• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

3. Faktor Penghambat Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) merupakan bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempercepat penyelesaian masalah permukiman kumuh. Hal ini sesuai dengan salah satu langkah untuk mengimplementasikan kebijakan menurut Handoyo (2012: 101) yaitu kebijakan dapat langsung diimplementasikan dalam bentuk suatu program. Sebagai bentuk suatu kebijakan, program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) tidak terlepas dari adanya hambatan maupun kendala yang perlu diselesaikan. Hambatan atau kendala yang dihadapi dalam penerapan program KOTAKU di Kabupaten Pekalongan menurut penjelasan Ibu Asrotun sebagai kepala seksi penyehatan lingkungan permukiman bidang cipta karya Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan yaitu sebagai berikut.

“terkait kendala itu ada beberapa yang masih menjadi PR kita kedepannya yaitu (1) kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya kawasan permukiman yang bersih dan sehat, (2) adanya pihak-pihak yang hanya mengambil keuntungan dari adanya program KOTAKU, (3) perilaku masyarakat yang sulit untuk berubah seperti membuang sampah dan buang air besar sembarangan, biasanya karena sudah menjadi kebiasaan dan turun temurun (wawancara tanggal 3 Februari 2020)”.

Adapun faktor yang menghambat program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan berdasarkan hasil wawancara mengacu pada dua hal utama yaitu sumber daya manusia dan komunikasi. Hal ini diungkapkan oleh koordinator TIPP Kelurahan Bligo, Bapak Budi Nuryanto dalam kutipan sebagai berikut.

“Penyebab utama hambatan ya dari masyarakatnya mbak, terutama dari kesadarannya dan juga banyak komplain atau keluhan dari masyarakat. Ada masyarakat yang mau diajak kerja sama untuk memperbaiki lingkungan permukiman, tapi juga ada masyarakat yang sulit untuk diajak kerja sama.

Selain itu juga ada ketidakharmonisan sesama pengurus BKM. Koordinator BKM yang sekarang itu orangnya kaku mbak, terlalu saklek. Jadi akibatnya terjadi ketidakharmonisan antara anggota BKM dengan koordinator BKM”

(wawancara tanggal 30 Januari 2020).

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Istiqomah sebagai koordinator BKM Kelurahan Bligo, yang menyatakan bahwa kendala dalam pelaksanaan program KOTAKU di Kelurahan Bligo terletak pada masyarakat dan koordinasi pelaksana. Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Istiqomah dalam kutipan hasil wawancara sebagai berikut.

“untuk hambatan itu ada dari masyarakat juga dari pelaksana Mbak.

Kalau dari masyarakat itu seperti masih adanya masyarakat yang tidak mau diperbaiki dalam program KOTAKU sehingga menimbulkan adanya peralihan. Kemudian dari pelaksana sendiri itu seperti internal BKM yang kurang harmonis dan kurang koordinasinya. Saya sebagai koordinator saja tidak mengetahui kalau ada peralihan pembangunan itu” (wawancara tanggal 8 Februari 2020).

Adanya peralihan pembangunan dalam program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo didukung oleh gambar berikut.

Gambar 4.12 lokasi peralihan pembangunan drainase (sumber: dokumentasi KSM Flamboyan BKM Mandiri)

Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat adanya peralihan pembangunan drainase di RT 15 Kelurahan Bligo. Gambar sebelah kiri merupakan lokasi awal pembangunan terletak di daerah RT 15 yang berbatasan dengan RT 3. Lokasi awal ini pada tahap perencanaan akan dibangun drainase karena kondisi jalan yang tidak memiliki sistem drainase di kedua sisi sehingga menyebabkan terjadinya banjir lingkungan. Akan tetapi, karena adanya masyarakat setempat yang menolak, maka pembangunan dialihkan di daerah RT 15 yang berbatasan dengan RT 6. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan karena kondisi lokasi pengganti belum tentu sama dengan kondisi lokasi awal. Terjadinya peralihan pembangunan menunjukkan masih adanya ketidaksiapan sebagian masyarakat sebagai sumber daya yang utama sehingga menyebabkan pelaksanaan program KOTAKU tidak sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

Hambatan dari pelaksana program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kelurahan Bligo juga dibenarkan oleh Lurah Bligo dalam kutipan wawancara berikut.

“ya kalo disini itu hambatannya dari pelaksana, jadi untuk pelaksana sudah dibentuk ok, ternyata yang bersangkutan tidak melaksanakan sehingga akhirnya di handle oleh orang lain, jadi istilahnya seperti

“njagake” dan kelurahan juga harus mengoprak-oprak mungkin bahasanya agar program itu dijalankan” (wawancara tanggal 27 Januari 2020).

Lain halnya dengan beberapa pendapat diatas, Bapak Faizin selaku masyarakat sekaligus ketua RT 15 mengemukakan bahwa

“hambatan yang tahun kemarin tukang nya kurang disiplin, maksudnya, kemarin tukang itu galinya kurang pas, misalkan kalau motong aspal itu tidak tanya dulu, semua dipotong jadi menghambat. Jadi motongnya harusnya salah satu, ini langsung dipotong semua. Anggarannya kurang transparan kalo menurut saya” (wawancara tanggal 13 Maret 2020).

