BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Hakekat Perilaku Prososial
7. Faktor-faktor yang Mendasari Seseorang Bertindak Prososial
yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial, yaitu sebagai berikut:
a. Self-gain, yaitu harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu, misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian, atau takut dikucilkan.
b. Personal values and norms, yaitu adanya nilai dan norma sosial yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai – nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.
c. Empathy, yaitu kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain.
Menurut Sears, Freedman & Peplau (1985), perilaku prososial dipengaruhi oleh karakteristik situasi, karakteristik penolong, dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan. Pengaruh – pengaruh tersebut, diantaranya sebagai berikut:
a. Situasi; meliputi kehadiran orang lain, sifat lingkungan, fisik, dan tekanan keterbatasan waktu.
b. Penolong; meliputi karakteristik kepribadian, suasana hati, distress diri dan rasa empati.
c. Orang yang membutuhkan pertolongan; meliputi adanya kecenderungan untuk menolong orang yang disukai, dan menolong yang pantas ditolong.
B. Hakekat Mahasiswa dan Perilaku Prososialnya.
1. Karakteristik Mahasiswa sebagai Dewasa Awal
Istilah adult atau dewasa berasal dari kata kerja latin yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Oleh karena itu orang dewasa adalah seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya (Hurlock, 1991).Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Hurlock (1986) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa awal ialah mereka yang berusia 20-40 tahun.
Santrock (1999), mengemukakan bahwa orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik secara fisik, transisi secara intelektual serta transisi peran sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati.Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Dewasa awal merupakan masa pernulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. Hurlock (1986) mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.
2. Ciri-ciri Dewasa Awal
Hurlock (1996), menguraikan ciri-ciri yang menonjol dalam masa dewasa awal adalah sebagai berikut:
a. Usia Reproduktif (Reproductive Age)
Masa dewasa adalah masa usia reproduktif. Masa ini ditandai dengan membentuk rumah tangga.Tetapi masa ini bisa ditunda dengan beberapa alasan.Ada beberapa orang dewasa belum membentuk keluarga sampai mereka menyelesaikan dan memulai karir mereka dalam suatu lapangan tertentu.
b. Usia Memantapkan Letak Kedudukan (Setting Down Age)
Dengan pemantapan kedudukan (Settle Down), seseorang berkembang pola hidupnya secara individual, yang mana dapat menjadi ciri khas seseorang sampai akhir hayat.Situasi yang lain membutuhkan perubahan-perubahan dalam pola hidup tersebut, dalam masa setengah baya atau masa tua, yang dapat menimbulkan kesukaran dan gangguan-gangguan emosi bagi orang-orang yang bersangkutan. Ini adalah masa dimana seseorang mengatur hidup dan bertanggung jawab dengan kehidupannya. Pria mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditangani sebagai karirnya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
c. Usia Banyak Masalah (Problem Age)
Masa ini adalah masa yang penuh dengan masalah. Jika seseorang tidak siap memasuki tahap ini, dia akan kesulitan dalam menyelesaikan tahp perkembangannya. Persoalan yang dihadapi seperti persoalan pekerjaan/jabatan, persoalan teman hidup maupun persoalan keuangan, semuanya memerlukan penyesuaian di dalamnya.
d. Usia Tegang dalam Hal Emosi (Emotional Tension)
Banyak orang dewasa awal mengalami kegagalan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan, dsb. Ketegangan emosional seringkali dinampakkan dalam ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau kekhawatiran yang timbul ini pada umumnya bergantung pada ketercapainya penyesuaian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat tertentu, atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami oleh seseorang.
e. Masa Keterasingan Sosial
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karir, perkawinan, dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya semakin menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok diluar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak semua orang mengalami masa muda, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang disebut krisis keterasingan (Erikson 3:4).
f. Masa Komitmen
Masa dewasa awal ini merupakan masa dimana diperlukannya komitmen yang kuat dalam menjalani rumah tangga bersama pasangannya.
g. Masa Ketergantungan
Masa dewasa awal ini adalah masa dimana ketergantungan pada masa dewasa biasanya berlanjut.Ketergantungan ini mungkin pada orangtua, lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa sebagian atau sepenuh atau pada pemerintah karena mereka memperoleh pinjaman untuk membiyai pendidikan mereka.
h. Masa Perubahan Nilai
Beberapa alasan terjadinya perubahan nilai pada orang dewasa adalah karena ingin diterima pada kelompok orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan ekonomi orang dewasa.
i. Masa Kreatif
Bentuk kreativitas yang akan terlihat sesudah orang dewasaakan tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya ini melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreativitas.
