• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Marketed Surplus

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

7.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Marketed Surplus

Model regresi linear disajikan pada Tabel 39 adalah model terbaik yang dapat dibuat berdasarkan data yang didapat. Secara statistik, ada perbedaan variabel yang secara signifikan berpengaruh terhadap marketed surpluspada padi sawah dan ladang.

Nilai R2yang didapat relatif berbeda antara kedua model, yaitu 51 persen untuk padi sawah dan 77,6 persen untuk padi ladang. Itu artinya, variabel-variabel yang dipilih telah dapat menjelaskan variasi marketed surplus sebesar 51 persen dan 77,6 persen, sedangkan sisanya yaitu 49 dan 22,4 persen dijelaskan oleh error atau variabel-variabel di luar variabel-variabel dugaan.

Untuk signifikansi model, nilai F hitung yang didapat di setiap model melebihi dari T tabel pada selang kepercayaan satu persen. Artinya, pada selang kepercayaan satu persen, model yang didapat signifikan, baik itu model faktor-faktor yang mempengaruhi marketed surpluspadi sawah maupun padi ladang

Dari model didapat informasi bahwa nilai intersep padi sawah bernilai 60,23. Hal itu berarti pada petani padi sawah, dalam keadaan apapun, petani harus menjual 60,23 persen hasil panennya. Ini menunjukkan bahwa posisi tawar petani masih rendah dalam mengambil keputusan apakah menjual atau menyimpan hasil panennya. Berbeda dengan petani padi ladang yang nilai intersepnya tidak signifikan yang berarti pada pengambilan keputusan untuk menyimpan atau menjual, petani ladang lebih bebas menentukan apakah menjual atau menyimpan hasil panennya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, tingginya proporsi panen yang harus dijual disebabkan karena 1). Petani harus menjula hasil panennya untuk membayar pinjaman modal untuk biaya usahatani padi musim sebelumnya, 2). Petani tidak punya tempat untuk menyimpan seluruh hasil panenya tersebut, karena tempat yang tersedia hanya cukup menampung sebagian kecil hasil panen.

Pada taraf kepercayaan 15 persen, variabel-variabel yang signifikan mempengaruhi marketed surplus pada pola usahatani padi sawah adalah musim, harga GKP, harga GKG, tingkat produksi, penghasilan luar usahatani padi,

pendidikan formal petani, luar lantai jemur, status penguasaan lahan, dan sumber modal usahatani. Sedangkan pada pola usahatani padi ladang, variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap marketed surplus yaitu: tingkat produksi, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan petani, dan luas gudang.

Tabel 39. Hasil Pendugaan Variabel Faktor-faktor yang Mempengaruhi Marketed surplusPadi

Variabel

Padi Sawah Koefisien

Standard

Error t-hit P-value

Intercept 65,71 18,55 3,54 0,001 Musim -27,523 4,404 -6,25 0,000 Harga GKP 0,011443 0,001824 6,27 0,000 Harga GKG -0,000771 0,001213 -0,63 0,527 Produksi 0,0005067 0,000233 2,17 0,032 Jumlah Tanggungan 0,409 1,578 0,26 0,796 Penghasilan Luar Usahatani -0,00000056 0,0000002 -2,77 0,007 Usia Petani -0,2382 0,2381 -1,00 0,319

Luas Lantai Jemur -0,02374 0,01383 -1,72 0,089

Luas Gudang -0,02806 0,02861 -0,98 0,329

Pendidikan 1,0645 0,6409 1,66 0,100

Status Penguasaan Lahan -3,285 5,763 -0,57 0,570

Sumber Modal 14,493 5,393 2,69 0,008

R2= 51,8% R2-adj= 46,9% F-hit=9,57 F tabel (1%)=2,24 Padi Ladang Intercept 8,545 7,774 1,10 0,284 Harga GKG -0,001207 0,00157 -0,77 0,451 Produksi 0,0047001 0,0009167 5,13 0,000 Jumlah Tanggungan -1,487 0,9469 -1,57 0,131 Penghasilan Luar Usahatani 0,00000139 0,00000088 1,59 0,127 Usia Petani -0,0212 0,126 -0,17 0,868

Luas Lantai Jemur 0,01531 0,03013 0,51 0,617

Luas Gudang -0,03062 0,01664 -1,84 0,080

Pendidikan -0,8935 0,4268 -2,09 0,049

Musim Tanam

Pada bagian alokasi produk, besaran dan proporsi yang digambarkan bersifat statis atau fokus pada waktu tertentu. Ternyata, ada perubahan besaran maupun proporsi marketed surplusdari musim ke musim.

