BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3. Faktor Pendukung dan Penghambat Lansia Mengikuti
Hasil studi pendahuluan diketahui bahwa kesiapan TPL di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman sudah baik, yang mana dibuktikan dengan tenaga kesehatan yang memadahi, kader yang komunikatif dan peralatan pemeriksaan kesehatan yang cukup. Beberapa yang tersedia di TPL tersebut seperti alat pengukur tekanan darah, pemeriksaan status gizi, dan pemerikasan kadar gula dan lain sebagainya.
Dilihat dari keaktifan kader dari sejumlah 10 orang, berdasarkan pengamatan peneliti rata-rata yang hadir 5-8 orang di setiap kegiatan.
Ketidak hadiran tersebut menunjukkan bahwa peran kader masih kurang maksimal, sehingga berdampak pada penanganan lansia yang mengikuti posyandu tersebut. disamping itu juga lansia yang aktif hanya sekitar 30 orang saja, selebihnya hanya datang sesekali bahkan ada beberapa yang sudah tidak pernah datang.
Berbagai upaya dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif untuk lanjut usia. Namun berbagai faktor pendukung dan fakor yang menghambat lancarnya TPL selalu ada. Beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat TPL ini adalah:
a. Faktor pendukung
Dalam setiap kegiatan tentunya tidak lepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat. Dalam kegiatan lansia yang ada di RW 11
79
Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman terdapat beberapa faktor pendukung yang mampu mengaktifkan para lansia dalam mengikuti kegiatan lansia. dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa yang menjadi faktor pendukung adalah:
1) Adanya kemauan dari diri sendiri
Niat atau kemauan dari diri sendiri merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat berpengaruh dalam keaktifan lansia di kegiatan yang ada.
2) Adanya dukungan dari keluarga
Keluarga juga sering memberi motivasi dan dukungan kepada lansia agar para lansia lebih semangat dalam mengikuti kegiatan.
3) Keaktifan Kader
Kader aktif dalam setiap kegiatan menjadi penyemangat lansia untuk selalu ikut dalam pelaksanaan kegiatan.
4) Rasa solidaritas yang tinggi
Rasa solidaritas juga menjadi faktor pendukung, dengan Lansia mengikuti kegiatan maka mereka bisa bertemu dengan sesama lansia dan bersosialisasi dan bisa berkomunikasi dengan teman lansianya, atau anya seksedar bertemu dengan lansia lain dapat menamba semangat buat mengikuti kegiatan.
Di samping faktor pendukung, terdapat plan faktor penghambat lansia dalam mengikuti kegiatan lansia. Faktor pengambat tersebut akan
80
berpengaru terhadap proses pelaksanaan dan keaktifan lansia. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan kader, keluarga lansia, dan lansia bahwa yang menjadi faktor penghambat adalah karena memang tidak ada kemauan dari dalam diri lansia untuk aktif dikegiatan.
Selain tidak ada kemauan dari diri sendiri, cuaca dan tidak ada anggota keluarga yang mengantar juga terkadang menjadi penghambat lansia untuk tidak berangkat saat kegiatan berlangsung.
Hal-hal kecil seperti di atas yang menjadi faktor penghambat lansia untuk datang saat kegiatan berlangsung, tetapi tetap banyak yang mengikuti kegiatan lansia karena memang para lansia senang dan mempunyai kemauan dari diri sendiri untuk aktif di kegiatan tersebut.
b. Faktor penghambat
Program TPL di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta masih menghadapi beberapa masalah, Beberapa diantaranya adalah:
1) Faktor Umur
Di umur yang sudah tidak muda lagi, sebagian lansia sudah malas untuk mengikuti kegiatan di karenakan mereka berfikir di usia senja sudah tidak bisa untuk rutin mengikuti kegiatan, sehingga mereka lebih memilih untuk berdiam diri di rumah.
2) Dukungan keluarga
81
Keluarga merupakan pihak yang bersinggungan langsun dengan lansia, dimana mereka berkumpul menjadi satu setiap hari.
