terjadinya kenakalan atau penyimpangan perilaku yang dilakukan siswa atau setidaknya dapat memperkecil jumlah kenakalan yang dilakukan oleh siswa. Strategi yang dilakukan guru di luar maupun di dalam kelas beraneka macam, Strategi yang pertama yaitu dengan cara sosialisasi terkait program-program sekolah termasuk peraturan sekolah dan sanksi yang diberikan ketika melakukan pelanggran. Seperti yang disampaikan Bu Tutuk bahwa :
“Upaya yang dilakukan dalam mencegah kenakalan disekolah yang pertama dilakukan ketika MOS siswa diberi selebaran tetang peraturan sekolah dan berisi surat pernyataan bahwa ketika melanggar akan diberi sanksi sesuai pelanggaran dan diberi arahan terkait program tersebut, kemudian orang tua juga diminta menandatangani selebaran tersebut agar ketika siswa melakukan pelanggaran orang tua tidak komplain dan selain itu juga agar memberi efek yang baik ke siswa dengan tidak melanggar peraturan karena sudah mengetahui konsekuensinya dan wali murid juga dapat memantau perilaku siswa”.71
Selain itu juga terdapat beberapa pendekatan yang dilakukan oleh guru dengan melakukan pertemuan dengan wali murid yang dilaksanakan ketika penerimaan siswa baru dan juga biasanya diadakan sekaligus dengan pengambilan raport yang bertujuan membicarakan kegiatan masing-masing siswa dan permasalahan yang dihadapi siswa di sekolah.
71 Wawancara dengan WAKA Kesiswaan Ibu Tutuk pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 13.40-selesai
Menambahi yang disampaikan oleh Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, bapak Nur selaku Guru BK menyampaikan bahwa sekolah juga membangun kedekatan dengan wali murid agar terjadi kerjasama dalam pengawasan dan membimbing siswa terjadi antara wali murid dengan wali kelas dan pihak sekolah.
Kegiatan temu wali murid dilaksanakan juga ketika ada siswa yang sering melanggar peraturan sekolah atau telah melakukan kenakalan berat. Karena orang tua merupakan pusat kontrol anak maka harus mengetahui apa saja yang terjadi dengan anak, ketika anak melakukan kenakalan disekolah sebagai orang tua haruslah memberi pengarahan dan lebih perhatian agar pelanggaran serupa tidak terjadi
Selain itu di sekolah juga terdapat program program keagamaan seperti sholat dhuhur berjamaah dan program tahfidz dimana siswa yang berminat akan diarahkan oleh guru agama, program ini juga bertujuan mengurangi tingkat kenakalan siswa dimana ketika siswa akan berperilaku negatif akan menginggat Allah SWT dan program ini dapat membentuk siswa yang lebih berakhlak mulia.72
Menurut pak Nur yang merupakan guru BK dan merangkap wali kelas, dalam menanggulangi atau mencegah kenakalan siswa yaitu dengan melakukan pendekatan kepada siswa secara langsung baik sebagai wali kelas maupun guru BK. Seperti yang disampaikan beliau dalam wawancara bahwa :
“Ya sebagai guru BK saya berusaha dekat dengan siswa tanpa terkecuali, yang saya lakukan mulai dari mencari informasi penyebab kenakalan siswa, memberikan informasi akibat dari kenakalan yang dilakukan, mengingatkan untuk tidak melanggar peraturan sekolah”.
Selain itu bapak Nur juga sering berkoordinasi dengan warga sekitar sekolah dan pengurus masjid dalam memantau siswa seperti untuk mengetaui pelanggaran yang dilakukan siswa diluar lingkungan sekolah maupun mengetahui apakah siswa mengikuti kegiatan sholat jumat. Hal ini bertujuan untuk mengetaui perilaku siswa diluar sekolah dan tindakan yang akan diambil terkait pelanggaran yang dilakukan siswa diluar sekolah.73
Dengan berbagai informasi yang didapatkan peneliti ketika wawancara dan observasi menyimpulkan langkah preventif yang sudah dilakukan oleh guru dan pihak sekolah dengan berbagai cara antara lain : Sosialisasi tata tertib dan peraturan sekolah untuk siswa baru, pertemuan dan membangun kedekatan dengan wali murid, pendekatan antara guru dengan siswa, dan program keagamaan. Dengan adanya upaya atau strategi tersebut diharapkan akan meminimalisir penyimpangan perilaku siswa.
b. Strategi Represif (Pemberian Sanksi)
Usaha dalam menindak lanjuti kenakalandan penyimpangan perilaku dapat dengan pemberian hukuman kepada siswa. Dengan pemberian sanksi, diharapkan siswa menjadi jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Dalam pemberian sanksi yang berwenang adalah
Kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang Kesiswaan, guru tata tertib, selain itu guru kelas juga dapat bertindak, tergantung bentuk pelanggaran yang dilakukan siswa.