Dari Tabel 39 dapat dilihat bahwa pada padi sawah, variabel musim berpengaruh dan signifikan sedangkan pada padi ladang variabel musim tidak dimasukkan sebagai variabel dugaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pola tanam antara keduanya. Pola tanam padi sawah di Karawang adalah padi-padi-bera, sedangkan padi ladang berpola tanam setahun sekali.

Koefisien regresi menunjukkan bahwa jika pada musim ke 2, maka proporsi penjualan akan menurun sebersar 27 persen. Pada padi sawah, marketed surplus akan lebih tinggi pada musim 2 (awal tahun), karena stok petani akan cenderung meningkat pada musim akhir tahun.

Lain halnya dengan padi ladang, yang besaran marketed surplusnya relatif tetap. Hal ini karena jeda dari musim ke musim relatif sama, dan tingkat konsumsi yang relatif sama di setiap musimnya.

Seperti yang tersaji pada Tabel 40 bahwa produksi rata-rata petani yaitu 17 ton pada musim awal tahun 2010 (Rendeng). Namun, pada musim akhir tahun (Gadu) 2010, produksi rata-rata petani turun menjadi 10 ton. Hal itu terjadi karena adanya serangan hama massal yang melanda hampir seluruh lahan sawah petani di Kabupaten Karawang.

Dalam penggunaan hasil panen, untuk natura panen dan pemilik lahan jumlahnya dinamis mengikuti jumlah produksi. Kemudian natura pengaturan air jumlahnya tidak berubah karena jumlah yang dibayarkan petani relatif tetap di setiap musim, yaitu 20-30 kg gabah per hektar lahannya.

Peningkatan jumlah penggunaan terjadi pada stok gabah. Musim awal tahun (Rendeng) petani rata-rata menyimpan gabah sebesar 1,4 ton, kemudian mengalami kenaikan pada musim Gadu. Pada musim Gadu, petani menambah persediaan gabahnya menjadi rata-rata 1,8 ton atau meningkat sebesar 30 %. Hal ini disebabkan petani di Kabupaten Karawang masi bersifat subsisten, artinya kebutuhan konsumsi rumah tangga masih dipenuhi dari hasul produksi sendiri. Pola tanam dalam satu musim untuk padi sawah di Kabupaten Karawang

umumnya adalah padi-padi-bera. Musim panen puncak terjadi pada Bulan April-Mei dan September-Oktober.

Masa jeda musim Gaduke Rendenglebih lama dibandingkan dari musim

Rendeng ke Gadu. Masa jeda musim Rendeng ke Gadu rata-rata selama lima bulan, sedangkan masa jeda dari musim Gaduke Rendengrata-rata selama tujuh bulan. Untuk mengantisipasinya, petani akan menyimpan lebih banyak hasil panennya pada panen musim Gaduatau musim tanam akhir tahun agar kebutuhan konsumsi rumah tangganya tetap terpenuhi.

Tabel 40. Pola Marketed surplusPetani Padi Sawah Musim Tanam Tahun 2010

Jumlah Rata-rata (GKP) Musim Akhir 2010 (kg) (%) Musim Awal 2010 (kg) (%) Produksi Kotor 10.207,00 100,00 17.311,20 100,00 Natura Pemilik Lahan 320,83 3,00 815,00 5,00 Natura Pengaturan air 59,83 1,00 59,83 1,00 Natura Panen 1.438,00 14,00 2.477,78 14,00 Marketable Surplus 8.709,17 85,00 14.773,58 85,00 Marketed Surplus 6.875,83 67,00 13.346,08 77,00 Distok 1.867,50 18,00 1.427,50 8,00 Jumlah Rata-rata (GKG) Musim Akhir 2010 (kg) (%) Musim Awal 2010 (kg) (%) Stok 1.494,00 100,00 1.142,00 100,00 Benih 83,05 6,00 96,67 8,00 Konsumsi 319,03 21,00 285,52 25,00 Jual Bertahap 1.091,92 73,00 759,81 67,00

Sumber: Data Primer

Peningkatan jumlah juga terjadi pada jumlah penjualan bertahap. Pada musim Gadu ke Rendeng. Petani tidak hanya menambah persediaan gabahnya untuk kebutuhan konsumsi beras rumah tangga saja, tetapi juga persediaan cadangannya. Hasil panen petani yang dijual secara bertahap akan meningkat karena petani akan mengantisipasi kebutuhan tak terduga selama masa jeda musim Gaduke Rendengyang lebih lama.

eningkatan jumlah stok konsumsi dan cadangan petani ini akan berdampak pada jumlah marketed surplus petani padi sawah. Pada musim panen Gadu, jumlah marketed surplus akan cenderung lebih kecil atau sedikit dibandingkan pada musim Rendeng.

