BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Anemia
Sediaoetama (2008), mengatakan bahwa pola konsumsi pangan sangat dipengaruhi oleh adat istiadat setempat, termasuk didalamnya pengetahuan mengenai pangan, sikap terhadap pangan dan kebiasaan makan. Semakin sering suatu bahan pangan dikonsumsi dan semakin berat pangan tersebut dimakan, maka semakin besar peluang pangan tersebut tergolong dalam pola konsumsi pangan individu atau masyarakat.
Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap perilaku dalam memilih makanan yang akan berdampak pada asupan gizinya. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan sangat penting peranannya dalam menentukan asupan makanan. Dengan adanya pengetahuan tentang gizi, masyarakat akan tahu bagaimana menyimpan dan menggunakan pangan. Memperbaiki konsumsi pangan merupakan salah satu bantuan terpenting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu penghidupan (Sediaoetama, 2008).
Pengetahuan tentang gizi yang kurang bagus tentunya akan berdampak pada perilaku konsumsi makan, dengan demikian juga akan berakibat terhadap kondisi/status gizi. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap anemia menyebabkan sekitar 4,5 milyar orang diseluruh dunia mengalami kekurangan zat besi. Satu dari 3 orang tersebut mengalami anemia, yang merupakan kondisi parah dari kekurangan zat besi (BKKBN, 2013). Purbadewi dan Ulvie (2007) ada hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Moyudan Sleman Yogyakarta.
2.2.2. Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Briawan et al. (2012), mengatakan bahwa asupan zat gizi merupakan hasil konversi konsumsi pangan yang terdiri dari energi, protein, zat besi, vitamin A, dan vitamin C. Rata-rata asupan energi dan zat gizi per hari adalah 1008±446 kkal, protein 38,3± 19,8 g, zat besi 10,8±6,3 mg, vitamin C 25± 16 mg dan vitamin A 448±410 RE. Rata-rata Tingkat Kecukupan Gizi (TKG) energi adalah defisit tingkat berat (45,8%), sedangkan TKG protein defisit tingkat sedang (76,6%) dan TKG vitamin A tergolong kategori cukup (89,7%). Studi sebelumnya yang dilakukan oleh Briawan et al. (2012), pada mahasiswi IPB juga menunjukkan defisiensi asupan zat gizi mikro. Proporsi subjek yang mengalami defisit asupan vitamin dan zat besi cukup tinggi, yaitu untuk vitamin A dan C (40-70%) dan zat besi 85%.
1. Konsumsi Energi
Arisman, (2004) menyatakan bahwa energi merupakan kebutuhan gizi utama manusia, karena jika kebutuhan energi tidak terpenuhi sesuai yang dibutuhkan tubuh, maka kebutuhan zat gizi lain juga tidak terpenuhi seperti protein dan mineral termasuk diantaranya adalah zat besi sebagai pembentuk sel darah merah akan menurun, yang pada akhirnya dapat menyebabkan menurunnya kadar hemoglobin darah.
Zat gizi yang dapat menghasilkan energi diperoleh dari karbohidrat, lemak dan protein. Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Kecukupan karbohidrat di dalam diet akan mencegah penggunaan protein sebagai sumber energi. Sehingga fungsi protein dalam proses pengangkutan zat gizi termasuk besi ke dalam sel-sel tidak terganggu (Arisman, 2004). Angka kecukupan gizi (energi, protein, besi) berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Angka Kecukupan Gizi (Energi, Protein, Besi, Vitamin C) Berdasarkan Kelompok Umur
Kelompok Umur Zat Gizi Energi (kkal) Protein (g) Besi (mg) Vitamin C (mg) Laki-Laki 19-29 tahun 2725 62 13 90 30-49 tahun 2625 65 13 90 50-64 tahun 2325 65 13 90 Perempuan 19-29 tahun 2250 56 26 75 30-49 tahun 2150 57 26 75 50-64 tahun 1900 57 12 75
2. Konsumsi Protein
Tingkat konsumsi protein perlu diperhatikan karena semakin rendah tingkat konsumsi protein maka semakin cenderung untuk menderita anemia. Protein berfungsi dalam pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh. Hemoglobin, pigmen darah yang berwarna merah dan berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan karbon dioksida adalah ikatan protein. Protein juga berperan dalam proses pengangkutan zat-zat gizi termasuk besi dari saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan, dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Sehingga apabila kekurangan protein akan menyebabkan gangguan pada absorpsi dan transportasi zat-zat gizi (Almatsier, 2002).
