• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pemerintah

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pemerintah

Batu, Kabupaten Enrekang

Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis implementasi dapat dimulai dari kondisi abstrak dan sebuah pertanyaan tentang apakah syarat agar

45

implementasi kebijakan dapat berhasil sesuai dengan yang dikehendaki. Menurut George C. Edwards III ada empat indikator dalam kebijakan publik yaitu Komunikasi (Communications), Sumber Daya (resources), sikap (dispositions atau attitudes) dan struktur birokrasi (bureucratic structure). Keempat faktor di atas harus dilaksanakan secara simultan karena antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang erat. Tujuan kita adalah meningkatkan pemahaman tentang implementasi kebijakan. Penyederhanaan pengertian dengan cara diturunkan melalui eksplanasi implementasi kedalam komponen prinsip.

Implementasi kebijakan adalah suatu proses dinamik yang mana meliputi interaksi banyak faktor. Sub kategori dari faktor-faktor mendasar ditampilkan sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap implementasi.

Faktor-faktor yang dimaksud dari rumusan masalah diatas adalah model implementasi yang di kemukakan oleh Edward apakah bisa mempengaruhi berhasil tidaknya suatu kebijakan, antara lain:

1. Komunikasi (Communication)

Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan. Sementara itu, komunikasi kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan (policy makers) kepada pelaksana kebijakan (policy implementors) (Widodo, 2011). Keberhasilan kebijakan dapat dilihat dari adanya penyampaian informasi yang tepat dan jelas sesuai dengan sasaran, dengan begitu informasi akan sampai dengan baik kepada seluruh masyarakat Desa Potokullin. Proses penyamapaian informasi mengenai kebijakan anggaran yang dilakukan oleh pemerintag daerah harus jelas dan tidak

46

ada yang disembunyikan, apa yang menjadi hasil rapat pemutusan jumlah anggaran dan mekanisme pembagian anggaran itu harus jelas di masyarakat.

Agar kebijakan publik bisa dilaksanakan dengan efektif, yang menjadi standar tujuan harus dipahami oleh para individu (implementator), yang bertanggung jawab atas pencapaian standar dan tujuan kebijakan, karena itu standar dan tujuan harus dikomunikasikan kepada para pelaksana.

“Komunikasi dalam kerangka penyampaian informasi kepada para pelaksana kebijakan tentang apa menjadi standar dan tujuan harus konsisten dan seragam dari berbagai sumber informasi. Jika tidak ada kejelasan dan konsistensi serta keseragaman terhadap suatu standar dan tujuan kebijakan, maka yang menjadi standar dan tujuan kebijakan sulit untuk bisa dicapai” (Hasil Wawancara IA 3 Oktober 2014).

Dengan pejelasan itu, para pelaksana kebijakan dapat mengetahui apa yang diharapkan darinya dan tahu apa yang harus dilakukan. Dalam suatu organisasi publik, pemerintah daerah misalnya, komunikasi sering merupakan proses yang sulit dan komplek. Proses pentransferan berita kebawah di dalam organisasi atau dari suatu organisasi ke organisasi lain, dan ke komunikator lain, sering mengalami ganguan baik yang disengaja maupun tidak. Jika sumber komunikasi berbeda memberikan interprestasi yang tidak sama terhadap suatu standar dan tujuan, atau sumber informasi sama memberikan interprestasi yang penuh dengan pertentangan, maka pada suatu saat pelaksana kebijakan akan menemukan suatu kejadian yang lebih sulit untuk melaksanakan suatu kebijakan secara intensif. Widodo kemudian menambahkan bahwa informasi perlu disampaikan kepada pelaku kebijakan agar pelaku kebijakan dapat memahami apa yang menjadi isi, tujuan, arah, kelompok sasaran (target group) kebijakan, sehingga pelaku kebijakan dapat mempersiapkan hal-hal apa saja yang

47

berhubungan dengan pelaksanaan kebijakan, agar proses implementasi kebijakan bisa berjalan dengan efektif serta sesuai dengan tujuan kebijakan itu sendiri.

Komunikasi dalam implementasi kebijakan mencakup beberapa dimensi penting yaitu tranformasi informasi, kejelasan informasi dan konsistensi informasi. Dimensi tranformasi menghendaki agar informasi tidak hanya disampaikan kepada pelaksana kebijakan tetapi juga kepada kelompok sasaran dan pihak yang terkait. Dimensi kejelasan menghendaki agar informasi yang jelas dan mudah dipahami, selain itu untuk menghindari kesalahan interpretasi dari pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun pihak yang terkait dalam implementasi kebijakan. Sedangkan dimensi konsistensi menghendaki agar informasi yang disampaikan harus konsisten sehingga tidak menimbulkan kebingungan pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun pihak terkait.