Pola tanam petani padi ladang berbeda dengan petani padi sawah. dalam satu tahun, petani padi ladang hanya menanam padi satu kali. Musim panen puncak terjadi pada Bulan Maret-April. Hal ini disebabkan umur panen padi ladang relatif lebih lama dari pada padi sawah. Berdasarkan pengamatan, Padi sawah umumya bisa dipanen dalam umur 105-120 hari, tetapi padi ladang baru bisa dipanen pada umur 150-180 hari. Meskipun petani padi ladang di Kabupaten Karawang saat ini telah banyak yang menggunakan varietas padi sawah, tetapi tetap saja, umur panennya lebih lama dibandingkan jika ditanam di lahan sawah. Kurangnya pasokan pupuk pada tanaman menjadi salah satu panyebab bertambahnya umur panen padi ladang. memang selama ini, petani padi ladang mengaku sulit mendapatkan input produksi terutana pupuk, seperti: urea, TS, dan NPK.

Jumlah penggunaan hasil panen pada rumah tangga petani padi ladang cenderung tetap dari musim ke musim. Hal tersebut disebabkan pola tanam musim petani yang hanya satu tahun sekali sehingga masa jeda di setiap musim relatif sama juga.

Dalam Tabel 41, didapat informasi bahwa perbandingan skala produksi padi ladang dan sawah yang jauh berbeda menyebabkan proporsi marketed surpluspetani padi ladang lebih elastis dibandingkan padi sawah.

Tabel 41. Pola Marketed surplusPadi Ladang Musim Tanam 2010 Jumlah Rata-rata (GKP) Musim 2010 (kg) (%) Produksi Kotor 1.851,67 100,00 Natura Panen 281,67 0,15 Marketable Surplus 1.570,00 0,85 Marketed Surplus 180,00 0,10 Distok 1.390,00 0,75 Jumlah Rata-rata (GKG) Musim 2010 (kg) (%) Stok 1.112,00 100,00 Konsumsi 798,45 0,72 Jual Bertahap 313,55 0,28

Sumber: Data Primer

Harga Gabah Kering Panen

Pada tabel 39, nilai koefisien variabel harga GKP bernlai positif namun dan berpengaruh signifikan sedangkan pada padi ladang berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap marketed surplus.

Berdasarkan koefiseien regresi model pola usahatani padi sawah, kenaikan harga gabak kering panen padi sawah sebesar 1 persen akan menaikkan proporsi

marketed surplussebesar satu persen, sedangkan pada padi ladang, kenaikan atau penurunan harga gabah kering panen tidak berpengaruh terhadap proporsi

marketed surplus.

Berpengaruhnya harga gabah kering panen terhadap marketed surpluspadi sawah disebabkan harga yang berlaku saat panen relatif tidak sama di setiap petani, dan bisa berbeda jauh di setiap musim. Harga gabah kering panen petani bergantung pada jarak lahan dan waktu pemanenan. Petani yang memanen pada awal dan akhir musim panen cenderung akan mendapat harga gabha yang tinggi, selain jarak lahan petani ke akses pengangkutan yang diperhitungkan oleh tengkulak.

Sedangkan pada padi ladang, harga gabah kering panen di setiap waktu panen dan di setiap musim relatif sama, sehingga harga gabah kering panen kurang menggambarkan besaran marketed surpluspada rumah tangga petani padi ladang.

Harga Gabah Kering Giling

Sejalan dengan dengan harga gabah kering panen, harga gabah kering giling berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap besaran marketed surplus

pada padi sawah, sedangkan pada padi ladang harga GKG juga berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap marketed surplus.