Kekurangan asupan protein dari makanan juga dapat menyebabkan sintesa protein di dalam darah akan terganggu. Dalam darah atau cairan tubuh lain zat besi ditransportasikan oleh protein yang disebut transferrin. Transferrin akan membawa zat besi dalam darah yang akan digunakan pada sintesa hemoglobin. Apabila kadar transferrin dalam darah menurun maka transportasi zat besi tidak dapat berjalan dengan baik dan pada akhirnya kadar hemoglobin dalam darah juga menurun (Arisman, 2004).
3. Konsumsi Zat Besi
Zat besi merupakan unsur utama dalam pembentuk Hb, yang seharusnya hubungan antara kebiasaan makan sumber heme dengan kejadian anemia memiliki hubungan yang signifikan. Ada beberapa hal yang mempengaruhi ketersedian zat besi dalam bahan makan salah satunya yaitu cara pengolahan bahan pangan. Cara
pengolahan bahan makan dapat mempengaruhi bioavabilitas zat besi dalam bahan makanan, cara pencucian misalnya dapat melarutkan zat besi dalam air. Selain itu proses pemanasan bahan makanan juga dapat mempengaruhi kandungan zat besi didalam bahan makanan (Almatsier, 2002).
Dengan memperhatikan pola makan, diharapkan kebutuhan zat besi pada masing-masing individu dapat terpenuhi sebagaimana yang dibutuhkan. Menurut Kartono dan Soekatri (2004) kebutuhan besi per orang per hari untuk bayi (0-11 bulan) adalah 0.5-7 mg, anak usia 1-9 tahun adalah 8-10 mg, pria 10-12 tahun adalah 13 mg, pria usia 13-15 tahun adalah 19 mg, pria usia 16-18 tahun adalah 15 mg, pria usia 19-65 tahun keatas adalah 13 mg, wanita usia 10-12 tahun adalah 20 mg, wanita usia 13-49 tahun adalah 26 mg, wanita usia 50-65 tahun keatas adalah 12 mg, untuk wanita hamil ditambah 9-13 mg dari kebutuhan normal, sedangkan untuk wanita menyusui ditambah 6 mg dari kebutuhan normal.
Dalam pola makan dianjurkan mengonsumsi makanan yang mengandung heme iron yang terdapat pada protein hewani seperti daging, ikan, karena makanan tersebut mempunyai kemampuan menyerap heme iron yang lebih optimal. Selain itu juga dianjurkan untuk mengonsumsi sayuran berwarna hijau tua dan buah-buahan. Makanan yang mengandung vitamin C sangat dibutuhkan untuk membantu absorbsi zat besi. Petugas gizi dapat membantu untuk merencanakan bahan makanan dan upaya memperolehan makanan yang begizi. Petugas gizi perlu memberikan informasi tentang diet yang dibutuhkan sesuai dengan kecukupan gizi dan pola makan sehari-hari (Ramakrishan, 2001).
Sumber zat besi lainnya adalah makanan yang mengandung non heme, biasanya berasal dari nabati, seperti sayuran hijau. Jumlah zat besi yang dapat diserap dari bahan makanan tumbuh-tumbuhan sebesar 1-5%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siska (1998) menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan sumber zat besi termasuk sayuran dengan risiko anemia (p=0,000). Protein kedelai pada umumnya dapat menghambat penyerapan zat besi karena adanya kandungan fitat serta karena memiliki bobot molekul yang lebih tinggi. Namun produk fermentasi kedelai seperti tempe dan kecap dapat meningkatkan penyerapan zat besi (Lynch dalam Sumarni, 1998).
4. Konsumsi Vitamin C
Vitamin C sangat berperan dalam meningkatkan absorbsi zat besi. Vitamin C meningkatkan absorbsi zat besi non heme sampai empat kali lipat. Diketahui bahwa vitamin C dengan zat besi membentuk senyawa askorbat besi komplek yang larut sehigga lebih mudah untuk diabsorbsi dalam usus. Karena itu sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin C sangat baik dimakan untuk mencegah anemia. Vitamin C merupakan faktor untuk mengkonversi Fe3+ menjadi Fe2+ sehingga mudah diserap tubuh. Konsumsi vitamin C dianjurkan untuk anak 6-9 tahun sebesar 45 mg/hari dan untuk anak 10-12 Tahun sebesar 50 mg/hari. Pada masyarakat di negara berkembang yang sedikit memakan daging, vitamin C merupakan satu-satunya pemacu penyerapan zat besi yang penting (Almatsier, 2002).