Untuk sanksi kenakalan berat seperti pemanggilan orang tua, skorsing, maupun pengeluaran siswa merupakan wewenang kepala sekolah berkoordinasi dengan wakil kepala sekolah bidang Kesiswaan, wali kelas dan guru tata tertib.
Strategi yang dilakukan pihak sekolah dalam memberikan hukuman adalah mulai dari pelanggaran ringan amupun berat, pernah diberlakukan pemberian poin yang kemudian akan diberi tahukan kepada wali murid yang bersangkutan ketika pengambilan raport, namun program tersebut kurang berjalan baik dikarenakan beberapa kendala, oleh karena itu guru-guru disekolah dalam memberikan hukuman dengan cara setelah mengetahui pelanggran yang dilakukan siswa guru akan memutuskan hukuman atau sanksi yang sudah ditetapkan sekolah sesuai pelanggaran yang dilakukan, namun tetap dicatat seperti yang disampaikan oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, bahwa :
“dalam menangani kenakalan siswa kita sebagai guru saling berkoordinasi untuk memantau perilaku siswa, kemudian dulu sempat diberlakukan pemberian poin bagi siswa yang melanggar kemudian dicatat dan diberi tahukan kepada wali murid ketika penerimaan raport akan tetapi program tersebut kurang berjalan karena ada beberapa hambatan, tetapi kita mengakalinya dengan memantau siswa secara langsung dan memberi peringatan atau teguran saat itu juga sesuai peraturan yang telah disepakati”.74
74 Wawancara dengan WAKA Kesiswaan Ibu Tutuk pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 13.40-selesai
Selain itu menurut Bapak Nur yang merupakan guru BK merangkap Koordinator guru tatib menambahkan bahwa dalam mengatasi kenakalan siswa, adalah dengan cara berkoordinasi dengan guru untuk membuat peraturan sekolah dan saling mengawasi perilaku siswa dan mengingatkan siswa yang melanggar baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
Bentuk-bentuk hukuman atau sanksi yang diberikan untuk pelanggaran yang dilakukan siswa antara lain :
1) Terlambat masuk sekolah maka untuk pertama kali akan dicatat dan diperingatkan kemudian untuk keterlambatan selanjutnya akan diminta hafalan surat pendek yang ditentukan oleh guru.
2) Meninggalkan sekolah ketika pelajaran maka akan mendapat hukuman berupa hafalan surat pendek dan membersihkan kamar mandi siswa.
3) Atribut sekolah tidak lengkap tanpa izin maka akan diberi peringatan dan untuk pelanggran ke dua akan diminta membeli atribut yang tidak lengkap dan menyapu koridor sekolah.
4) Berkelahi, untuk perkelahian baik didalam sekolah maupun diluar sekolah apabila diketahui pihak sekolah atau guru maka guru BK akan melakukan pemanggilan dan diberikan pembinaan ketika melakukan kenakalan yang sama untuk kedua kali maka akan dilakukan pemanggilan wali murid.
5) Rambut bersemir dan rambut panjang bagi siswa laki-laki, akan diberi peringatan untuk menghitamkan rambut atau memotong rambut bila keesokan harinya masih belum dilaksanakan maka guru akan memotong rambut siswa tersebut atau memberi hukuman berupa membersihkan area sekolah.
