BAB IV : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OEH ANAK DILAKUKAN OEH ANAK
PENGATURAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM MENURUT UU NO.11 TAHUN 2012
B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kenakalan Anak
Kenakalan anak diambil dari istilah asing Juvenile Deliquency. Juvenille artinya, anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan Deliquency artinya terabaikan/mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat,a-sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila dan lain-lain.42Menurut Kartini Kartono, kenakalan Remaja merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
Sedangkan menurut Santrock bahwa kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.43
Kenakalan anak setiap tahun selalu meningkat, apabila dicermati perkembangan tindak pidana yang dilakukan anak selama ini, baik dari kualitas maupun modus operansi yang dilakukan, kadang-kadang tindakan pelanggaran yang dilakukan anak dirasakan telah meresahkan semua pihak khususnya paraorang tua. Fenomena meningkatnya perilaku tindak kekerasan yang dilakukan anak seolah-olah tidak berbanding lurus dengan usia pelaku.44
42Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak,(Bandung, PT Refika Aditama, 2010) hlm. 9
43Kartini Kartono, Psikologi Remaja,(Bandung ,Rosda Karya, 1988) hlm. 93 44Nandang Sambas, Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia,(
Yogyakarta, Graha Ilmu, 2010)hlm.103
Menurut Zakiah Daradjat, bahwa generasi muda dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu sebagai berikut :45
1. Kanak-kanak : 0 – 12 tahun Masa ini dibagi atas 3 (tiga) tahap yaitu : a) Masa bayi : 0 – menjelang 2 tahun b) Masa Kanak-Kanak I : 2 – 5 tahun c) Masa kanak-Kanak II : 5 – 12 tahun 2. Masa Remaja : 13 – 20 tahun 3. Masa Dewasa Muda : 21 – 25 tahun
Pada masa-masa inilah, seorang anak berada dalam kondisi labil dan dalam posisi pencarian jati diri. Proses pembentukan pola pikir yang tidak stabil menjadikannya mudah terintimidasi oleh apa pun, artinya kondisi dan suasana apapun dapat saja menjadi pemicu munculnya behavioral deviation (penyimpangan perilaku), yang kemudian mengarah kepada juvenile delinquency (kenakalan remaja).
kenakalan remaja (juvenile delinquency) sebagai salah satu bentuk penyimpangan perilaku (behavioral deviation) merupakan salah satu akibat kegagalan pertumbuhan intelegensia dalam diri anak tersebut, yang memang harus diakui karena masih dalam masa pertumbuhan.
Kemampuan intelegensi tersebut, menurut Alfed Biner, memuat 3 (tiga) aspek, yaitu:46
1. Direction; Kemampuan untuk memusatkan kepada suatu masalah yang harus dipecahkan.
45Gatot Supramono, Hukum Acara Pengadilan Anak, (Jakarta, Djambatan, 2005)hlm.1 46Ibid, hlm. 94
2. Adaptation; Kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel didalam menghadapi masalah.
3. Criticisem; Kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.
Berdasarkan uraian tersebut, maka nampak jelas bahwa perkembangan seorang anak, baik dari sisi fisik maupun non-fisik, masih sangat jauh dari stabilitas. Kemampuan intelegensi seorang anak tidak akan mampu menganalisa dan menelaah problem sosial dan perkembangan sosial serta perubahan sosial karena pesatnya globalisasi industri komunikasi, sehingga faktor eksternal, sebagaimana diungkapkan oleh Soerjono Soekanto, menjadi faktor utama dalam memicu sifat-sifat negatif yang alamiah ada pada diri manusia dini.47
Sebab-sebab timbulnya kenakalan anak atau faktor-faktor yang mendorong anak melakukan kenakalan anak atau dapat juga dikatakan latar belakang dilakukannya perbuatan tersebut, dengan perkataan lain, perlu diketahui motivasinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa yang dikatakan„motifasi‟ itu adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu perbuatan dengan tujuan tertentu.Motivasi sering juga diartikan sebagai usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok tertentu tergerak untuk melakukan suatu perbuatan karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.48
47Soerjono Soekanto, Bahan Bacaan Teoritis Dalam Sosiologi Hukum, (Jakarta, Ghalia Indonesia, 1985)hlm.73
48Wagiati Soetodjo,Hukum Pidana Anak,(Bandung,Refika Aditama, 2006)hlm.16
Bentuk dari motivasi tersebut ada 2 (dua) macam,yaitu : motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah dorongan atau keinginan pada diri seseorang yang tidak perlu disertai perangsang dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang datang dari luar diri seseorang.
