1.4. Sistematika Penulisan
2.2.4. Faktor-faktor Persepsi Risiko Kecelakaan
Ropeik & Slovic (2003) menyebutkan bahwa faktor-faktor persepsi risiko terdiri dari 10 faktor, yaitu :
1. Ketakutan (dread) 2. Kontrol
3. Asal risiko (alam atau manusia) 4. Pilihan
5. Melibatkan anak-anak 6. Baru tidaknya risiko 7. Kewaspadaan
9. Pertukaran risiko keuntungan
10.Kepercayaan terhadap faktor yang menghindarkan kecelakaan
Faktor-faktor persepsi risiko tersebut merupakan faktor-faktor persepsi risiko secara umum, yang dapat digunakan dalam berbagai jenis persepsi risiko. Dalam jurnalnya, Ropeik & Slovic (2003) memberikan penjelasan dan contoh penggunaan faktor-faktor persepsi risiko tersebut dalam berbagai jenis, diantaranya seperti persepsi risiko dalam hal penyakit, persepsi risiko dalam hal kecelakaan, persepsi risiko dalam hal teknologi dan persepsi risiko dalam hal komunikasi. Persepsi risiko dalam hal penyakit seperti persepsi risiko tertularnya penyakit yang mewabah, seperti SARS, HIV AIDS, sapi gila dan sebagainya. Persepsi risiko dalam hal kecelakaan seperti persepsi risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas saat berkendara atau kecelakaan penerbangan. Persepsi riskio dalam teknologi seperti persepsi risiko dampak teknologi baru yang diciptakan, seperti teknologi nuklir. Persepsi risiko dalam hal komunikasi seperti merebaknya informasi mengenai teroris.
Bila dikaitkan dengan penelitian, maka faktor-faktor persepsi risiko tersebut akan digunakan sebagai faktor-faktor persepsi risiko dalam hal kecelakaan. Oleh karena itu, faktor-faktor persepsi tersebut menjadi faktor-faktor persepsi risiko kecelakaan dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Ketakutan (dread)
Individu akan mempersepsi suatu kejadian memiliki risiko yang besar apabila akibat yang akan ditimbulkan menakutkan. Ropeik & Slovic (2003) menyatakan bahwa kematian yang menakutkankan sering
menimbulkan perhatian yang lebih dari individu. Dalam mengemudi, apabila individu menganggap bahwa akibat dari perilaku aggressive driving adalah terlibat dalam kecelakaan serta mengalami cara kematian yang menakutkan, maka risiko yang dipersepsi adalah besar.
2. Kontrol
Persepsi risiko dari suatu situasi akan dianggap lebih kecil apabila individu merasa memiliki kontrol (kendali) atas situasi yang dihadapinya. Akan tetapi, apabila individu merasa tidak memiliki kontrol atas situasi yang dihadapinya, maka individu akan merasa memiliki persepsi risiko yang besar terhadap situasi yang dihadapinya tersebut. Misalnya, posisi sebagai pengendara di dalam sebuah mobil akan dianggap oleh individu sebagai berisiko rendah, karena pengemudi merasa memiliki kontrol atas mobil yang dikemudikan tersebut terhadap segala hal yang akan terjadi selama mengemudi. Namun, apabila individu berposisi sebagai penumpang, maka ia akan mempersepi hal tersebut sebagai berisiko tinggi karena ia tidak dapat mengontrol kemudi kendaraan tersebut sewaktu menjadi penumpang (Ropeik & Slovic, 2003).
3. Asal risiko (alam atau manusia)
Suatu kejadian tertentu akan dipersepsi memiliki risiko rendah apabila penyebab dari risiko tersebut bersal dari alam. Tetapi, apabila suatu kejadian yang terjadi disebabkan oleh perbuatan manusia, maka hal tersebut akan dipersepi lebih tinggi. (Ropeik & Slovic, 2003). Misalnya risiko terlibat dalam suatu kecelakaan yang disebabkan oleh pohon
tumbang akibat hujan lebat dipersepsi lebih rendah daripada risiko terlibat dalam kecelakaan yang dikarenakan kecerobohan pengendara lain yang mengemudi ugal-ugalan (Budiastomo dan Santoso, 2007).
