Faktor yang akan diuji pengaruhnya terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian adalah sosialisasi orangtua mengenai pertani, kohesivitas teman sebaya, kesulitan proses pelepasan lahan, dan luas penguasaan lahan keluarga. Keempat faktor-faktor tersebut akan dianalisis pengaruhnya terhadap keterlibatan pemuda pada masing-masing kegiatan pertanian, meliputi: kegiatan persiapan lahan dan benih, pemeliharaan, dan panen.
Pengukuran Faktor-faktor yang Menentukan Keterlibatan Pemuda
Keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu tingkat sosialisasi orangtua mengenai pertanian, kohesivitas teman sebaya, tingkat kesulitan pelepasan lahan, dan tingkat penguasaan lahan keluarga. Identifikasi masing-masing variabel tersebut berbeda-beda, ada yang tinggi, sedang, dan ada juga yang rendah (lihat Tabel 3).
Tabel 3 Jumlah dan presentase tingkat sosialisasi orangtua, kohesivitas teman sebaya, kesulitan pelepasan lahan, dan tingkat penguasaan lahan keluarga dari 60 responden di Desa Purwabakti tahun 2013
Tingkat Sosialisasi Orangtua
Orangtua sebagai pihak pertama yang dikenal oleh individu membuat pengaruh dari pihak ini memiliki peranan yang penting, terutama dalam pengambilan keputusan individu. Pemuda seringkali dipengaruhi oleh intervensi dari orangtuanya dalam memutuskan untuk bekerja pada sektor pertanian atau justru meninggalkannnya. Tabel 3 menunjukkan tingkat sosialisasi orangtua dari 60 orang responden penelitian. Sebanyak 51.67 persen memiliki tingkat sosialisasi yang tinggi, sebanyak 20 persen memiliki tingkat sosialisasi yang sedang, dan Faktor-faktor yang
mempengaruhi keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian Kategori Jumlah responden (orang) Presentase (%) Total (%)
Tingkat sosialisasi orangtua Tinggi 31 51.67
100.00
Sedang 12 20.00
Rendah 17 28.33
Tingkat kohesivitas teman sebaya
Tinggi 19 31.67
100.00
Sedang 19 31.67
Rendah 22 36.66
Tingkat kesulitan pelepasan lahan
Tinggi 5 8.33
100.00
Sedang 25 41.67
Rendah 30 50.00
Luas penguasaan lahan keluarga
Tinggi 11 18.33
Sedang 35 58.33
tingkat sosialisasi rendah sebesar 28.33 persen. Hal ini menunjukkan bahwa orangtua dari pemuda yang ada di Desa Purwabakti, masih memiliki harapan yang besar agar anaknya bekerja pada sektor pertanian. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa ada orangtua yang berharap agar anak-anaknya tidak bekerja pada sektor pertanian. Hal tersebut bisa berwujud permintaan, perintah, atau pun pemaksaan yang dilakukan oleh orangtua agar anak-anaknya bertani. Orangtua biasanya meminta anak-anaknya yang masih pada usia sekolah pada kegiatan pertanian yang tidak menyita banyak waktu dengan pertimbangan agar tidak mengganggu kegiatan sekolah seperti menyiangi gulma dan memisahkan bulir padi dengan batangnya pada saat musim panen tiba. Ketika cara meminta tidak mempan, maka orangtua akan memaksa anak-anaknya untuk bertani. Paksaan tersebut biasanya berupa ancaman terhadap anak. Salah seorang pemuda mengaku bahwa orangtuanya tidak mau membelikannya sepeda motor ketika dia tidak mau membantu ayahnya bertani. Bahkan ada orangtua yang mengancam tidak akan mewariskan lahan tersebut kepadanya. Lahan akan diwariskan kepada saudara saudaranya yang lain, yang masih mau bertani. Orangtua melakukan hal tersebut karna pertanian sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mereka ingin mempertahankan pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat.