Komunikasi adalah suatu kegiatan manusia untuk menyampaikan apa yang menjadi pemikiran dan perasaannya, harapan atau pengalamannya kepada orang lain. Faktor komunikasi dianggap sebagai faktor yang amat penting, karena dalam setiap proses kegiatan yang melibatkan unsur manusia dan sumber daya akan selalu berurusan dengan permasalahan “Bagaimana hubungan yang dilakukan”.

Hal ini, seperti yang diungkapkan oleh salah satu staf BAPPEDA Kabupaten Enrekang mengatakan:

“Semua yang mengenai kebijakan dengan pelaksanaanya pasti ada komunikasih didalamnya. Seperti Desa Potokullin itu pasti sebelumnya sudah ada konfirmasi, mulai dari kepala desa berhubungan dengan dinas terkait sampai pada para pekerjanya nanti pasti ada itu” (Hasil Wawancara MS 3 Oktober 2014).

48

Komunikasi yang dimaksud adalah semua yang terlibat dalam pengimplemetasian dan kebijakan ataukah suatu permasalahan yang harus diselesaikan didalamnya harus ada yang bertanggung jawab mulai dari tatanan pemerintahan kabupaten yang terkait sampai dengan pengerjanya atau kontraktor.

Pada pembangunan jalan tahun 2013 di Desa Potokullin menjadikan masyarakat untuk atusias dalam pelaksanaanya, seperti yang di katakan salah seorang Kepala Dusun sekaligus sebagai buru kerja, menyatakan:

“Saya sebagai pekerja sangat terbantu dengan bantuan penduduk disinih,mulai dari kepala dusun, tokoh masyarakatnya sampai masyarakatnya juga ikut semua, cuma itu kalau mereka sudah pulang dari kebun, dan hari minggu juga” (Hasil Wawancara NR 10 Oktober 2014).

Artinya, bahwa antusias masyarakat Desa Potokullin dengan berkerja sama maka komunikasi yang ada didalam pasti sangat mendukung terselesaikannya suatu pekerjaan walau sebagai manapun susahnya. Hal ini dijadikan panutan atau contoh untuk perbaikan jalan yang akan dijalankan kembali.

2. Sumber Daya (Resources)

Sumber daya memiliki peranan penting dalam implementasi kebijakan.

Edward III dalam Widodo (2011:98) mengemukakan bahwa, bagaimanapun jelas dan konsistensinya ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan serta bagaimanapun akuratnya penyampaian ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan tersebut, jika para pelaksana kebijakan yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber daya untuk melaksanakan kebijakan secara efektif maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan efektif.

Faktor sumber daya mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan, karena bagaimanapun jelas dan konsistennya ketentuan-ketentuan atau

49

aturan-aturan suatu kebijakan, jika para personil yang bertanggung jawab mengimplementasikan kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber untuk melakukan pekerjaan secara efektif, maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan bisa efektif. Sumber-sumber penting dalam implementasi kebijakan yang dimaksud antara lain mencakup :

1. Staf yang harus mempunyai keahlian dan kemampuan untuk bisa melaksanakan tugas.

2. Perintah, baik itu dari atasan maupun kepala pemerintah.

3. Anjuran atasan/pimpinan.

Disamping itu, harus ada ketepatan atau kelayakan antara jumlah staf yang dibutuhkan dan keahlian yang harus dimiliki dengan tugas yang akan dikerjakan.

Dana untuk membiayai operasionalisais implementasi kebijakan tersebut, informasi yang relefan dan yang mencukupi tentang bagaimana cara mengimplementasikan suatu kebijakan, dan kerelaan atau kesanggupan dari berbagai pihak yang terlibat dalam implementasi kebijakan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar para implementor tidak akan melakukan suatu kesalahan dalam bagaimana caranya mengimplementasikan kebijakan tersebut. Informasi yang demikian ini juga penting untuk menyadarkan orang-orang yang terlibat dalam implementasi, agar diantara mereka mau melaksanakan dan mematuhi apa yang menjadi tugas dan kewajibannya. Kewenangan untuk menjamin atau meyakinkan bahwa kebijakan yang diimplementasikan adalah sesuai dengan yang mereka kehendaki, dan fasilitas/sarana yang digunakan untuk mengoperasionalisasikan implementasi suatu kebijakan yang meliputi: Gedung, tanah, sarana dan prasarana

50

yang kesemuanya akan memberikan pelayanan dalam implementasi kebijakan.