6) Membawa HP untuk pelanggaran ini maka guru akan melakukan pemberian hukuman berupa hafalan surat yang ditentukan dan penyitaan sementara ketika dilakukan pelanggaran serupa untuk kedua kalinya maka Hp akan disita dan orang tua yang akan dipanggil untuk diminta kerjasamanya untuk melakukan pengawasan agar siswa tidak lagi membawa Hp ke dalam sekolah. 7) Tidak masuk sekolah tanpa keterangan atau membolos sekolah
maka guru akan memanggil siswa yang bersangkutan dan diberi hukuman berupa hafalan surat dan membuat surat pernyataan dan untuk pelanggarn yang kedua kali maka akan dilakukan pemanggilan orang tua dan skorsing sesuai dengan pertimbangan Kepala Sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
8) Minum minuman keras, untuk pelanggran ini guru akan memanggil siswa yang bersangkutan beserta orang tua untuk diambil kebijakan dan pertimbangan apabila siswa tidak memiliki catatan pelanggaran maka akan dipertimbangkan untuk dilakukan pembinaan dan pengawasan lebih oleh guru dan orang tua atau tidak dikeluarkan sedangkan siswa yang minum minuman keras dan sering melanggar disekolah atau kurang dapat diertimbangkan maka akan dikeluarkan
dari sekolah karena akan berdampak kurang baik kepada siswa-siswa lain karena merupakan pelanggaran berat.
“contohnya saja siswa pindahan yang kemarin minum minuman keras di toilet sekolah itu kita keluarkan karena pertimbangan di sekolah sebelumnya juga sering melanggar peraturan dan pernah minum juga. Sedangkan teman-temannya yang dua masih kita petahankan karena pertimbangan-pertimbangan dan bimbingan yang ketat agar kesempatan yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik dan tidak melakukan pelanggaran yang sama lagi”.75
Untuk pelanggaran lain seperti balap liar masih belum dapat ditangani karena dilakukan diluar area sekolah dan guru tidak mengetahui secara pasti siapa siswa yang mengikuti balap liar tersebut.
Dari sanksi-sanksi yang telah diberikan, ternyata masih ada siswa yang masih melanggar peraturan yang bersifat ringan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberan hukuman atau sanksi masih kurang tegas sehingga siswa tidak jera dan masih melakukan pelanggran-pelanggaran tersebut.
Dari ketiga strategi yang dilakukan sekolah strategi represif atau pemeberian sanksi inilah yang paling efektif dalam menanggulangi penyimpangan perilaku siswa baik untuk penyimpangan ringan maupun berat. Karena dengan adanya sanksi yang diberikan ketika siswa melakukan penyimpangan perilaku kemudian membuat sebagian besar siswa menjadi jera dan tidak menulang perbuatan yang sama lagi.
c. Strategi Kuratif (Menyembuhkan)
Strategi kuratif atau upaya sekolah yang dilakukan untuk menyebuhkan atau menghilangkan kebiasaan siswa yang melakukan penyimpangan perilaku yang biasanya merupakan penyimpangan perilaku tergolong berat seperti minum minuman keras, bakapan liar, narkoba, dan pergaulan bebas.
Dalam hal ini upaya kuratif yang dilakukan oleh guru untuk siswa yang melakukan pelanggaran berat atau bermasalah yang tidak dikeluarkan dari sekolah yaitu masih sebatas dengan membangun kedekatan langusng kepada siswa yang bersangkutan untuk mengetahui penyebab siswa melakukan pelanggaran dan kemudian memberikan bimbingan moral dan agama agar siswa mampu menghadapi pengaruh-pengaruh kurang baik dan menghilangkan keinginan untuk melakukan pelanggaran-pelanggran terhadap peraturan dan norma yang pernah dilakukan dan ingat dengan Allah SWT tetika akan melakukan penyimpangan perilaku. Selain itu guru baik guru BK maupun wali kelas dan berkoordinasi dengan wali murid juga memperketat pengawasan terhadap siswa agar mengetahui perkembangan siswa tersebut.
Upaya kuratif atau penyembuhan siswa dari penyimpangan perilaku ini menurut penuturan pak Nur hanya sebatas yang telah dijelaskan di atas karena tanpa keinginan dan dorongan dari diri siswa sendiri untuk berubah tentu upaya yang dilakukan guru masih kurang optimal dan
upaya ini merupakan upaya terakhir yang dapat dilakukan guru terhadap siswa yang melakukan pelanggaran kategori berat.76
Dari paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa penyimpangan perilaku yang dilakukan siswa MTs Al-Azhar Sidorenggo masih lebih banyak yang termasuk pelanggaran ringan untuk pelanggaran berat lebih sedikit dan kurang diketahui oleh guru dan pihak sekolah. Yang termasuk dalam pelanggaran ringan yaitu terlambat masuk sekolah, meninggalkan sekolah ketika pembelajaran masih berlangsung, bolos sekolah, atribut kurang lengkap, bersemir atau rambut panjang dan jajan diluar gerbang sekolah. Sedangkan penyimpangan perilaku yang tergolong berat yaitu minum minuman keras, berkelahi dan balapan liar.