Presentase tingkat sosialisasi orangtua yang rendah juga cukup banyak, yaitu mencapai 28.33 persen. Hal ini wajar terjadi karena banyak juga orangtua yang tidak mau anak-anaknya bekerja pada sektor pertanian. Beberapa orangtua mengaku bahwa mereka sangat menyayangkan jika anaknya bertani. Mereka sudah mengeluarkan biaya yang besar untuk menyekolahkan anak-anaknya. Oleh karena itu, mereka ingin anak-anaknya bekerja pada pekerjaaan yang menurut mereka lebih baik, biasanya menjadi pegawai, dibandingkan bekerja sebagai petani. Gaji yang pasti dan rutin setiap bulan menjadi salah satu daya tarik menjadi pegawai.
Tingkat Kohesivitas Teman Sebaya
Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain terutama teman sebaya. Hubungan yang terjalin itu pun bisa berupa hubungan yang sangat erat dan ada juga sebagai hubungan yang saling mengenal tetapi tidak sampai mempengaruhi sikap dari individu lainnya. Tabel 3 menunjukkan tingkat kohesivitas 60 responden dengan sebaya. Sebanyak 31.67 persen memiliki tingkat kohesivitas teman sebaya yang tinggi. Persentase yang sama yaitu 31.67 persen menunjukan tingkat kohesivitas yang sedang. Namun, presentase yang paling besar adalah tingkat kohesivitas yang rendah, yang memiliki presentase sebesar 36.77 persen. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kohesivitas teman sebayanya tergolong rendah. Hal ini terjadi karena pemuda Desa Purwabakti lebih banyak bergaul dengan pemuda yang tidak berkecimpung di dunia pertanian. Teman-teman dari 60 orang responden mayoritas adalah pelajar, pengrajin kayu, supir, dan pedagang. Akibatnya, mereka sangat jarang berbicara mengenai pertanian sehingga kohesivitas teman sebaya cenderung rendah.
Pertanian semakin jauh dari pergaulan anak muda seiring dengan berkembangnya teknologi terutama motor dan telepon genggam. Motor menjadi salah satu gaya hidup pemuda. Mereka seringkali berkumpul di suatu tempat tanpa melakukan pekerjaan apapun. Hal yang mereka lakukan hanyalah
bersenang-senang tanpa adanya pekerjaan yang rutin. Tempat yang paling sering mereka datangi adalah bengkel motor. Ada juga pemuda yang suka berkumpul di tempat pengrajin kayu. Mereka biasanya hanya sekedar mengobrol. Namun, seringnya bergaul dengan memilik usaha pengrajin kayu, membuat pemuda ikut tertarik pada usaha ini sehingga memutuskan untuk belajar. Setelah mampu melakukannya sendiri, mereka cenderung akan membuka usaha kerajinan kayu sendiri. Jika melihat pada karakteristik responden mengenai pekerjaan responden, terlihat sekali bahwa pemuda yang bekerja menjadi pengrajin kayu cukup banyak dibandingkan dengan pekerjaan lainnya.
Tingkat Kesulitan Pelepasan Lahan
Suatu daerah biasanya memiliki adat istiadat yang mengatur kehidupan masyarakat termasuk aturan yang mengatur pola pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam seperti lahan dan kandungan alam yang ada di dalamnya. Tingkat kesulitan pelepasan lahan merupakan suatu cara untuk menjaga agar lahan tetap ada untuk keberlangsungan hidup masyarakatnya. Tabel 3 menunjukan tingkat kesulitan pelepasan lahan pada 60 keluarga responden di Desa Purwabakti. Tingkat kesulitan pelepasan tinggi sebanyak 8.33 persen, tingkat kesulitan pelepasan lahan sedang sebesar 41.67 persen, dan sebanyak 50 persen memiliki tingkat kesulitan pelepasan lahan yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesulitan pelepasan lahan di Desa Purwabakti tergolong rendah. Sistem nilai dan adat istiadat untuk mempertahankan lahan pertanian sudah mulai memudar. Ketika lahan telah diwariskan kepada anak-anaknya, maka orangtua tidak memiliki hak untuk mengatur anak-anaknya dalam pemanfaatan lahan tersebut. Anak sebagai penerima hak waris, berhak untuk memanfaatkan lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Mereka bisa menjual lahan tersebut jika mereka membutuhkan uang tunai, dengan ataupun tanpa izin orangtuanya. Orang yang akan melakukan jual beli tanah melakukan transaksi dan kemudian mendaftarkan ke desa perihal perpindahan hak kepemilikan. Proses surat menyurat pun dapat selesai dalam satu hari. Dengan kata lain, proses jual beli lahan di desa ini tergolong sangatlah mudah.
