• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress

D. Manfaat Penelitian

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress

Kemampuan individu untuk melakukan coping stress berbeda-beda dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor dari stressornya yaitu, kompleksitas, intensitas, dan lamanya peristiwa itu terjadi. Lazarus dan Folkman (1984, dalam Huffman, Vernoy dan Vernoy, 2000) mengemukakan adanya beberapa sumber daya coping yang dimiliki oleh individu berdasarkan pengaruh penggunaan coping stress, yaitu :

a) Kesehatan

Semua jenis stres dapat menyebabkan perubahan fisiologis. Oleh karena itu, kesehatan seorang individu secara signifikan dapat mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan coping stress. Semakin kuat dan sehat seseorang tersebut, maka akan semakin baik pula kemampuannya dalam melakukan coping stress. Seorang ahli, yaitu Hans Selye (dalam Davidson dkk, 2006), mengulas bahwa respon biologis untuk bertahan dan mengatasi stres fisik yang dikenal sebagai general adaptation syndrom (GAS), digambarkan sebagai berikut :

a. Fase pertama (alarm reaction)

Fase dimana sistem saraf otonom diaktifkan oleh stres. Jika stres terlalu kuat, terjadi luka pada saluran pencernaan, kelenjar

adrenalin membesar, dan thimus menjadi lemah. Perubahan- perubahan ini digambarkan sebagai “fight or flight” (melawan atau melarikan diri).

b. Fase kedua (resistance)

Fase ini yaitu organisme beradaptasi dengan stres melalui berbagai mekanisme coping yang dimiliki. Tubuh akan berusaha menolak atau mengatasi stresor yang tidak dapat dihindari. Respon fisiologis yang terjadi pada fase alarm terus berlangsung, sehingga tubuh rentan terhadap stresor-stesor lain.

c. Fase ketiga (exhaustion)

Fase ini terjadi ketika stresor menetap atau organisme tidak mampu merespon secara efektif. Menurut Selye (1950), Tahap ini merupakan fase kelelahan yang amat sangat dan bisa jadi organisme tersebut mati atau menderita kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

Dalam hal ini, Taruna Putri dihadapkan pada kegiatan yang padat dan rutin setiap harinya. Kesehatan dan cara bertahan mereka cukup berpengaruh untuk melakukan coping stress selama menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta.

b) Kepercayaan Positif

Citra diri positif dan sikap positif, merupakan sumber yang sangat signifikan dalam hal coping stress. Kemudian dalam sebuah penelitian menunjukkan, bahwa peristiwa yang terjadi secara temporal,

meningkatkan harga diri dan dapat mengurangi tingkat kecemasan yang disebabkan oleh kejadian yang penuh dengan stres (Greenberg et al., 1989 dalam Huffman, Vernoy, dan Vernoy, 2000).

Kepercayaan positif seperti halnya harapan, juga dapat mempengaruhi individu dalam menggunakan coping stress untuk menghadapi situasi yang berat. Misalnya, individu yang menghadapai rintangan yang nampaknya tidak mungkin dapat dilakukannya, ternyata bisa dilakukan. Menurut Lazarus dan Folkman, harapan itu dapat berasal dari kepercayaan diri sendiri, yang dapat memungkinkan individu untuk merancang strategi coping stress bagi dirinya. Selain itu, kepercayaan individu tersebut pada orang lain yang memberi sugesti positif, juga dapat mempengaruhi keyakinan yang positif. Contohnya, dokter yang memberikan sugesti positif pada pasiennya, bahwa individu tersebut akan sembuh, maka pasien tersebut memiliki keyakinan positif dapat sembuh, dan akhirnya benar-benar sembuh.

Kepercayaan positif ini penting dimiliki oleh Taruna Putri. Jika seorang Taruna Putri ini memiliki kepercayaan yang positif, maka dalam merancang strategi coping untuk mengatasi stressnya, dapat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu, Taruna putri tidak akan terlalu mengalami kesulitan beradaptasi selama menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta.

c) Locus of Control Internal

Perbedaan individu yang memiliki locus of control external dengan individu yang memiliki locus of control internal, tampak pada contoh kasus seseorang yang sedang menderita penyakit serius. Ketika individu tersebut memiliki locus of control external, maka individu tersebut hanya terfokus pada penyakitnya. Individu merasa tidak berdaya untuk mengubah keadaannya. Sedangkan individu yang memiliki locus of control internal, akan mencoba untuk mengumpulkan informasi tentang penyakitnya, dan tetap mengikuti program kesehatan yang sedang dijalankannya. Menurut Cohen dan Edwards (1989, dalam Huffman, Vernoy, dan Vernoy, 2000), menjelakan bahwa locus of control internal adalah salah satu cara sebagai penyangga stres dalam keadaan dan kendala apapun. Oleh karena itu, individu yang memiliki locus of control internal tinggi, akan lebih mudah memilih cara copingnya untuk menghadapi situasi stres.

