• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM

A. Hasil Penelitian

2. Faktor-Faktor Penghambat Proses Pembangunan Kapasitas

1. Pembangunan kapasitas Komisi Informasi Provinsi Lampung yang akan dilihat berdasarkan 3 (tiga) aspek:

a) Aspek sistem: yaitu kerangka peraturan dan kebijakan-kebijakan yang mendukung atau membatasi pencapaian tujuan-tujuan kebijakan tertentu, tanggungjawab dan kekuasaan antar lembaga.

b) Aspek kelembagaan: yaitu struktur organisasi dan sarana prasarana; proses-proses pengambilan keputusan dalam organisasi; prosedur, mekanisme kerja dan instrumen manajemen; hubungan-hubungan dan jaringan antar organisasi.

c) Aspek sumber daya manusia: yaitu tingkat keterampilan, kualifikasi, pengetahuan/wawasan, sikap (attitude), etika dan motivasi individu-individu yang bekerja dalam suatu organisasi.

2. Faktor-faktor penghambat proses pembangunan kapasitas Komisi Informasi Provinsi Lampung dalam menerapkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik di Provinsi Lampung.

C. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian. Lokasi yang menjadi tempat penelitian yaitu kompleks wilayah perkantoran Pemerintah Provinsi Lampung, khususnya Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Lampung dan Komisi Informasi Provinsi Lampung.

Beberapa alasan yang menjadi dasar dalam pemilihan lokasi penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 pasal 29 ayat 4 sekretariat Komisi Informasi Provinsi dilaksanakan oleh pejabat yang tugas dan wewenangnya di bidang komunikasi dan informasi di tingkat provinsi yang bersangkutan. Dalam hal ini Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Lampung adalah lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas kesekretariatan dan penatakelolaan Komisi Informasi Provinsi Lampung.

2. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 pasal 23 Komisi Informasi lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya menetapkan petunjuk teknis standar layanan Informasi Publik dan menyelesaikan Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonligitasi.

D. Jenis Data

Sumber data yang utama dalam penelitian kualitatif adalah kata–kata dan tindakan. Selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal ini pada bagian ini jenis data dibagi ke dalam kata–kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan statistik (Lofland dalam Moleong, 2006: 157).

Data adalah bahan keterangan dalam suatu objek penelitian yang diperoleh. Sedangkan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung peneliti dari lapangan. Dalam penelitian ini data diperoleh melalui wawancara mendalam melalui tatap muka antara peneliti dan informan, dimana cara yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut antara lain paling mengetahui tentang informasi yang diharapkan oleh peneliti, dan memudahkan peneliti dengan informan yang memiliki data yang berkaitan dengan proses penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 di Provinsi Lampung, diantaranya:

Tabel 3.1 Daftar Nama Informan

No Informan Jabatan Tanggal

Wawancara 1 Juniardi, S.IP, M.H Ketua Komisi Informasi

Provinsi Lampung

29 November 2011 2 Drs. Ahmad Haryono Wakil Ketua Komisi

Informasi Provinsi Lampung

29 November 2011

3 Drs. Fuad H Kepala Bagian Telematika Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Lampung

6 Desember 2011

4 Ahmad Bastari Anggota Komisi I DPRD Provinsi Lampung

8 Desember 2011 5 Harzaini Usman,

S.H.,M.H

Sekertaris Dinas Badan Kepegawaian Daerah

12 Desember 2011

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperlukan dalam penelitian untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari data primer. Data sekunder dapat berupa naskah , dokumen resmi, dan sebagainya yang berkaitan dengan penelitian ini. Data sekunder dalam penelitian ini berupa, surat-surat keputusan

,data statistik, catatan-catatan, arsip-arsip, laporan kegiatan, foto–foto dilapangan, laporan kegiatan yang berkaitan dengan proses penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 di Provinsi Lampung.

Tabel 3.2 Daftar Dokumen yang Berkaitan Dengan Penelitian

No Nama Dokumen

1 PP No 61 tahun 2010 tentang Pelaksanaan UU No 14 tahun 2008 2 Peraturan Komisi Informasi No 1 tahun 2010 tentang Standar Layanan

Informasi Publik

3 Peraturan Komisi Informasi No 2 tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik

4 Permendagri No 35 tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Pelayanan Informasi dan Dokumentasi

5 Permenkominfo No 10 tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi

6 Laporan Kegiatan KI Provinsi Lampung per 3 Maret- November 2011 7 Tata tertib, Kode Etik, Program kerja dan Renstra Komisi Informasi

Provinsi Lampung

E. Penentuan Informan

Menurut Moleong (2006 : 163), informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Dalam penelitian ini informan yang akan dijadikan subyek penelitian adalah pihak – pihak yang terlibat dalam proses penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 di Provinsi Lampung. Teknik penentuan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang disesuaikan dengan kriteria – kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini pihak-pihak yang akan dijadikan informan adalah sebagai berikut:

1. Ketua dan Wakil Ketua Komisi Informasi Publik Provinsi Lampung sebagai pihak yang peneliti anggap paling mengerti internal lembaga.

2. Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Lampung sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam stabilisasi organisasi Komisi Informasi Publik Provinsi Lampung

3. Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung sebagai pihak yang bertugas membantu Komisi Informasi Publik dalam hal pendanaan. 4. Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Lampung sebagai pihak yang

bertugas membantu tentang kelengkapan aparatur pada Komisi Informasi Publik Provinsi Lampung.

5. Komisi I DPRD Provinsi Lampung.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan dalam mengumpulkan data agar pekerjaan peneliti lebih mudah dalam arti lengkap, sistematis, efektif sehingga hasil penelitian lebih mudah diolah nantinya. Dalam penelitian kualitatif yang menjadi intrumen atau alat selama penelitian berlangsung adalah peneliti itu sendiri. Dengan menggunakan alat panca indera melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi di tempat peneliti. Pada pelaksanaan penelitian, mulai dari proses memasuki lapangan, pengumpulan data dengan berprinsip bahwa peneliti adalah sebagai Human Instrument. Dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan alat bantu seperti kamera, tape recorder, dan lain – lain.

G. Proses dan Teknik Pengumpulan

Adapun tahapan–tahapan yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memasuki Lokasi Penelitian

Dalam tahap ini sebelum memasuki lokasi penelitian, terlebih dahulu peneliti melapor dan memperkenalkan diri pada aktor kunci di lokasi penelitian dengan membawa surat izin riset formal dari intitusi peneliti kemudian menunjukkan tanda pengenal dan identitas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Purposive Sampling untuk mengumpulkan data dan informasi. Selain itu juga, peneliti mencoba untuk melakukan interaksi sebaik mungkin dengan informan kunci dan informan lainnya yang mengetahui banyak informasi untuk data primer terkait dengan permasalahan utama penelitian. Selain itu data–data seperti dokumentasi dan arsip–arsip juga sangat peneliti butuhkan guna sebagai bukti dari kegiatan ini.

2. Ketika Berada di Lokasi Penelitian (Getting Along) dan Pengumpulan Data (Logging Data)

Pada tahap ini peneliti mencoba untuk mengenali karakteristik informan– informan penelitian ini dengan harapan peneliti mudah mengetahui apa yang menjadi maksud informasi yang diberikan informan terhadap peneliti. Sedangkan untuk teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Interview atau Wawancara Mendalam

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2006: 186).

Wawancara mendalam merupakan suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Dengan metode wawancara mendalam, peneliti dapat menghasilkan data yang lebih mendalam, terperinci dan gambaran jelas mengenai kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam menerapkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

b. Studi Dokumentasi

Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan sumber–sumber data sekunder yang berhubungan dengan masalah penelitian yang ada di lokasi penelitian. Dokumen ini dapat berupa data–data penting termasuk gambar atau foto yang berkaitan kesiapan Pemerintah Provinsi Lampung dalam menerapkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

c. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data melalui proses pengamatan. Pengamatan difokuskan pada jenis kegiatan dan peristiwa tertentu yang memberikan informasi dan pandangan benar-benar berguna (Moleong, 2006: 173). Observasi atau pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperan serta dan tidak berperan serta. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik

observasi berperan serta, dimana peran peneliti sebagai pengamat diketahui oleh para subjek.

H. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa kualitatif, yaitu menganalisa data dengan cara menjelaskan dalam bentuk kalimat logis. Patton dalam Moleong (2006: 287), menyatakan bahwa analisis data adalah proses mengatur ukuran data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satu untaian dasar. Kemudian analisa data dilakukan secara bersama dengan jalannya penelitian, analisa data akan dilakukan melalui tiga kegiatan analisa:

1. Reduksi data

Reduksi data mencakup kegiatan mengihktiarkan hasil pengumpulan data selengkap mungkin, memilah-milahnya ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu. Reduksi data merupakan suatu analisa yang menajamkan, menggolongkan dan mengarahkan, membuang yang tidak perlu, mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik.

Pada penelitian kali ini peneliti melakukan pereduksian data seperti ketika penulis melakukan interview dengan informan, banyak informasi yang diperoleh yang tidak berkaitan dengan proses penelitian seperti ketika informan menceritakan masa-masa ketika mereka menjadi mahasiswa, dalam reduksi data, hasil wawancara yang tidak mengena dengan fokus penelitian seperti tersebut dibuang, untuk selanjutnya data diklasifikasikan.

2. Penyajian Data

Alur kedua dari kegiatan analisa data penelitian adalah penyajian data. Penyajian sering digunakan pada analisa data kualitatif adalah bentuk teks naratif (peristiwa–peristiwa ditampilkan secara berurutan). Data yang diperoleh dari hasil wawanara mendalam dikumpulkan untuk diambil kesimpulan– kesimpulan sehingga bisa disajikan dalam bentuk teks deskriptif.

3. Menarik Kesimpulan

Kegiatan analisa ketiga menarik kesimpulan dan verifikasi. Setelah proses pengumpulan, dan penyajian data dilakukan, langkah selanjutnya yaitu menarik kesimpulan dan verifikasi data. Yang dimaksud verifikasi dalam kegiatan ini yaitu kegiatan peninjauan ulang pada catatan–catatan lapangan, dengan kata lain menguji ulang kebenaran – kebenaran data – data yang ada (uji validitas). Hasil wawancara dari informan kemudian ditarik kesimpulannya sesuai dengan masalah dan tujuan peneliti.

I. Teknik Keabsahan Data

Untuk menentukan keabsahan data dalam penelitian kualitatif harus memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana dikemukakan oleh Moleong (2006: 324) yang dalam pemeriksaan data menggunakan empat kriteria:

1. Derajat Kepercayaan (Credibilty)

Penerapan derajat kepercayaan pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dari non kualitatif. Kriteria ini berfungsi untuk melaksanakan inquri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuan dapat dicapai dan

mempertunjukkan hasil–hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti. Kriteria ini menggunakan tehnik pemeriksaan, ketekunan, pengamatan, triangulasi, pengecakan dengan pihak– pihak yang terlibat, memperbanyak referensi dan juga menganalisis kasus negatif sebagai pembanding. Adapun kegiatan–kegiatan yang dilakukan agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipercaya antara lain.

a) Triangulasi

Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data itu. Denzim dalam Moleong (2006: 330) mengatakan triangulasi data berarti menggunakan data dari sumber, metode penyidik, dan teori. Triangulasi ini digunakan, karena merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai hubungan dan dari berbagai pandangan. Untuk memeriksa keabsahan data, peneliti melakukan pengecekan dalam berbagai sumber yaitu dengan cara melakukan wawancara lebih dari satu pihak informan yang berasal dari unsur-unsur yang berbeda.

b) Perpanjangan Waktu Pengamatan

Perpanjangan waktu pengamatan dilakukan guna meningkatkan kepercayaan. Dengan perpanjangan pengamatan seperti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lain dengan sumber

data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin akrab (tidak ada jarak lagi, semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada hal yang disembunyikan lagi).

2. Keteralihan (Tranferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris tergantung antara kesamaan antara konteks pengirim dan penerima peneliti. Untuk melakukan keteralihan tersebut maka peneliti mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks peneliti bertanggungjawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya.

3. Ketergantungan (Dependality)

Merupakan subtitusi istilah reabilitas dalam penelitian non kualitatif. Pada acara non kualitatif, reabilitas ditunjukkan dengan jalan ,mengadakan replikasi studi. Kondisi yang sama dan hasilnya secara esensial sama maka dapat dikatakan reabilitasnya tercapai. Dalam penelitian kualitatif konsep kebergantungan lebih luas dari reabilitas. Hal tersebut disebabkan oleh peninjauannya dari segi bahwa konsep itu memperhitungkan segalanya, yaitu yang ada pada reabilitas itu sendiri ditambah faktor-faktor yang terkait.

Untuk mengetahui, mengecek hasil penelitian benar atau salah, peneliti mendiskusikannya dengan dosen pembimbing secara bertahap. Mengenai konsep yang dihasilkan di lapangan. Setelah penelitian ini dianggap benar baru diadakan terbuka dengan mengundang teman mahasiswa, pembimbing dan pembahas dosen.

4. Kepastian (Confirmability)

Kepastian berasal dari konsep objektifitas menurut non kualitatif. Pemastian objektivitas atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang. Jika sesuatu itu objektif berarti dapat dipercaya, faktual, dan dapat dipastikan. Pada penelitian ini ditekankan pada data kepastian, melalui suatu audit kepastian.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

Pada bab ini akan peneliti sajikan hasil pengumpulan data yang peneliti lakukan baik itu dari hasil wawancara mendalam yang menghasilkan data primer maupun hasil studi dokumentasi yang menghasilkan berbagai data sekunder terkait dengan pembangunan kapasitas Komisi Informasi Provinsi Lampung dan faktor-faktor penghambat upaya pembangunan kapasitas Komisi Informasi Provinsi Lampung. Penyajian data berikut peneliti sesuaikan dengan rumusan masalah dan fokus penelitian.

1. Pembangunan Kapasitas Komisi Informasi Provinsi Lampung

Seperti yang peneliti ungkapkan dalam fokus penelitian bahwa pembangunan kapasitas suatu organisasi dilakukan dalam 3 (aspek), hal itu peneliti lakukan dengan mempertimbangkan pendapat berbagai ahli yang menyatakan dimensi-dimensi dalam membangun sebuah kapasitas organisasi. Aspek-aspek yang akan peneliti ketahui dan analisis adalah aspek sistem, aspek kelembagaan dan aspek sumberdaya manusia. Berikut akan peneliti paparkan hasil dari pengumpulan data.

a) Aspek Sistem

Pembangunan kapasitas pada aspek sistem mencakup yaitu kerangka peraturan dan kebijakan-kebijakan yang mendukung atau membatasi pencapaian tujuan-tujuan kebijakan tertentu, tanggung jawab dan kekuasaan antar lembaga. Hal ini penting untuk dibangun demi kelancaran tugas dari Komisi Informasi Provinsi Lampung.

Payung hukum utama dari Keterbukaan Informasi Publik adalah Undang-Undang No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi publik. Berdasarkan pada pasal 23 tentang Komisi Informasi maka dibentuklah Komisi Informasi baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, Komisi Informasi berfungsi menjalankan undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi non ligitasi.

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung, Juniardi, S.I.P., M.H tentang tugas Komisi Informasi Provinsi Lampung:

“menerima, memeriksa dan memutus permohonan penyelesaian sengketa informasi publik melalui mediasi dan/ajudikasi non ligitasi; menetapkan kebijakan umum pelayanan informasi publik; menetapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis; memanggil dan/atau mempertemukan para pihak yang bersengketa; meminta catatan atau bahan yang relevan yang dimiliki oleh badan publik terkait untuk mengambil keputusan dalam upaya menyelesaikan sengketa informasi publik; meminta keterangan atau menghadirkan pejabat badan publik ataupun pihak yang terkait sebagai saksi dalam penyelesaian sengketa informasi publik; mengambil sumpah setiap saksi yang didengar keterangannya dalam ajudikasi nonligitasi penyelesaian sengketa informasi publik; membuat kode etik yang diumumkan kepada publik sehingga masyarakat dapat menilai kinerja komisi informasi”.

Wakil Ketua Komisi Informasi, Drs. Ahmad Haryono, bahwa:

“tugas dan wewenang Komisi Informasi sudah diungkapkan melalui pasal 23 UU KIP, serta pasal 24 ayat 1 dan pasal 26 Undang-Undang No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, sehingga kita bisa menjalankan tugas, pokok dan fungsi. Selain undang-undang itu ada pula PP No 61 tahun 2010, Permendagri No 35 tahun 2010, Permenkominfo No 10 tahun 2010”.

Selain peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah, Komisi Informasi juga melakukan konsolidasi untuk membuat peraturan-peraturan yang nantinya akan membantu kinerja Komisi Informasi Provinsi Lampung dalam menjalankan tugasnya. Hal-hal seperti kode etik, prinsip-prinsip kerja juga telah dibuat oleh Komisi Informasi Lampung.

Berikut ini adalah daftar undang-undang dan peraturan yang digunakan Komisi Informasi Provinsi Lampung:

1) Undang-Undang No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Keberadaan Undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik sangat penting sebagai landasan hukum yang berkaitan dengan (1) hak setiap orang untuk memperoleh informasi; (2) kewajiban Badan Publik menyediakan dan melayani permintaan informasi secara cepat, tepat waktu, biaya ringan/proporsional, dan cara yang sederhana; (3) pengecualian bersifat ketat dan terbatas; (4) kewajiban Badan Publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan pelayanan Informasi.

Dengan membuka akses publik terhadap Informasi diharapkan Badan Publik termotivasi untuk bertanggungjawab dan berorientasi pada pelayanan rakyat yang sebaik-baiknya. Dengan demikian, hal itu dapat mempercepat perwujudan pemerintahan yang terbuka yang merupakan upaya strategis mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dan terciptanya kepemerintahan yang baik.