Tingkat Penguasaan Lahan Keluarga
Luas penguasaan lahan keluarga sangatlah beragam mulai dari pemuda yang tidak memiliki lahan pertanian sama sekali sampai pemuda yang memiliki lahan yang mencapai 0.75 ha. Tingkat penguasaan lahan keluarga digategorikan menjadi tiga bagian, yaitu tingkat penguasaan lahan yang tinggi, sedang, dan rendah. Penentuan golongan penguasaan lahan dilakukan dengan cara menggunakan mean dan standar deviasi. Mean atau rata-rata dan luas penguasaan lahan keluarga responden adalah 2101.67 m2. Ini artinya, luas lahan sangatlah sempit sehingga petani tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhannya ketika mereka hanya bergantung pada hasil pertanian saja.
Tabel 3 menunjukkan bahwa ada 18.33 persen responden memiliki tingkat penguasaan lahan yang tinggi, sebanyak 58.33 persen memiliki tingkat penguasaan lahan yang tergolong sedang, dan sebanyak 23.34 persen tergolong tingkat penguasaan lahan yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan lahan pertanian pada keluarga pemuda sudah mulai sedikit. Tidak sedikit pula diantara mereka yang tidak memiliki lahan sehingga mereka harus menyewa
lahan, menjadi buruh pertanian, atau beralih pada mata pencaharian lain di luar pertanian. Hal ini juga berkaitan dengan tradisi masyarakat sunda yang terkenal sebagai masyarakat yang lebih suka berkumpul di daerah asalnya dibandingkan merantau. Lahan yang dulunya luas semakin menyempit karena harus dibagi- bagikan kepada anak-anaknya yang telah berkeluarga. Ada lagi lahan yang harus dikonversi menjadi perumahan akibat bertambahnya jumlah anggota keluarga. Hal ini didukung oleh penelitian Hariadi (2008) menyatakan bahwa lahan akan sangat mudah dikonversi ketika tidak adanya security land. Hariadi (2008) menjelaskan bahwa di Jepang, anak yang mendapatkan warisan hanyalah anak laki-laki tertua, sehingga anak-anak yang lain akan merantau ke kota untuk bekerja pada sektor lain di luar pertanian. Hal ini berdampak terhadap luas lahan di desa. Luas lahan tetap terjaga karena tidak ada pembagian lahan kepada beberapa orang anak-anaknya. Security land inilah yang mulai memudar di Desa Purwabakti, dan Tanah Sunda pada umumnya.
Pengujian Faktor-Faktor yang Menentukan Keterlibatan Pemuda pada Kegiatan Persiapan Lahan dan Benih
Kegiatan persiapan lahan dan benih merupakan kegiatan yang dilakukan pada sebelum proses pananam bibit dilakukan. Lahan dipersiapkan dan benih sudah mulai ditabur. Pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih dilakukan dengan menggunakan analisis analisis regresi linear berganda. Uji statistik yang dilakukan terhadap bentuk keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih adalah yaitu dengan memasukan seluruh variabel independen atau variabel pengaruh seperti: sosialisasi orangtua, kohesivitas teman sebaya, tingkat kesulitan pelepasan lahan, dan luas penguasaan lahan keluarga. Hasil pengujian regresi linear berganda menghasilkan persamaan sebagai berikut:
Hipotesis: sosialisasi orangtua, kohesivitas teman sebaya, tingkat kesulitan
pelepasan lahan, dan luas penguasaan lahan keluarga berpengaruh terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih.
