• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Negatif

Dalam dokumen MENYIMAK : Suatu Esensialitas Berbahasa (Halaman 75-85)

Proses Pelaksanaan Menyimak

B. Faktor Negatif

74

75

menyimak dengan baik. Akibatnya, penerimaan pesan saat menyimak tidak berhasil maksimal.

Dalam konteks kognitif, hal-hal yang dapat mengganggu proses menyimak adalah: (1) kecilnya daya tampung ingatan jangka pendek (IJD), (2) IJD sulit memproses lambang bunyi yang terserap, (3) ingatan jangka panjang (IJJ) menolak konsep baru yang masuk, (4) beberapa lambang lain masuk lewat indera lain dan bertentangan dengan lambang yang masuk lewat indera pendengar, (5) konsep atau pengertian yang ada pada IJJ menjadi tergoncang oleh konsep baru, (6) menggunakan skemata yang tidak cocok.

Daya tampung IJD kecil. Kecilnya daya tampung ingatan jangka pendek (IJD) akan menghambat setiap proses pemahaman pesan, karena memori tidak bisa memproses pesan yang masuk. Kasus ini terjadi karena penyimak melakukan hal-hal: (a) pikirannya penuh masalah, (b) sedang memikirkan masalah lain saat menyimak, dan (c) daya ingat lemah, misalnya karena lelah rohani.

IJD sulit memproses lambang bunyi yang terserap.

Kesulitan IJD dalam memproses lambang bunyi yang terserap saat menyimak, kemungkinan di sebabkan oleh (a) penyimak tidak menguasai bahasannya, (b) struktur penyampaian pesan tidak teratur atau logikanya kacau, (c) bagian-bagian informasi ada yang tidak terserap atau terdengar, dan (d) ada istilah khusus yang tidak dimengerti penyimak.

76

Ingatan Jangka Panjang (IJJ) menolak konsep baru yang masuk. Penolakan konsep baru terjadi karena IJJ menolak konsep yang datang dari IJD, dengan cara mengirim konsep atau pengertian yang telah ada pada IJJ, sehingga terjadi ―perang konsep‖ di dala pikiran. Peristiwa ini terjadi jika penyimak (a) tertutup terhadap pandangan baru, (b) sikap egois, (c) konsep baru bertentangan dengan kepercayaan atau pandangan hidup penyimak, dan (d) trauma terhadap konsep yang baru ada.

Terdapat lambang lain masuk melalui indra selain pendengaran bertentangan. Beberapa lambang lisan lain yang masuk melalui indra lain, kerapkali bertentangan dengan lambang yang masuk melalui indra pendengar, sehingga mengganggu kosentrasi atau perhatian. Kejadian itu misalnya saat menyimak, si penyimak (a) melihat gambar atau kejadian yang isinya tidak berhubungan dengan isi simakan, (b) terganggu kegundahan atau pertengkaran, dan (c) menyimak sambil bermain-main dengan benda yang mengasyikkan.

Konsep yang ada pada IJJ tergoncang oleh konsep baru. Kerapkali konsep atau pengertian yang ada pada IJJ tergoncang pengertian yang baru diterima oleh seseorang sehingga IJJ menjadi labil. Hal ini terjadi karena penyimak melakukan: (a) bingung menyikapi konsep baru, (b) tidak mampu menata informasi baru dengan pengetahuan yang di

77

senangi, (c) fanatik dengan suatu konsep saja, tidak mau mengakui keberadaan pengetahuan lain, (d) malas belajar.

Skema tidak cocok. Menyimak akan terhambat jika didalam otak tidak terdapat sejumlah pengetahuan (skemata) tentang materi yang sedang disimak. Kondisi ini terjadi pada saat penyimak mengalami hal-hal seperti: (a) kecerdasannya terbatas, (b) tidak menguasai materi sama sekali, (c) datang terlambat dan terlalu lama, sehingga informasi terpenggal-penggal, dan (d) tidak mengetahui tema, topik, tujuan, dan perlunya kegiatan menyimak yang sedang di lakukan.

(2) Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor kesulitan yang datangnya dari dalam diri individu itu sendiri. Secara secara umum, ada tiga faktor utama yang dapat menimbulkan kesulitan dalam menyimak, yaitu: sikap, perhatian dan emosi penyimak.

Sikap penyimak. Beberapa sikap yang mengganggu kegiatan menyimak ialah: 1) Menyimak tetapi sambil membuat catatan; 2) Menyimak dengan cara mencoba mengingat-ingat sederetan fakta-fakta yang membuat konsentrasi terganggu;

3) Menyimak dengan bersikap meremehkan permasalahan.

Perhatian Menyimak. Perhatian penyimak sering sekali tidak muncul karena faktor-faktor seperti: 1) Penyimak tidak mau memperhatikan informasi yang sulit; 2) Menyimak dengan perhatian yang mudah tergoda; 3) Menyimak dengan motivasi berpura-pura.