3. Tugas – tugas Perkembangan Mahasiswa sebagai Dewasa Awal Menurut Havighurst (Turner dan Helms, 1995) mengemukakan tugas-tugas perkembangan dewasa muda, diantaranya: (a) mencari dan menemukan calon pasangan hidup, (b) membina kehidupan rumah tangga, (c) meniti karier dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga, dan (d) menjadi warga Negara yang bertanggung jawab. Sejalan dengan pendapat tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai oleh Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019 (Dewasa Awal) ialah harus adanya peran yang lebih kompleks dari perkembangan-perkembangan yang telah dicapai sebelumnya. Dengan kompleksnya tersebut, Mahasiswa pada usia muda lebih condong berani dalam mengekspresikan pada usia mudanya.
4. Perkembangan Perilaku Prososial pada Mahasiswa Dewasa Awal Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan
oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini orang melibatkan diri secara khusus dalam karir, pernikahan, dan hidup bekeluarga. Menurut Erikson (1902-1994), perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan intergritas.
Menurut Peterson (Elisa & Yohanes, 2016) bertambahnya usia membuat individu dapat menjadi lebih empati, dapat memahami nilai, ataupun makna dari tindakan prososial yang dilakukkan oleh diri individu tersebut. Tetapi, pada jaman milineal seperti ini yang semuanya serba praktis, faktanya tidak semua pada perkembangan dewasa awal ini bersedia untuk mengembangkan perilaku prososial yang positif. Mahasiswa (Dewasa Awal) yang tidak mengembangkan perilaku prososial terlebih pada mahasiswa yang diluar pulau Jawa, akan cenderung menunjukkan perilaku yang kurang dapat bisa diterima oleh norma-norma masyarakat disekitarnya seperti tindakan perilaku antisosial. Ali & Asrori (Elisa & Yohanes, 2016) mengatakan bahwa pada usia dewasa ini tidak sedikit orang yang melakukan perilaku antisosial dikarenakan tugas-tugas perkembangan di masa-masa sebelumnya yang masih kurang berkembang secara baik.
5. Karakteristik Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019
a. Pemilihan Program Studi
Pada saat Mahasiswa Baru Bimbingan dan Konseling memutuskan untuk masuk SMA, mungkin Mahasiswa baru sudah memutuskan pula untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu di perguruan tinggi. Konsekuensinya, setelah lulus dari SMA nanti Mahasiswa baru harus berusaha keras agar dapat kuliah di perguruan tinggi yang disenangi-Nya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya bila mulai saat ini Mahasiswa baru sudah mempunyai rencana atau pandangan tentang perguruan tinggi mana yang akan Mahasiswa baru masuki serta jurusan apa yang Mahasiswa baru inginkan.
Agar Mahasiswa baru tidak gagal dalam mengikuti seleksi atau ujian masuk perguruan tinggi, maka mulai sekarang Mahasiswa baru harus sudah dapat merencanakan strategi dan langkah-langkah yang harus dilakukan. Langkah-langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
a). Belajarlah mulai sekarang.
b). Setelah dinyatakan lulus, segeralah buat kelompok bersama teman-teman, baik untuk belajar maupun untuk sharing (saling berbagi) menyangkut jurusan di
perguruan tinggi yang akan dipilih. Hal ini penting untuk memotivasi semangat pada diri Mahasiswa baru.
c). Pilihlah jurusan yang sesuai dengan minat, jangan hanya ikut-ikutan. Pilihan jurusan yang tepat yang dapat menambah kepercayaan diri serta dapat membakar motivasi belajar.
d). Prediksikanlah jumlah peminatnya berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya untuk mengatasi ketatnya kompetisi.
b. Cara Belajar di Perguruan Tinggi
Cara belajar di perguruan tinggi harus berdasarkan pada sikap mental dan perilaku yang baik. Sikap mental yang perlu dimiliki antara lain: (a) tujuan belajar, (b) minat terhadap pelajaran, (c) kepercayaan pada diri sendiri, (d) keuletan.
Agar dalam belajar dapat membuahkan hasil yang optimal sebaiknya: (a) tempat belajar memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, seperti tata ruangnya, cahaya, sirkulasi udara, serta suhu yang cocok; (b) kesehatan badan pun hendaknya diperhatikan, dengan menjaga pola tidur, pola makan, olahraga serta hiburan; (c) diusahakan agar tersedia perabotan belajar, seperti meja, kursi, lemari buku, serta peralatan tulis yang diperlukan. Hal yang lain diperhatikan ialah: (a) belajar secara
teratur, (b) belajar dengan penuh disiplin, (c) belajar dengan penuh konsentrasi dengan memusatkan pikiran terhadap pelajaran, dan (d) belajar dengan memanfaatkan perpustakaan.
Selain hal di atas, untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan prestasi dalam belajar, maka diperlukan: (a) minat yang besar terhadap mata kuliah, (b) memiliki tempat belajar yang memenuhi syarat, (c) membersihkan meja belajar dari segala sesuatu yang tidak hubungannya dengan pelajaran, (d) bertekad untuk senantiasa mencapai hasil yang optimal, (e) memelihara kesehatan badan dan memerhatikan tanda-tanda keletihan, (f) menghadiri kuliah secara tertib, mencatat uraian dosen dengan sebaik-baiknya dan mendalami buku-buku atau referensi yang telah ditentukan oleh dosen, (g) rajin mengunjungi perpustakaan fakultas ataupun perpustakaan umum, (h) membiasakan diri untuk membaca jurnal-jurnal nasional maupun jurnal-jurnal internasional untuk menambah wawasan.
Kebiasaan baik dalam membaca buku yang perlu dilaksanakan, yaitu: (a) memperhatikan kesehatan membaca, (b) menyusun rencana waktu untuk membaca buku, (c) membuat tanda-tanda atau catatan-catatan dengan alat tulis ketika membaca bukunya sendiri, (d) membaca sungguh-sungguh terhadap buku
yang dibacanya sehingga menguasai isinya, (e) membaca dengan konsentrasi penuh.
Adapun kesehatan membaca yang perlu diperhatikan adalah (a) sewaktu membaca hendaknya sekali-sekali memenjamkan mata atau melihat ke arah jauh, (b) cahaya datang dari arah kiri atau belakang serta tiada bayangan pada halaman buku yang sedang di baca, (c) buku yang dibaca tidak terletak mendatar di atas meja, melainkan dipegang agak tegak oleh tangan dengan jarak 25-30 cm dari mata, (d) cahaya hendaknya cukup, tidak terlalu gelap atau terlalu terang, (e) lamanya membaca 1-2 jam dengan istirahat 5-10 menit, dan (f) mata perlu dirawat sebaik-baiknya.
Cara membaca buku dapat dilakukan dengan tiga cara: (a) membaca secara urut, dari halaman pertama terus sampai halaman terakhir, (b) membaca dari halaman awal, tetapi selama buku belum lama dibaca maka bila akan dibaca lagi pada kesempatan lain, harus dibaca lagi dari permulaan, (c) membaca secara melompat-lompat tanpa mengikuti urutan bab, melainkan hanya dibaca pada bab-bab yang dibutuhkan saja.
Adapun cara menandai buku dapat dilakukan dengan cara: (a) membutuhkan berbagai tanda dengan stabilo pada uraian-uraian yang dianggap penting, dapat juga dengan memberi garis bawah
atau tanda bintang, (b) membuat catatan-catatan tulisan di pinggir halaman buku, (c) melipat ujung halaman yang memuat uraian yang dianggap penting, dan (d) menyusun semacam indeks pribadi pada bagian belakang dari buku.
Sebenarnya cara belajar yang baik tidaklah terlampau sulit.
Yang sulit dan berat adalah menimbulkan kemauan yang besar untuk belajar dengan cara yang baik. Semua orang mengetahui bahwa belajar sambil tiduran itu tidak baik, tetapi banyak dari kita yang tidak mau meninggalkan cara ini. Jadi, mereka bukannya tidak mampu belajar dengan cara duduk di kursi dan berhadapan dengan meja, tetapi hanya segan menjalaninya.
Keinginan untuk belajar dengan cara yang baik hanya akan tumbuh pada diri sesesorang yang telah sadar akan pentingnya kecakapan belajar secara baik. Dengan belajar secara baik, maka pelajaran-pelajaran akan dapat dikuasai sepenuhnya. Dengan menguasai materi-materi pelajaran, maka ujian akan dapat ditempuh dengan berhasil. Bahkan belajar dengan cara yang baik dapat membentuk watak yang baik pula (Gie, 1979:163)
6. Kebutuhan – kebutuhan dan Perkembangan Perilaku Prososial pada Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019
Kebutuhan – kebutuhan yang dibutuhkan pada masa dewasa awal menurut Erikson (1902-1994) ialah keintiman, generatif, dan integritas. Dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka harus adanya suatu perkembangan perilaku prososial yang harus bisa dikembangkan oleh mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019. Yang harus dikembangkan ialah adanya hubungan-hubungan yang lebih akrab kepada orang lain supaya mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019 tidak terisolasi dari masyarakat khususnya pada mahasiswa baru yang luar pulau Jawa.
