• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR PENCERAHAN PERTAMA: PERHATIAN PENUH

Dalam dokumen di Kehidupan Ini Juga (Halaman 121-126)

Tujuh Faktor Pencerahan

FAKTOR PENCERAHAN PERTAMA: PERHATIAN PENUH

Sati,  perhatian penuh, adalah faktor pencerahan pertama.

“Perhatian Penuh” telah menjadi padanan kata untuk sati. Tetapi kata ini memiliki kecenderungan pengertian pasif yang dapat disalah-artikan. “Perhatian Penuh” harus dinamis dan konfrontatif. Dalam retret, saya mengajarkan bahwa sati harus melompat ke depan objek, menutupi seluruhnya, menembusnya, tanpa kehilangan setiap bagian darinya. Untuk menyampaikan pengertian aktif ini, saya sering menggunakan kata “kekuatan pengamatan” untuk menterjemahkan

sati, bukan “perhatian penuh.” Untuk mudahnya, saya akan

menggunakan “perhatian penuh” secara konsisten dalam buku ini, tetapi saya ingin para pembaca mengingat kualitas dinamis yang harus ia miliki.

Perhatian penuh dapat dipahami dengan memeriksa tiga aspeknya, yaitu: karakteristik, fungsi, dan perwujudan. Tiga aspek ini merupakan pembagian tradisional yang digunakan dalam Abhidhamma, uraian Ajaran Buddha tentang kesadaran,  untuk menggambarkan faktor-faktor mental. Kita akan menggunakannya di sini untuk mempelajari setiap faktor pencerahan.

Tidak Dangkal

menunjukkan bahwa perhatian penuh  bersifat menembus dan mendalam. Jika kita melemparkan gabus ke sungai, ia akan timbul tenggelam di permukaan, mengapung ke hilir mengikuti arus sungai. Jika sebaliknya kita melemparkan batu, ia akan segera tenggelam ke dasar sungai. Demikian pula, perhatian penuh  memastikan bahwa pikiran akan tenggelam ke dalam objek dan tidak melewatinya secara dangkal.

Katakanlah anda memperhatikan perut sebagai objek latihan

satipaṭṭhāna.  Anda berusaha menjadi sangat kokoh, dengan kuat

memusatkan perhatian sehingga pikiran tidak melayang ke luar, tetapi tenggelam mendalam pada proses kembung dan kempis. Ketika pikiran menembus proses ini, anda dapat memahami sifat sejati ketegangan, tekanan, pergerakan, dan seterusnya.

Menjaga Objek dalam Pengamatan

Fungsi perhatian penuh adalah menjaga agar objek tetap dalam

pengamatan, tidak melupakan atau membiarkannya lenyap. Ketika perhatian penuh ada, objek yang muncul dapat dicatat tanpa lalai.

Agar tidak dangkal dan tidak lenyap, karakteristik dan fungsi dari perhatian penuh, agar tampak  jelas dalam latihan kita, kita harus mencoba memahami dan berlatih aspek ketiga perhatian penuh.  Inilah aspek perwujudan, yang berkembang dan membawa serta dua lainnya. Aspek utama perwujudan perhatian penuh adalah konfrontasi: ia mengarahkan pikiran langsung berhadapan dengan objek.

Berhadapan Langsung dengan Objek

Berhadapan dengan objek adalah bagaikan anda berjalan di sepanjang jalan dan bertemu pelancong, saling berhadapan, datang dari arah berlawanan. Ketika anda bermeditasi, dengan cara seperti itulah pikiran harus bertemu objeknya. Hanya melalui konfrontasi langsung dengan objek, perhatian penuh sejati dapat muncul.

Mereka mengatakan bahwa raut wajah menggambarkan sifat seseorang. Jika anda akan menilai seseorang, anda melihat raut wajahnya secara teliti dan anda dapat membuat penilaian awal. Jika anda tidak mengamati wajah secara teliti dan sebaliknya teralihkan pada anggota tubuh lain, maka penilaian anda tidak akan tepat.

