• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Model CIPP Pembinaan Warga Gereja

BAB 5 EVALUASI MODEL CIPP PADA PEMBINAAN WARGA GEREJA

A. Implementasi Model CIPP Pembinaan Warga Gereja

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan oleh Eva Monica Teresa Kodongan & Lamhot Naibaho (Disertasi, 2022) bahwa untuk dapat memahami evaluasi konteks pada program pembinaan warga gereja maka peneliti mengajukan dua pertanyaan terhadap informan yaitu dasar pelaksanaan program pembinaan dan analisis kebutuhan para pemulung dalam mengikuti program pembinaan.

Pada pertanyaan pertama tentang dasar pelaksanaan program pembinaan terhadap warga gereja. MK memberi jawaban bahwa program pembinaan warga gereja merupakan program pelayanan yang sudah ditetapkan dimana gereja bertanggung jawab melaksanakan tugasnya untuk melayani dan membina jemaat. Pembinaan dan pengajaran sesuai dengan ajaran Alkitab yang salah satunya terdapat dalam Matius 28.107 Sementara menurut JL program pembinaan terhadap para pekerja sampah merupakan pelayanan yang terarah kepada orang-orang yang susah dan berkebutuhan.

107 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.1 butir1), 1116

BAB

5

GMIM sementara mengembangkan program pendampingan melalui pelayanan fungsional terhadap kelompok-kelompok pekerja. 108

Berdasarkan jawaban dari informan, dapat disimpulkan bahwa program pelayanan pembinaan warga gereja terhadap pemulung merupakan program pelayanan yang alkitabiah yang sudah ditetapkan sebagaimana yang menjadi tugas gereja. Begitu juga program pelayanan terhadap pemulung menjadi program GMIM yang mengembangkan program pendampingan kepada kelompok-kelompok pekerja. Sejalan juga dengan dasar dan tujuan program pelayanan GMIM Getsemani Sumompo.

Pertanyaan kedua adalah analisis kebutuhan para pemulung. MK memberi jawaban bahwa kaum pemulung mempunyai tingkat SDM (Sumber daya Manusia) yang terbatas sehingga pembinaannya juga adalah bagaimana membantu jemaat dalam memanage dan mengelola kehidupan mereka.109 Menurut JL kebutuhan para pekerja sampah adalah dengan melihat kerawanan dan ancaman dari pekerjaan, tentunya menjadi perhatian gereja juga. Sementara dibalik pekerjaan mereka ada ketidakwajaran yang terjadi berupa tindakan-tindakan diskriminasi sehingga melalui pelayanan pembinaan menjadi jalan untuk menasihati para pekerja sampah.110

Berdasarkan jawaban-jawaban dari informan maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pembinaan terhadap pemulung adalah pembinaan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia agar mampu mengelola kehidupan mereka serta tuntutan pekerjaan yang harus berhadapan dengan kerawanan dan ancaman, serta adanya tindakan diskriminasi.

Pertanyaan ketiga adalah berkaitan dengan tujuan pembinaan. MW dan JL memiliki jawaban yang hampir sama. MK mengatakan tujuan pembinaan adalah untuk mengarahkan kehidupan keberimanan jemaat agar sesuai dengan kehendak Tuhan.111 JL mengatakan bahwa tujuan pembinaan terhadap pemulung adalah untuk membina dan menyentuh kehidupan mereka dapat dipenuhi di dalam Yesus Kristus.112

108 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 1), 119

109 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WITA melalui voice call (lihat lampiran 1 no.1 butir 2), 116.

110 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 2), 119

111 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WITA melalui voice call (ihat lampiran 1 no.1 butir 3), 116.

112 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 3), 119

Berdasarkan jawaban informan maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pembinaan adalah membina, mengarahkan serta menyentuh kehidupan jemaat untuk hidup sesuai kehendak Tuhan sehingga dipenuhi di dalam Yesus Kristus.

2. Evaluasi Input Program Pembinaan Warga Gereja

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan oleh Eva Monica Teresa Kodongan & Lamhot Naibaho (Disertasi, 2022) bahwa Evaluasi input (masukan) dapat membantu dalam mengelola keputusan, menentukan alternatif yang perlu diambil dan ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan yang ada. Dalam memahami evaluasi input pada program pembinaan warga gereja maka peneliti mengajukan dua pertanyaan terhadap informan yaitu sasaran atau tujuan pembinaan dan analisis kebutuhan para anggota jemaat dalam mengikuti program pembinaan.

Pertanyaan keempat adalah terkait hal-hal yang akan diperoleh saat mengikuti program pembinaan. MK memberikan pendapat bahwa melalui program pembinaan akan membawa perubahan yang baik serta agar iman mereka semakin teguh dengan pengajaran firman dan mereka tetap menerima keadaan apapun.113 JL memberikan jawaban bahwa sasarannya sama saja seperti pada tujuan pembinaan yakni agar saat hidup mereka tersentuh dengan pembinaan melalui pengajaran firman mereka akan bekerja, berkarya sesuai kehendak Tuhan.114Dapat disimpulkan bahwa sasaran dalam mengikuti pembinaan adalah agar jemaat semakin teguh melalui pengajaran firman sehingga mampu bekerja sesuai kehendak Tuhan.

Pertanyaan kelima terkait dengan materi-materi yang diberikan pada program pembinaan warga gereja. Dari hasil wawancara dengan seluruh informan baik MK dan JL, mereka berpendapat bahwa pelayanan pembinaan warga gereja menggunakan pedoman utama yakni Alkitab serta menggunakan renungan-renungan yang merupakan terbitan GMIM yakni MTPJ dan RHK. 115116 Dapat disimpulkan bahwa pedoman yang digunakan

113 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WITA melalui voice call (lihat lampiran hal. no.)