Menurut sebuah penelitian oleh Strickland (1978, dalam Huffman,Vernoy, dan Vernoy, 2000) menunjukkan bahwa individu yang memiliki locus of control internal akan lebih berhasil melakukan

coping, daripada individu yang tidak mempunyai kontrol tersebut. Hal

ini didukung pula dari penelitian di China dan Belgia, yang menunjukkan hubungan antara stres psikologis dan locus of control. Hasil penelitian tersebut yaitu, pengusaha dan mahasiswa yang

memiliki locus of control internal lebih tinggi, akan kurang mengalami stres psikologis dibandingkan dengan mereka yang memiliki locus of

control external lebih tinggi.

Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan locus of control sebagai tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Locus of control internal adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apa-apa pun yang terjadi pada diri mereka. Sedangkan, untuk locus of control extrenal adalah individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan. Kemudian menurut Kreitner dan Kinichi (2005) mengatakan hasil yang dicapai locus of control internal dianggap berasal dari aktivitas dirinya, sedangkan locus of control external menganggap bahwa keberhasilan individu yang dapat dicapai merupakan kontrol dari keadaan sekitarnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan locus of

control internal yaitu, individu yang memiliki keyakinan bahwa segala

sesuatu merupakan kendali dari dirinya sendiri dan hal itu sebagai salah satu cara penyangga stres dalam keadaan maupun kendala apapun, serta lebih berhasil untuk melakukan coping. Sedangkan,

locus of control external yaitu, individu yang yakin kendali dirinya

d) Keterampilan Sosial

Individu yang memiliki keterampilan sosial dengan baik, memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan individu yang memiliki keterampilan sosial kurang baik. Keterampilan sosial yang seharusnya dimiliki oleh individu, kurang lebih seperti hal- hal berikut; melakukan tindakan yang tepat pada situasi tertentu, memulai percakapan, dan berekspresi dengan baik.

Keterampilan sosial yang efektif, tidak hanya akan membantu individu untuk berinteraksi dengan orang lain, namun juga membantu mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginan individu. Selain itu, dapat juga membantu individu ketika membutuhkan dan menurunkan permusuhan dalam situasi yang penuh dengan ketegangan. Hal ini dapat membantu individu dalam mengatasi coping stressnya. Ketika individu tersebut butuh beradaptasi memahami lingkungan, caranya bisa saja dengan mengamati individu lain, meminta saran dari individu yang telah mumpuni dalam keterampilan sosialnya, dan terus-menerus berlatih agar semakin terasah keterampilan sosialnya.

Ketrampilan sosial yang mungkin dimiliki oleh Taruna Putri adalah sosialisasi yang baik dengan rekan-rekannya, pengasuh, pelatih, dan masyarakat sekitar ketika ada kegiatan pesiar.

e) Dukungan Sosial

Winnubst, Buunk, dan Marcelissen (1988, dalam Huffman, Vernoy, dan Vernoy, 2000) mengemukakan bahwa dukungan sosial dapat menahan pengaruh keadaan stres dari perceraian, kehilangan orang yang dicintai, penyakit kronis, kehamilan, kehilangan pekerjaan, dan tuntutan kerja yang berlebihan. Dukungan sosial juga dapat berupa saran maupun perhatian dari teman, keluarga, dan dukungan kelompok.

Dukungan sosial erat kaitannya dengan individu dalam mengatasi

coping stress. Perlu adanya dukungan sosial dari orang-orang terdekat

untuk memberi kekuatan pada individu ketika sedang menghadapi stres. Pada dasarnya manusia memang makhluk sosial. Sehingga dukungan dari orang sekitar sangat penting bagi individu tersebut.

Menurut Sarafino (2006), dukungan sosial merupakan cara untuk menunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan untuk orang lain. Individu yang menerima dukungan sosial akan merasa dirinya dicintai, dihargai, berharga, dan merupakan bagian dari lingkungan sosialnya.

Dukungan sosial yang mungkin didapat oleh Taruna Putri adalah dari keluarga, saudara, teman, pemimpin, pelatih, dan pengasuh. Hal tersebut cukup mendukung mereka, agar cepat beradaptasi dengan segala situsasi stres selama menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta.

Dokumen terkait