TEMUAN PENELITIAN 4.1 Proses Penelitian
4.2 Temuan Penelitian
4.2.6 Faktor penghambat/kendala yang dihadapi dalam melakukan media relations relations
Dalam melakukan hubungan yang baik dengan media, Humas Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara menghadapi beberapa hambatan atau kendala. Salah satunya adalah keterbatasan anggaran yang di tampung dalam DIPA Bagian Humas untuk mendukung pelaksanaan kegiatan media relations. Jumlah dana yang belum memadai tentu berpengaruh terhadap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan Humas yang sifatnya membangun hubungan yang baik dan akrab dengan media secara institusi dan wartawan sebagai pekerja media.
Disamping itu adanya kebijakan pemerintah dalam rangka efisiensi anggaran negara untuk hal-hal yang dianggap tidak urgent dan memiliki dampak yang luas bagi kesejahteraan masyarakat juga menjadi salah satu kendala dalam menjalankan praktik media relations.
Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi RI telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2014 yang berisi larangan beriklan dan mengucapkan selamat di media massa dengan menggunakan anggaran
pemerintah baik APBN maupun APBD. Dengan adanya peraturan ini berimplikasi kepada proses hubungan kerja antara Humas dengan media, karena mempersempit ruang gerak humas dalam melakukan hubungan kerjasama dengan pihak media.
Selain itu aturan pemerintah tersebut juga berimbas pada menurunnya pendapatan pihak media, karena iklan merupakan salah satu sumber income bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Seperti diungkapkan Kabag Humas, Donna Nursiti Situmeang, SIP :
“Kalo dari sisi jumlah anggaran yang tersedia sih belum ideal..karena anggaran yang tersedia masih belum memungkinkan untuk mendukung semua kegiatan-kegiatan yang kita rencanakan dalam hal membina hubungan baik dengan media. Belum lagi aturan-aturan yang membatasi penggunaan APBD untuk hal-hal yang dianggap kurang penting. Tapi dari sisi postur pembagian anggaran, saya pikir sudah cukup bagus. Hampir 60 persen anggaran di tujukan untuk kegiatan media relations, sisanya untuk anggaran operasional jajaran humas seperti biaya perjalanan dinas. ”
Prinsip kemandirian media di daerah juga belum sepenuhnya dilaksanakan akibat tingkat kesejahteraan wartawan yang masih rendah. Mayoritas wartawan masih menganut paradigma bahwa segala sesuatunya harus berhubungan dengan materi. Hal itu menjadi kesulitan tersendiri bagi pihak humas jika melaksanakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan media relations, karena akhirnya wartawan memiliki pola pikir bahwa setiap kegiatan tersebut harus memberikan manfaat secara materi guna mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Hal itu diungkapkan oleh Rinto Aritonang, wartawan media online Antara:
“Klo kita mau jujur, banyak sekali pekerjaan rumah terkait wartawan yang saat ini .Wartawan belum siap menjadi profesional karena berbagai hal
seperti kesejahteraan yg belum memadai, latar belakang pendidikan dan pemahaman tentang dunia jurnalistik yang masih kurang. ”
Permasalahan tersebut tidak serta merta berlaku untuk semua wartawam yang memiliki tugas peliputan di Tapanuli Utara karena sebahagian media telah memiliki prinsip kemandirian ekonomi dengan memberikan kesejahteraan yang memadai bagi pekerja media di lapangan. Disamping itu juga terdapat sebagian wartawan yang tidak hanya mengandalkan pekerjaannya sebagai jurnalis untuk kebutuhan hidup, tapi kreatif dalam menambah penghasilan melalui usaha sampingan. Seperti yang diutarakan Tulus Sibuea yang merupakan jurnalis Metro TV :
“Kalo anggaran itu relatif, bagaimana memoles anggaran yang kecil menjadi sangat berarti ya..itu tugas mereka. Kabag humas kita kan mantan wartawan, aku pikir dia harus mencari jalan keluar. Bukan terpaku pada anggaran yang kecil. ”
Hal itu juga dipertegas oleh Robert Siregar sebagai wartawan Harian Medan Bisnis :
“ Misalnya, bila kami terjun kelapangan, pemkab tidak kami bebani dengan hal-hal lain seperti materi. Ya kalo dikasih uang rokok ya syukur.
ga dikasih ga apa2 koq. Meliput itu kewajiban kita, kami tidak berhak menuntut itu. Justru bila pihak pemred mendapat surat kaleng terkait penyalahgunaan profesi. Ya, kami akan selesai alias dipecat. ”
Profesionalisme dan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu syarat dalam menciptakan pers yang bermartabat. Namun tak bisa dipungkiri bahwa umumnya profesionalisme maupun kualitas wartawan di daerah belum produktif seperti yang diharapkan oleh peraturan perundang-undangan.