Namun ada beberapa anggota keluarga yang terpaksa tidak bisa antar-jemput lansia ke posyandu karena alasan kesibukan pekerjaan.
Disamping itu kepedulian tetangga sekitar untuk menolong menghantarkan ke tempat posyandu juga masih kurang. Akhirnya lansia terpaksa hanya duduk dirumah saja.
3) Kurangnya kesadaran
Kurangnya kesadaran akan manfaat kegiatan, sebagian lansia berfikir mengikuti kegiatan tidak ada manfaatnya sehingga mereka memilih untuk tidak berangkat saat pelaksanaan kegiatan.
82 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan data di lapangan yang telah disajikan, dianalisis dan diinterpretasikan di atas, maka pada bab ini dibuat sebuah kesimpulan dalam rangka menjawab rumusan masalah penelitian. Selain itu penulis juga akan merekomendasikan saran-saran.
1. Peran keluarga dalam meningkatkan kesehatan lansia
a. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke tempat pelaksanaan kegiatan. BKL RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman
b. Semua keluarga yang mempunyai lansia memperhatikan kesehatan baik secara fisik maupun psikis. Terbukti mereka memperhatikan pola makan lansia, memperhatikan gizi lansia, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada lansia tersebut, kenyamanan, bahkan menyempatkan waktu untuk antar-jemput ke tempat kegiatan
2. Peran kader lansia
a. Peran dari kader itu sendiri khusunya untuk meningkatkan kesehatan lansia adalah kader sebagai motivator. Peran kader dalam pelayanan motivasi sangat berpengaruh pada lansia untuk mengikuti kegiatan.
Motivasi itu adalah suatu penggerak agar lanjut usia senang dalam memeriksakan dirinya serta ikut dalam kegiatan.
83
b. peran kader lansia juga mendampingi lansia saat pelaksanaan kegiatan.
c. melakukan pemeriksaan tensi, berat badan, pemberian PMT.
3. Faktor pendukung
Dalam setiap kegiatan tentunya tidak lepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat. Dalam kegiatan lansia yang ada di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman terdapat beberapa faktor pendukung yang mampu mengaktifkan para lansia dalam mengikuti kegiatan lansia. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa yang menjadi faktor pendukung adalah:
a. adanya kemauan dari diri sendiri.
b. adanya dukungan dari keluarga c. keaktifan Kader
d. rasa solidaritas yang tinggi.
4. Faktor penghambat
Sedangkan faktor penghambat lansia dalam mengikuti kegiatan TPL disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Faktor umur
b. Dukungan keluarga
c. Kurangnya kesadaran di dalam diri lansia.
B. Saran
Dalam kesempatan kali ini peneliti juga memberi beberapa saran konstruktif dengan tujuan lebih baik di kedepannya kelak. Beberapa saran dari peneliti berupa:
84
1. Bagi kader kegiatan Lansia di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta
a) Perlu menambah jumlah kader untuk meningkatkan pelayanan dalam kegiatan lansia.
b) Perlunya meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang bagus antar kader dalam kegiatan lansia.
c) Perlunya sosialisasi tentang manfaat kegiatan TPL agar semakin banyak yang mengikuti kegiatan TPL.
2. Bagi lansia
Bagi lansia diharapkan untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan lansia dan datang secara rutin setiap pelaksanaana kegiatan.
3. Bagi Keluarga
Keluarga selalu memberikan dukungan motivasi kepada lansia agar tetap aktif di kegiatan dan melakukan pendampingan kepada lansia, khususnya untuk lansia yang sudah tidak kuat sendiri ke tempat kegiatan TPL.
85
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Abu Ahmadi. (2002). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Argyo Demartoto.(2006). Pelayanan Sosial Non Panti Bagi Lansia.Surakarta:
Sebelas Maret University Press.
BKKBN. (2009). Materi Penyuluhan Bina Keluarga Lansia (BKL). Yogyakarta:
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Biro Ketahanan Fisik Keluarga Sejatera.
_______. (2011). Bina Keluarga Lansia (BKL). Yogyakarta: Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi DIY.
Farida Hanum.(2008). Menuju Hari Tua Bahagia. Yogyakarta: UNY Press.
Hasan Alwi. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Refika Aditama.
Irawan Soehartono.(2005). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Koentjaraningrat. (1972). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
Lilik Ma’rifatul Azizah. (2011). Keperawatan Lanjut Usia.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Miles, Mathew B dan A.M. Huberman.(1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta:
UI Press.
Moleong, Lexy.(2011). Metodologi Penelitian Kulitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Poerwadarminta. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Ravik Karsidi. (2007). Sosiologi Pendidikan. Solo: UNS Press.
Rita Eka, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Siti Bandiyah. (2009). Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.
Siti Maryam R.S, dkk. 2011). Mengenal Usia Lanjut dan Keperawatannya.
Jakarta: Salemba Medika.
86
Siti Partini Suadirman. (2011).Psikologi Usia Lanjut.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Soerjono Sukanto. (2010). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto.(1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Umiyatun Nawawi.(2009). Sehat Dan Bahagia di Usia Senja.Yogyakarta:
Dianloka.
Utami Munandar. 2001). Psikologi Perkembangan Pribadi. Jakarta: UI Press SKRIPSI
Chairunnisa Martanti. (2000). Peranan Taman Pendidikan Lanjut Usia (TPL) dalam Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia di Kecamatan Gondokusuman. Skripsi. UNY.
Swastika Dela Prabandewi. (2014). Peran pekerja Sosial di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Yogyakarta Unit Budi Luhur dalam Meningkatkan Kesejahteraan Lanjut Usia. Skripsi. UNY.
LAIN- LAIN
Badan Pusat Statistik. (2010). Statistik Penduduk Lanjut Usia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses dari bps.go.id pada tanggal 5 Mei 2016.
Kartika Ratna Pertiwi. Yandu Lansia. Jurdik Biologi FMIPA UNY Yogyakarta.http://staff.uny.ac.id/. Di akses pada 16 April 2013.
Ezi Eriani. (2014). Bina Keluarga lansia (BKL). Diakses dari http://repository.unib.ac.id/8661/1/I,II,III,I-14-ezi-FK.pdf. Pada hari Rabu, 8 Juni 2016, pukul 14:35 WIB.
Ernie Martsiswati & Yoyon Suryono. (2014). Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Menerapka Perilaku Disiplin Terhadap Anak Usia Dini. Diakses dari http://journal.uny.ac.id/index.php/jppm/article/view/2688/2241, pada tanggal 26 Oktober 2016, pukul 09:20 WIB
Komisi Nasional Lansia. (2010). Pedoman Active Ageing (Penuaan Aktif) Bagi Pengelola dan Masyarakat. Jakarta: Komnas Lansia. Diakses dari http://www.komnaslansia.go.id/ pada tanggal 22 maret 2016, pukul 20:17 WIB.
87
___________________(2010). Pedoman Pelaksanaan Posyandu Lanjut Usia.
Jakarta: Komnas Lansia. Diakses dari http://www.komnaslansia.go.id/ pada tanggal 26 April, pukul 20.00 WIB.
___________________.(2010). Profil Peduduk lanjut Usia Jakarta: Komnas Lansia. Diakses dari http://www.komnaslansia.go.id/ pada tanggal 23 Maret 2016, pukul 21: 24 WIB.
Undang-undang RI no. 23 tahun 1992
Undang-Undang RI No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia Pemerintah Republik Indonesia No 43 tahun 2004
88
LAMPIRAN
89 Lampiran 1. Pedoman Observasi
PEDOMAN OBSERVASI
Secara garis besar dalam pengamatan (observasi) mengamati Peran Bina Keluarga Lansia (BKL) dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia Melalui Kegiatan TPL di Rw 11 Kepuh Kelurahan Klitren kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta, diantaranya meliputi:
1. Mengamati lokasi dan keadaan di kegiatan lansia.
2. Mengamati pelayanan keluarga yang diberikan kepada lansia.
3. Mengamati fasilitas-fasilitas yang tersedia di Posyandu Lansia.
4. Mengamati Proses kegiatan Lansia.
5. Mengamati bagaimana peran keluarga dalam kehidupan lansia.
6. Mengamati bagaimana peran kader dalam pelaksanaan kegiatan lansia.
7. Mengamati faktor pendukung dalam meningkatkan kesehatan lansia.
8. Mengamati faktor penghambat dalam meningkatkan kesehatan lansia.
90 Lampiran 2. Pedoman Dokumentasi
PEDOMAN DOKUMENTASI
1. Melalui Arsip Tertulis
a. Tujuan dan Latar belakang berdirinya kegiatan Lansia (TPL dan BKL) b. Struktur kepengurusan TPL dan BKL
c. Arsip data lanjut usia yang ada di Rw 11 Kepuh Kelurahan Klitren, kecamatan Gondokusuman
2. Foto
a. Tempat atau fisik kegiatan TPL dan BKL b. Tempat atau fisik rumah lansia atu keluarga c. Fasilitas yang dimiliki TPL
d. Kegiatan-kegiatan yang berlangsung pada saat pelaksanaan kegiatan
91 Lampiran 3. Pedoman Wawancara
PEDOMAN WAWANCARA
PERAN BINA KELUARGA LANSIA DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN LANSIA MELALUI KEGIATAN TPL DI RW 11 KEPUH
KELURAHAN KLITREN KECAMATAN GONDOKUSUMAN KOTA YOGYAKARTA
Key Informan : Ketua BKL RW 11 Kepuh Hari, Tanggal :
Identitas Responden
1. Nama : (laki-laki/ perempuan)
2. Usia :
3. Jabatan :
4. Agama :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. Pendidikan Terakhir : Pertanyaan
1. Apakah Visi dan Misi dari Bina Keluarga Lansia (BKL)?
2. Bagaimana sejarah berdirinya kegiatan BKL?
3. Apa saja jenis kegiatan atau pelayanan dalam BKL?
4. Bagaimanakan sarana dan prasarana saat kegiatan BKL berlangsung?
92
5. Apakah program kegiatan yang dilakukan tersebut sesuai dengan kebutuhan lansia?
6. Bagaimana keaktifan kader dalam pelaksanaan kegiatan ini?
7. Apakah keluarga yang mempunyai lansia selalu mengikuti kegiatan ini?
93
PEDOMAN WAWANCARA
PERAN BINA KELUARGA LANSIA DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN LANSIA MELALUI KEGIATAN TPL DI RW 11 KEPUH
KELURAHAN KLITREN KECAMATAN GONDOKUSUMAN KOTA YOGYAKARTA
Key Informan : Kader kegiatan Lansia Hari, Tanggal :
Identitas Responden
1. Nama : (laki-laki/ perempuan)
2. Usia :
3. Jabatan :
4. Agama :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. Pendidikan Terakhir : Pertanyaan
1. Apa yang melatar belakangi lansia mengikuti kegiatan ini?
2. Apakah saat kegiatan lansia dapat bersosialisasi dengan sesama lansia?
Jika iya bagaimana cara bersosilisasi?
3. Apaka ada lansia yang diantar oleh anggota keluarganya saat mengikuti kegiatan? Jika iya apa alasannya?
94
4. Apakah semua lansia yang ada di RW 11 Kepuh aktif mengikuti kegiatan ini?
5. Upaya apa yang dilakuka kader untuk meningkatkan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan?
6. Upaya apa yang dilakukan kader dalam meningkatkan kesehatan lansia?
7. Apakah peran kader dalam pelaksanaan kegiatan posyandu lansia?
8. Sejauh ini apakah peran kader dalam melaksanakan tugasnya sudah sangat membantu lansia?
9. Hambatan apa yang ditemui kader dalam menjalankan perannya?
10. Apakah faktor pendukung untuk tetap menjalankan perannya sebagai kader?
11. Apakah faktor pendukung dan penghambat lansia dalam mengikuti kegiatan lansia?
95
PEDOMAN WAWANCARA
PERAN BINA KELUARGA LANSIA DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN LANSIA MELALUI KEGIATAN TPL DI RW 11 KEPUH
KELURAHAN KLITREN KECAMATAN GONDOKUSUMAN KOTA YOGYAKARTA
Key Informan : Keluarga yang mempunyai lansia Hari, Tanggal :
Identitas Responden
1. Nama : (laki-laki/ perempuan)
2. Usia :
3. Jabatan :
4. Agama :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. Pendidikan Terakhir : Pertanyaan
1. Bagaimana cara keluarga memperhatikan lansia?
2. Bagaimana cara keluarga merawat lansia?
3. Apakah keluarga selalu memperhatikan kondisi kesehatan lansia?
4. Jika lansia sakit, apa tindakan dari keluarga?
5. Bagaimana peran anggota keluarga dalam meningkatkan kesehatan lansia?
96
6. Apakah ada hambatan dalam menjalankan perannya?
7. Saat pelaksanaan kegiatan lansia di RW 11 Kepuh, apakah sebagai anggota keluarga memberi motivasi kepada lansia untuk mengikuti kegiatan? Jika iya, apa bentuk motivasinya?
8. Dalam kegiatan TPLatau kegiatan yang lainnya, apakah dari anggota keluarga ada yang mengantar atau lansia datang sendiri?
9. Apakah keluarga mendukung lansia untuk aktif dalam kegiatan lansia yang ada?
10. Apakah faktor pendukung dan penghambat lansia dalam mengikutu kegiatan lansia?
97
PEDOMAN WAWANCARA
PERAN BINA KELUARGA LANSIA DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN LANSIA MELALUI KEGIATAN TPL DI RW 11 KEPUH
KELURAHAN KLITREN KECAMATAN GONDOKUSUMAN KOTA YOGYAKARTA
Key Informan : Lansia Hari, Tanggal :
Identitas Responden
1. Nama : (laki-laki/ perempuan)
2. Usia :
3. Jabatan :
4. Agama :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. Pendidikan Terakhir : Pertanyaan
1. Apakah Bapak/Ibu selalu mengikuti kegiatan lansia yang ada?
2. Apaka Bapak/Ibu selau memperhatikan kondisi kesehatan?
3. Apakah anggota keluarga selalu memberi motivasiatau dukungan supaya Bapak/Ibu aktif dalam kegiatan lansia?
4. Menurut Bapak/Ibu, apakah anggota keluarga sudah merawat Bapak/Ibu dengan baik?
98
5. Saat akan menghadiri kegiatan lansia, apakah pihak keluarga ada yang mengantar atau Bapak/Ibi datang sendiri?\
6. Bagaimana menurut Bapak/Ibu peran dari keluarga dalam meningkatkan kesehatan dak keaktifan Bapak/Ibu mengikuti kegiatan lansia?
7. Bagaimana menurut Bapak/Ibu peran kader dalam kegiatan lansia?
8. Apakah faktor pendukung dan penghambat Bapak/Ibu dalam mengikuti kegiatan lansia?
99 Lampiran 4 . Hasil Wawancara
A. Wawancara kader
1. Apa yang melatar belakangi lansia mengikuti kegiatan ini?
SS : kalau kegiatan TPL atau TPLkarena lansia sendiri ingin cek kesehatan dan bertemu dengan lansia-lansia yangg lain, kaau yan BKL karena lansia atau keuarga yang mempunyai lansia ingin menambah ilmu atau pengetauan yang berkaitan dengan lansia.
DQ : yang TPL karena ansia ingin cek keseatan atau seksedar bersosialisasi dengan lansia lainnya, yang BKL karena ingin mendapat pelajaran tentang lansia.
