• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing

Penanaman modal asing sangat berhubungan antara negara maju dengan dengan negara berkembang seperti Indonesia. Pada dasarnya,

negara-negara sedang berkembang sangat membutuhkan investasi, khususnya investasi asing. Tujuan investasi adalah mempercepat laju pembangunan di negara tersebut. Pada umumnya yang memiliki modal atau investasi adalah negara-negara maju. Pertanyaannya mengapa negara-negara-negara-negara maju menanamkan modalnya di negara-negara berkembang. Teori yang menganalisis faktor penyebab negara maju menanamkan investasinya (modal asing) di negara berkembang seperti Indonesia adalah :

1. Teori Johm Dunnning “Electic Theory”

Ada beberapa teori yang menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing yang menjadi dasar pengembangan pemikiran pembuatan model. Salah satu yang terkenal adalah yang pertama kali dikembangkan oleh John Dunning (1997), yaitu Electic Theory.

Terdapat tiga hal yang akan mempengaruhi terjadinya Penanaman Modal Asing (PMA). Keunggulan pertama adalah adanya keunggulan kepemilikan dari investor asing yang dapat berupa produk yang lebih efisien, keunggulan tehnologi, keahlian manajemen dan jaringan pemasaran yang lebih baik.

Keunggulan ini menjadi dasar adanya perusahaan asing.

Keunggulan kedua adalah adanya keunggulan lokasi dari negara tujuan investasi. Keunggulan tesebut dapat berupa pasar yang besar, tenaga kerja murah, lebih longgarnya peraturan, dan sumber daya alam berlimpah.

Agar terjadinya investasi asing maka keunggulan kepemilikan harus diikuti dengan keunggulan lokasi dari negara tujuan investasi. Tanpa adanya keunggulan lokasi, pemilik modal tidak akan melakukan PMA, melainkan

melakukan alternatif lain seperti perdagangan internasional, lisensi, dan waralaba.

Keunggulan ketiga adalah keunggulan spesifik negara.

Keunggulan spesifik lokasi dari negara tuan rumah dapat meliputi Sumber daya alami, kekuatan tenaga kerja biaya rendah yang efisien dan terampil, serta rintangan perdagangan membatasi impor.

2. Teori David K. Eiteman

Menurtu David K. Eiteman (1989), motif yang mendasari penanaman modal asing ada tiga, yaitu : motif strategis, motif perilaku dan motif ekonomi. Dalam motif strategis penanaman modal asing dipengaruhi dalam 1) Mencari pasar, 2) mencari bahan baku, 3) mencari efisiensi produksi, 4) mencari pengetahuan, 5) mencari keamanan politik. Sedangkan motif perilaku merupakan ransangan lingkungan eksternal dan yang lain dari organisasi didasarkan pada kebutuhan dan komitmen individu atau kelompok. Motif ekonomi merupakan motif untuk mencari keuntungan dengan cara memaksimalkan keuntungan jangka panjang dan harga pasar saham perusahaan.

3. Teori Robock & Simmonds

Teori penanaman modal asing lain dijelaskan oleh Robock dan Simmonds (1989), melalui pendekatan global, pendekatan pasar yang tidak sempurna, pendekatan internalisasi, model siklus produk, produksi internasional dan model imperalisasi marxis. Pendekatan Global. Menurut pendekatan global, kekuatan intern yang mempengaruhi penanaman modal

asing yaitu pengembangan teknologi/produk baru, ketergantungan pada sumber-sumber bahan baku, memanfaatkan mesin- mesin yang sudah usang, mencari pasar yang lebih besar. Sedangkan kekuatan eksternal yang mempengaruhi PMA yaitu pelanggan, pemerintah, ekspansi ke luar negeri dari pesaing dan pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE).

Model Siklus Produk. Model ini menerangkan bahwa penanaman modal asing melalui tiga tahap, yaitu tahap produk baru, tahap produk matang dan tahap produk yang distandardisasi. Pada tahap produk baru, produk dihasilkan di dalam negeri. Sedangkan untuk pasar luar negeri dilayani dengan ekspor. Pada tahap produk matang, harga produk menjadi penting. Pasar luar negeri telah dilayani oleh produksi lokal.

Pada tahap ketiga, persaingan menjadi lebih penting dan produksi diarahkan pada lokasi/ tempat yang biayanya rendah (kecil) dalam lingkup negara yang berpenghasilan rendah.

Model siklus produk paling cocok diterapkan pada investasi asing secara langsung (foreign direct investment) dalam bidang manufacturing, yang merupakan usaha ekspansi awal perusahaan-perusahaan negara-negara maju seperti Amerika dengan mendirikan pabrik-pabrik untuk membuat barang-barang sejenis di negara lain. Hubungan antara induk perusahaan dan pendirian pabrik-pabrik sejenisnya untuk membuat barang yang sama atau serupa di negara lain disebut investasi “Horizontaly Intergrated”. The Product Cycle Theory ini menyatakan bahwa setiap teknologi atau proses produksi dikerjakan melalui tiga fase yaitu: pertama, fase permulaan atau

inovasi; kedua, fase perkembangan proses; ketiga, fase pematangan atau fase standardisasi.