2) PP No.61 tahun 2010 tentang Pelaksanaan UU No.14 tahun 2008 Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 merupakan rezim hukum baru yang mengusung prinsip transparansi dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Undang-undang tersebut tidak hanya mengatur keterbukaan Informasi pada lembaga negara saja, tetapi juga pada organisasi non pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari dana publik, baik APBN/APBD, sumbangan masyarakat, maupun sumber luar negeri.

Untuk pengaturan lebih lanjut, Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik mengamanatkan pembentukan peraturan pemerintah yang mengatur mengenai jangka waktu pengecualian terhadap informasi yang dikecualikan dan tatacara pembayaran ganti rugi oleh Badan Publik.

Namun, peraturan pemerintah ini tidak hanya mengatur mengenai kedua hal tersebut, tetapi mengatur juga mengenai pertimbangan tertulis kebijakan Badan Publik, pengklasifikasian Informasi yang

dikecualikan, kedudukan dan tugas Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi, dan pembebanan pidana denda.

3) Peraturan Komisi Informasi No.1 tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik.

Peraturan ini bertujuan untuk (1) memberikan standar bagi badan publik dalam melaksanakan kegiatan pelayanan informasi publik; (2) meningkatkan pelayanan informasi di lingkungan Badan Publik untuk menghasilkan layanan Informasi yang berkualitas; (3) menjamin pemenuhan hak warga negara untuk memperoleh akses informasi publik; dan (4) menjamin terwujudnya tujuan penyelenggaraan keterbukaan informasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.

4) Peraturan Komisi Informasi No.2 tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, peraturan ini mengatur mengenai:

a) Kewenangan Komisi Informasi dalam menyelesaikan sengketa Informasi publik;

b) Pengajuan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik; c) Registrasi permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik; d) Pemeriksaan pendahuluan;

e) Penetapan mediator dan Majelis Komisioner serta pemberitahuan kepada pihak mengenai Metode, tempat, agenda, dan materi pokok pertemuan mediasi pertama dan sidang awal ajudikasi;

f) Prosedur mediasi ; g) Prosedur Ajudikasi

5) Permendagri No.35 tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Pelayanan Informasi dan Dokumentasi.

6) Permenkominfo No.10 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi.

Kerangka peraturan yang ada diakui oleh Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung, Juniardi, S.I.P., M.H, beliau mengatakan bahwa:

“kerangka peraturan yang ada saat ini masih belum maksimal saya rasa, karena sampai sekarangpun masih terjadi persepsi yang berbeda dalam memahami Undang-Undang No.14 tahun 2008 tersebut, terutama terkait untuk penempatan SDM, penetapan gaji dan kekuatan eksekusi putusan KI”.

Selama ini Komisi Informasi Provinsi Lampung melakukan konsolidasi terhadap DRPD Provinsi Lampung untuk membahas masalah kelengkapan kerangka peraturan yang ada. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung yakni:

“ Komisi Informasi Provinsi Lampung sudah melakukan konsolidasi yaitu mendorong agar DPRD Provinsi Lampung untuk mengeluarkan regulasi turunan Undang-Undang No.14 tahun 2008 berupa Peraturan Daerah (Perda) yang nantinya akan menjadi penguat implementasi Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik di Provinsi Lampung. Namun sampai saat ini belum nampak hasilnya”.

Kelengkapan kerangka aturan yang menjadi dasar Komisi Informasi untuk melakukan tugas pokok dan fungsinya harus segera diwujudkan. Ketidaklengkapan kerangka peraturan akan menimbulkan masalah seperti

tumpang tindih tugas dan wewenang, perbedaan pemahaman aturan yang ada dan yang paling mengkhawatirkan adalah turunnya kepercayaan publik terhadap Komisi Informasi karena ketidakpastian aturan yang berkenaan dengan lembaga komisi itu sendiri.

Menurut keterangan dari Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung, Juniardi, S.I.P.,M.H, beliau menjelaskan bahwa selama ini peraturan perundang-undangan yang cukup ada mampu menyelesaikan kasus yang telah ditangani oleh Komisi Informasi Provinsi Lampung, beliau menjelaskan bahwa:

“selama ini peraturan yang ada bisa digunakan untuk menyelesaikan kasus yang terjadi. Baru 2 kasus yang ditangani oleh Komisi Informasi Provinsi Lampung, yaitu kasus Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Utara dengan mahasiswa bernama Ivin. Si Ivin meminta informasi mengenai titik koordinat tanah milik keluarganya. Dan satu lagi Ivin meminta informasi

Dokumen terkait