• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Teknik Aplikasi Entomopatogen

3. Faktor Lingkungan

Pengendalian (Butler) Butler dengan Varietas Resisten

116

Penyebaran cendawan P. palmivora dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu patogen, inang dan faktor lingkungan.

1. Faktor Patogen

Hasil identifikasi sampel tanah, PBP dan PGB di laboratorium, ternyata ada tiga spesies penyebab penyakit, yaitu Phytophthora palmivora, Phytophthora arecae,

Phytophthora nicotianae tetapi yang dominan adalah Phytophthora palmivora (Warokka, 1991). Masing-masing spesies ditemukan mating type A1 dan A2 yang beragam sehingga memungkinkan tercipta strain baru yang lebih patogenetik.

2. Faktor Tanaman Inang

Cendawan P. palmivora merupakan salah satu patogen yang mempunyai inang berbagai jenis tanaman dan sudah diketahui pada 29 famili, 51 genus dan 138 jenis tanaman diantaranya, pepaya, kakao, lada (Chee, 1969, Ribeiro, 1978). Pertanaman campuran masih perlu dipertimbangkan karena dapat secara timbal balik berperan sebagai inang alternatif sehingga pada kondisi lingkungan menguntungkan patogen berkembang dan menular pada tanaman inangnya.

3. Faktor Lingkungan

a. Pengaruh iklim. Serangan penyakit gugur buah dan busuk pucuk berhubungan dengan musim penghujan. Curah hujan berinteraksi dengan kelembaban, fluktuasi suhu dan cahaya. Daerah yang sering tergenang air menyebabkan kelembaban tanah cukup tinggi dan merupakan media tumbuh yang baik bagi cendawan P. palmivora. Untuk memperkecil resiko berkembangnya penyakit, maka diperlukan pemetaan daerah rawan yang didasarkan pada curah hujan, yaitu daerah rawan dengan curah hujan di atas 300 mm/tahun dan bulan basah (200 mm/bulan) lebih 6 bulan; daerah agak rawan dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun dan bulan basah 5-6 bulan; dan daerah tidak rawan dengan curah hujan lebih kecil 2000 mm/tahun dan bulan basah lebih kecil 4 bulan (Akuba, 1993).

b. Pengaruh umur tanaman/buah. Tanaman yang terserang PBP terjadi pada tanaman yang mulai berproduksi sampai tanaman dewasa. Sedangkan PGB mulai menyerang buah kelapa berumur lebih dari 2 bulan.

c. Media tumbuh dan pembawa penyakit. Inokulum Phytophthora yang tersedia di lapangan membantu terjadinya infeksi pada tanaman karena Phytophthora dapat hidup dan berkembang biak dalam tanah dengan atau tanpa tanaman inang. Secara umum diketahui bahwa Phytophthora mudah terbawa angin, air, hewan, serangga, dan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pengendalian (Butler) Butler dengan Varietas Resisten

Perakitan kelapa unggul dengan menyilangkan dua jenis kelapa secara genotipe berbeda bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang cepat berbuah dan produksi hasil tinggi. Masalah yang muncul di lapangan ternyata kelapa hibrida yang disebarkan ke petani sangat peka terhadap PBP dan PGB (Warokka dan Mangindaan, 1992). Usaha pengendalian terhadap kedua penyakit ini masih belum tuntas dan terbatas pada tindakan pencegahan seperti dengan menggunakan fungisida sistemik (Motulo et al., 1993; Kharie et al., 1993) ataupun anjuran dengan menebang pohon yang menunjukkan gejala serangan. Cara-cara tersebut oleh petani kelapa sering dianggap mahal dan sulit dilakukan secara berkesinambungan.