Setiap fase tipe perekonomian negara mempunyai keunggulan/keuntungan komparatif atau principle of comparative advantage didalam memproduksi barang-barang atau komponen produksinya. Selama fase ini perusahaan-perusahaan negara maju seperti Amerika menikmati posisi monopoli karena kemampuan teknologinya belum tersaingi. Fase kedua proses manufacturing dan tempat produksi di luar negeri yang kemasukan aliran modal asing. Fase ketiga standarisasi proses manufacturing memungkinkan peralihan lokasi produksi ke negara berkembang terutama negara-negara industri baru (Newly Industrializing Countries) yang mempunyai keunggulan tingkat upah rendah.

Teori Siklus produk membantu menjelaskan bahwa perusahaan multinasional dan persaingan oligopoli, perkembangan dan penyebaran teknologi industri merupakan unsur-unsur penentu utama terjadinya perdagangan dan penempatan lokasi-lokasi aktivitas ekonomi secara global melalui investasi dan timbulnya strategi perusahaan yang mengimplementasikan perdagangan dan produksi di luar negeri. The Industrial Organization Theory Vertical Integration atau Teori Organisasi Industri Integrasi Vertikal, teori ini cocok diterapkan pada new multinationalism country atau negara multinasionalisme baru dan pada investasi yang terintegrasi secara vertikal, yakni produksi barang di

beberapa pabrik yang menjadi input bagi pabrik-pabrik lain dan suatu perusahaan yang sejenis.

Pendekatan teori ini berawal dari pemahaman bahwa biaya-biaya untuk bisnis di luar negeni dengan investasi baik langsung maupun tidak langsung harus mencakup biaya-biaya lain yang dipikul perusahaan lebih banyak dan pada biaya-biaya yang diperuntukkan hanya untuk rsekadan mengekspor barang dari pabnik-pabrik dalam negeri; oleh karena itu perusahaan harus memiliki keunggulan kompensasi atau keunggulan spesifik seperti kealihan teknis manajerial, keadaan perekonomian yang memungkinkan perolehan sewa secara monopoli untuk openasi perusahaannya di negara-negara lain.

4. Teori Stephen Hymer

Investasi langsung merupakan persoalan yang kompleks da n sulit dijelaskan dengan cara yang sederhana, namun Stephen Hymer telah mengembangkan suatu teori yang cukup kuat untuk menjelaskan cara bekerja internasional dari perusahaan-perusahaan nasional. Menurut Hymer, penanaman modal asing atau invetasi langsung termasuk dalam teori persaingan tidak sempurna, dan bukan dalam teori persaingan biasa atau teori mengenai pergerakan modal secara internasional. Hymer mengemukakan bahwa inti pokok dari penanaman modal secara langsung adalah meratakan beberapa keuntungan monopolistik yang dinikmati oleh perusahaan induk.

Menurut pendekatan Stephen Hym, pengembalian penanaman modal asing atau investasi yang lebih tinggi di luar negeri tidak menjamin kelengkapan penjelasan arus modal, karena pengembalian investasi itu sendiri berarti bahwa modal akan lebih efisien bila dialokasikan melalui pasar modal dan tidak memerlukan pemindahan perusahaan. Kemungkinan memperoleh pengembalian investasi yang lebih tinggi akan timbul bila perusahaan memiliki keunggulan tertentu atas investasi suatu negara.

5. Teori Pull factors dan Push Factors

Secara umum, keputusan investor asing untuk menanamkan modalnya disuatu negara tujuan investasi dipengaruhi oleh :

a. Kondisi dari negara tujuan investasi (pull factor)

Pull yang factors mempengaruhi masuknya investasi asing antara lain adalah kondisi pasar negara tujuan investasi, ketersediaan sumber daya yang ada, daya saing, kebijakan pemerintah terkait dengan perdagangan dan industri serta kebijakan pemerintah terkait Penanaman Modal Asing, misalnya insentif atas investasi asing dalam bidang fiskal.

b. Kondisi dan strategi dari negara investor asing (push factors)

Push factors yang mempengaruhi masuknya investasi asing antara lainadalah strategi produksi dari perusahaan yang akan melakukan investasi asing, serta persepsi resiko dari investor asing terhadap negara tujuan investasi.

Berdasarkan teori-teori di atas paling tidak menggambarkan adanya varian pemikiran dalam memahami kebijakan investasi yang dapat dipilih yang menjadi dasar pertimbangan kebijakan hukum investasi dan sisi kepentingan dan kedaulatan host country. Apabila melihat kondisi Indonesia saat ini, investasi asing sangat dibutuhkan karena dapat membantu meningkatkan pendapatan negara, meningkatkan perekonomian masyarakat, serta pendapatan asli daerah; dengan demikian teori klasik dapat diterapkan dalam rangka mendatangkan investor asing ke Indonesia.

Dokumen terkait