Senada dengan Bapak Faizin, saudari Yunita sebagai masyarakat sekaligus anggota KSM Flamboyan juga menyampaikan hambatan program KOTAKU di Kelurahan Bligo dalam kutipan wawancara berikut.

“…kalau ada pengecekan dari atasan, ternyata ada yang tidak sesuai dan menghendaki dibongkar ya harus dibongkar lagi mbak walaupun sudah mulai dibangun sehingga menambah anggaran yang dibutuhkan. Kemudian kendala lainnya, pas pembangunan ini seperti tukangnya itu kalau lagi membangun di sebelah sini belum selesai tapi sudah pindah ke tempat lain, jadi tidak urut. Kemudian kalau misalnya sudah mulai dibangun tetapi dibongkar itu kan memerlukan anggaran lagi, nah itu biasanya tetap menggunakan anggaran tersebut” (wawancara tanggal 12 Maret 2020).

Dari beberapa pernyataan yang telah dipaparkan, maka dapat peneliti simpulkan bahwa faktor penghambat dalam program KOTAKU di Kelurahan Bligo meliputi beberapa hal pokok sebagai berikut.

a. Sumber Daya

Sumber daya yang dinilai menghambat selama pelaksanaan program KOTAKU di Kelurahan Bligo berlangsung berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan terkait yaitu sumber daya manusia yang meliputi tiga aspek yaitu anggota BKM sebagai pelaksana program, sebagian masyarakat yang menolak pembangunan lingkungan, dan pekerja yang dinilai tidak efisien dalam proses pembangunan sehingga penyelesaian program KOTAKU Kelurahan Bligo pada tahun 2019 melebihi waktu yang telah ditentukan. Hambatan dari segi sumber daya manusia tersebut berupa adanya penolakan dari sebagian masyarakat karena kurang memahami manfaat program KOTAKU untuk memperbaiki kualitas lingkungan sehingga terjadi peralihan pembangunan di RT 15 tanpa sepengetahuan koordinator BKM.

Masyarakat dalam program ini pada dasarnya berperan sebagai pelaku utama karena konsep dari program KOTAKU adalah pemberdayaan masyarakat. Tanpa adanya dukungan dan komitmen dari masyarakat, maka keberhasilan untuk mencapai tujuan menjadi sulit untuk direalisasikan.

Adanya masyarakat yang menolak program dan proses pembangunan yang tidak dilakukan dengan efektif akan berakibat pada ketidaksesuaian anggaran perencanaan dengan kegiatan pelaksanaan sehingga membuat program KOTAKU di Kelurahan Bligo belum berjalan secara maksimal.

b. Komunikasi

Komunikasi menjadi hal penting dalam penerapan program KOTAKU di Kelurahan Bligo yang bertujuan untuk menyamakan persepsi semua pihak yang terlibat agar bersama-sama mengatasi masalah kawasan kumuh.

Komunikasi yang baik akan menciptakan koordinasi dan kolaborasi yang baik pula sehingga saling bersinergi untuk mencapai tujuan sesuai dengan tahap perencanaan. Akan tetapi, pada kenyataannya komunikasi berbagai pihak terkait kurang berjalan dengan lancar sehingga menjadi salah satu faktor yang menghambat program KOTAKU di Kelurahan Bligo. Kondisi ini menimbulkan adanya masalah koordinasi dari internal Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dengan fasilitator maupun dengan masyarakat sehingga mengakibatkan beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan perencanaan yang sudah disusun. Adanya hambatan dari aspek komunikasi dapat dilihat dari kegiatan Rembug Warga Tahunan (RWT) yang baru dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2020 dan belum dibentuknya KPP (Kelompok Penerima Manfaat dan Pengelola).

Tabel 4.6 Rembug Warga Tahunan (RWT) desa/kelurahan di Kecamatan Buaran Tahun 2019

Desa/Kelurahan BKM Luas

Daerah Kumuh

Pelaksanaan RWT

Desa Simbang Wetan BKM Telaga Artha 18,708 Ha 31 Desember 2019 Kelurahan Simbang

Kulon

BKM Mandiri Sejahtera

33,150 Ha 5 Januari 2020

Desa Wonoyoso BKM Sejahtera 15,337 Ha 6 Januari 2020 Kelurahan Bligo BKM Mandiri 21,844 Ha 4 Februari 2020

(sumber: Forum Komunitas Antar/FKA- BKM Kecamatan Buaran Tahun anggaran 2019)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan RWT Kelurahan Bligo tahun 2019 lebih lambat satu bulan dibandingkan dengan desa/kelurahan lain di Kecamatan Buaran yang juga memperoleh program KOTAKU. Kegiatan RWT tingkat desa/kelurahan dapat dilakukan jika seluruh laporan pertanggungjawaban telah selesai dibuat oleh BKM dan siap untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Hal ini berarti bahwa keterlambatan pelaksanaan RWT Kelurahan Bligo menunjukkan keterlambatan pula pengurus BKM dalam menyelesaikan laporan pertanggungjawaban selama masa kerja 2019. Keterlambatan pengurus BKM dalam menyelesaikan laporan pertanggungjawaban dikarenakan adanya ketidakharmonisan komunikasi antar pengurus BKM.