2. Apakah saat kegiatan lansia dapat bersosialisasi dengan sesama lansia? Jika iya bagaimana cara bersosilisasi?
SS : tentunya dapat bersosialisasi mbak, karena dalam kegiatan lansia para lansia saling ngobrol, cerita-cerita.
DQ :iya pastinya mbak. Cara bersosialisasinya ya dengan sesama lansia saling berkomunikasi.
3. Apaka ada lansia yang diantar oleh anggota keluarganya saat mengikuti kegiatan? Jika iya apa alasannya?
SS : ada yang diantar dan ada yang berangkat sendiri. Kadang yang karena sakit, sudah tidak kuat jalan kaki, ruma jauh, dan macem-macem.
DQ :tentu mbak, sekian dari lansia yang mengikuti kegiatan pasti ada yang diantar, faktornya karena sudah tua, sakit.
100
4. Apakah semua lansia yang ada di RW 11 Kepuh aktif mengikuti kegiatan ini?
SS : sebagian besar aktif dalam kegiatan lansia DQ : tidak semua tetapi banyak yang aktif.
5. Upaya apa yang dilakukan kader untuk meningkatkan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan?
SS : selalu memberi motivasi kepada lansia agar tetap aktif mengikuti kegiatan
DQ : memberi dukungan kepada lansia dan selalu kegiatan lansia tidak hanya itu-itu saja, kadang bisa diselingi dengan piknik agar lansia semakin bersemangat.
6. Upaya apa yang dilakukan kader dalam meningkatkan kesehatan lansia?
SS : yang sederhana ya mengingatkan lansia untuk cek kesehatannya DQ : tidak lupa cek kesehatan rutin.
7. Apakah peran kader dalam meningkatkan kesehatan lansia?
SS : perannya meningatkan para lansia agar tetap ikut kegiatan khsusunya saat pelaksanaan posyandu lansia, agar mereka bisa cek kesehatan dan tau kondisi keseatan mereka.
DQ :menginatkan lansia agar selalu cek kesehatan, ikut di kegiatan posyandu lansia, cek tensi, kadang ada lansia yang arus dioyakoyak agar mengikuti posyandu lansia.
8. Sejauh ini apakah peran kader dalam melaksanakan tugasnya sudah sangat membantu lansia?
101 SS : iya tentu saja sudah DQ : ya pastinya
9. Hambatan apa yang ditemui kader dalam menjalankan perannya?
SS : alhamdulilla saya anggap tidak ada hambatan mbak.
DQ : hambatannya soal dana
10. Apakah faktor pendukung untuk tetap menjalankan perannya sebagai kader?
SS : sudah senang dan nyaman dalam menjalankan tugas kader jadinya ya selalu dinikmati saja.
DQ : senang dan keluarga selalu mendukung
11. Apakah faktor pendukung dan penghambat lansia dalam mengikuti kegiatan lansia?
SS : faktor pendukungnya yang pasti dari diri sendiri ada niat untuk mengikuti kegiatan dan kader serta keluarga selalu membero motivasi.
Faktor penghambatnya terkadang malas atau yang tidak kuat jalan tidak ada yang mengantar.
DQ :faktor pendukungnya yaitu ada dukungan dan ingin bertemu teman-teman lansianya. Faktor penghambatnya yaitu diri sendiri lansia yang memamng tidak pengen aktif dalam kegiatan lansia.
B. WAWANCARA KELUARGA LANSIA
1. Bagaimana cara keluarga memperhatikan/merawat lansia?
Bp AF : cara keluarga merawat lansia yaitu selalu memperhatikan kesehatan, pola makannya, pokoknya merawat orang tua itu harus dengan penuh kasih sayang, kalau Bapak tipenya tidak merepotkan
102
anak-anaknya. Selagi Bapak bisa sendiri Beliau tidak meminta tolong kepada anak-anaknya.
Bp SH : cara keluarga ya sederhana saja mbak, selayaknya anak mengurus orang tuanya. Alhamdulillah Bapak masih diberi kesehatan, jadinya Bapak masih bisa melakukan sendiri kegiatan sehari-hari.