Persoalan kemandirian media, latar belakang maupun tingkat pendidikan, serta pemahaman tentang profesi dan kode etik jurnalistik menjadi permasalahan yang rumit dan kompleks dalam dunia kewartawanan. Hal itu juga yang menjadi salah satu kendala atau hambatan dalam menjalin hubungan baik antara media dengan pihak humas.
Akibat kurangnya kualitas kompetensi sumber daya manusia para wartawan yang ada di daerah tersebut tentu memunculkan disparitas informasi dengan Bagian Humas. Seringkali ditemui di lapangan kasus kesalapahaman antara wartawan dengan jajaran humas akibat kurangnya pemahaman akan kode etik jurnalistik dan Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers. Masalah tersebut juga berimbas pada persepsi para wartawan terhadap jajaran humas yang tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam hal pengiriman rilis berita. Sub bagian dokumentasi dan pemberitaan yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam hal pemberitaan biasanya selalu mengirimkan rilis berita ke masing-masing wartawan melalui surat elektronik (e-mail). Namun hal itu tetap menimbulkan ketidak puasan bagi wartawan karena tidak diikuti dengan pemberitahuan melalui pesan SMS (short message service) atau telepon selular terkait pengiriman rilis berita tersebut.
Hal itu diutarakan oleh Volmer Silalahi sebagai Kasubbag Dokumentasi dan Pemberitaan :
“Kendala lainnya adalah perbedaan kepentingan antara humas dengan media, karena sebagus apapun pelayananan kita, tetap saja kurang dimata sebagian pers. Karena berbagai motif seperti kepentingan media baik secara organisasi maupun personal,misalnya dalam hal rilis berita,udah kita kirim ke email masing-masing tiap ada kegiatan. Tapi mereka tetap aja komplain, karena harus kita hubungi atau minimal SMS juga untuk dinaikkan.ini kan menunjukkan teman-teman wartawan itu belum
Salah seorang staf sub bagian dokumentasi dan pemberitaan, Nurminda Sari Wulan juga mempertegas hal itu :
“ Kita harus akui kalo kebanyakan rekan-rekan pers belum memiliki kompetensi yang memadai di bidang jurnalistik, banyak lho mereka yang belum tau Undang-undang tentang Pers dan juga Undang-undang Keterbukaan Informasi. Belum memahami seutuhnya kode etik jurnalistik .”
Hal itu juga diakui juga oleh Robert Siregar, wartawan Harian Medan Bisnis yang mengemukakan bahwa kesalahpahaman sering muncul akibat kurangnya pemahaman para pekerja media terhadap profesi yang digelutinya :
“Dalam UU pers itu jelas ada rambu-rambu, ada kode etik..kalo pers itu kebablasan berarti Dewan Pers gak kerja..di UU tersebut jelas diatur seperti kesejahteraan wartawan, maupun manajemen media. Perusahaan media harus melaporkan laporan keuangannya secara berkala kepada dinas tenaga kerja terkait..seperti apakah wartawan pada media tersebut digaji sesuai UMR atau UMP. kita menunggu keberanian dan ketegasan dewan pers untuk menegakkan undang-undang itu.klo itu dilaksanakan ga usah muluk-muluk, paling 5 media yang ada di Sumut ini. jadi ga usah berkoar-koar tentang keadilan, kebenaran dan segala macamnya, padahal intern perusahaan sendiri pun belum diurus secara becus”.
Bicara kinerja Humas, jujur saja bila kita buka email saya, rilis berita yang dikirim humas itu banyak.Tapi itu ga jalan, karena humasnya hanya sekedar kirim ke email aja. Ga ada tindak lanjutnya seperti pemberitahuan kekami,kan bisa di telpon atau di sms bahwa ada berita penting yang dikirim pihak humas. Minta tolong untuk diterbitkan,kan enak.”
Permasalahan lainnya yang menjadi kendala dalam praktik media relations adalah fungsi Bagian Humas sebagai pusat organisasi dengan sistem satu pintu belum sepenuhnya diimplementasikan. Undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik mengamanatkan Kabag Humas sebagai Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi serta mengharuskan unit kerja
tersebut sebagai pelaksana dan pengelola informasi dan komunikasi di lingkungan pemerintah. Namun persoalan kelembagaan berupa keterbatasan kewenangan dalam melaksanakan amanat undang-undang tersebut menjadi salah satu kendala dalam melakukan hubungan dengan media yakni sebagai sumber utama informasi untuk kebutuhan berita. Hal itu diutarakan oleh Anwar Lubis sebagai Wartawan Harian Sinar Indonesia Baru sebagai berikut :
“Harusnya humas atau kominfo menjadi sumber berita yang utama sehingga rekan-rekan wartawanan tidak berkeliaran ke OPD-OPD atau unit kerja yang dibawahnya. ”
Permasalahan lainnya yang dialami dalam menjalin hubungan dengan media adalah kompetensi jajaran humas dalam menulis rilis berita yang belum baik. Kemudahan layanan mendapatkan sumber berita kepada wartawan tidak diimbangi dengan kualitas rilis setiap kegiatan yang bernilai jurnalistik. Hal itu tidak menimbulkan ketertarikan media baik intitusi maupun pekerja media untuk menjadikannya berita yang akan disebar ke publik.