Hal ini menunjukkan bahwa pada usahatani padi sawah, saat harga GKG tinggi, petani justru akan cenderung mengurangi marketed surplus dalam bentuk GKP. Penjualan akan dialihkan dalam bentuk gabah kering giling, karena petani berasumsi bahwa jika menjualnya dalam bentuk gabah kering giling akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Berpengaruh negatifnya harga GKG pada padi sawah disebabkan waktu penjualan gabah kering simpan antar petani relatif bervariasi. Gabah kering panen bisa dijual oleh petani hingga beberapa bulan setelah panen. Dalam rentang waktu tersebut, harga GKG berfluktuasi tergantung suplai gabah di pasar. Harga tinggi terjadi saat menjelang musim tanam selanjutnya atau awal musim tanam selanjutnya. Jika saat panen harga gabah Rp 3000, maka saat menjelang musim tanam selanjutnya, harga gabah kering simpan bisa mencapai Rp.4500-Rp.5000. Untuk padi sawah, hal ini berlawanan dengan Chaucan dan Chabra (2005), Nusril dan Sukiyono (2007), Nuryanti et all (2000) dan Kusnadi et all (2008) bahwa harga beras atau hasil panen berpengaruh positif terhadap marketed surplus.

Oleh karena itu, petani yang menujual hasil panennya secara bertahap, cenderung menjual gabahnya menjelang musim tanam selanjutnya. Bahkan jika harga gabah kering simpan melonjak sangat tinggi, petani tak segan-segan menjual semua stok gabah termasuk stok untuk konsumsi.

Sedangkan pada padi ladang, harga GKG cenderung stabil. Selain itu, konsisten dengan alasan petani untuk melakukan stok untuk konsumsi rumah tangga, yaitu mahalnya harga beras di sekitar lingkungan petani ladang dan kebanggaan mengonsumsi padi hasil tanam sendiri, maka rumah tangga petani ladang hanya menjual kelebihan konsumsi rumah tangga. Sehingga, harga gabah

kering giling tidak mempengaruhi secara signifikan besaran marketed surplus

padi ladang di Kabupaten Karawang.

Produksi Total

Tingkat produksi total berpengaruh positif dan signifikan terhadap besaran

marketed surplus baik pada padi sawah maupun ladang. Berdasarkan koefisien regresi, pada padi sawah, kenaikan produksi total sebesar 0,0005 persen, mengakibatkan keniakan marketed surplus sebesar satu persen. Sedangkan pada padi ladang kenaikan satu persen marketed surplusbisa disebabkan oleh kenaikan produksi total sebesar 0,04 persen cateris paribus. Secara statistik, angka ini kurang elastis, tetapi berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat produksi sangat menentukan marketed surplus. Angka dalam model menyatakan proporsi, bukan jumlah marketed surplus. Terutama pada pola usahatani padi sawah, saat panen sedang sedikit, karena tingginya biaya produksi seringkali petani menjual seluruh produknya untuk menutupi biaya produksi tadi.

Konsumsi rumah tangga bagi para petani masih menjadi prioritas yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Jika berlebih, petani baru menjual kelebihan itu ke pasar. Semakin tinggi produksi, maka selisih antara produksi dan konsumsi akan semakin besar pula sehingga jumlah marketed surplus akan semakin besar. Bhakta (1983), Chaucan dan Chabra (2005), dan Nusril dan Sukiyono (2007) dalam studinya juga menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat produksi, maka jumlah penjualan (marketed surplus) akan meningkat pula.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Variabel jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap besaran marketed surplus pada padi sawah. Sedangkan pada padi ladang, jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negatif dan signifikan.

Nilai koefisien variabel jumlah tanggungan rumah tangga petani padi sawah bernilai negatif tetapi tidak signifikan, artinya ukuran keluarga kurang menggambarkan marketed surplus pada padi sawah. Hal ini berlainan dengan hasil studi Bhakta (1983), Nusril dan Sukiyono (2007), dan Kusnadi et all(2008) yang mengungkapkan bahwa semakin besar ukuran keluarga, maka besaran

usahatani padi sebagai sumber penghasilan utama rumah tangga. Sehingga semakin banyak jumlah tanggungan keluarga, maka kebutuhan yang harus dipenuhi semakin banyak pula. Karena usahatani padi adalah sumber pendapatan utama, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, jumlah penjualan atau

marketed surplus harus semakin besar pula atau pemenuhan kebutuhan lebih banyak dalam bentuk uang tunai yang bisa didapat melalui penjualan hasil panen tersebut.

Berbeda dengan rumah tangga petani padi sawah, petani padi ladang lebih menjadikan usahatani padi ladang sebagai usahatani sampingan. Usahatani padi ladang hasilnya hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, petani padi ladang lebih mengandalkan penjualan hasil kebun, seperti pisang, palawija, dan jeruk. Sehingga, semakin banyak anggota keluarga, semakin banyak konsumsi, semakin banyak pula hasil panen yang disisihkan untuk tidak dijual.

