• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA

5.1.3. Faktor Penunjang Keadaan Ekonomi Pedagang

Jalan lintas sumatera merupakan salah satu pusat aktifitas ekonomi pedagang di kecamatan Pahae Jae. Pedagang di jalan lintas sumatera, setiap harinya memperoleh pendapatan minimal Rp.100.000,-. Dengan pendapatan

tersebut, informan tersebut sudah bisa menghidupi keluarganya. Seperti hasil wawancara dengan informan berikut ini:

”Saya mendapatkan penghasilan perhari itu berkisar Rp 100.000,- sampai Rp 150.000,- dengan tanggungan anak

dan istri. Untung ada beberapa anak yang sudah menikah dan hidup jauh dari orang tua”.( Wawancara dengan Bapak Pane)

Secara umum kemampuan suatu unit usaha terletak pada faktor manusia dan sarana yang terlibat di dalamnya. Faktor manusia tercakup di dalamnya adalah sifat pribadi dan keterampilan. Sifat tersebut lebih banyak ditentukan oleh lingkungan dan tujuan hidup yang akan menentukan motivasinya berdagang. Sedangkan keterampilan diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Sarana yang dimaksudkan adalah kelengkapan usaha seperti tempat usaha, bahan baku dan lain sebagainya. Pengadaan sarana tersebut berasal dari modal usaha yang bisa berasal dari pinjaman maupun milik pribadi.

Pedagang yang memasuki kegiatan usaha berskala kecil di kota, bertujuan mencari kesempatan kerja dan pendapatan dari pada memperoleh keuntungan. Pada umumnya sektor ini merupakan ruang terbuka untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan dalam batas subsistensi.

a. Lokasi

Strategi yang dilakukan oleh pedagang untuk bertahan hidup salah satunya adalah strategi memilih lokasi. Jalan Lintas Sumatera merupakan lokasi yang strategis bagi pedagang karena banyak dilalui berbagai jenis kendaraan dan hal inilah membuat Jalan Lintas Sumatera sebagai lahan yang sangat menguntungkan bagi pedagang.

Seperti hasil wawancara dengan informan berikut ini:

”Menurut penuturan Bapak Lubis yang melatar belakangi Bapak Lubis berjualan di sekitar Jalan Lintas Sumatera, Jalan Lintas Sumatera adalah jalan Nasional yang menghubungkan antar provinsi dan Kabupaten sehingga banyak dilalui kendaraan yang melintas” (Wawancara dengan Bapak Lubis).

Hal tersebut diatas sejalan dengan teori pertukaran yang dikemukakan oleh George C. Homas, bahwa proses pertukaran dapat dilihat jelas melalui perilaku pertukaran sosial yang terjadi apabila perilaku tersebut harus berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat dicapai melalui interaksi melalui orang lain dan juga perilaku harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan-tujuan tersebut (Damsar, 2009).

b. Persaingan Usaha

Banyaknya pedagang yang membuka usaha di Jalan Lintas Sumatera, membuat para pedagang harus bersaing mendapatkan keuntungan. Mengingat pedagang yang membuka usaha rumah makan misalnya tidak tidak hanya satu orang saja.

Kehidupan ekonomi pedagang menjadi meningkat dan tingkat usahanya juga semakin pesat dengan semakin ramainya pedagang yang datang dan menjajakan barang dagangannya di Jalan Lintas Sumatera baik pagi, siang maupun sore. Pedagang menjadi pilihan bagi para pendatang sehingga sektor ini mampu menyerap dan memberikan lapangan pekerjaan di tengah persaingan kehidupan ekonomi.

Jalan Lintas Sumatera memang menjadi salah satu wadah dan lahan yang menjajikan bagi para pelakon yang menggantungkan diri pada usaha dagang.

Karena jumlah kendaraan yang melintas dan singgah sangat menunjang lancarnya usaha para pedagang.

Pedagang mencari situasi-situasi dimana bisa mendapatkan tanggung jawab pribadi guna mencari solusi atas berbagai masalah, bisa menerima umpan balik yang cepat tentang kinerja sehingga dapat dengan mudah mereka berkembang atau tidak, dan dimana mereka bisa menentukan tujuan-tujuan yang cukup menantang.