Romli Atmasasmita mengemukakan pendapatnya mengenai motivasi intsrinsik dan ektrinsik dari kenakalan anak :49
1. Yang termasuk motivasi intrinsik dari pada kenakalan anak-anak adalah :
a. Faktor intelegentia
Intelegentia merupakan kesanggupan seseorang untuk menimbang dan memberi keputusan.Anak-anak ini pada umumnya mempunyai intelegentia verbal lebih rendahdan wawasan sosial yang kurang tajam, sehingga mereka mudah sekali terseret oleh ajakan buruk untuk menjadikan delukuen jahat.
b. Faktor usia
Stephen Hurwitz mengungkapkan “age is importance in the causation of crime”(usia adalah faktor yang paling penting dalam sebab musabab timbulnya kejahatan).
49Ibid, hlm.21
c. Faktor kelamin
Paul W.Tappan mengemukakan pendapatnya, bahwa kenakalan anak dapat dilakukan oleh anak laki-laki maupun oleh anak perempuan, sekalipun dalam prakteknya jumlah anak laki-laki yang melakukan kenakalan jauh lebih banyak dari pada anak perempuan pada batas usia tertentu.
d. Faktor kedudukan anak dalam keluarga
Kedudukan seorang anak dalam keluarga menurut urutan kelahirannya, kebanyakan delinquency dan kejahatan dilakukan oleh anak pertama dan atau anak tunggal atau oleh anak wanita atau dia satu-satunya di antara sekian saudara-saudaranya (kakak atau adik-adiknya).
2. Yang termasuk motivasi ekstrinsik adalah :50 a) Faktor rumah tangga
Keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak,keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif. Oleh karena sejak kecil anak dibesarkan oleh keluarga dan untuk seterusnya, sebagian besar waktunya adalah di dalam keluarga maka sepantasnya kalau kemungkinan timbulnya delinquency itu sebagian juga berasal dari keluarga.Adapun keluarga yang menjadi sebab timbulnya
50Ibid, hlm.22
delinquency dapat berupa keluarga yang tidak normal (broken home) dan keadaan jumlah anggota keluarga yang kurang menguntungkan.
Menurut Moelyatno bahwa menurut pendapat umum pada broken home ada kemungkinan besar bagi terjadinya kenakalan anak, di mana terutama perceraian atau perpisahan orang tua mempengaruhi perkembangan si anak. Keadaan keluarga yang tidak normal bukan hanya terjadi pada broken home, akan tetapi dalam masyarakat modern sering pula terjadi suatu gejala adanya broken home semu (quasi broken home) ialah kedua orang tuanya masih utuh,tetapi karena masing-masing anggota keluarga mempunyai kesibukan masing-masing-masing-masing sehingga orang tua tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anaknya. Pada dasarnya kenakalan anak yang disebabkan karena broken home dapat diatasi atau ditanggulangi dengan cara-cara tertentu, dalam broken home cara mengatasi agar anak tidak menjadi delikuen ialah orang tua yang bertanggungjawab dalam memelihara anak-anaknya hendaklah mampu memberikan kasih sayang sepenuhnya sehingga anak tersebut merasa seolah-olah tidak pernah kehilangan ayah dan ibunya, disamping itu keperluan anak secara jasmani harus dipenuhi
pula sebagaimana layaknya sehingga anak tersebut terhindar dari perbuatan yang melanggar hukum.
b) Faktor pendidikan dan sekolah
Sekolah adalah sebagai media atau perantara bagi pembinaan jiwa anak-anak atau dengan kata lain, sekolah ikut bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak,baik pendidikan keilmuan maupun pendidikan tingkah laku (character).
