BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Potensi Daya Tarik
4.4.1. Faktor-faktor Internal
Hasil analisis IFAS (Internal Factor Analysis Summary) kawasan TWA Sibolangit menunjukkan bahwa faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan (strenght) adalah:
1. Daya tarik wisata (alam, budaya dan buatan). 2. Atraksi wisata yang ada di kawasan wisata. 3. Aksesibilitas.
4. Lembaga terkait pengelolaan pariwisata (masyarakat, swasta). 5. Persepsi masyarakat terhadap pariwisata.
Secara umum dapat dikatakan bahwa potensi daya tarik alam merupakan daya tarik wisata yang paling potensial di kawasan TWA Sibolangit, di mana keindahan pemandangan alam serta keanekaragaman flora dan fauna merupakan kekuatan utama yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke kawasan ini.
Berdasarkan hasil wawancara serta observasi penulis ternyata
pernah dilakukan oleh salah satu organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu Consevation International Indonesia (CII) bekerjasama dengan Balai KSDA Sumatera Utara 1 dengan Program Pusat Pembelajaran Konservasi Alam (PPKA). Yang berlangsung dari tahun 2003 sampai 2006. Program ini berorientasi pada kegiatan pendidikan konservasi/lingkungan dengan sasaran siswa-siswi Sekolah lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Berdasarkan wawancara dengan beberapa Staf CII beberapa program kerja yang menonjol yang telah dilakukan CII terhadap TWA Sibolangit adalah kunjungan ke sekolah (visit to school), kunjungan dari sekolah ke TWA Sibolangit (school visit) dan studi minggu yang merupakan kegiatan pengenalan interpretasi alam pada siswa-siswi SLTA (Laporan Tahunan CII, 2003).
Diharapkan kedepannya program ini bisa dilaksanakan kembali dengan sistem paket-paket yang dapat ditawarkan kepada masyarakat perkotaan ataupun kepada sekolah-sekolah di perkotaan sehingga bisa meningkatkan devisa bagi pengelola TWA dan juga masyarakat sekitar.
1. Pengembangan Ekowisata (Rekreasi Alam)
Selain menjadi hutan pendidikan lingkungan, TWA Sibolangit juga dapat digunakan sebagai tempat rekreasi alam, aksesibilitas yang mudah dijangkau, potensi keindahan alam dengan pemandangan lembah, bukit dan hutan hujan tropis dapat memberikan suasana teduh dan tenang bagi pengunjung untuk melepaskan lelah. Prasarana dan sarana yang tersedia masih memerlukan perbaikan dan penambahan. Untuk mengembangkan potensi wisata yang ada, dalam hal prasarana dan sarana
serta pengelolaan dapat melibatkan pihak lain untuk ikut berperan serta. Selain itu kegiatan warga sekitar yang mengambil hasil hutan non kayu dapat dijadikan potensi wisata yang menarik.
2. Sosial Ekonomi Masyarakat
Penduduk yang bermukim di sekitar taman wisata alam Sibolangit mata pencaharian utamanya sebagai petani dan pedagang. Budaya masyarakat Sibolangit yang telah diturunkan nenek moyangnya dalam hal bercocok tanam sangat memberikan kontribusi yang positif dalam pengelolaan taman wisata alam Sibolangit. Hal ini tercermin dengan menanam jenis tanaman buah-buahan yang mempunyai batang kayu cukup besar seperti manggis, petai dan durian di ladang yang berdekatan dengan kawasan, sehingga secara tidak langsung tanaman buah tersebut dapat digunakan sebagai buffer zone (zona penyangga).