C. Kajian Penelitian yang Relevan
Menurut Rafles, Febiola Yulientin (2018) menyatakan bahwa mengenai tingkat perilaku prososial pada mahasiswa yang melakukan slacktivism (seseorang yang melakukan bentuk dukungan isu sosial yang
secara langsung atau melalui internet). Metode analisis menggunakan kuantitatif deskriptif dan subjek dalam penelitian ini sebanyak 174 mahasiswa yang terdiri dari 47 subjek laki-laki dan 127 subjek perempuan yang merupakan mahasiswa yang tersebar dari angkatan 2013 sampai 2017.
Alat pengumpulan data menggunakan skala perilaku prososial dengan
bentuk skala Likert yang disusun oleh peneliti. Hasil penelitian yang diperoleh adalah mahasiswa yang melakukan slacktivism cenderung memiliki perilaku prososial yang sedang atau cukup. Letak relevansinya adalah pada variabel yang akan diukur yaitu perilaku prososial, penelitian ini mengukur tingkat perilaku prososial.
32 BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang jenis atau desain penelitian, waktu dan tempat pengumpulan data penelitian, subyek penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional, teknik dan instrument pengumpulan data penelitian, uji coba item, validitas dan reliabilitas serta teknik analisis data.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Menurut Sugiyono (2015:14) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandasan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data yang bersifat kuantitatif atau secara statistik.
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai perilaku prososial pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019 di Universitas Sanata Dharma, untuk mengetahui perilaku prososial pada Mahasiswa maka diperlukan skor-skor yang berupa angka yang akan menentukan tinggi rendahnya suatu perilaku prososial pada Mahasiswa Baru Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019
Universitas Sanata Dharma. Eksplanasi deksriptif digunakan bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku prososial mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling.
B. Waktu dan Tempat Pengumpulan Data Penelitian
Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2019. Tempat penelitian dilaksanakan di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitiannya adalah Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Angkatan 2019 dengan mengambil beberapa subjek mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019.
Mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Angkatan 2019 jumlah keseluruhannya ada 109 Mahasiswa baru program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta . Pada penelitian ini, peneliti mengambil 90 mahasiswa baru program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang menjadi subjek penelitian.
Menurut Sugiyono (2015:118) teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan probability sampling yaitu simple random sampling, teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel secara acak di dua kelas pada mahasiswa baru bimbingan dan konseling angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Tabel 3.1 Sampel Penelitian
NO KELAS JUMLAH
1. A 40
2. B 50
TOTAL 90
D. Variabel Penelitian dan Definisi Variabel Penelitian Operasional
Menurut Sugiyono (2015:60) variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Menurut Hatch dan Farhady (Sugiyono, 2015:60) secara teoritis variabel merupakan atribut seseorang, atau obyek yang mempunyai “variasi”
antara satu orang dengan yang lain atau obyek dengan obyek yang lain.
Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah perilaku prososial.
Menurut Sears, Freedman, dan Peplau (1985) perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memedulikan motif-motif si penolong. Adapun aspek-aspek yang mendukung pada variabel penelitian yaitu berbagi (sharing), menolong (helping), Kedermawanan (donating), Kerjasama (cooperating), Jujur (honesty).
E. Teknik dan Instrumen Penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Menurut Sugiyono (2015:61) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Pada penelitian ini, skala pengukuran yang digunakan ialah kuesioner dalam bentuk skala Likert. Menurut Sugiyono (2016:133) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Skala Likert item-item pernyataan yang disertai pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Peneliti meniadakan pilihan jawaban Netral (N) supaya menghindari adanya kecenderungan jawaban ditengah (central tendency effect). Berikut adalah tabel skor pengukuran skala Likert berdasarkan pernyataan favorable dan unfavorable.