Banyaknya atau bertambahnya kenakalan anak secara tidak langsung menunjukan kurang berhasilnya sistem pendidikan di sekolah-sekolah.Dalam konteks ini sekolah merupakan ajang pendidikan yang kedua setelah keluarga bagi anak, selama mereka menempuh pendidikan di sekolah terjadi interaksi antara anak dengan sesamanya, juga interaksi antara anak dengan guru. Interaksi yang mereka lakukan di sekolah sering menimbulkan akibat sampingan yang negatif bagi perkembangan mental anak sehingga menjadi delikuen, disisi lain anak-anak yang masuk sekolah ada yang berasal dari keluarga yang kurang memperhatikan kepentingan anak dalam belajar yang kerap kali berpengaruh pada temannya yang lain.
Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa sekolah merupakan tempat pendidikan anak-anak dapat menjadi sumbe terjadinya konflik-konflik psikologis yang pada prinsipnya memudahkan anak menjadi delikuen.
Menurut Kenney bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :51
a. Sekolah harus merencanakan suatu program sekolah yang sesuai atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari semua anak untuk mengahasilkan kemajuan dan perkembangan jiwa yang sehat.
b. Sekolah harus memperhatikan anak-anak yang memperlihatkan tanda-tanda yang tidak baik (tanda-tanda kenakalan) dan kemudian mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mencegah dan memperbaikinya.
c. Sekolah harus bekerja sama dengan orang tua murid dan pemimpin-pemimpin yang lainnya untuk membantu
menyingkirkan atau menghindarkan setiap faktor di sekelilingnya yang menyebabkan kenakalan pada mereka.
Dengan demikian, proses pendidikan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak kerap kali memberi pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap anak didik di sekolah hingga dapat menimbulkan kenakalan anak (juvenili delinquency).
c) Faktor pergaulan anak
Dalam situasi sosial yang menjadi semakin longgar, anak-anak kemudian menjauhkan diri dari keluarganya untuk kemudian menegakkan eksistensi dirinya yang dianggap sebagai tersisih
51Ibid,hlm .23
dan terancam, mereka lalu memasuki satu unit keluarga baru dengan subkultur baru yang sudah delikuen sifatnya. Dengan demikian anak menjadi delikuen karena banyak dipengaruhi oleh berbagai tekanan pergaulan yang semuanya memberikan pengaruh yang menekan dan memaksa pada pembentukan perilaku buruk, sebagai produknya anak-anak tadi suka melanggar peraturan,norma sosial dan hukum formal. Anak-anak ini menjadi delinkuen/jahat sebagai akibat dari transfromasi psikologis sebagai reaksi terhadap pengaruh eksternal yang menekan dan memaksa sifatnya.Dalam hal ini peran orang tua untuk menyadarkan dan mengembalikan kepercayaan anak tersebut serta harga dirinya sangat diperlukan, perlu mendidik anak agar bersikap formal dan tegas supaya mereka terhindar dari pengaruh-pengaruh yang datang dari lingkungan pergaulan yang kurang baik.
d) Faktor media masa
Bagi anak yang mengisi waktu senggangnya dengan baca-bacaan yang buruk, maka hal itu akan berbahaya dan dapat menghalang-halangi mereka untuk berbuat hal-hal yang baik.
Demikian pula tontonan yang berupa gambar-gambar porno akan memberikan rangsangan seks terhadap anak. Mengenai hiburan film ada kalanya memiliki dampak kejiwaan yang baik, akan tetapi hiburan tersebut dapat memberikan pengaruh
yang tidak menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak jika tontonannya menyangku aksi kekerasan dan kriminalitas. Oleh karena itu upaya yang dapat dilakukan dengan cara mengadakan penyensoran film-film yang berkualitas buruk terhadap psikis anak dan mengarahkan anak pada tontonan yang lebih menitikberatkan aspek pendidikan, mengadakan ceramah melalui media massa mengenai soal-soal pendidikan pada umumnya,mengadakan pengawasan terhadap peredaran dari buku-buku komik, majalah-majalah, pemasangan-pemasangan iklan dan lain sebagainya.52
52Ibid, hlm .25
BAB III
PENGATURAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA