• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor Yang Menentukan Terjadinya Sakit Kusta

LANDASAN TEORI

C. Penyakit kusta

2. Faktor-faktor Yang Menentukan Terjadinya Sakit Kusta

Menurut Departemen Kesehatan RI (2006), penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita tipe multy bacillary ( MB ) ke orang lain dengan cara penularan langsung dan membutuhkan jangka waktu yang cukup lama, tergantung dari beberapa faktor antara lain

a. Faktor penyebab.

Penyebab penyakit kusta yaitu Mycobacterium leprae dimana untuk pertama kali ditemukan oleh G.H. Amuer Hansen pada tahun 1873. M. Leprae hidup intraseluler dan mempunyai afinitas yang

besar pada sel saraf ( schwan cell ). Dan sel dari sistem retikulo endotelial. Sumber penularan utama adalah Penderita kusta tipe MB, tetapi juga ditemukan bahwa kuman kusta dapat hidup pada hewan armadillo, simpanse, dan telapak kaki tikus putih.

b. Sumber penularan.

Hanya manusia satu-satunya sampai saat ini yang dianggap sebagai sumber penularan, walaupun kuman kusta armilado, simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar thymus. c. Cara penularan.

Kuman kusta mempunyai masa inkubasi selama 2- 3 tahun. Akan tetapi dapat juga bertahun-tahun. Penularan terjadi apabila M. Leparae yang utuh (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk kedalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis, penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang lama dengan penderita. akan tetapi, penderita yang sudah minum obat sesuai regimen WHO, tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. Hanya sedikit orang yang akan terjangkit kusta setelah kontak dengan penderita, hal ini disebabkan karena adanya imunitas. Sebagian besar (95 %) manusia, kebal terhadap kusta. Hanya sebagian kecil dapat ditulari (5 %). Dari 5% yang tertular, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan hanya 30% yang menjadi sakit.

3. Kondisi Psikologis Pada Penderita Kusta.

Carole,W & Carol, T., (2008) mengatakan bahwa kondisi psikologis adalah sebuah keadaan psikologis yang terjadi dalam diri seseorang yang berhubungan dengan prilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana prilaku dan proses mental tersebut dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal. Ketika subjek mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit kusta, subjek tersebut merasa shock, malu, takut dan bingung. Secara perlahan subjek mulai mengasingkan diri dari keluarga dan orang-orang yang ada disekitarnya, sebaliknya subjek juga mulai dijauhi oleh kerabat, bahkan oleh keluarga sendiri. Semua ini dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan subjek dan keluarga akan gejala penyakit sebelumnya serta stigma yang berkembang di masyarakat terhadap orang-orang yang menderita penyakit kusta. (wawancara personal, 29 April, 2013). Ada ketakutan akan resiko penularan, menyebabkan keluarga penderita merasa enggan dan bahkan merasa takut sehingga tidak berperan aktif dalam perawatan penderita kusta dan bahkan penderita diisolasikan atau dikucilkan dari tengah-tengah keluarga. (Depkes RI, 1996)

Menderita penyakit kronis seperti kusta, merupakan salah satu pengalaman yang bersifat stressful bagi hampir semua penderita. Orang yang menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan cenderung mengembangkan perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai macam pengobatan tidak dapat

membantunya sembuh dari penyakit kronis. (Sarafino, 2006). Masalah lain yang dihadapi oleh penderita kronis adalah kehilangan pekerjaan dengan alasan emosional atau fisik yang menyebabkan pendapatannya berkurang

Taylor (2003), menjelaskan tentang reaksi-reaksi yang muncul dari seseorang setelah terdiagnosa sebagai penderita penyakit kronis seperti kusta diawali dengan Shock, Denia, Anxiety/ kecemasan, Depresi. Shock adalah sebuah Perasaan bingung, terkejut dan takut. Reaksi ini biasanya muncul secara spontan dalm diri individu. Denia adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh individu untutk menghindari apa yang dialaminya. Individu akan menolak kenyataan bahwa, ia menderita suatu penyakit Anxiety/ kecemasan, individu merasa cemas ketika didiagnosa menderita penyaki kusta. Depresi akan muncul ketika terjadi proses denial dan anxiety. Hal ini terjadi karena banyaknya waktu yang habis untuk memahami kenyataan kondisi penderita.