Pengaruh masing-masing variabel bisa dilihat dari hasil perbandingan antara t hitung dan t tabel. T tabel diperoleh sebesar 2.77 dengan tingkat probabalitas sebesar 0.05 dan derajat bebasnya 4. Pengujian secara regresi akan menunjukkan nila t hitung. Jika t hitung lebih besar daripada t tabel, maka variabel tersebut berpengaruh, begitu juga sebaliknya. Ketika variabel nilai t hitung lebih kecil daripada nilai t tabel, maka variabel yang sedang diuji tidak berpengaruh. Besarnya pengaruh suatu variabel, dapat dilihat dari nilai signifikansi. Nilai signifikansi akan semakin bagus ketika mendekati nilai 0 (nol). Hasil pengujian statistiknya bisa dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Hasil uji statistik faktor yang menentukan keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian dengan bentuk keterlibatan pemuda pada pertanian di Desa Purwabakti Tahun 2013
Pengujian dengan model regresi juga membantu dalam memperoleh nilai
R Square (R²) yang menunjukkan besarnya pengaruh dari keempat variabel berpengaruh terhadap variabel terpengaruh. Angka R Square yang diperoleh adalah 0.606. Ini berarti bahwa kontribusi pengaruh variabel sosialisasi orangtua, kohesitas teman sebaya, kesulitan pelepasan lahan, dan luas penguasaan lahan keluarga terhadap variabel tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih adalah sebesar 60.3 persen dan sisanya 39.7 persen merupakan kontribusi pengaruh dari variabel lain seperti tingkat pendidikan pemuda, umur, dan faktor-faktor lainnya yang tidak menjadi kajian utama pada penelitian ini. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh dari keempat faktor tersebut dominan terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian. Semakin tinggi atau kuat bertahannya faktor tersebut, maka keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih juga akan semakin kuat. Namun, ketika faktor tersebut terabaikan, maka keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih juga akan rendah.
Nilai R Squere untuk pengaruh sosialisasi orangtua, kohesitas teman sebaya, kesulitan pelepasan lahan, dan luas penguasaan lahan keluarga terhadap variabel tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan pemeliharaan adalah sebesar 62.4 persen, sedangkan 37.6 persen sisanya merupakan pengaruh dari variabel lainnya diluar keempat variabel tersebut seperti tingkat pendidikan pemuda, umur, dan faktor-faktor lainnya yang tidak menjadi kajian utama pada penelitian ini. Sebagaimana telah disinggung pada identifikasi keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih, keterlibatan pemudanya ternyata sangatlah rendah dibandingkan dengan keterlibatan pada kegiatan persiapan lahan dan benih dan panen. Maka bisa disinyalir bahwa telah terjadi pengabaian pemanfaatan keempat faktor tersebut dalam usaha meningkatkan keterlibatan pemuda pada kegiatan pemeliharaan. Bisa saja karena teman yang membawa pengaruh negatif terhadap pemuda, dalam konteks pertanian, sehingga mereka tidak mau lagi bertani, atau karena sistem nilai dan proses pelepasan lahan yang semakin mudah sehingga banyak pemuda yang tidak mau bertani.
Berbeda dengan keterlibatan pada kegiatan persiapan lahan dan benih dan pemeliharaan, pengaruh sosialisasi orangtua, kohesitas teman sebaya, kesulitan Faktor yang mempengaruhi
keterlibatan pemuda pada pertanian
Bentuk Keterlibatan Pemuda pada Pertanian Persiapan lahan
dan benih
Pemeliharaan Panen
t Sig. t Sig. t Sig.
Tingkat sosialisasi ortu 2.252 0.028 3.208 0.002 0.276 0.784
Tingkat kohesivitas teman sebaya
5.172 0.000 4.268 0.000 2.747 0.008
Tingkat kesulitan proses pelepasan lahan
2.289 0.026 0.487 0.629 -0.496 0.622
Luas penguasaan lahankeluarga
pelepasan lahan, dan luas penguasaan lahan keluarga terhadap variabel tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan panen menunjukkan angka yang rendah yaitu sebesar 25.3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh dari keempat faktor tersebut terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian cukup kecil. Dengan kata lain, pemuda akan tetap melakukan kegiatan panen tanpa adanya pengaruh dari keempat faktor tersebut. Salah satu faktor diluar kajian penelitian yang membuat keterlibatan pemuda pada kegiatan panen tetap tinggi adalah kuatnya tradisi panen raya. Ketika musim panen tiba, masyarakat akan bersama- sama panen ke sawah. Semua anggota keluarga dilibatkan pada kegiatan ini, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Kebiasaaan tersebut selalu dibangun sehingga ketika mereka dewasa pun tetap mau mengikuti panen.