78

Emosi Menyimak. Dalam hal ini, emosi penyimak jika tidak dikendalikan dengan baik, maka akan mengganggu kegiatan menyimak. Jika emosi penyimak bersifat negatif, maka akan terjadi hal-hal seperti: 1) Menyimak dengan emosi suka mengecam pembicara dan materi; 2) Menyimak dengan berprasangka buruk kepala pembicara; 3) Menyimak dengan materi yang ter putus-putus dan melompat- lompat.

Disamping ketiga hal di atas, terdapat beberapa kendala lainnya menyangkut faktor internal ini. Dalam menyimak, seeorang kerapkali mengalami banyak kendala seperti:

Sifat Egois. Sifat mementingkan diri sendiri (egois) lebih cenderung mau didengarkan daripada ia harus mendengarkan pendapat orang lain. Maka seyogyanya sifat ini dapat menjadi hambatan dalam menyimak, karena apapun nantinya di sampaikan, tidak akan didengarkan karena sifat egois ini.

Kevakuman. Kevakuman adalah sesuagtu yang hampa dan kosong. Dalam hal ini, kevakuman jelas menghalangi kegiatan menyimak karena menyimak adalah salah satu aktifitas yang mau tidak mau harus melibatkan diri secara aktif dengan pembicara. Bagaimana seseorang dapat menjadi penyimak yang baik jika dia menjadi vakum atau tidak mau melibatkan dirinya dengan pembicaraan dan para penyimak lainnya. Kevakuman ikut terlibat dengan orang lain, jelas merupakan kendala dalam kegiatan menyimak yang efektif.

79

Menghindari Perubahan. Perubahan dapat terjadi, tetapi perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang membawa kemajuan bersama. Orang yang takut akan perubahan, takkan bisa menjadi penyimak yang efektif.

Apabila ingin menjadi penyimak yang baik, harus berubah ke arah yang positif, yaitu mengubah pendapat yang salah, dan bila perlu harus berani objektif dengan mengubah dan mengakui pendapat orang ain jika memang ada pendapat atau gagasan partisipan lainnya yang lebih unggul dan lebih dapat diandalkan. Orang yang takut akan perubahan tidak akan dapat mengalami kemajuan, karena dia sendiri hidup dalam suasana yang statis dan tidak berubah.

Malu Bertanya. Malu bertanya, sesat di jalan. Jika isi peribahasa ini kita pahami benar-benar, maka tidak akan ada alasan untuk menghindari atau tidak mau untuk menjawab pertanyaan orang lain, atau dengan mengajukan pertanyaan.

Dapat memberikan jawaban dan penjelasan atas pertanyaan orang lain, berarti kita telah membantu dia, begitupun dengan bertanya, maka kita membantu diri kita untuk lebih mengerti dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Malu bertanya, dengan alasan takut nanti jawaban yang diberikan akan salah atau ditertawakan, jelas merupakan kendala dalam kegiatan diskusi, kegiatan berbicara, dan kegiatan menyimak.

Kondisi internal ini harus diperbaiki kalau memang ingin menjadi penyimak yang propesional.

80

Sombong dan Gila Pujian. Jika seseorag gila pujian atau merasa puas dengan tanda simpatik dan pengertian dari oranglain, maka ia akan gagal menyimak lebih intensif. Orang yang cepat merasa dirinya hebat dibanding orang lain, secara tidak langsung ia terkesan maha mengetahui dan merasa memahami semuanya, sehingga apa yang sebenarnya ia belum ketahui, ia enggan untuk bertanya. Sifat sombonh dan lekas merasa puas terhadap penampilannya, jelas merupakan kendala atau rintangan dalam kegiatan menyimak efektif.

Pertimbangan yang prematur. Jika ada sesuatu yang prematur, maka itu merupakan sesuatu yang tidak wajar.

Segala sesuatu yang akan diutarakan para pembicara telah diketahui oleh penyimak yang mempunyai pertimbangan dan keputusan yang prematur. Ini adalah contoh penyimak yang jelek, dan sifat seperti ini justru menghalanginya untuk menjadi seorang penyimak yang afektif.

Kebingungan semantik. Suatu kata tergantung kepada individu yang memakainya dalam situasi tertentu dan waktu tertentu juga. Kalau seorang penyimak yang tidak memahami hal ini, maka dia akan kebingungan dalam mengartikan kata-kata yang dipakai oleh pembicara. Kebingungan semantik ini jelas merupakan kendala serius bagi seorang penyimak.

Bagaimana mungkin seseorang menyimak dengan baik, dan dapat menangkap, menyerap, memahami, apalagi menguasai isi ujaran, jika dia sendiri tidak memahami makna kata-kata

81

atau wacana yang dipergunakan oleh sang pembicara.