Teori ini sesuai dengan fenomena yang terjadi pada aktifitas yang dilakukan oleh para pedagang. Dengan kondisi ekonomi yang serba sulit, semangat kerja mereka tetap bertahan. yang telah termakan waktu tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap bekerja. Keinginan untuk maju dan menginginkan hidup sejahtera bagi keluarga, menjadi alasan yang utama memilih profesi sebagai pedagang.

Pusat perhatian dari kajian para ekonomi adalah pertukaran ekonomi, pasar, dan ekonomi. Sedangkan masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang diluar dia dipandang sebagai sesuatu yang telah ada given (dalam Damsar, 2009:46).

Perilaku tersebut merupakan hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh pedagang tersebut dan perilaku tersebut dapat menunjukkan bahwa manusia yang satu tergantung kepada manusia lain yang pada akhirnya menimbulkan kerja sama.

Menurut kajian sosiologi ekonomi bahwa dalam masyarakat terdapat proses dan pola interaksi sosial dalam hubungannya dengan ekonomi. Hubungan dilihat dari sisi saling pengaruh-mempengaruhi. Masyarakat sebagai realitas

eksternal-objektif akan menuntun individu melakukan kegiatan ekonomi seperti apa yang boleh diproduksi.

Semua orang perlu mengonsumsi pangan, sandang dan papan untuk bisa bertahan hidup. Oleh sebab itu manusia perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selanjutnya yang dimaksud dengan fenomena ekonomi adalah gejala dari cara bagaimana orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka. Cara yang dimaksud disini adalah semua aktifitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi barang-barang langka.

Jalan dalam hal ini pengemudi dan penumpang juga membutuhkan pedagang, dimana pada saat lapar dan kelelahan dengan mudah bisa mendapatkan makanan, minuman dan lain-lainnya dari para pedagang di sepanjang jalan lintas, dibanding harus membeli di tempat tujuan.

c. Lingkungan yang Mendukung

Jalan lintas sumatera adalah jalan utama yang menghubungkan kabupaten Tapanuli Utara, yang selalu dilalui berbagai macam kendaraan. Jalan lintas adalah incaran para pelaku pedagang dalam menjajakan barang dagangannya, karena menurutnya sekitar jalan merupakan tempat yang paling strategis dalam mendapatkan peruntungan ekonomis. Tidak ada larangan dari pihak pemerintah sehingga pedagang dengan bebas keluar melalukan aktifitas usahanya.

Dalam teori struktural fungsional dikemukakan bahwa sebuah masyarakat memiliki beberapa fungsi di dalamnya yang harus tetap dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang bisa menjamin kelangsungan hidup masyarakat.

Asumsi dari teori ini bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari pada anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan.

Keuntungan juga dirasakan oleh para pengemudi dan penumpang karena dengan adanya pedagang mereka tidak perlu jauh-jauh dalam berbelanja, karena pihak pelaku pedagang secara tidak langsung telah menyediakan barang-barang yang dibutuhkan.

Seperti hasil wawancara dengan informan berikut ini:

Kendaraan yang singgah di tempat dagangan ini adalah sepeda motor selebihnya mobil pribadi untuk membeli barang dagangan Ibu Miranti seperti minyak solar dan bensin. Ibu Miranti menjual minyak kepada kendaraan dengan cara getengan atau dengan per liter, rokok, minuman, roti dan lain-lain (Wawancara dengan Ibu Miranti).

Asumsi teori struktural fungsional melalui pendapat Ralph Dahrendorf (dalam Damsar, 2009), tentang asumsi dasar yang dimiliki oleh teori struktural fungsional yaitu Setiap masyarakat terdiri dari berbagai elemen yang terstruktur secara relatif mantap dan stabil yakni terpenuhinya kebutuhan supir dan penumpang pada umumnya.

5.2. Dampak Kerusakan Jalan Lintas Sumatera Pada Sektor Ekonomi

Dokumen terkait