Penghasilan Luar Usahatani

Ada perbedaan pengaruh variabel pendapatan luar usahatani terhadap

marketed surplus. Variabel penghasilan luar usahatani berpengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi marketed surplus pada padi sawah, sedangkan variabel penghasilan luar usahatani berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap

marketed surpluspada padi ladang.

Signifikannya penghasilan luar usahatani pada padi sawah disebabkan oleh pendapatan luar usahatani di antara petani padi sawah mayoritas adalah penghasilan tambahan. Hal ini berakibat petani padi sawah yang berpenghasilan luar usahatani tinggi cenderung mengurangi marketed surplus. Petani yang berpenghasilan luar usahatani tinggi adalah petani yang kaya. Petani kaya biasanya mempunyai sarana pasca panen yang memadai, seperti lantai jemur dan gudang, sehingga penjualan dalam bentuk gabah kering panen yang dianggap petani kurang menguntungkan bisa dikurangi dan penjualan bisa diubah ke dalam bentuk gabah kering giling yang lebih menguntungkan.

Pada petani pola usahatani padi ladang, petani yang berpenghasilan usahatani tinggi cenderung menambah marketed surplus. Hal ini dikarenakan petani yang berpenghasilan luar usahatani tinggi cenderung meningkatkan

marketed surplus karena untuk konsumsi rumah tangga bisa dipenuhi dengan membeli beras dari pasar dari penghasilannya tersebut. Hal ini sesuai dengan Nusril dan Sukiyono (2007) serta Kusnadi et al (2008) bahwa semakin besar pendapatan luar usahatani, maka tingkat kesejahteraan petani semakin tinggi sehingga kebutuhan konsumsi beras rumah tangga bisa dipenuhi dengan membelinya di pasar.

Usia Petani

Variabel usia petani berpengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi bersaran marketed surpluspadi sawah. Usia petani juga berpengaruh negatif tetapi signifikan pada padi ladang.

Untuk petani padi sawah, hal ini sesuai dengan Nuryanti et al (2000) yang mengungkapkan bahwa umur yang terlalu lanjut atau terlalu muda menyebabkan keluarga tidak mampu atau enggan melakukan kegiatan pasca panen. Berdasarkan pengamatan di lapangan, dalam rumah tangga petani terutama petani padi sawah, hanya petani sendiri lah yang menangani usahatani padi, sedangkan anggota keluarga lain biasanya bekerja di luar usahatani padi, sehingga semakin tua petani, maka kemampuan menangani pasca panen semakin menurun

Hal ini menunjukkan bahwa pada petani padi sawah, semakin tua dan berpengalamannya petani, maka orientasi pasar dari petani tersebut semain kecil pula sehingga marketed surplusnya semakin sedikit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada rumah tangga padi sawah, semakin tua umur petani, maka sifat subsistennya semakin meningkat pula.

Luas Lantai Jemur

Luasan lantai jemur yang digunakan petani untuk menjemur gabahnya berpengaruh negatif pada padi sawah dan signifikan terhadap marketed surplus. Pada padi ladang, luasan lantai jemur kurang menggambarkan marketed surplus.

Signifikannya variabel luasan lantai jemur berdasarkan pengamatan di lapangan disebabkan petani baik itu sawah maupun ladang bisa dengan mudah mengakses tempat menjemur gabah. Hanya sedikit petani yang mengaku kesulitan mengakses tempat menjemur gabah. Selain bisa menjemur gabahnya di lantai

jemur milik sendiri, petani juga bisa menjemur gabahnya di lantai jemur penggilingan, lapangan umum, bahkan di pinggir jalan setempat.

Meskipun mudah mengakses tempat menjemur, tetapi pada pola usahatani padi sawah, luasan yang cukup untum menjemur produk sulit diakses petani. Petani mayoritas mempunyai akses penjemuran, tetapi sering kali tidak cukup untuk menjemur gabah sesuai dengan yang petani inginkan. Oleh karena itu, pada padi sawah, petani yang memiliki lantai jemur luas, cenderung akan menjemur dan menjual gabahnya di kemudian hari saat harga meningkat.