Efek absorbs vitamin C (asam askorbat) berbanding lurus dengan kadar asam askorbat dalam makanan. Semakin tinggi asam askorbat yang dikonsumsi dalam
makanan sehari-hari maka semakin tinggi bioavalabilitas zat besi. Sebagai contoh, penambahan 100 mg asam askorbat per 100 gr susu formula produk kedelai dapat meningkatkan absorbs sebanyak 4,14 kali (Naufal dan Mulatsih, 2004). Peningkatan konsumsi Vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan zat besi sebesar 2,3,4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran merupakan sumber utama vitamin C namun perlu diingat, proses pemasakan akan merusak 50-80% vitamin C dalam makanan (Wirakusumah, 1998).
Menurut Husaini dan Karyadi (1980), kadar Hb darah umumnya berhubungan dengan konsumsi protein, Fe dan vitamin C. Tetapi yang paling berpengaruh adalah Fe sebab Fe merupakan faktor utama pembentuk hemoglobin (Hb). Sedangkan peran vitamin C dan protein adalah membantu penyerapan dan pengangkutan besi di dalam usus.
Anemia gizi di Indonesia disebabkan oleh konsumsi energi, besi dan vitamin C rendah. Pola konsumsi masyarakat pada umumnya merupakan pola menu dengan bioavailabilitas besi yang rendah, karena hanya terdiri dari nasi atau umbi-umbian dengan kacang- kacangan dan sedikit (jarang sekali) daging, ayam atau ikan, serta sedikit makanan yang mengandung vitamin C (Yip dan Mehra, 1995). Penelitian yang dilakukan oleh Mulyawati (2003) menunjukkan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) ditambah 100 mg vitamin C dapat meningkatkan kadar Hb lebih tinggi dibandingkan dengan hanya pemberian TTD saja.
2.2.3. Konsumsi Teh dan Kopi
Hasil studi Briawan et al. (2012), menunjukkan bahwa sebanyak 49,2% responden mempunyai kebiasaan minum teh setiap hari. Dan 81,3% responden yang mempunyai kebiasaan minum teh setiap hari mengalami anemia. Sedangkan 63,5% responden yang mempunyai kebiasaan minum kopi mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan minum teh dan kopi dengan kejadian anemia. Responden yang minum teh setiap hari mempunyai peluang 31,64 kali mengalami anemia dibandingkan dengan responden yang tidak minum teh setiap hari atau tidak minum teh. Responden minum kopi mempunyai peluang 3,478 kali mengalami anemia dibandingkan responden yang tidak minum kopi. Teh dan kopi banyak mengandung tanin sehingga menghambat penyerapan zat besi. Namun belum ada penjelasan secara spesifik tentang banyaknya teh dan kopi yang dapat mengganggu penyerapan zat besi. Tanin pada kopi dapat menurunkan penyerapan zat besi sampai 40% sedangkan tannin pada teh dapat menurunkan penyerapan zat besi 80% (Sumarni, 1998). Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Muhilal dan Saidin (1993), penyerapan zat besi tanpa teh sekitar 12%, dengan adanya teh penyerapan zat besi turun sampai 2%.
Almatsier (2002), mengatakan bahwa tanin merupakan polifenol yang terdapat di dalam teh, kopi dan beberapa jenis sayuran serta buah, juga dapat menghambat absorbsi besi dengan cara mengikat besi. Bila besi tubuh tidak telalu tinggi, sebaiknya tidak minum teh atau kopi pada waktu makan.
2.2.4. Kejadian Infeksi
Briawan et al. (2012), dalam studinya menemukan bahwa kejadian anemia pada remaja putri yang menderita infeksi dalam satu bulan terakhir jauh lebih besar dibanding dengan remaja putri yang tidak menderita infeksi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan kejadian infeksi dengan kejadian anemia. Hasil penelitian tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tatala et al. (1998) yang menyatakan ada hubungan infeksi dengan kejadian anemia. Kehilangan besi dapat disebabkan oleh penyakit kronis seperti tuberkulosis (TBC). Infeksi ini dapat menyebabkan pembentukan Hb darah terlalu lambat. Penyakit diare dan ISPA dapat mengganggu nafsu makan yang akhirnya dapat menurunkan tingkat konsumsi gizi.