Kurang cukupnya sumber-sumber ini berarti ketentuanketentuan atau aturan-aturan tidak akan menjadi kuat, pelayanan tidak akan diberikan dan pengaturan-aturan yang rasional tidak dapat dikembangkan.

Sumber daya di sini berkaitan dengan segala sumber yang dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. Sumber daya ini mencakup sumber daya manusia, anggaran, fasilitas, informasi dan kewenangan yang dijelaskan sebagai berikut :

1. Sumber Daya Manusia (Staff)

Implementasi kebijakan tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari sumber daya manusia yang cukup kualitas dan kuantitasnya. Kualitas sumber daya manusia berkaitan dengan keterampilan, dedikas, profesionalitas, dan kompetensi di bidangnya, sedangkan kuatitas berkaitan dengan jumlah sumber daya manusia apakah sudah cukup untuk melingkupi seluruh kelompok sasaran. Sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi, sebab tanpa sumber daya manusia yang kehandalan sumber daya manusia, implementasi kebijakan akan berjalan lambat. Pada sumber daya manusia disini yang dimaksud adalah para pegawai Dinas PU karna yang menjalankan implementasi kebijakan anggaran ini di lapangan.

Peraturan Bupati Enrekang tentang tugas pokok, fungsi, uraian tugas dan tata kerja dinas pekerjaan umum kabupaten enrekang terkhusus pada bidang Sekretariat pasal 5 ayat 1 dan 2 No.14 tahun 2009 menyatakan:

51

(1) Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris, mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam pengaturan,pembinaan,pemberdayaan, dan pengawasan tugas-tugas pada semua Bidang yang ada dalam lingkup Dinas Pekerjaan Umum, termasuk urusan umum dan ketatlaksanaan perencanaan, keuangan, umum dan kepegawaian lingkup Sekretariat Dinas.

(2) lam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretaris mempunyai fungsi :

a) Menyusun kebijakan teknis administrasi kepegawaian ,keuangan, perencanaan,pelaporan dan urusan rumah tangga Dinas,serta menyelenggarakan kebijakan administrasi umum.

b) Melakukan pembinaa, pengkoordinasian, pengendalian ,pengawasan dan pemberdayaan serta evaluasi program dan kegiatan pada semua bidang dan lingkup sekretariat dinas.

Peraturan Bupati Enrekang tentang tugas pokok, fungsi, uraian tugas dan tata kerja dinas pekerjaan umum kabupaten enrekang terkhusus pada bidang Bina Teknik dan Bina Program pasal 57 ayat 1 dan 2 No.14 tahun 2009 menyatakan:

(1) Bidang Bina teknik/Bina Program dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas membina dan mengkoordinir Kepala Kepala Seksi dilingkup Bidang Bina Teknik/Bina Program, serta Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan teknik, konservasi dan usaha Bina Program.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Bina Teknik/Bina Program, mempunyai fungsi :

52

a) Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengawasan Program.

b) Penyelenggaraan dan Pelaksanaan Pengendalian Mutu Program.

Peraturan Bupati Enrekang tentang tugas pokok, fungsi, uraian tugas dan tata kerja dinas pekerjaan umum kabupaten enrekang terkhusus pada bidang Bina Marga pasal 13 ayat 1 dan 2 No.14 tahun 2009 menyatakan:

(1) Bidang Bina Marga dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas pembinaan pengendalian,pengembangan serta menyusun program kerja dan pelaksanaan tugas pembnagunan,peningkatan serta pemeliharaan prasarana dan sarana Jalan dan Jembatan daerah guna meningkatkan dan mepertahankan layanan jaringan jalan dalam mendukung kelancaran arus transportasi barang/jasa,membuka sentra-sentra produksi dan kawasan potensial yang masih terisolasi serta meningkatkan aksesibilitas wilayah kabupaten Enrekang.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Bina Marga, mempunyai fungsi :

a) Menyelenggarakan dan melaksanakan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan.

b) Melaksanakan rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan.

c) Melakukan kajian pengembangan sistem jaringan jalan dan jembatan dalam mendukung arus pergerakan barang dan jasa antar wilayah.