Radley (1994), menambahkan, bahwa penderita penyakit kronis seperti kusta, dapat mengalami tiga akibat dari penyakit yang dideritanya atau pengobatan yang dijalaninya, yang dapat mempengaruhi kehidupan penderita, yaitu : impairment, disability dan handicap. Impairment merupakan kondisi sementara atau permanen dari abnormalitas struktur tubuh atau fungsi, baik fungsi fisiologis maupun psikologis. Disability, merupakan keterbatasan atau kondisi berkurangnya suatu kemampuan untuk melakukan aktivitas secara layak sebagai akibat dari kondisi impairment. Akibat dari abnormalitas pada sebagian atau semua anggota

tubuh tertentu, menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas manusia normal, seperti : kesulitan bergerak, naik tangga, mandi, aktivitas kerja dan sebagainya. Handicap merupakan hasil dari penurunan yang dialami individu akibat kedisabilitasannya karena mengalami impairment ataupun disability, sehingga dapat membatasi atau mencegah pemenuhan sebuah peran. Selain itu Handicap juga merupakan kondisi dimana seseorang kehilangan atau keterbatasan kesempatan yang dimiliki untuk berpartisipasi dalam masyarkat.

Lebih lanjut Charmaz (dalam Radley, 1994) menyatakan bahwa ada empat kondisi psikologis yang dapat dialami oleh orang yang hidup dengan penyakit kronis seperti kusta. Kehidupan yang terbatas (restricted life). Hal ini terjadi jika seseorang terpaksa “terpuruk” di rumah, baik karena sakit yang dirasakan maupun pengobatan yang sedang dijalani. Keterasingan sosial (social isolation). Adalah akibat dari penyakit seseorang atau pengobatannya sehingga penderita terpaksa tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau dapat juga berasal dari perasaan penderita sendiri bahwa orang lain akan memperlakukan mereka berbeda.

Ada pun hal lain yang dirasakan adalah definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self). Hal ini terjadi jika orang lain menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan, sikap yang tidak bersahabat atau rasa tidak nyaman saat berhubungan dengan penderita. Selain itu dapat terjadi jika penderita tidak dapat lagi melakukan pekerjaan yang

sederhana seperti dulu. Keadaan-keadaan ini dapat menjadi sumber meningkatnya penilaian negatif terhadap diri sendiri. Penderita juga merasa menjadi beban bagi orang lain (becoming a burden on others). Hal ini terjadi bila seseorang menderita sakit yang berat sehingga tidak dapat lagi menjalankan tugasnya seperti dulu. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 4. Dukungan sosial keluarga dan kesehatan.

Rott,1996 (dalam Friedman, 2010) mengatakan bahwa Individu yang berada dalam lingkungan sosial yang suportif umumnya memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan individu tidak berada dalam kondisi lingkungan tersebut. Smet (1994) mengatakan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan. Keberadaan dukungan sosial memberi keuntungan bagi kesehatan seseorang. Dukungan sosial dari keluarga adalah strategi koping penting yang harus ada dalam masa stres bagi keluarga. Bagi seorang yang menderita, dukungan sosial keluarga dianggap mampu menyangga efek stres dan meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga secara langsung.

5. Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta

Keluarga sebagai sistem pendukung bagi penderita kusta diharapkan mampu memberi dukungan penuh dalam upaya perawatan penderita kusta, berkaitan dengan dampak yang akan dimunculkan oleh

penyakit kusta terhadap subjek maupun dampak-dampak psikososial lainnya akibat dari penyakit tersebut. (Zulkifli, 2003).

Bagi seorang yang menderita penyakit kronis, dukungan dari orang-orang dekat sangatlah berarti. Seperti yang dikatakan dalam Departemen Kesehatan RI bahwa dukungan sosial berupa pendampingan psikologis merupakan bagian penting yang harus diberikan kepada