Pengaruh Tingkat Sosialisasi Orangtua terhadap Tingkat Keterlibatan Pemuda pada Kegiatan Persiapan lahan dan benih
Berdasarkan hasil uji regresi, orangtua ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih. Hal ini terbukti dengan nilai t hitung yang lebih kecil daripada t tabel (2.252 < 2.77). keadaan ini membuktikan pernyataan terdahulu yang dilakukan oleh Nugraha (2012) bahwa orangtua tidak memiliki pengaruh terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan pertanian. Orangtua tidak lagi memiliki kekuasaan penuh untuk memaksa anak-anaknya untuk bertani (lihat Tabel 5).
Tabel 5 Jumlah dan presentase tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih berdasarkan tingkat sosialisasi orangtua pemuda di Desa Purwabakti Tahun 2013
Tabel 5 mengindikasikan bahwa tingkat sosialisasi orangtua memiliki pengaruh yang lemah terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih. Hal ini terbukti pada data yang menunjukkan bahwa ketika tingkat sosialisasi orangtua yang tinggi pun, keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih yang sedang yaitu sebesar 26.67 persen. Begitu juga yang terjadi ketika tingkat sosialisasi orangtua yang sedang, ternyata tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih rendah yaitu sebesar 11.67 persen. Walaupun pada dasarnya orangtua memiliki hak yang paling besar dalam menyuruh atau memaksa anak-anaknya untuk bertani, tetap saja tidak bisa dipungkiri bahwa ada faktor yang lainnya yang sangat mempengaruhi sikap dan keputusan pemuda untuk terlibat atau malah meninggalkan pertanian.
Mempertegas data tersebut, salah seorang informan menyatakan bahwa dia telah berusaha memaksa anak-anaknya untuk bertani dengan cara tidak memberi anaknya tersebut uang jajan. Namun, yang terjadi adalah anaknya tetap tidak mau
Tingkat sosialisasi orangtua
Keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih
Tinggi Sedang Rendah
n % n % n %
Tinggi 11 18.33 16 26.67 4 6.67
Sedang 0 0.00 5 8.33 7 11.67
bertani, dengan alasan tidak mau kotor dan takut dianggap rendah oleh teman- temannya. Bahkan anaknya malah tidak mau pergi ke sekolah. Akhirnya orangtuanya tidak dapat berbuat apa-apa. Berdasarkan penuturan tersebut, bisa diambil suatu kesimpulan bahwa ketika orangtua memaksa saja, pemuda masih sedikit yang mau bertani. Apalagi orangtua yang justru tidak pernah mengajak atau pun melarang anak-anaknya untuk bertani. Informan lainnya sebagia orangtua, berkata:
“…sebagai orangtua, saya sudah tidak bisa memaksa anak-anak untuk bertani. Anak-anak sudah disekolahkan dengan biaya yang mahal sehingga kalau mereka bertani sangat disayangkan. Saya mengharapkan anak-anak saya mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tidak harus bekerja dari pagi sampai sore dengan hasil panen yang tidak tentu...”
Pernyataan tersebut menguatkan hasil uji regresi yaitu pengaruh orangtua dalam mempengaruhi anak-anak muda untuk bertani tidak terlalu besar. Pemuda menggunakan berbagai alasan untuk menolak permintaan orangtuanya untuk bertani. Alasan yang paling umum digunakan adalah kesibukan sekolah dan tidak mau kotor karena terkena lumpur sawah.
Pengaruh Tingkat Kohesivitas Teman Sebaya terhadap Tingkat Keterlibatan Pemuda pada Kegiatan Persiapan lahan dan benih
Berdasarkan hasil uji regresi, kohesivitas teman sebaya ternyata berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih. Hal ini terbukti dengan nilai t hitung yang lebih besar daripada t tabel (5.172 > 2.77). Angka yang besar dan nilai signifikansi yang nol mengindikasikan bahwa peran kohesivitas teman sebaya terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih sangatlah besar. Ketika teman- teman pemuda mayoritas adalah petani, maka mereka cenderung akan ikut bertani. Begitu juga sebaliknya, ketika teman-temannya menganggap bahwa pertanian merupakan pekerjaan yang tidak layak dan kotor, maka akan semakin sedikit pula pemuda yang bertani (lihat Tabel 6).