Peraturan Bupati Enrekang tentang tugas pokok, fungsi, uraian tugas dan tata kerja dinas pekerjaan umum kabupaten enrekang terkhusus pada bidang Tata Ruang pasal 37 ayat 1 dan 2 No.14 tahun 2009 menyatakan:

53

(1) Bidang Tata Ruang dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas membina dan mengkoordinir Kepala Kepala Seksi dilingkup Bidang Tata Ruang, serta Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan teknik, konservasi dan usaha Tata Ruang.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Tata Ruang, mempunyai fungsi :

a) Penyelenggaraan dan Pelaksanaan Penyusunan Tata Ruang Kota dan Pedesaan.

b) Penyelenggaraan dan Pelaksanaan Pengendalian Tata Ruang Kota dan Pedesaan.

c) Penyelenggaraan dan Pengembangan Kawasan Ekonomi Terpadu Kota dan Pedesaan.

Tabel 7 Keadaan Pegawai Dinas PU Menurut Jabatan Dan Golongan, Tahun 2014.

No. Golongan Jumlah Jabatan Keterangan

1 III D 2 Sekretaris dan Kabid Tata Ruang -

Sumber: Dinas PU Kabupaten Enrekang, Tahun 2014.

Pada tabel diatas adalah hasil pengelolaan kembali oleh peneliti dan kemudian hal ini menjelaskan tentang keadaan SDM (Sumber Data Manusia) dikantor Dinas PU Kab.Enrekang, hal ini merupakan sesuatu hal yang

54

membuktikan bahwa tingkat pendidikan memenuhi target dalam pelayanan publik terkusus dalam pelaksanaan suatu kebijakan di bidang infrastruktur

2. Anggaran (Budgetary)

Dalam implementasi kebijakan, anggaran berkaitan dengan kecukupan modal atau investasi atas suatu program atau kebijakan untuk menjamin terlaksananya kebijakan, sebab tanpa dukungan anggaran yang memadahi, kebijakan tidak akan berjalan dengan efektif dalam mencapai tujuan dan sasaran.

Pada anggaran tahunan untuk Desa Potokullin 2013 dalam perbaikan infrastruktur jalan sebanyak 300 juta, dimana dana ini dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur jalan sepanjang 3 km, untuk tahun 2014 anggaran untuk perbaikan infrastruktur jalan Desa Potokullin sebanyak 500 juta. Perencanaan pembangunan ini akan dilaksanakan untuk bulan Oktober 2014. Hal ini, sebagaimana yang disampaikan oleh bapak selaku KASUBAG Keuangan Dinas Pekerja Umum Kabupaten Enrekang:

“Pada tahun lalu 2011, memang ada anggaran untuk Desa Potokullin sebanyak 300 juta itu untuk perbaikan jalan desa tapi untuk perluasan jalan yang kemudia tahun 2013 lalu desa ini dapat anggaran pembangunan kembali 500 juta, jadi anggaran tahunan itu naik 200 juta. Jadi yaa,.. untuk tahun kedepanya mungkin masih naik lagi, itu tiap desa, soalnya yang diprioritaskan Bapak Bupati sekarang itu pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan” (Hasil Wawancara MS 5 Oktober 2014).

Maksud dari hasil wawancara diatas adalah adanya kenaikan anggaran tahunan yang merupakan kebijakan dari mantan Bupati Enrekang priode 2008-2013 yang sekarang dilanjutkan oleh Bapak Bupati Enrekang Muslimin Bando, inilah merupakan langkah kebijakan yang diambil kepala pemerintah Kabupaten

55

Enrekang untuk menambah anggaran terkhusus pada perbaikan infrastruktur jalan di Desa Potokullin.

3. Fasilitas (facility)

Fasilitas atau sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam implementasi kebijakan. Pengadaan fasilitas yang layak, seperti gedung, tanah dan peralatan perkantoran akan menunjang dalam keberhasilan implementasi suatu program atau kebijakan.

Dinas Pekerja Umum kabupaten Enrekang, selalu menyiapkan peralatan dalam menjalankan kewajibanya di bagian lapangan terkhusus pada pekerjaan proyek yang dilakukanya di Desa Potokullin tahun 2013. Untuk lebih jelasnya tentang alat apa saja yang penting digunakan dan mendukung terlaksanakannya suatu proyek jalan baik yang tingat kerusakanya parah maupun yang sedang dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 8 Keadaan Peralatan Pendukung Pemeliharaan Infrastruktur Jalan di Desa Potokullin Kec.Buntu Batu Kab.Enrekang.

No. Spesivikasi Barang Asal/Cara

Memperoleh

Sumber: Dinas PU Kabupaten Enrekang, Tahun 2014.