Dalam bermeditasi, anda harus menerapkan hal serupa, bahkan lebih tajam, derajat ketelitian dalam memperhatikan objek pengamatan. Hanya dengan melihat secara teliti pada objek anda dapat memahami sifat sebenarnya. Ketika anda melihat seraut wajah untuk pertama kali, anda memperoleh gambaran sekilas wajah itu. Jika anda melihat lebih cermat, anda akan memperoleh rinciannya—misalnya alis, mata dan bibir. Pertama-tama anda harus melihat wajah itu secara keseluruhan, dan hanya setelah itu detailnya akan menjadi jelas.

Hal yang sama, ketika anda memperhatikan kembung kempisnya perut, anda mulai mendapatkan gambaran umum proses ini. Pertama-tama anda membawa pikiran anda berhadapan langsung dengan kembung dan kempisnya perut. Setelah melalui proses berulang-ulang anda akan menemukan diri anda mampu melihat lebih dekat lagi. Detailnya akan tampak tanpa memerlukan usaha, seolah-olah muncul dengan sendirinya. Anda akan memperhatikan sensasi yang berbeda dalam kembung dan kempisnya perut, seperti tegangan, tekanan, panas, dingin, dan gerakan.

Setelah yogi berulang kali berhadapan dengan objek, usahanya mulai membuahkan hasil. Perhatian penuh diaktifkan  dan menjadi kuat memegang objek pengamatan. Tidak ada yang terlewatkan. Objek tidak hilang dari pengamatan. Objek tidak terlewat atau lenyap, atau pun terlupakan. Kilesa tidak dapat menembus benteng perhatian penuh yang kuat ini. Jika perhatian penuh  dapat dipertahankan untuk waktu yang cukup lama, yogi dapat memperoleh kemurnian kesadaran yang sangat mendalam karena tidak ada kilesa. Perlindungan dari serangan kilesa adalah aspek kedua perwujudan perhatian penuh.  Ketika perhatian penuh  secara terus-menerus dan

berulang kali diaktifkan, maka kebijaksanaan muncul. Akan timbul pandangan terang tentang sifat sejati batin dan materi. Yogi tidak hanya mengalami kenyataan sebenarnya dari kembung kempis, tetapi ia juga memahami karakteristik individu berbagai fenomena mental dan fisik yang terjadi di dalam dirinya.

Melihat Empat Kebenaran Mulia

Yogi dapat melihat secara langsung bahwa semua fenomena mental dan fisik memiliki karakteristik penderitaan.  Ketika hal ini terjadi, kita katakan Kebenaran Mulia pertama telah dilihat.

Ketika Kebenaran Mulia pertama telah dilihat, tiga yang lainnya juga dilihat. Inilah yang disebutkan dalam kitab suci, dan kita dapat mengamati hal yang sama dari pengalaman sendiri. Karena adanya perhatian penuh pada saat timbulnya fenomena mental dan fisik, nafsu keserakahan tidak akan timbul. Dengan tidak adanya nafsu keserakahan, Kebenaran Mulia kedua dilihat. Nafsu keserakahan adalah akar penderitaan, dan ketika nafsu keserakahan lenyap, penderitaan juga lenyap. Melihat Kebenaran Mulia ketiga, yaitu berhentinya penderitaan, terpenuhi ketika ketidak-tahuan batin dan kilesa lainnya berkurang dan berhenti. Semua ini terjadi sementara atau dari saat ke saat ketika perhatian penuh dan kebijaksanaan muncul. Melihat Kebenaran Mulia keempat mengacu pada pengembangan faktor-faktor Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pengembangan ini terjadi bersamaan dalam setiap saat adanya perhatian penuh.  Kita akan membahas lebih rinci Jalan Mulia Berunsur Delapan dalam bab berikutnya, “Kereta Menuju Nibbāna.”