Untuk penyimpangan perilaku yang tergolong berat, guru tidak mengetahui sehingga belum diadakan tindakan yang dilakukan, upaya atau strategi yang dilakukan guru untuk mencegah penyimpangan perilaku siswa adalah dengan berbagai cara yaitu upaya preventif atau pencegahan dengan kegiatan keagamaan, sosialisasi peraturan sekolah untuk siswa baru, dan pendekatan guru kepada siswa. Cara selanjutnya yaitu upaya represif yaitu dengan membuat sanksi-sanksi untuk siswa yang melakukan penyimpangan perilaku agar tidak melakukan pelangarn dan yang terakhir yaitu upaya kuratif yang dilakukan dengan cara pemberian moral dan agama dengan lebih intensif serta memperketat pengawasan terhadap siswa.
86
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Bentuk Penyimpangan Perilaku Siswa Di MTs Al-Azhar Sidorenggo
Kabupaten Malang
Segala bentuk tingkah laku remaja menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat dalam norma agama, etika, peraturan sekolah, dan keluarga, dapat disebut sebagai perilaku menyimpang.77 Adapun bentuk penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh siswa di MTs Al-Azhar Sidorenggo Kabupaten Malang yaitu :
1. Penyimpangan perilaku ringan
Penyimpangan perilaku atau kenakalan bersifat ringan yang dilakukan siswa di MTs Al-Azhar Sidorenggo Kabupaten Malang seperti terlambat datang ke sekolah, berada diluar gerbang sekolah ketika istirahat sekolah, menuinggalkan sekolah pada jam pelajaran, atribut tidak lengkap, tidak mengikuti sholat dhuhur berjamaah, rambut panjang atau bersemir, tidak masuk sekolah tanpa keterangan atau membolos sekolah dan lain sebagainya.
Dari segi usia, siswa MTs Al-Azhar termasuk dalam kategori remaja awal, yakni pada usia antara 12-15 tahun. Pada fase ini remaja meninggalkan peran sebagai anak dan mulai mengembangkan diri dan tidak bergantung pada orang lain akan
tetapi belum mampu menguasai dan memfungsikan fisik dan psikisnya dengan baik.78
Dari kasus diatas peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa penyimpangan perilaku yang dilakukan siswa tergolong ringan dan hanya berupa pelanggaran tata tertib, tidak dapat digolongkan pelanggaran berat atau melanggar hukum.
Kendati demikian, sekecil apapun pelanggaran yang dilakukan siswa perlu adanya tindakan atau pencegahan yang dilakukan guru dan wali murid sehingga penyimpangan perilaku tidak menjadi suatu yang kurang baik tersebut tidak dilakukan oleh siswa.
2. Penyimpangan Perilaku Berat
Penyimpangan perilaku yang tergolong berat yang pernah dilakukan oleh beberapa siswa yang cukup meresahkan baik dilingkungan sekolah maupun masyarakat seperti berbicara kotor, membawa Hp, balapan liar, merokok, berkelahi dan minum minuman keras dan lain sebagainya.
Dari segi pendidikan, siswa yang melakukan penyimpangan perilaku berat tersebut akan berpengaruh terhadap kepribadian dan konsentrasinya dalam belajar, selain itu juga dapat mempengaruhi teman-teman lain di sekolah.
Di MTs Al-Azhar Sidorenggo Kabupaten Malang peneliti menemukan beberapa penyimpangan atau kenakalan berat yang pernah dilakukan beberapa siswa, namun yang diketahui guru atau pihak sekolah hanya sebagian saja karena penyimpangan perilaku di lakukan di luar lingkungan sekolah namun cukup bertentangan dengan norma dalam masyarakat.
Beberapa siswa yang melakukan penyimpangan yang tergolong berat ini diketahui karena mendapat pengaruh dari teman sepergaulan atau lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Untuk menanggulangi perilaku yang kurang baik diluar sekolah bapak Nur selaku guru BK sering melakukan pendekatan kepada siswa terkait memperoleh informasi tentang pergaulan siswa diluar sekolah.
Selain telah melanggar peraturan sekolah, siswa yang melakukan penyimpangan perilaku berat juga telah melanggar norma yang berlaku di masyarakat. Norma-norma yang berlaku di masyarakat ada 4 macam yaitu:
1) Norma agama, yaitu norma atau ketentuan-ketentuan yang bersumber