Tabel 6 Jumlah dan presentase tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih berdasarkan tingkat kohesivitas teman sebaya dari 60 orang pemuda di Desa Purwabakti Tahun 2013
Tingkat kohesivitas teman sebaya
Keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih
Tinggi Sedang Rendah
n % n % n %
Tinggi 9 15.00 10 16.67 0 0.00
Sedang 2 3.33 11 18.33 6 10.00
Berdasarkan Tabel 6, pengaruh kohesivitas teman sebaya terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih sangatlah kuat. Ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda rendah pada saat kohesivitas teman sebayanya juga rendah yaitu sebesar 28.33 persen. Begitu juga dengan tingkat keterlibatan pemuda yang sedang pada saat tingkat kohesivitas teman sebayanya juga sedang yaitu 18.33 persen. Jika dilihat secara umum, data yang diperoleh di Desa Purwabakti menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda dalam mempersiapkan lahan cenderung rendah.
Sebagai mana dijelaskan sebelumnya, kegiatan persiapan lahan dan benih, merupakan kegiatan pertanian yang membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. kegiatan seperti membajak dan meratakan sawah, seringkali dianggap oleh kalangan pemuda sebagai pekerjaan yang kolot dan kotor. Oleh karena, muncullah rasa malu pada diri pemuda ketika dia terlibat pada kegiatan tersebut. Merasa malu ketika teman-teman melihatnya pulang dari sawah di sore hari dengan memakai pakaian yang kotor dan cangkul. Mereka merasa taut akan dijauhi dan dianggap rendah ketika hal tersebut terjadi. dan pakaian yang Rasa malu inilah yang kemudian membuat pemuda di Desa Purwabakti tidak mau terlibat.
Rasa malu itu pun diperkuat dengan semakin banyaknya pemuda yang bekerja di luar sektor pertanian. Akibatnya, pemuda lebih banyak berteman dengan pemuda yang berprofesi selain pertanian. Teman-teman yang bukan petani tentu saja akan berimbas pada bahan pembicaraannya, yang tentu saja tidak berkaitan dengan kegiatan pertanian. ketika teman-temannya mayoritas merupakan pengrajin kayu, maka pembicaraannya tidak jauh dari harga kayu, harga alat untuk membuat lemari, dan pembicaraan lainnya terkait dengan usaha tersebut. Usaha lainnya yang berkembang di desa adalah usaha budidaya ikan. Air yang berlimpah sangat mendukung untuk usaha ini. Hasil yang diperoleh juga jauh lebih tinggi dari pada pertanian padi sawah. Akibatnya, lahan pertanian dialihfungsikan menjadi kolam ikan.
Pengaruh Tingkat Kesulitan Pelepasan Lahan terhadap Tingkat Keterlibatan Pemuda pada Kegiatan Persiapan lahan dan benih
Berdasarkan hasil uji regresi, tingkat kesulitan pelepasan lahan ternyata tidak berpengaruh dan signifikan terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih. Hal ini terbukti dengan nilai t hitung yang lebih kecil daripada t tabel (2.289 < 2.77). Dengan kata lain, pada proses persiapan lahan dan benih, ada atau tidak adanya aturan yang sulit dalam menjual lahan pertanian, tidak berpengaruh terhadap keterlibatan pemuda. Pada kenyataannya, pemuda Desa Purwabakti sedikit yang mau terlibat pada kegiatan persiapan lahan dan benih.
Tabel 7 Jumlah dan presentase tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih berdasarkan tingkat kesulitan pelepasan lahan di Desa Purwabakti Tahun 2013
Tabel 7 menunjukkan pengaruh tingkat kesulitan pelepasan lahan yang rendah terhadap tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih. Ini terbukti pada data, yaitu ketika tingkat kesulitan pelepasan lahan keluarga yang tinggi, tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih tergolong sedang yaitu sebesar 5 persen. Begitu juga pada saat tingkat kesulitan pelepasan lahan yang sedang, tingkat keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih tergolong sedang dan rendah yaitu sebesar 16.67 persen. Hal ini semakin menguatkan hasil uji regresi, yaitu tingkat kesulitan pelepasan lahan tidak berpengaruh terhadap keterlibatan pemuda pada kegiatan persiapan lahan dan benih.
Makna yang dapat ditarik dari hasil pengujian tersebut adalah ketika