Karena itu, dalam satu tingkatan, kita dapat mengatakan bahwa Empat Kebenaran Mulia dilihat oleh yogi setiap kali ketika perhatian penuh dan kebijaksanaan ada. Ini membawa kita kembali pada kedua definisi bojjhaṅga di atas. Perhatian penuh adalah bagian kesadaran yang berisi pandangan terang pada sifat sejati realitas; merupakan bagian dari pengetahuan pencerahan. Ia hadir dalam batin seseorang yang mengetahui Empat Kebenaran Mulia. Jadi ia disebut faktor

pencerahan, atau bojjhaṅga.

Perhatian Penuh adalah Penyebab Perhatian Penuh 

Penyebab utama perhatian penuh tidak lain adalah perhatian penuh itu sendiri. Secara alami, terdapat perbedaan antara perhatian penuh yang lemah yang merupakan ciri usaha meditasi di saat awal dan perhatian penuh pada latihan yang lebih tinggi, yang menjadi cukup kuat untuk menyebabkan munculnya pencerahan. Sebenarnya, pengembangan perhatian penuh adalah momentum sederhana, satu saat perhatian penuh akan menimbulkan perhatian penuh berikutnya.

Empat Cara Lain untuk Mengembangkan Perhatian Penuh

Kitab komentar mengidentifikasi empat faktor tambahan yang membantu mengembangkan dan memperkuat perhatian penuh sehingga layak mendapat sebutan bojjhaṅga:

1.  Perhatian Penuh dan Pemahaman yang Jelas

Yang pertama adalah sati∙sampajañña, yang biasanya diterjemahkan sebagai “perhatian penuh dan pemahaman yang jelas.” Dalam istilah ini, sati adalah perhatian penuh yang aktif selama latihan meditasi duduk formal, mengamati objek utama dan juga yang lainnya.

Sampajañña, pemahaman yang jelas, mengacu pada perhatian penuh

yang lebih luas, perhatian penuh saat kita berjalan, merenggang, membungkuk, berputar, melihat pada satu sisi, dan semua aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari.

2.  Menjauhi Orang yang Tidak Berperhatian Penuh

Menghindari orang yang tidak berperhatian penuh adalah cara kedua mengembangkan perhatian penuh sebagai faktor pencerahan. Jika anda berusaha selalu berperhatian penuh, dan anda bertemu dengan orang yang tidak berperhatian penuh yang memojokkan anda

dengan berbagai argumen melelahkan, dapat dibayangkan betapa cepatnya perhatian penuh anda akan lenyap.

3. Memilih Teman yang Berperhatian Penuh

Cara ketiga mengembangkan perhatian penuh adalah berteman dengan orang yang berperhatian penuh. Orang ini dapat menjadi sumber inspirasi kuat. Dengan menghabiskan waktu bersama mereka, dalam lingkungan di mana perhatian penuh dihargai, anda dapat menumbuhkan dan memperdalam perhatian penuh anda.

4. Mengarahkan Pikiran pada Perhatian Penuh

Metode keempat adalah mengarahkan pikiran mengaktifkan perhatian penuh. Ini berarti secara sadar meletakkan perhatian penuh pada prioritas utama, memperingatkan pikiran agar selalu kembali dalam segala situasi. Pendekatan ini sangat penting; ia menciptakan suasana kewaspadaan, tidak pelupa. Anda berusaha sebanyak mungkin tidak melakukan kegiatan yang tidak memperdalam perhatian penuh. Mengenai hal ini, terdapat banyak pilihan, seperti yang mungkin anda ketahui.

Sebagai yogi, hanya satu tugas anda, yaitu selalu sadar akan apa yang terjadi saat ini. Dalam retret intensif, ini berarti anda mengesampingkan segala hubungan sosial, menulis dan membaca, bahkan membaca kitab suci. Anda cermat ketika makan agar tidak kembali pada kebiasaan lama. Anda selalu mempertimbangkan apakah waktu, tempat, jumlah, dan jenis makanan yang anda makan penting atau tidak. Jika tidak, anda menghindar untuk mengulangi pola yang tidak perlu tersebut.

Dalam dokumen di Kehidupan Ini Juga (Halaman 121-126)