4. Pilihan
Suatu risiko yang dipilih oleh individu akan dipersepsi lebih rendah jika dibandingkan dengan apabila risiko tersebut dipaksakan oleh orang lain kepada diri kita. Misalnya, jika kita mengemudikan kendaraan sambil menggunakan telepon seluler, anda akan mempersepsi risiko terjadinya kecelakaan rendah karena anda merasa dapat mengontrol situasi yang akan terjadi. Tetapi jika anda melihat pengemudi lain mengemudi sambil menggunakan telepon seluler anda akan merasa marah dengan risiko yang dipaksakan oleh orang tersebut terhadap anda. Hal ini dikarena anda tidak dapat mengontrol situasi yang akan terjadi, sebab pengemudi lain tersebut yang memiliki kendali sehingga kita mempersepsi risiko terjadinya kecelakaan pada diri kita tinggi. Faktor kontrol turut berkontribusi dalam contoh ini, karena anda memiliki kendali atas kendaraan anda (Ropeik & Slovic, 2003).
5. Melibatkan Anak-anak
Suatu kondisi atau kejadian akan dipersepsi lebih berisiko apabila melibatkan anak-anak (Ropeik & Slovic, 2003). Misalnya, individu yang mengendarai sebuah mobil akan mengurungkan niatnya untuk melakukan manuver-manuver terntentu (yang dapat membahayakan) karena di dalam mobil yang dikendarai terdapat penumpang anak-anak. Individu akan
mempersepsi manuver-manuver yang dilakukan memiliki risiko yang besar apabila terdapat anak-anak di dalam mobil yang dikendarai. Akan tetapi, apabila individu mengemudikan mobil tanpa adanya penumpang anak-anak, maka individu cenderung akan melakukan manuver-manuver tersebut dan mempersepsi bahwa manuver-manuver yang dilakukannya tersebut memiliki risiko yang kecil.
6. Baru tidaknya risiko
Apabila individu menemui suatu situasi risiko yang baru, makan individu akan mempersepsi risiko pada situasi baru tersebut tinggi. Akan tetapi, apabila individu menemui situasi risiko yang sudah dikenali, maka individu akan mempersepsi risiko tersebut sebagai berisiko rendah walaupun individu tersebut berada pada suatu situasi risiko yang sama (Ropeik & Slovic, 2003). Misalnya, ketika seorang pengendara melewati suatu persimpangan yang belum pernah dilewati, seorang pengendara akan lebih berhati-hati karena mempersepsi risiko kecelakaan tinggi pada persimpangan tersebut. Tetapi, jika pengendara yang sama sudah sering melewati persimpangan tersebut, maka pengendara akan lebih ceroboh (misalnya menerobos lampu merah di persimpangan yang sering dilewati tersebut) karena ia mempersepsi risiko kecelakaan rendah (Budiastomo dan Santoso, 2007).
7. Kewaspadaan
Semakin waspada individu akan suatu risiko, semakin tersedia kewaspadaan tersebut ke dalam kesadaran kita dan individu menjadi
semakin perhatian terhadap risiko tersebut (Ropeik & Slovic, 2003). Misalnya, semakin banyak informasi yang didapatkan oleh individu bahwa jalan “A” merupakan jalan rawan kecelakaan, maka kewaspadaan individu tersebut semakin tersedia ke dalam kesadarannya, sehingga individu tersebut semakin perhatian terhadap jalan tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan individu tersebut akan lebih berhati-hati apabila ia melewati jalan tersebut karena menurut informasi yang ia dapat jalan tersebut rawan kecelakaan. Walaupun pada kenyataannya, seseorang dapat mengalami kecelakaan di jalan manapun yang mereka lewati akibat dari aggressive driving yang ia lakukan. Tetapi informasi tersebut meningkatkan kewaspadaan, sehingga ia lebih perhatian terhadap risiko kecelakaan yang akan ditimbulkan di jalan “A” tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia mempersepsi risiko terjadinya kecelakaan tinggi apabila ia tidak waspada memperhatikan informasi tersebut dan tidak mengemudi secara hati-hati.
