• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba .1 Return on Assets (ROA)

Menurut Brigham dan Houston (2010:148), “Rasio laba bersih terhadap total aktiva mengukur pengembalian atas total aktiva (ROA) setelah bunga dan

pajak”. Menurut Sitanggang (2012:30) bahwa Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba bersih dari jumlah dana yang diinvestasikan perusahaan atau total aset perusahaan. untuk menentukan jumlah dana yang diinvestasikan dalam beberapa literatur jumlah investasi disamakan dengan total aset, hal ini dapat diterima selama semua aset

dioperasionalkan dalam operasi utama perusahaan (core business). Artinya tidak ada aset yang masih belum dioperasionalkan atau dioperasionalkan tetapi bukan untuk operasional utama perusahaan.

Return on Investment/Assets menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan (Syahyunan, 2015:106).

Sedangkan menurut Mardiayanto (2009: 196) dalam “ROA adalah ratio yang

digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba

yang berasal dari aktivitas investasi”. Return on Assets (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. ROA berfungsi untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba melalui pengoperasian aktiva yang dimiliki. Semakin besar ROA yang dimilki sebuah perusahaan maka semakin efesien penggunaan aktiva sehingga akan memperbesar laba.

Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang dicapai perusahaaan. Rasio profitabilitas dengan menggunakan pengukuran. Return on Assets (ROA) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setelah pajak dari total aset yang dimilikinya. alat untuk mengukur sejauh mana perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh aktiva atau aset yang diliki perusahaan. Dengan kata lain, semakin tinggi ROA maka semakin baik profitabilitas assets dalam memperoleh keuntungan bersih. ROA dapat dirumuskan sebagai berikut (Brigham dan Houston, 2010:148):

Return on Assets =

2.6.2 Net Profit Margin (NPM)

Brigham dan Houston Net Profit Margin adalah rasio yang mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Menurut Syahyunan, (2015:106) Net Profit Margin (NPM) adalah rasio untuk mengukur tingkat laba operasi dibandingkan dengan volume penjualan. NPM digunakan untuk menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih antara laba bersih dengan penjualan.

Semakin besar Net Profit Margin menunjukan kinerja perusahaan yang produktif untuk memperoleh laba yang tinggi melalui tingkat penjualan tertentu serta kemampuan perusahaan yang baik dalam menekan biaya-biaya operasional. Dengan kata lain, semakin besar NPM, maka kinerja perusahaan akan semakin produktif, sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.

Hubungan antara laba bersih sesudah pajak dan penjualan bersih menunjukan kemampuan manajemen dalam menjalankan perusahaan perusahaan secara cukup berhasil untuk menyisakan margin tertentu sebagai kompensasi yang wajar bagi pemilik yang telah menyediakan modalnya untuk suatu resiko. Para investor pasar modal perlu mengetahui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Dengan mengetahui hal tersebut investor dapat menilai apakah perusahaan itu profitabel atau tidak. Pengukuran Net Profit Margin yang digunakan adalah (Brigham dan Houston, 2010:146):

Net Profit Margin =

2.6.3 Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perhitungan leverage sederhana yang membandingkan total utang yang dimiliki perusahaan dengan total ekuitas (modal sendiri) dalam menanggung resiko. Ratio ini menggambarkanMenurut Syahyunan (2015:105) Debt to Equity Ratio (DER) adalah perbandingan hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Total hutang merupakan total kewajiban (baik utang jangka pendek maupun jangka panjang). Sedangkan total ekuitas merupakan total modal sendiri (meliputi total modal saham yang disetor dan laba yang ditahan) yang dimiliki oleh perusahaan.

Menurut Sitanggang (2012:25) Debt to Equity Ratio (DER), yaitu ratio antara total utang dengan total ekuitas dalam perusahaan yang memberi gambaran perbandingan antara total utang dengan modal sendiri (equity) perusahaan. Debt to Equity Ratio menunjukan proporsi hutang terhadap modal yang dimiliki. DER sering digunakan dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan pada laba yang diperoleh perusahaan. Seorang kreditur akan memberikan kredit pada perusahaan yang mempunyai laba yang stabil karena laba yang stabil memberikan keyakinan pada kreditur bahwa perusahaan akan mampu membayar hutangnya.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa semakin rendah DER semakin baik. DER yang tinggi menunjukan nilai resiko semakin tinggi yang menunjukan peningkatan dari resiko pada kreditur berupa ketidakmampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya. Dengan kata lain, semakin

besar rasio ini berarti semakin besar peranan utang dalam membiayai aset perusahaan. Pengukuran Debt to Equity Ratio yang digunakan adalah (Brigham dan Houston, 2010:143):

Debt to Equity Ratio =

2.6.4 Firm Size (Ukuran Perusahaan)

Menurut Iskandar (2014), bahwa Firm Size atau ukuran perusahaan adalah sebagai suatu perbandingan besar atau kecilnya bagi suatu objek yang berupa aset perusahaan. Menurut ukurannya perusahaan dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis, yaitu: besar, menengah, dan kecil.

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, long Size, nilai pasar saham dan lain-lain (Andriani , 2011). Ukuran perusahaan menunjukan besar atau kecilnya kekayaan (assets) yang dimiliki oleh perusahaan. Besar atau kecilnya perusahaan dapat dilihat dari total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata penjualan, nilai pasar atas saham perusahaan tersebut, dan lain-lain. Besar kecilnya suatu perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan manajemen untuk mengoperasikan perusahaan dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapinya. Kemampuan suatu perusahaan untuk beroperasi dapat mempengaruhi pendapatan saham perusahaannya.

Jika perusahaan memiliki total aktiva (assets) yang besar, pihak manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan aktiva yang ada diperusahaan terrsebut. Kebebasan yang dimiliki manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh pemilik atas asetnya. Ukuran perusahaan yang besar memudahkan

perusahaan dalam masalah pendanaan. Perusahaan umumnya memiliki fleksibilitas dan aksebilitas yang tinggi dalam masalah pendanaan melalui pasar modal. Kemudahan ini bisa ditangkap sebagai informasi yang baik. Firm Size dapat dirumuskan sebagai berikut (Ashari, 1994):

Firm Size = Ln Total Assets

Dokumen terkait