56

Dari tabel diatas adalah hasil olahan peneliti berdasarkan arsip asli dari Dinas Pekerja Umum. Hal ini merupakan sebagian peralatan/fasilitas dari Dinas Pekerja Umum Kabupaten Enrekang yang telah digunakan dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur jalan di Desa Potokullin tahun 2013. Mulai dari merek barang, sumber dana sampai pada harga dan jumlah barang.

4. Informasi dan Kewenangan (Information and Authority)

Informasi juga menjadi faktor penting dalam implementasi kebijakan, terutama informasi yang relevan dan cukup terkait bagaimana mengimplementasikan suatu kebijakan. Sementara wewenang berperan penting terutama untuk meyakinkan dan menjamin bahwa kebijakan yang dilaksanakan sesuai dengan yang dikehendaki.

Adanya suatu informasi itu sudah jelas peran yang dimiliki karena untuk sasaran suatu kebijakan yang didahulukan adalah informasi dan kemudian kewenangan juga merupakan hal yang diharuskan dalam pengimplementasian suatu kebijakan karna letak keberhasilan suatu kegiatan itu ada pada pihak yang bertanggung jawab, itulah yang sudah terjadi pada pengimplementasian perbaikan infrastruktur jalan di Desa Potokullin tahun 2013 lalu.

Sumber daya manusia, anggaran, fasilitas, dan informasi sepat disinggung oleh salah seorang sekretaris BAPPEDA, dimana beliau mengatakan:

“Dari ketiga unsur tadi yang ade pertanyakan itu merupakan hal pokok yang perlu diadakan karena tampa itu maka pelaksanaan kebijakan anggaran ini tidak akan terlaksanakan apa lagi selesai. Jadi, sebagai pemerintah ketikan merencanakan suatu program khususnya dalam pembangunan, yang pertama dibahas itu adalah masalah sasaran kebijakan anggaran, kemudian jumlah anggaran itu sendiri dan fasilitas yang akan digunakan, kemudian untuk masalah komunikasinya dengan siapa yang

57

berwenang, saya rasa yang berhak itu adalah Dinas Pekerja Umum” (Hasil Wawancara IA 3 Oktober 2014).

Artinya bahwa, mulai dari perencanaan suatu kebijakan anggaran sampai pada perincian anggaran yang berwenang itu adalah pemerintah Kabupaten Enrekang bersama DPRD, sedangkan yang menjalankan komunikasi dengan sasaran kebijakan itu sendiri adalah Dinas Pekerja Umum karena yang mengimplementasikan kebijakan itu di lapangan.

3. Disposisi (Disposition)

Disposisi ini diartikan sebagai sikap para pelaksana untuk mengimplementasikan kebijakan.Dalam implementasi kebijakan, jika ingin berhasil secara efektif dan efisien, para implementor tidak hanya harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan mempunyai kemampuan untuk implementasi kebijakan tersebut, tetapi mereka juga harus mempunyai kemauan untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut. Kecenderungan perilaku atau karakteristik dari pelaksana kebijakan berperan penting untuk mewujudkan implementasi kebijakan yang sesuai dengan tujuan atau sasaran. Karakter penting yang harus dimiliki oleh pelaksana kebijakan misalnya kejujuran dan komitmen yang tinggi. Kejujuran mengarahkan implementor untuk tetap berada dalam asa program yang telah digariskan, sedangkan komitmen yang tinggi dari pelaksana kebijakn akan membuat mereka selalu antusias dalam melaksanakan tugas, wewenang, fungsi, dan tanggung jawab sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Hal ini, sebagaimana yang disampaikan oleh bapak selaku KASUBAG Keuangan Dinas Pekerja Umum Kabupaten Enrekang:

58

“Sikap dari pelaksana kebijakan akan sangat berpengaruh dalam implementasi kebijakan. Apabila implementator memiliki sikap yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan, sebaliknya apabila sikapnya tidak mendukung maka implementasi tidak akan terlaksana dengan baik” (Hasil Wawancara MS 3 Oktober 2014).

Dalam hal mengenai sikap implementator, persoalan transparansi khususnya pada anggaran pendanaan, itu cenderung untuk dipublikasikan kepada masyarakat setempat, seperti yang dikatakan oleh salah satu tokoh masyarakat, mengatakan :

“Kalau bicara masalah anggaran masuk desa dek,tidak pernah itu disampaikan secara detail oleh pemerintah desa, tapi kalau cuma jumlahnya biasa jie, kaya tahun lalu itu disampaikan jumlah anggaran perbaikan jalan yang masuk didesa, untuk lebih terperinci itu tidak” (Hasil Wawancara KN 19 Oktober 2014).