8. Bias hal itu akan terjadi pada diri sendiri
Individu akan mempersepsi risiko yang lebih besar apabila berpikir bahwa dirinya dan orang-orang yang ia sayangi dapat menjadi korban (Ropeik & Slovic, 2003). Misalnya, informasi tentang jalan “A” merupakan jalan rawan kecelakaan (karena berdasarkan data statistik jalan “A” memiliki angka kecelakaan yang tinggi) akan membuat individu menganggap bahwa setiap orang yang melewati jalan “A” akan mengalami kecelakaan, baik berkendara aman maupun tidak aman (hal ini berarti risiko kecelakaan apabila melewati jalan tersebut dipersepsi tinggi). Padahal
kemungkinan akan terjadinya kecelakaan belum tentu terjadi pada setiap individu, baik dengan berkendara aman maupun tidak aman, walaupun jalan tersebut rawan kecelakaan. Hal ini menjelaskan mengapa kemungkinan statistik seringkali tidak relevan bagi kita dan merupakan bentuk komunikasi risiko yang tidak efektif (Ropeik & Slovic, 2003). 9. Pertukaran risiko keuntungan
Beberapa peneliti persepsi risiko dan penganalisis risiko percaya bahwa pertukaran risiko-keuntungan merupakan faktor utama yang membuat individu lebih atau kurang takut terhadap suatu ancaman. Jika individu melihat akan adanya suatu keuntungan dari suatu perilaku atau pilihan, risiko yang dipersepsikan terhadap perilaku atau pilihan tersebut dipersepsi lebih kecil. Jika individu melihat tidak akan ada suatu keuntungan dari suatu perilaku atau pilihan, risiko yang dipersepsikan lebih besar. (Ropeik & Slovic, 2003). Misalnya, seorang pengemudi akan mempersepsi perilaku mengemudi melawan arah sebagai berisiko kecil apabila pengemudi tersebut sedang terburu-buru dan beranggapan bahwa bila mengemudi melawan arah akan mendapatkan keuntungan berupa tidak perlu memutar kendaraan pada putaran yang harus ditempuh dengan jarak yang jauh serta dapat tiba di tempat tujuan lebih awal. Tetapi jika ia tidak sedang terburu-buru, maka ia akan lebih melihat akibat berbahaya yang akan ditimbulkan dari mengemudi melawan arah tersebut dan mempersepsi risiko terjadinya kecelakaan lebih besar.
10.Kepercayaan terhadap faktor yang menghindarkan kecelakaan
Penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil kepercayaan kita terhadap faktor-faktor (misalnya lembaga perlindungan, orang, ataupun benda) yang dapat melindungi diri kita, maka kita akan semakin takut terhadap risiko yang akan kita hadapi. Tetapi, semakin besar kepercayaan kita terhadap faktor-faktor yang dapat melindungi diri kita, semakin kecil rasa khawatir yang kita rasakan (Ropeik & Slovic, 2003). Apabila seorang pengemudi percaya bahwa kendaraan yang digunakannya aman dan layak untuk dikendarai, maka risiko yang dipersepsinya kecil. Namun, apabila pengemudi tersebut tidak percaya bahwa kendaraan yang digunakannya aman dan layak untuk dikendarai, maka risiko yang dipersepsinya besar sehingga ia tidak percaya bahwa kendaraan tersebut dapat digunakan untuk membawanya ke tempat tujuan dengan aman.
Penelitian ini hanya akan menggunakan sembilan faktor persepsi risiko kecelakaan, yaitu ketakutan, kontrol, asal risiko (alam atau manusia), pilihan, baru tidaknya risiko, kewaspadaan, bias hal itu akan terjadi pada diri sendiri, pertukaran risiko keuntungan dan kepercayaan terhadap faktor yang menghindarkan kecelakaan. Faktor melibatkan anak-anak tidak digunakan dalam penelitian ini karena pada penelitian ini subjek yang digunakan adalah pengemudi remaja. Sedangkan pada usia remaja keterlibatan anak-anak dalam aktifitas berkendara remaja sangat jarang terjadi. Aktifitas berkendara para pengemudi remaja lebih banyak dilakukan oleh teman-teman sebaya mereka.