Salah satu cara pengendalian yang efektif adalah penggunaan varietas yang tahan penyakit. Keuntungannya antara lain mengurangi penggunaan pestisida sehingga biaya produksi dapat ditekan, tidak mencemari lingkungan, aman dan mudah dilakukan petani. Hasil-hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman sifat ketahanan terhadap serangan Phytophthora dari beberapa varietas kelapa. Brahmana (1991) melakukan penelitian di laboratorium diperoleh bahwa varietas kelapa yang tahan penyakit gugur buah ada hubungannya dengan kandungan senyawa fenol yang tinggi pada buah kelapa. Renard (1992) melaporkan hasil penelitian di Ivory Coast tahun 1979-1980, bahwa varietas-varietas kelapa yang sangat rentan terhadap PBP adalah West African Tall (WAT) dan Genjah Merah Malaya, kemudian agak rentan adalah Genjah Kuning Malaya, dan agak tahan adalah kelapa Dalam Polynesia dan Dalam Rennel. Darwis (1992) menyatakan bahwa varietas Genjah Kuning Nias (GKN) dan West African Tall (WAT) di Indonesia sangat rentan penyakit tersebut. Selanjutnya, Rompas dan Mangindaan (1993) telah mengevaluasi ketahanan beberapa kultivar kelapa di kebun koleksi Balitka dan diperoleh bahwa Genjah Kuning Nias (GKN), hibrida NIWA dan MAWA ternyata rentan sedangkan kelapa Dalam umumnya tahan terhadap penyakit. Pengujian ketahanan kultivar kelapa terhadap patogen utama menjadi penting mengingat pengalaman sebelumnya seperti penanaman kelapa hibrida PB-121 yang tidak memperhitungkan kemungkinan faktor penyakit sehingga terjadi eksplosif di lapangan yang sampai sekarang sulit diatasi. Penelitian yang dilakukan di Balitka pada silangan antara 5 tetua Genjah (Genjah Kuning Nias, Genjah Kuning Bali, Genjah Hijau Jombang, Genjah Raja, Genjah Salak) dan 5 tetua Dalam (WAT, Dalam Tenga, Dalam Sawarna, Dalam Rennel, Dalam Polynesia) diperoleh bahwa pada umur 5 tahun di lapangan semua silangan terdapat PBP dan paling banyak diserang adalah dengan silangan WAT (Mangindaan et al., 1999). Selanjutnya pengamatan selama empat tahun terlihat respon empat kelapa hibrida harapan terhadap kedua penyakit ini diperoleh kelapa hibrida PB-121 paling tinggi serangannya (23.33%), diikuti GKN x DTE (8.33%), Khina-1 (5%), GKB x DMT (3.33%), sedangkan GKB x DTE dan GRA x DMT tidak ada serangan (Lolong et al., 2000).

Hasil-hasil penelitian di atas membuktikan bahwa terdapat keragaman genetik dari varietas kelapa terhadap serangan PBP dan PGB. Perbedaan reaksi berbagai varietas kelapa terhadap penyakit merupakan perlawanan tanaman terhadap penyakit dan dapat terjadi secara fisiologi, fisik atau reaksi metabolisme yang berbeda dan perbedaan ini kemungkinan dikontrol secara genetik oleh banyak gen ataupun gen



Pengendalian (Butler) Butler dengan Varietas Resisten

118

tunggal (Novarianto dan Mahmud, 1991). Keragaman genetik ketahanan tanaman kelapa terhadap PGB dapat diamati berdasarkan penanda morfologi, yaitu luas bercak penyakti pada permukaan kulit buah kelapa setelah buah diinfeksi oleh patogen (Sitepu et al., 1988). Penanda morfologi ini memerlukan waktu lama untuk menyeleksi bibit kelapa sampai tanaman berbuah.

Penggunaan penanda molekuler berpeluang untuk meningkatkan efektivitas program pemuliaan kelapa. Penanda molekuler seperti isozim dan RAPD (Random

Amplified Polymorphic DNA) memberikan peluang alternatif cara menyeleksi secara

tidak langsung ketahanan bibit kelapa terhadap penyakit. Pola pita isozim dapat dimanfaatkan sebagai penanda genetik karena biasanya diatur oleh gen tunggal dan sudah dimanfaatkan untuk menganalisis keragaman genetik tanaman kelapa (Novarianto et al., 1993) dan pola pita isozim dapat juga digunakan sebagai penanda molekuler untuk menganalisis keragaman genetik kelapa (Lengkong et al., 1999) dan dapat juga digunakan sebagai penanda molekuler untuk ketahanan terhadap PBP pada kelapa Genjah Salak (Runtunuwu et al., 2000).

Hasil pelacakan penanda isozim dan RAPD yang sudah dilakukan pada populasi Genjah Salak di Loka Penelitian Pakuwon menunjukkan bahwa pola isozim peroksidase GSK yang rentan terhadap PGB. Tanaman kelapa yang tahan penyakit mempunyai pola pita isozim PER-7, sedangkan tanaman kelapa yang rentan penyakit mempunyai pola pita isozim PER-8. Hasil analisis ini sejalan dengan pelacakan penanda RAPD pada kelapa GSK yang rentan penyakit selain mempunyai penanda isozim PER-8, juga mempunyai sebuah pita DNA spesifik berukuran sekitar 375 pb yang diamplifikasi mengunakan primer Operon kit B nomor 17. Pita ini dinamakan penanda RAPD OB 17 375. Dari hasil penelitian di atas masih diperlukan uji lanjutan pada silangan kelapa untuk mengetahui pohon individu yang membawa sifat ketahanan penyakit.

PGB dan PBP dapat menimbulkan kerugian yang serius pada tanaman kelapa di Indonesia terutama kelapa hibrida (PB-121). Teknik pengendalian yang efektif dari kedua penyakit ini belum ditemukan.

Pemanfaatan varietas resisten mempunyai peluang untuk menekan perkembangan penyakit tersebut di lapangan. Perakitan kelapa yang resisten terhadap PGB dan PBP dengan memanfaatkan kekayaan plasma nutfah di Indonesia dapat membantu program pengendalian penyakit ini.

Pengendalian (Butler) Butler dengan Varietas Resisten

Akuba, R.H. 1993. Pemetaan daerah rawan serangan penyakit busuk pucuk kelapa di Indonesia. Makalah pada KNK III, Jogyakarta 20-22 Juli 1993. 239-254.

Bennett, C.P.A., O. Roboth and Sitepu. 1985. Aspect of control of premature nutfall disease of coconut. Cocos nucifera L. caused by Phytophthora palmivora (Butler) Butler. Prosiding Seminar Proteksi Tanaman Kelapa, Bogor 8-10 Mei 1985. Brahmana, J. 1991. Pengaruh senyawa fenol dalam ketahanan buah kelapa terhadap

jamur Phytophthora palmivora. Prosiding Kongres Nasional XI dan Seminar Ilmiah PFI Ujung Pandang, 2-26 September 1991.

Chee, K.H. 1969. Hosts of Phytophthora palmivora. Rev. Appl. Mycol. Vol. 48(7).

Concibido-Mahohar, E.C. and R.G. Abad. 1992. Notes on the incidence of Phytophthora infection on coconut cultivars in the Philippines. Proc. Workshop Coconut Phytophthora, 26-30 October 1992, 17-20.

Darwis, S.N. 1992. Phytophthora in relations to climate and coconut cultivar. Workshop Coconut Phytophthora, 26-30 October 1992, 17-20.

Dirjenbun. 1992. Survei penyakit busuk pucuk (Phytophthora sp.) pada beberapa varietas kelapa di Indonesia. Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian.

Kharie, S., H.F.J. Motulo dan J.S. Warokka. 1993. Pengaruh Fosetyl-A1 terhadap perkembangan penyakit busuk pucuk dan gugur buah kelapa. Jurnal Penelitian Kelapa 6(2) 2-26.

Lengkong, E.F., A. Hartana dan Suharsono. 1999. Penggunaan penanda molekuler pada analisis keragaman genetik kelapa. Proc. Simposium Hasil Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain Manado, 30 Maret 1999, 1-10.

Lolong, A.A., E.T. Tenda, dan J.C. Alouw. 2000. Respon empat kelapa hibrida harapan terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah. Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol. 6 (1) 25-28.

Mangindaan, H.F., Miftahorrachman dan H. Novarianto. 1999. Ketahanan beberapa jenis kelapa hibrida terhadap penyakit busuk pucuk. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. Vol. 5(2) 46-50.

Motulo, H.F.J., S. Kharie dan J.M. Thevenin. 1993. Pengaruh teknik aplikasi dan dosis Fosetyl- A1 terhadap perkembangan penyakit busuk pucuk. Jurnal Penelitian Kelapa 6(1) 62-66.

Novarianto, H. dan Z. Mahmud. 1991. Aspek pemuliaan dalam resistensi kelapa terhadap penyakit Phytophthora palmivora. Buletin Balitka 5, 78-82.

Novarianto, H., A. Hartana dan A.H. Nasoetion. 1993. Hubungan kekerabatan antar populasi kelapa di Kebun Plasma Nutfah Pakuwon Sukabumi. J. Biologi Indonesia 1, 55-65.

Quillec G., J.L. Renard and H. Ghesquiere. 1984. Phytophthora heveae of coconut (I): Role in bud rot and nutfall. Olegineux, 39, No. 10. p. 483-485.

Renard, J.L. 1992. Introduction to coconut Phytophthora diseases. Proc. Workshop Coconut Phytophthora, 26-30 October 1992, 13-16.



Pengendalian (Butler) Butler dengan Varietas Resisten

120

Rompas, T. dan H.F. Mangindaan. 1993. Respon berbagai jenis kelapa terhadap

Phytophthora. Makalah pada KNK III Jogyakarta, 20-22 Juli 1993, 227-230.

Runtunuwu, S.D., A. Hartana, Suharsono dan M. Sinaga. 2000. Penanda molekuler sifat ketahanan kelapa terhadap Phytophthora penyebab gugur buah. Hayati 7(4) 101-105.

Sitepu, D., C.P.A. Bennett, M.D. Coffey, J.S. Warokka, H.F.J. Motulo, H. Mangindaan, . Kharie and P. Herling. 1988. Isolation and artificial inocultion eith Phytophthora for epidemiological and resistance studies. Annual Report Integrated Coconut Pest Control Project. 1988; 38-44.

Warokka, J.S. 1991. Report of training in identification techniques for species of

Phytophthora at the Internatioal Mycological Institute England. Half year report 1991. EEC Coconut Phytophthora Project, 32-53.

Warokka, J.S. dan H.F. Mangindaan. 1992. Penyakit busuk pucuk dan kerugian yang diakibatkannya. Buletin Balitka N. 16:48-52.

Yoseph, T. and K. Radda. 1975. Role of Phytophthora pamivora in but rot of coconut. Plant. dis. Reptr. 5(12)1014-1017.

BALAI PENELITIAN TANAMAN KELAPA DAN PALMA LAIN, MANADO

Penyakit busuk pucuk (PBP) dapat menimbulkan kerusakan yang sangat berat pada tanaman kelapa, terutama pada kultivar kelapa yang rentan terhadap penyakit tersebut seperti kelapa hibrida PB-121, West African Tall (WAT), Nias Yellowing Drarf (NYD) dan Malayan Yellowing Draf (MYD). Sekarang ini penyakit tersebut telah merisaukan masyarakat perkelapaan karena sudah menyerang tanaman kelapa Dalam yang sebelumnya dikenal lebih resisten terhadap penyakit tersebut. Hal ini dapat saja terjadi apabila tanaman kelapa Dalam ditanam berdekatan dengan kultivar kelapa yang rentan.

Berdasarkan laporan masyarakat dan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara bahwa di Kabupaten Minahasa Selatan terjadi serangan PBP yang dapat mematikan tanaman kelapa di perkebunan rakyat. Untuk menindak lanjuti laporan tersebut, Tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain melakukan kunjungan lapangan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi serangan penyakit di lapang. Dari hasil pengamatan ternyata penyakit tersebut adalah PBP yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora (Butler) Butler. Di Indonesia dan Filipina, P. palmivora merupakan patogen penyebab utama PBP dan PGB (Blaha et al., 1994).