Pernyataan sikap seperti ini, bisa saja menimbulkan pertanyaan besar untuk masyarakat yang ada didalamnya, jadi hubungan pemerintah Kabupaten Enrekang khususnya dinas yang terkait dengan pengeluaran kebijakan, kurang sosialisasi dan kurang efektif dalam membahas anggaran pada sasaran kebijakan.

Persoalan ketidak transparansian anggaran dilakukan pemerintah, baik tingkat dearah maupun tingkat pusat, terkadang menjadi hal yang sudah lumrah bagi bagi masyarakat, jadi warga Desa Potokullin melihat selintas kerja nyata dari Pemerintah Kabupaten Enrekang.

4. Struktur Birokrasi (Bureucratic Structure)

Struktur organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Aspek struktur organisasi ini melingkupi dua hal yaitu mekanisme dan struktur birokrasi itu sendiri. Aspek pertama adalah mekanisme, dalam implementasi kebijakan biasanya sudah dibuat Standart Operation Procedur

59

(SOP). SOP menjadi pedoman bagi setiap implementator dalam bertindak agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak melenceng dari tujuan dan sasaran kebijakan.

Aspek kedua adalah struktur birokrasi, struktur birokrasi yang terlalu panjang dan terfragmentasi akan cenderung melemahkan pengawasan dan menyebabkan prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks yang selanjutnya akan menyebabkan aktivitas organisasi menjadi tidak fleksibel.

Kebijakan lembaga pemerintah daerah yang terkait dengan pemeliharaan jalan secara harfiah bersumber pada manajerial kebijakan desentralisasi kewenangan daerah seperti yang tertuang dalam UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta UU Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan. Disamping itu mendasari apa yang tertuang pada amanat nasional yaitu seperti yang tertera dalam beberapa Ketetapan MPR Tahun 1999 secara jelas menggambarkan bidang-bidang kunci bagi pengembangan kapasitas oleh Pemerintah. Kebijakan peningkatan kapasitas sebenarnya muncul lebih kepada kesadaran dalam menghadapi keraguan-keraguan menghadapi desentralisasi yang begitu cepat dan yang berarti pelimpahan kewenangan yang penuh dari pusat ke daerah termasuk pelayanan publik (public service) berupa pemeliharaan jalan kabupaten.

Pada dasarnya kewewenangan penyelenggaraan umum ada pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sedangkan penguasaan atas jalan ada pada Negara, dengan tujuan agar peran jalan dalam melayani kegiatan masyarakat dapat tetap terpelihara dan keseimbangan pembangunan antar wilayah dapat

60

terjaga. Untuk itu negara mengadakan pengaturan tentang pemberian kewenangan penyelenggaraan jalan. Negara memberi wewenang kepada pemerintah Provinsi dan pemerintah kabupaten/kota untuk melaksanakan penyelenggaraan jalan. Pada UU No. 38 tahun 2004 tentang jalan juga menyebutkan bahwa masyarakat berperan serta dalam penyelenggaraan jalan. Khusus untuk pemerintah kabupaten, negara memberikan wewenang penyelenggaraan jalan meliputi penyelengggaraan jalan kabupaten dan jalan desa. Selanjutnya sesuai dengan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia wewenang tersebut dilimpahkan kepada instansi yang ditunjuk di daerah.

Wewenang penyelenggaraan jalan tersebut meliputi kegiatan kegiatan yang meliputi seluruh siklus kegiatan dan perwujudan jalan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan dan pelimpahan kewenangan ini diberikan tanggung jawab kepada Dinas Pekerja Umum Kabupaten Enrekang. Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris BAPPEDA Kabupaten Enrekang persoalan wewenang tentang struktur birograsi dalam mengimplementasikan kebijakan perbaikan jalan di Desa Potokullin Kecamatan Buntu Batu.

“Dalam pelelangan sebuah proyek program, terdapat indikasikan jika proses pelaksanaan program dilakukan oleh Pihak Ketiga (PU), dalam hal ini adalah konsultan maupun kontraktor. Konsultan lebih berperan pada

“Dalam pelelangan sebuah proyek program, terdapat indikasikan jika proses pelaksanaan program dilakukan oleh Pihak Ketiga (PU), dalam hal ini adalah konsultan maupun kontraktor. Konsultan lebih berperan pada

Dokumen terkait