• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA ANALISIS DATA

A. Faktor Pendukung dan Penghambat Diferensiasi Pendidikan Karakter di Masjid Al-Ikhlas

Diferensiasi pendidikan karakter peserta didik semoga mampu meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. dan membentengi mereka dari budaya sosial yang kurang Islami. Teori analisis SWOT (strengtht, weakness, opportunities, threats) terkait pendidikan karakter yang di antaranya; 1. Strength (kekuatan) yakni;

a. Tujuan pendidikan karakter yakni menjadikan manusia bermanfaat bagi sesama makhluk hidup yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. b. Isi (materi) pendidikan karakter lebih menekankan pembentukan karakter

jamaah masjid al-ikhlas, sehingga membentengi budaya sosial yang kurang Islami.

c. Lingkungan pendidikan yang bersih.

d. Pendidik menjadi figur teladan bagi peserta didik.

e. Peserta didik pada antusias dalam mengikuti pendidikan karakter.

f. Metode pendidikan karakter lebih bervariatif dan kreatif sehingga materi pendidikan karakter mudah diterima peserta didik.

g. media pendidikan terkait papan tulis, buku-buku Islami, mushaf

2. Weakness (kelemahan) yakni;

a. Tujuan pendidikan karakter di Masjid Al-Ikhlas belum mampu membentuk kedelepan belas pendidikan karakter di Indonesia.

b. Isi (materi) tidak terlalu mendalam secara global terkait pendidikan karakter secara universal.

c. Lingkungan pendidikan terkait pendidikan agama Islam kurang kondusif dikarenakan lokasi Masjid Al-ikhlas berseberangan dengan jalan akses utama ke Salatiga.

d. Pendidik memiliki sumber daya yang minim terkait dunia pendidikan dikarenakan lulusan Sekolah Dasar (SD).

e. Peserta didik yang berbagai karakter sulit dikondisikan.

f. Metode pendidikan belum begitu komplek karena disesuaikan dengan situasi kondisi jamaah Masjid Al-ikhlas.

g. Keterbatasan fasilitas media. 3. Opportunities (peluang) yakni;

a. Tujuan pendidikan yang memiliki peluang untuk membangun pendidikan karakter bagi jamaah Masjid Al-ikhlas periode dari tahun ketahun.

b. Materi keagamaan memberi peluang terhadap pendidikan karakter dan budaya religius jamaah Masjid Al-ikhlas.

c. Lingkungan pendidikan yang secara sosial berada di daerah rawan akidah, memberikan peluang untuk persatuan dan kesatuan umat Islam di Dusun Sarirejo.

d. Pendidik yakni memiliki figur otoritas membangun pendidikan karakter jamaah Masjid Al-ikhlas dalam sistem pendidikan agama Islam.

e. Peserta didik yang berkarakter baik dan religius memberikan peluang terhadap perubahan masyarakat Sarirejo khususnya dalam bidang keagamaan.

f. Metode lebih menekankan kepada pendekatan peserta didik.

g. Media memudahkan materi bisa tersampaikan kepada peserta didik. 4. Threats (ancaman) yakni;

a. Tujuan pendidikan karakter belum mampu membangun karakter peserta didik secara keseluruhan.

Contohnya; masih ada peserta didik tidak menghormati pendidik khususnya pada usia anak-anak dan masih sering mengganggu sesama peserta didik ketika belajar khususnya pada usia anak-anak.

b. Isi (materi) jikalau mengarah pembahasan nahi munkar pekerjaan kafe karaoke hukum halal-haram akan mendapatkan ancaman dari masyarakat Sarirejo.

c. Lingkungan belajar yang kurang kondusif dan juga di daerah rawan akidah pengusaha kafe karaoke menyebabkan ancaman bahaya fisik kepada peserta didik.

d. Ketidaknyamanan pada diri pendidik dikarenakan ancaman secara langsung maupun tidak langsung.

e. Peserta didik terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa sering melihat budaya kurang Islami sehingga rawan ancaman dekadensi moral.

Di Masjid Al-ikhlas dalam menjalankan sistem pendidikan agama Islam, terdapat dua faktor yakni di antaranya;

B.Faktor-faktor pendukung dan penghambat diferensiasi pendidikan karakter yakni diantaranya;

1. Faktor pendukung diferensiasi pendidikan karakter

a. Adanya buku-buku bacaan terkait agama Islam. Judul buku yakni di antaranya; pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter dan akhlak Rasulullah SAW.

b. Adanya fasilitas berupa bangku, mushaf Al-Qur’an, buku sholawat dan papan tulis.

c. Kebersihan tempat belajar.

d. Dukungan peran orang tua, pengurus masjid dan masyarakat muslim khususnya selaku tokoh Pemerintahan.

e. Pendidik sangat inovatif dan kreatif dalam menyampaikan materi. Contohnya; pendidik ketika menyampaikan materi terkait pendidikan karakter selalu mengaitkan pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. f. Gaya pendidik yang ramah tamah, menarik dan unik.

g. Latar belakang pendidik yang lulusan Pondok Pesantren di Demak. h. Peserta didik yang pada antusias belajar agama Islam.

Contoh anak-anak sering berangkat lebih awal, dewasa dan remaja sering bertanya ketika ada materi yang belum memahaminya.

2. Faktor penghambat diferensiasi pendidikan karakter jama’ah Masjid Al-ikhlas

a. Latar belakang berbagai kepribadian peserta didik yang bervariasi b. Lingkungan pendidikan agama Islam kurang memadai.

c. Belum ada tempat Madrasah khusus akan tetapi masih di serambi masjid yang sederhana, sehingga terkadang peserta didik duduk berdesak-desakan.

d. Kurangnya guru terkait peserta didik khususnya anak-anak. e. Fasilitas buku-buku Islami yang kurang lengkap.

f. Keterbatasan dana untuk pengadaan fasilitas pendidikan agama Islam. g. Budaya lingkungan sosial kurang islami sehingga menimbulkan

dekadensi moral peserta didik.

h. Latar belakang sumber daya manusia terkait peserta didik yang beraneka ragam.

34

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

1. Diferensiasi pendidikan karakter jamaah Masjid Al-ikhlas di Dusun Sarirejo Kelurahan Sidorejo Lor Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2018 diklasifikasikan kriteria usia anak-anak, remaja dan dewasa. Diferensiasi pendidikan karakter anak-anak yakni diantaranya; religius, jujur, disiplin, rasa ingin tahu, mandiri, peduli lingkungan, tanggungjawab, gemar membaca, kerja keras dan menghargai prestasi. Diferensiasi pendidikan karakter remaja yakni diantaranya; religius, disiplin, rasa ingin tahu, mandiri, peduli lingkungan, tanggung jawab dan peduli sosial. Diferensiasi pendidikan karakter dewasa yakni diantaranya; religius, disiplin, rasa ingin tahu, mandiri, peduli lingkungan, tanggung jawab, peduli sosial, toleransi.

2. Faktor pendukung dan penghambat diferensiasi pendidikan karakter anak-anak, remaja dan dewasa yakni di antaranya;

a. Faktor pendukung diferensiasi pendidikan karakter anak-anak, remaja dan dewasa yakni di antaranya; adanya buku-buku bacaan terkait agama Islam, adanya fasilitas berupa bangku, mushaf al-qur’an, buku sholawat dan papan tulis, kebersihan tempat belajar, dukungan peran orang tua, pengurus takmir dan masyarakat muslim khususnya selaku tokoh pemerintahan.

b. Faktor penghambat diferensiasi pendidikan karakter anak-anak, remaja dan dewasa yakni di antaranya; latar belakang berbagai macam karakter kepribadian peserta didik, lingkungan sosial yang kurang kondusif dan fasilitas pembelajaran yang belum memadai.

B. Saran

1. Pengurus takmir Masjid Al-ikhlas Dusun Sarirejo Kelurahan Sidorejo Lor Kecamatan Sidorejo sebaiknya berkerjasama dengan Instansi Kampus IAIN Salatiga secara terprogram dalam mengajar pendidikan Agama Islam maupun program KKN (kuliah kerja nyata).

2. Kurikulum pendidikan karakter bisa lebih komprehensif. Contoh: melengkapi referensi buku-buku karakter seperti Thomas Likcona dan lain-lain.

3. Pengurus takmir dan pendidik sebaiknya melakukan pembenahan admistrasi secara bertahap.

4. Melengkapi kebutuhan terkait fasilitas pendidikan karakter.

5. Pendidik sebaiknya mengikuti seminar pendidikan di manapun guna meningkatkan keprofesionalan dalam mengajar.

6. Pengurus takmir sebaiknya bekerjasama dengan lembaga-lembaga zakat, organisasi masyarakat dan komisi perlindungan anak Kota Salatiga terkait pembinaan pendidikan karakter.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim Mahmud, Ali. Tarbiyah Khuluqiyah Pembinaan Diri Menurut Konsep Nabawi, Terj. Afifudin, Solo: Media Insani, 2003.

Abdulhak, Ishak dkk. Penelitian Tindakan dalam Pendidikan Non Formal, Jakarta: PT. Raja Grafindo Pustaka, 2012.

Almerico, Gina M, “Building character through literacy with children’s literature”, Research in Higher Education Journal, 26 (2014):1-13.

Andriezens. Pengaruh Pendidikan Formal, Non Formal dan Informal Terhadap Prestasi Pendidikan. Jakarta:Yudistira, 2008.

A. Z., Aushop, Islamic Character Building: Membangun Insan Kamil, Cendekia Berakhlak Qurani. Bandung: Grafindo Media Pratama, 2014.

David, Fred R. Strategic Management: Concepts dan Case. New Jersey:Prentice Hall, 2013.

Deddy, Mulyana. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:Remaja Rosdakarya, 2003.

Setiawan, Deny. “Peran Pendidikan Karakter dalam Mengembangkan Kecerdasan Moral”, Jurnal Pendidikan 4, (2013), 1-15.

Sabar Rudi Raharjo, “Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia”, Jurnal Pendidikan 16, (2010), 45-60.

Djumransyah dkk. Pendidikan Islam Menggali “Tradisi”Meneguhkan Eksistensi.

Malang:UIN Pres, 2007.

Elly M. Setiady dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006, 73.

Hadaeri dkk. Pendidikan Agama dalam Perspektif, Jakarta:Gaung Persada, 2007. Hamalik, Oemar. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta:Bumi Aksara, 2011. Hasbullah. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta:Rajawali, 2009.

Howard, Kirschenbaum, ”From Values Clarification to Character Education:A Personal Journey”, The Journal of Humanistic Counseling Educationand Development, 39 (2000), 4-20.

Ihsan, Fuad. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta:Rineka Cipta, 2002.

Kahmad, Dadang . Sosiologi Agama, Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2009. Kesuma, D., Triatna, C., & Permana, J. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan

Praktik di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013, 7.

Lickona, Thomas. Character Matters:Persoalan Karakter, terj. Jumawadu Wamaungu & Jean Antunes Rudolf Zien dan Editor Uyu Wahyuddin dan Suryani, Jakarta:Bumi Aksara, 2012.

Lickona, Tomas . “A Comprehensive Approach To Character Building In Catholic Schools”, A Juournal Of Inquiry And Practice 1 (2017):158-175. Maunah, Binti. Ilmu Pendidikan,Yogyakarta:Teras, 2009.

Mulyana, Deddy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:Remaja Rosdakarya, 2003.

Nasir, Akhmad. “Strategi Penanaman Nilai-nilai Keislaman Bagi Karyawan Tempat Hiburan Malam”, Tesis, UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Nurhasanah Dan Qathrin Nida, “Character Building Of Students By Guidance And Counseling Teachers Through Guidance And Counseling Services”, International Multidisciplinary Journal 4 (Januari, 2016):56-76.

Raharjo, Sabar Rudi. Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia”, Jurnal Pendidikan 16 (2010): 5-8.

Samani, M. & Hariyanto. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.

Setiawan, Deny. Peran Pendidikan Karakter dalam Mengembangkan Kecerdasan Moral, Jurnal Pendidikan 1 (2013), 5-7.

Sudjana, D. Pendidikan Nonformal:Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafah dan Teori Pendukung serta Asas, Bandung:Falah Production, 2001.

Sudrajat, Ajat. “Mengapa Pendidikan Karakter?”, Jurnal Pendidikan Karakter 1 (2011):30-50.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&I, Ganesa, Bandung: 2006.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Jakarta:PT. Remaja Rosdakarya, 2007.

Supiah dkk, Pengembangan Pendidikan Budidaya dan Karakter Bangsa Melalui Pembelajaran Matematika, Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Pendidikan, 2011.

Suwito. Filsafat Pendidikan Akhlak Ibn Miskawaih, Yogyakarta: Belukar, 2004. Suyatno. Urgensi Pendidikan Karakter, Jakarta:Depdiknas, 2009.

Syukur, Fatah. “Reorientasi Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Dan Deradikalisasi Agama”, Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan. Vol. 23. No.3 (2015):1-130.

Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:Bumi Aksara, 2008.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Dokumen terkait