Ibu SY : caranya ya biasa mbak, mengingatkan buat makan, minum obat, cek kesehatan. kalau diruma ibu itu tidak bisa diam mbk, jadi apa-apa dikerjain, saya sering mengingatkan kalau capek tak suruh istirahat, mentingin kesehatannta. Ya giu aja mbak perhatiannya.
Ibu WD :ya biasa mbk, meningatkan makan, minum obat, jaga kesehatan, ya yang sederhana saja.
Ibu EK : mengingatkan buat jaga kesehatan, tidak kecapekan gtu aja mbak. Kalau waktunya ibu kontrol diingatkan, diantar juga.
2. Apakah keluarga selalu memperhatikan kondisi kesehatan lansia?
Bp AF : selalu, kesehatan penting apalagi kalau sudah lansia
Bp SH : pastinya selalu memperhatikan kondisi kesehatannya, cek kesehatan juga.
Ibu SY : iya mbak
Ibu Wd : kalau kesehatan Ibu anak-anaknya pasti selalu memperhatikan Ibu EK : tentu saja, keseatan buat Ibu itu penting.
103
3. Jika lansia sakit, apa tindakan dari keluarga?
Bp AF : tindakan dari keluarga kalau memang arah ya langsung bawa ke dokter atau rumah sakit, kalau ringan minum obat saja.
Bp SH : periksa ke dokter atau beli obat tergantung sakitnya para atau ringan
Ibu SY : periksa dokter mbak.
Ibu Wd : beli obat atau periksa ke dokter
Ibu EK : periksa dokter, masalahnya Ibu sudah lansia juga dan sering sakit, jadi langsung dokter
4. Bagaimana peran anggota keluarga dalam meningkatkan kesehatan lansia?
Bp AF : perannya ya selalu mengingatkan Bapak buat jaga kesehatan, Bapak an ada riwayat sakit, jadi mengingatkan buat rutin minum obat, cek kesehatan, memperhatikan pola makan, ya sederhana tapi dapat meningkatkan keseatan Bapak.
Bp SH : Ya menjaga pola makan beliau, cek kesehatan beliau, karena sudah tua kanjadi tentan sakit mbak. Pinter-pinternya kita aja jaga kesehatan orang tua.
Ibu SY : kalau peran khusus kesehatan Ibu ya sebagai anak saya mengingatkan ibu buat jaga kesehatannya, tidak kecapekan, cek kondisi kesehatan, selalu memotivasi Ibu untuk tetap jaga kesehatan dan mengikuti TPLyang rutin dilaksanakan setiap bulan.
104
Ibu Wd : peran anak dalam meningkatkan kesehatan orang tua ya sederhana saja mbak, selalu mengingatkan buat cek kesehatan, jaga kesehatan mengatur makannya, kalau sudah lansia kan tidak sembarang makanan dibolehkan. Memberi dukungan buat aktif di kegiatan lansia khususnya yang berkaitan dengan kesehatan.
Ibu EK : perannya ya memberi perhatian tentang kesehatan beliaua, menjaga kesehatan tidak usah terlalu capek, melakukan hal-hal positif agar kesehatan beliau tetap terjaga.
5. Apakah ada hambatan dalam menjalankan perannya?
Bp AF : tidak ada.
Bp SH : kalau hambatan tidak ada.
Ibu SY : alhamdulillah ttidak ada mbak, insyaallah dalam merawat orang tua sendiri tidak menemui hambatan
Ibu Wd : tidak ada hambatan buat orang tua sendiri Ibu EK : tidak ada.
6. Saat pelaksanaan kegiatan lansia di RW 11 Kepuh, apakah sebagai anggota keluarga memberi motivasi kepada lansia untuk mengikuti kegiatan? Jika
6. Saat pelaksanaan kegiatan lansia di RW 11 Kepuh, apakah sebagai anggota keluarga memberi motivasi kepada lansia untuk mengikuti kegiatan? Jika