Tabel 3.2 Norma Skoring
Altenatif Jawaban Skor
Favorable Unfavorable
Sangat Sesuai (SS) 4 1
Sesuai (S) 3 2
Tidak Sesuai (TS) 2 3
Sangat Tidak Sesuai (STS)
1 4
Kuesioner pada penelitian ini terdiri dari 50 item pernyataan, yaitu 27 item favorable dan 23 item unfavorable.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data mengenai tingkat perilaku prososial, peneliti menggunakan instrumen kuesioner Perilaku Prososial. Menurut Sugiyono (2015:146) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam atau sosial yang diamati, dengan demikian fenomena ini disebut variabel penelitian. Instrumen yang peneliti gunakan disusun berdasarkan aspek-aspek perilaku prososial menurut Musen,dkk (2002) yang mengemukakan beberapa aspek perilaku prososial, yaitu: Berbagi (Sharing), Menolong (Helping), Kedermawanan (Donating), Kerjasama (Cooperating), dan Jujur (Honesty). Pernyataan yang termasuk dalam kuesioner ini terdiri dari pernyataan favorable dan pernyataan unfavorable.
Pernyataan Favorable merupakan pernyataan yang positif mengenai perilaku prososial. Pernyataan Unfavorable merupakan pernyataan yang negatif mengenai perilaku prososial.
Proses penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menyusun kisi-kisi instrumen. Dalam kisi-kisi ini termuat aspek-aspek perilaku prososial yang diukur dengan indikatornya masing-masing.
b. Menyusun item pernyataan kuesioner berdasarkan indikator dari aspek-aspek yang diukur. Item pernyataan tersebut dibagi menjadi dua bentuk, yaitu Favourable dan Unfavourable. Skala pengukuran kuesioner yang digunakan adalah Skala Likert.
c. Mengkonsultasikan item kuesioner kepada dosen pembimbing dan merevisi item, baik dari segi bahasanya maupun kesesuainnya dengan aspek yang ingin diukur.
d. Melakukan uji coba validitas dengan mengambil satu kelas untuk diuji yaitu Kelas B Universitas Sanata Dharma dengan jumlah 50 mahasiswa.
e. Mengolah data hasil uji coba dan menguji dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 25.
f. Mengkonsultasikan item yang valid kepada dosen pembimbing.
g. Menyebar kuesioner pada mahasiswa baru bimbingan dan konseling sebanyak dua kelas dan berjumlah 90 mahasiswa.
h. Hasil jawaban mahasiswa pada kuesioner ditabulasi dan dilakukan analisis butir item melalui perhitungan daya diskriminasi item atau daya beda, selanjutnya menghitung reliabilitas instrumen.
i. Menganalisis dan membahas hasil penelitian kemudian menarik kesimpulan akhir. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3
Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Prososial pada Mahasiswa Baru Bimbingan dan Konseling Angkatan 2019 Universitas Sanata Dharma.
No Aspek Indikator
(Sharing) a. Tidak menyakiti perasaan orang lain.
1,2,5 3,4,7 6 14
b. Meluangkan waktu untuk bercerita dengan orang lain.
6,8,10,11 9,12,13,14 8
2. Menolong
(Helping) a. Membantu orang lain.
16 15 2 6
b. Menawarkan bantuan kepada orang lain atau melakukan sesuatu.
18,20 17,19 4
3. Kedermawanan
(Donating) a. Berbagi secara sukarela.
21,22,23 24,25 5 10
b. Bersikap murah hati kepada orang lain.
27,29,30 26,28 5
4. Kerjasama
(Cooperating) a. Berserdia untuk bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan.
32,33 34,36 4 9
b. Menghargai Pendapat atau ide orang lain
31,35,37 38,39 5
5. Jujur
(Honesty) a. Keberanian untuk bersikap jujur
40 41,43
3 11
b. Bertanggung jawab atas sikap kejujuran
44,42,45,46 47,48,49,50 8
Total 27 23 50
Skoring dilakukan dengan menjumlahkan jawaban responden pada masing-masing item. Semakin tinggi jumlah skor yang diperoleh, maka semakin tinggi pula perilaku prososial dan begitu juga sebaliknya,apabila semakin rendah jumlah skor yang diperoleh maka semakin rendah pula perilaku prososial Mahasiswa.
3. Uji Coba Instrumen Penelitian
Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian, kuesioner perilaku prososial diuji cobakan kepada para mahasiswa. Uji coba kuesioner perilaku prososial yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang sudah disusun.
Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian, kuesioner perilaku prososial diuji cobakan kepada para mahasiswa. Uji coba kuesioner perilaku prososial yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang sudah disusun.