Luas Tempat Menyimpan Gabah

Luas tempat menyimpan stok gabah berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap marketed surplus padi sawah. Namun, pengaruh luas simpan gabah berpengaruh negatif dan signifikan pada padi ladang. Secara logika, semakin luas tempat menyimpan gabah petani, maka jumlah gabah yang bisa disimpan bisa semakin besar pula. Sehingga berdasarkan pengamatan di lapangan, semakin luas tempat menyimpan gabah petani berarti semakin besar gabah yang bisa dijual secara bertahap.

Dengan kata lain, semakin luas tempat menyimpan gabah, maka akan mengurangi marketed surplusdalam bentuk gabah kering panen atau gabah basah karena petani bisa menyimpan gabah kering lebih banyak. Tetapi, luasan tempat menyimpan gabah akan mempengaruhi secara positif jumlah marketed surplus

secara keseluruhan (gabah kering dan basah). Bila semakin luas tempat menyimpan gabah petani maka akan menambah penjualan gabah dalam bentuk gabah kering karena dinilai petani lebih menguntungkan. Luasan rata-rata tempat menyimpan gabah petani berbanding lurus dengan luas lahan yang diusahakan, sehingga semakin luas lahan yang diusahakan, maka luasan yang dimiliki oleh petani untuk menyimpan gabah akan semakin luas pula.

Signifikannya pengaruh luas simpan pada padi ladang disebabkan karena skala produksi yang lebih kecil, sehingga lebih elastis terhadap marketed surplus. Pada petani padi ladang, bentuk penjualan produk lebih banyak dalam bentuk gabah kering simpan, sedangkan padi sawah lebih banyak dalam bentuk gabah

kering panen. Sehingga, pada padi ladang, akses penyimpanan lebih dibutuhkan daripada padi sawah meskipun skalanya lebih kecil.

Hal ini sejalan dengan Kumar dan Mruthyunjaya (1989) dalam Nuryanti

et al. (2000) bahwa petani akan menjual lebih banyak agar keuntungan yang diperoleh bisa mengkompensasi kesulitan yang telah dialami. Bagi petani, sarana untuk menyimpan gabah adalah sebuah kesulitan karena panyimpanan gabah membutuhkan ruang yang luas dan biaya jika stok tersebut menggunkan fasilitas pihak lain. Sehingga, petani yang memiliki gudang yang luas, akan menyimpan gabahnya untuk dijual di kemudian hari agar keuntungan yang didapat semakin besar.

Pendidikan Petani

Variabel pendidikan petani berpengaruh positif dan signifikan terhadap

marketed surplus pada padi sawah sedangkan pada padi ladang berpengaruh negatif dan signifikan. Berdasarkan koefisien regresi, penambahan 1 tahun pendidikan formal petani padi sawah akan menambah marketed surplus sebesar satu persen, sedangkan pada padi ladang, penurunan satu persen marketed surplus

akan timbul seinring penambahan lama pendidikan formal petani selama 0,8 tahun.

Hal ini sejalan dengan McDowell (1997) dalam Nuryanti et al(2000) yang mengungkapkan bahwa anggota keluarga yang berpendidikan tinggi, akan cenderung bekerja di luar usahatani, sehingga kesempatan menangani hasil panen akan semakin berkurang, sedangkan pada padi ladang ditemukan hal yang bertentangan.

Pada pola usahatani padi sawah, semakin tinggi pendidikan petani, maka pola pikir untuk menjual hasil panennya lebih banyak akan meningkat. Untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari, petani tersebut bisa membeli dari pasar dengan kualitas lebih baik atau dengan harga lebih murah.

Status Penguasaan Lahan

Status penguasaan lahan petani berpengarih negatif dan signifikan terhadap besaran marketed surplus. Hal ini disebabkan jika petani mengusahakan lahan garapan yang bukan milik sendiri, maka petani tersebut akan dikenakan biaya atas jasa pemakaian lahan tersebut. Biaya yang dikenakan biasanya berupa

natura dari hasil panen bersih, sehingga bila petani tersebut hasil panennya dibagi dengan pemilik lahan, maka jumlah hasil panen yang bisa dialokasikan untuk dijual akan berkurang.

Hal ini sejalan dengan Nusril dan Sukiyono (2008) bahwa petani yang mengusahakan dengan sistem sakap akan dikenai pembayaran natura pemilik lahan sehingga besaran marketed surplus semakin kecil. Namun, petani yang menggunakan sistem sakap lebih sedikit dibandingkan dengan lainnya.

Status penguasaan lahan pada rumah tangga petani padi ladang tidak berpengaruh signifikan terhadap besaran marketed surplus. Meskipun seluruh