Hal itu diungkapkan Tulus Sibuea, Jurnalis Metro TV :
“ Isi rilis berita yang di-share humas via fb masih datar-datar saja, masih cenderung menonjolkan bupati ketimbang nilai kegiatan yang dilaksanakan. Harusnya jajaran humas sudah memahami cara membuat berita bernilai jurnalistik, bagaimana cara membuat berita dengan pola 5W+1H.jadi dengan membaca berita via media massa, masyarakat mengetahui dan memahami program kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemkab. Nah,klo masyarakat udah tau manfaat program kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemkab untuk mereka,tentu masyarakat akan memberi dukungan kepada pemerintah dalam hal pelaksanaan pembangunan.”
Hal itu juga dipertegas oleh Hengki Tobing selaku wartawan Harian Palapa Pos dalam kutipan wawancara sebagai berikut :
“ Saya gak pernah menjadikan rilis sebagai sumber berita karena menilai rilis yang dikeluarkan humas datar-datar saja, tidak menarik dan bahasanya terkesan hiperbola dengan kencenderungan membanggakan kinerja bupati saja. ”
Kendala lainnya yang muncul dalam implementasi media relations oleh Bagian Humas adalah kurang dilibatkannya para wartawan dalam peliputan langsung kegiatan-kegiatan pelaksanaan pembangunan di lapangan. Upaya pihak Humas yang memberi layanan untuk mempermudah akses para wartawan mendapatkan informasi seputar pemerintahan dan pembangunan di daerah tersebut dianggap bukan merupakan solusi yang tepat untuk mendekatkan diri antara satu dengan lainnya. Seperti yang diutarakan oleh Tulus Sibuea, Jurnalis Metro TV sebagai berikut:
“Harusnya humas itu lebih melibatkan wartawan turun kelapangan untuk meliput langsung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemkab. Harus ada pemberitahuan dari humas ke wartawan tentang kapan dan dimana semua kegiatan pemkab dilakukan, dengan demikian kami wartawan ini bisa mempersiapkan diri mengikuti peliputan. Kami juga senangnya ingin meliput langsung peristiwa atau kegiatan pemkab, jadi bisa melihat fakta atau nilai-nilai berita yang terkandung dalam kegiatan tersebut dan menyajikannya untuk kami kabarkan ke masyarakat. ”
Dinamika lain yang timbul hingga menjadi permasalahan dalam membangun hubungan yang baik dengan media adalah adanya pandangan atau anggapan wartawan bahwa pihak humas tidak berlaku adil dalam memperlakukan mereka terkait kemudahan akses mendapatkan materi-materi informasi. Hal itu diungkapkan oleh Tulus Sibuea, Jurnalis Metro TV sebagai berikut :
“Harusnya ada perlakuan yang sama. Jangan ada istilah wartawan “plat merah” dan “plat kuning”.Jangan ada pengkotak-kotakan terhadap wartawan, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan diantara sesama
wartawan yang pada akhirnya akan merugikan citra humas itu sendiri dimata media.”
Kendala lainnya yang peneliti temukan dari hasil observasi di lapangan adalah kurangnya koordinasi dan sinergitas antar unit kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli dengan humas dalam melakukan praktik media relations. Pimpinan-pimpinan SKPD memiliki pemahaman bahwa hubungan dengan media merupakan tanggung jawab Bagian Humas semata. Adanya persepsi bahwa media relations hanya tangggung jawab humas saja mengakibatkan kurangnya koordinasi dan sinergitas dalam menyediakan dan memasok informasi sebagai materi berita yang akan disebar oleh media.
Permasalahan ini menimbulkan minimnya kuantitas dan kualitas informasi yang dimiliki humas dan berimbas pada timbulnya kecurigaan di kalangan wartawan akan adanya ketidak beresan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan terhadap masyarakat. Selain itu para kepala SKPD terkesan alergi menghadapi para wartawan yang hendak melakukan konfirmasi dan cenderung menyerahkan pencarian solusi kepada Bagian Humas ketika timbul sebuah masalah yang dihadapi dinas terkait.
Hal itu diungkapkan Donna Situmeang sebagai Kabag Humas dalam kutipan wawancara berikut:
“Kendala lainnya yaitu pemahaman para kepala OPD terkait media relations ini masih masih lemah. Mereka beranggapan klo udah menyangkut hubungan dengan media melulu hanya tanggung jawab humas saja, padahal tidak kan. Harusnya humas dan instansi lainnya saling bersinergi, bukan mengedepankan ego sektoral, jangan kalo udah ada gesekan dengan wartawan baru datang ke kami,kan ga fair.”
4.2.7 Citra Bagian Humas yang tercipta dalam menjalin hubungan dengan