Seseorang yang ingin menjadi penyimak yang efektif harus mempunyai kosa kata yang memadai.

(3) Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang menimbulkan gangguan dan kesulitan menyimak yang datangnya dari luar diri penyimak. Suatu kegiatan tentu tidak selalu berjalan mulus, hambatan tertentu selalu ada. Demikian juga dengan aktifitas menyimak, tentu terdapat hambatan.

Hambatan eksternal yang datangnya dari luar, bisa berasal dari tiga hal, yaitu: 1) pembicara dan media, 2) sarana dan prasarana dan 3) lingkungan.

Pembicara dan Media. Sebagai pengelola, pembicara dapat berfungsi sebagai fasilitator dan motivator yang sangat menentukan keberhasilan menyimak. Kesukaran pembicara biasanya adalah pemilihan media pembelajaran. Namun, pembicara juga harus menyadari bahwa media pembelajaran mempunyai keunggulan dan kelemahan. Selain itu, media yang akan digunakan harus merupakan suplemen dari strategi pembicara dalam usaha pencapaian tujuan yang diharapkan.

Informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan penyimak baik dalam benak atau mental, maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga aktifitas menyimak dapat terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis yang di lihat dari segi prinsip-prinsip menyimak agar

82

dapat menyiapkan intruksi yang efektif. Selain kesukaran pembicara dalam pemilihan media, pembicara cenderung statis dan menggunakan metode yang kurang bervariasi, sehingga suasana kelas menjadi kaku. Strategi pembelajaran atau strategi instruksional harus diartikan setiap kegiatan, baik prosedur, langkah, maupun metode dan tehnik yang di pilih agar memberikan kemudahan, fasilitas, serta bantuan lain kepada penyimak dalam keberhasilan penyimak. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode, yaitu: (1) memperhatikan isi materi, (2) memilih teknik yang membawa penyimak untuk menunjukkan keterampilan yang sesuai dan diharapkan, (3) memilih teknik humor yang menyebabkan penyimak dapat bersemangat dan bergairah.

Sarana dan prasarana. Hambatan dalam pelaksanaan menyimak juga berasal dari ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki. Perlu dipahami bahwa, menyimak sesuatu dengan menggunakan sarana dan prasarana yang tepat, berbeda dengan menyimak sesuatu dengan sarana dan prasarana berbeda, atau tidak menggunakan sama sekali.

Aktifitas menyimak dapat berlangsung secara lancar apabila sarana dan prasarana yang diperlukan tersedia dan memadai.

Sarana dan prasarana meliputi gedung, ruang kelas, meja dan kursi belajar, OHP, televisi, tape recorder, film, dan video.

Lingkungan. Hambatan dapat berasal dari lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

83

Keterlibatan orang tua patut diperhitungkan dalam usaha memelihara motivasi belajar. Lingkungan keluarga yang mendukung keinginan penyimak untuk belajar pada umumnya atau untuk mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru, akan mempermudah tugas pembicara. Lingkungan melibatkan hubungan pembicara dengan penyimak. Hubungan komokasi yang baik akan mendukung terlaksananya kegiatan menyimak yang kondusif dan terarah. Lingkungan tidak kondusif, dapat menjadi hambatan mengembangkan keterampilan menyimak.

Anderson dan Lyneh (dalam Ahmad Rofi‘udin, 1999:6) menyatakan bahwa, kesulitan dalam menyimak dipengaruhi oleh beberapa faktor, 1) susunan informasi, 2) latar belakang pengetahuan penyimak mengenai topik yang disimak, 3) kelengkapan dan kejelasan (disajikan eksplisit) informasi yang disimak, 4) pembicara lebih banyak menggunakan kata ganti daripada menggunakan kata benda secara lengkap maka teks itu sulit dipahami 5) yang dideskripsikan dalam teks yang disimak mengandung hubungan strategis ataulah hubungan dinamis (menunjukkan hubungan statis, misalnya bentuk-bentuk geometrik sulit dipahami daripada yang mengandung hubungan dinamis misalnya kecelakaan di jalan raya).

3. Langkah-Langkah Proses Pelaksanaan Menyimak Proses dalam aktifitas menyimak akan berhasil, apabila pesan yang disampaikan pembicara sampai pada penyimak. Dan agar pesan itu sampai, maka perlu diketahui langkah-langkah

84

yang harus dilaksanakan dalam kegiatan menyimak tersebut.

Oleh karena itu, maka penting untuk memahami langkah-langkah dalam menyimak ini. Namun dalam menentukan langkah-langkah dalam menyimak, maka perlu pemahaman tentang proses menyimak terlebih dahulu.

Dalam dokumen MENYIMAK : Suatu Esensialitas Berbahasa (Halaman 75-85)

Dokumen terkait