Cendawan Phytophthora pertama kali dideskripsi oleh Butler pada tahun 1906 sebagai penyebab PBP pada tanaman kelapa, palmyra palm dan areca palm di Madras. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada pertanaman kelapa yang ditanam pada tanah berat (heavier soils), sebaliknya hampir tidak ditemukan pada tanaman kelapa yang ditanam pada tanah berpasir (Butler 1910 dalam Coffey 1989). Cendawan Phytophthora juga sebagai penyebab penyakit gugur Buah (PGB). PGB pertama kali dideskripsi oleh Gadd di Sri Lanka tahun 1921dan pada tahun 1925 dideskripsi secara detail oleh Teodora di Filipina. Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman kelapa Genjah Kuning Nias di Kebun Percobaan Paniki, Sulawesi Utara pada tahun 1984 (Bennett et al., 1986). PGB menyerang kelapa yang berumur antara 3-7 bulan (Lolong, et al., 1998) dan mengakibatkan kehilangan hasil berkisar antara 50-75% (Brahmana et al., 1992).

Lokasi-lokasi yang terserang PBP dan PGB memiliki kadar pasir kurang atau sama dengan 12%, sedangkan lokasi-lokasi yang tidak terserang memiliki kadar pasir lebih besar dari 12% (Akuba, 1993). Butler juga mengemukakan bahwa cendawan ini bersifat soil-born, tetapi penyakit ini dapat disebarkan oleh manusia pada waktu melaksanakan penyadapan nira pada tanaman palma. Selain itu juga dikemukakan bahwa penyakit ini dapat di tularkan melalui serangga seperti Kumbang Oryctes dan



Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk pada Tanaman Kelapa

122

Rhynchoporus. Penyakit ini sudah lama dilaporkan menyerang tanaman kelapa di

Malabar (1914), Jamaika (1920), India Selatan (1923), Filipina (1919), Puerto Rico (1926), Sri Lanka (1927), Florida (1928) (Coffey 1989). Duniway (1983) mengemukakan bahwa iklim adalah faktor utama yang mempengaruhi perkembangan seluruh penyakit yang disebabkan oleh Phytophthora.

Pada umumnya PBP lebih berbahaya pada daerah yang curah hujannya tinggi (> 200 cm per tahun) atau pada tanah-tanah yang drainasenya jelek. Gejala penyakit dapat dilihat 1-3 bulan pada lokasi dengan curah hujan tinggi dan perkembangan penyakit meningkat sekitar 2.5% tanaman per bulan (Nowell 1923 dalam Coffey 1989). Selanjutnya Lolong dan Mawikere (1995) menyatakan bahwa laju perkembangan penyakit ini pada pertanaman kelapa PB-121 adalah 1.85% per tiga bulan atau dalam 1 ha sekitar 3 tanaman per tiga bulan.

Di Sulawesi Utara, PBP menyerang tanaman kelapa hibrida PB-121, West African

Tall (WAT), dan tanaman kelapa Dalam lokal yang ditanam disekitar lokasi serangan penyakit tersebut (Gambar 1 dan 2). Disini terlihat bahwa sebagian besar tanaman yang terserang sudah mati dan dapat menjadi sumber infeksi. Beberapa teknologi pengendalian sudah tersedia dan dapat dimanfaatkan sehingga perkembangan penyakit tersebut di lapangan dapat ditekan. Saran dan pertimbangan untuk pengendalian PBP adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Serangan PBP pada tanaman kelapa hibrida PB-121 di Desa Boyong Atas, Kecamatan Tenga, Provinsi Sulawesi Utara tahun 2006.

Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk pada Tanaman Kelapa

Gambar 2. Serangan PBP pada tanaman kelapa Dalam yang berada disekitar lokasi Kelapa Hibrida PB-121 di Desa Boyong Atas, Kecamatan Tenga, Provinsi Sulawesi Utara tahun 2006.

Dokumen terkait