Masyarakat yang berada di sekitar Taman Wisata Alam Sibolangit biasanya berpotensi untuk menjadi ancaman bagi keutuhan kawasan, tetapi dapat pula menjadi modal bagi perlindungannya. Dari sinilah diperlukan upaya pendekatan kepada masyarakat melalui penyuluhan, pelatihan yang bersifat meningkatkan keterampilan dan juga meningkatkan pengetahuan arti pentingnya TWA bagi dunia pariwisata. Diharapkan dari pelatihan, masyarakat dapat meningkatkan pendapatan tanpa harus mengganggu keseimbangan ekosistem hutan. Sesuai Pendapat Cernea (1991) dalam Lindberg dan Hawkins (1995) mengemukakan bahwa partisipasi lokal memberikan peluang efektif dalam kegiatan pembangunan. Hal ini berarti memberikan peluang efektif dalam kegiatan pembangunan, memberi wewenang atau kekuasaan pada
masyarakat sebagai pemeran sosial dan bukan subjek pasif untuk mengelola sumberdaya membuat keputusan dan kontrol pada kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi kehidupan sesuai dengan kemampuannya. Gunawan (2008) menyarankan usaha untuk menjamin keikutsertaan masyarakat setempat dan langkah-langkah yang perlu dicari agar masyarakat setempat dapat benar-benar terlibat dalam kegiatan ekowisata, perlunya interaksi ketiga pihak yang ikut terlibat, yaitu sektor pemerintah, swasta dan masyarakat setempat.
Masyarakat sekitar hutan biasanya mempunyai hubungan yang erat dengan hutan, berbagai kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari hutan. Hubungan yang harmonis antara masyarakat dengan hutan akan menjamin kelestarian hutan. Beberapa hasil hutan non kayu yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat adalah pemanfaatan nira (Lampiran 11) di TWA Sibolangit juga terdapat tumbuhan (hasil hutan non kayu) yang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan secara tradisional adalah asam glugur, rambe dan ada beberapa warga mempergunakan hasil hutan non kayu sebagai obat-obatan tradisional atau dikenal istilah kem-kem.
Dalam pemanfaatan hasil hutan non kayu di TWA Sibolangit harus tetap berprinsip pada kelestarian hutan sehingga keutuhan kawasan tetap terjaga.
Dalam hasil analisis IFAS (Internal Factor Analysis Summary) kawasan TWA Sibolangit menunjukkan bahwa faktor-faktor internal yang menjadi kelemahan (weakness) adalah:
1. Fasilitas pariwisata (akomodasi, rumah makan). 2. Sarana dan prasarana (bangku taman, pondok, toilet).
3. SDM pariwisata. 4. Pemasaran pariwisata.
5. Kemampuan permodalan/investasi masyarakat lokal. 6. Kondisi kebersihan dan sanitasi lingkungan.
Tabel 4.3. Faktor-faktor Internal (Faktor yang Berasal dari dalam Kawasan TWA Sibolangit)
No Faktor Internal Bobot Rating Skor
Kekuatan
1 Daya Tarik Wisata alam, Budaya 0,12 3,50 0,42
2 Aksesibilitas 0,2 3,27 0,65
3 Atraksi Wisata di lokasi Wisata 0,08 2,52 0,20
4 Lembaga Terkait Pengelolaan Pariwisata (swasta, Pemerintah) 0,07 2,25 0,15 Kelemahan 1 Fasilitas Pariwisata 0,08 2,31 0,18 2 SDM Pariwisata 0,07 1,92 0,13 3 Pemasaran Pariwisata 0,08 2,19 0,17
4 Kemampuan Permodalan/Investasi Masyarakat Lokal
0,06 1,79 0,10
5 Kesadaran Pelaku Pariwisata dan Masyarakat terhadap Konservasi Alam
0,06 1,20 0,01
6 Kondisi Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan 0,11 1,67 0,18
Jumlah 1,00 2,37
Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal (IFAS) tampak posisi faktor internal kawasan TWA Sibolangit berada pada posisi 2,44 yaitu berada pada di bawah skor ambang batas pada posisi lemah dan kuatnya suatu kawasan (skor 2,50) hal ini berati secara umum faktor-faktor intenal/faktor-faktor yang terdapat di kawasan TWA Sibolangit tersebut belum bisa dijadikan kekuatan di dalam memajukan kawasan tersebut malah cenderung melemahkan kawasan TWA Sibolangit. Hal ini dapat
dimaklumi mengingat jumlah kelemahan di faktor internal lebih banyak dan cenderung merugikan TWA Sibolangit baik dari segi manajemen (pemasaran, fasilitas, SDM, kondisi kebersihan) maupun masyarakat sekitar.