114 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 4), 119

115 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WITA melalui voice call (ihat lampiran 1 no.1 butir 4), 116

116 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 5), 119

dalam pembinaan adalah Alkitab serta pedoman renungan-renungan terbitan GMIM seperti MTPJ dan RHK.

Pertanyaan keenam adalah pemimpin dalam pembinaan warga gereja.

MK menjawab bahwa yang memimpin pelayanan pembinaan warga gereja adalah para pelayan gereja dalam hal ini Pendeta, Vikaris Pendeta, Diaken dan Penatua sesuai dengan jadwal perkunjungan yang telah disusun. Akan tetapi kalau diaken dan penatua yang memimpin, kapasitas mereka yang terbatas membuat merekam memimpin berdasarkan buku pedoman yang ada. 117 JL mengatakan bahwa pemimpin ibadah sesuai dengan jadwal bisa pendeta, pelayan khusus ataupun melibatkan anggota jemaat. Berdasarkan hasil wawancara maka ditarik kesimpulan bahwa untuk pemimpin dalam pembinaan warga gereja adalah para pelayan khusus yakni para pendeta, vikaris Pendeta, Penatua dan Diaken dan bisa saja anggota jemaat. Akan tetapi kalau diaken dan penatua yang memimpin, kapasitas mereka yang terbatas membuat merekam memimpin berdasarkan buku pedoman yang ada.

Pertanyaan ketujuh adalah tentang sarana dan prasarana yang digunakan dalam pembinaan warga gereja. MK dan JL memberikan jawaban yang sama bahwa untuk pelayanan pembinaan berupa ibadah kolom dan ibadah kategorial kolom biasa dilakukan pada ibadah-ibadah rutin di rumah-rumah jemaat maka sarana dan prasarana yang digunakan adalah mimbar dan pengeras suara yang menunjang program pembinaan.118119 Berdasarkan hasil wawancara, maka untuk sarana dan prasaran yang digunakan adalah menyesuaikan dengan keadaan rumah-rumah jemaat oleh karena tempat yang dipakai adalah rumah-rumah jemaat. Namun untuk sarana yang menunjang adalah mimbar dan pengeras suara.

Pertanyaan selanjutnya terkait dengan materi-materi dalam pembinaan.

Jawaban MK, materi yang diberikan sesuai dengan pembacaan yang telah ditetapkan melalui MTPJ, bacaan yang ada diimplikasikan dengan melihat situasi dan keadaan jemaat. 120 JL menjawab bahwa materi pembinaan bagi pekerja sampah harus mengarah pada situasi dan kondisi mereka sehingga

117 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WITA melalui voice call Whatsapp (ihat lampiran 1 no.1 butir 5), 116

118 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call (ihat lampiran 1 no.1 butir 6), 116

119 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 6), 119

120 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call (lihat lampiran 1 no.1 butir 7), 117.

bisa memenuhi kebutuhan mereka. Pengajaran seperti semua pekerjaan adalah mulia, sekalipun pekerjaan di tempat yang kotor namun efek dan dampak dari pekerjaan sebagai pekerja sampah sangat berdampak.121 Berdasarkan hasil penelitian dari informan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa materi-materi pembinaan sesuai dengan MTPJ. Kemudian pengajaran-pengajaran dihubungkan dengan keadaan dan kondisi kehidupan dan pekerjaan para pemulung.

3. Evaluasi Proses Program Pembinaan Warga Gereja

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan oleh Eva Monica Teresa Kodongan & Lamhot Naibaho (Disertasi, 2022) bahwa Evaluasi Proses erat kaitannya dengan pelaksanaan Program pembinaan warga gereja di GMIM Getsemani Sumompo. Hal yang akan dilihat dalam tahap ini adalah tentang kemampuan para jemaat (yang bekerja sebagai pemulung) dalam pelaksanaan program, kemampuan para pelayan dalam menerapkan pembinaan serta hambatan-hambatan dalam proses pembinaan.

Pertanyaan kedelapan respon para anggota jemaat dalam menerima ajaran/pembinaan. MK menjawab bahwa rata-rata para pekerja sampah merupakan orang-orang yang tidak mempunyai latar Pendidikan yang tinggi sehingga kemampuan para anggota jemaat atau SDM mereka bisa dibilang terbatas. Pengajaran dan pembinaan perlu disampaikan dengan Bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah untuk dipahami. 122 Menurut JL, kemampuan mereka menangkap materi juga tergantung dari bagaimana cara penyampaian dari pemimpin sehingga perlu untuk menyederhanakan sesuai konteks keadaan para anggota jemaat. 123 Berdasarkan wawancara dengan para informan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian anggota jemaat merupakan orang-orang yang tidak mempunyai latar belakang Pendidikan yang tinggi sehingga tingkat sumber daya manusia mereka terbilang cukup terbatas. Dengan demikian para pelayan yang memimpin ibadah-ibadah diarahkan untuk menggunakan Bahasa-bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh para anggota jemaat serta dapat ditangkap dengan baik.

121 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 7), 120.

122Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call (lihat lampiran 1 no.1 butir 8), 117.

123 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 8), 120.

Pertanyaan kesembilan adalah terkait proses pelaksanaan pembinaan warga gereja. Jawab MK adalah tidak semua yang aktif terlibat dalam setiap peribadatan dan program pembinaan gereja.124 JL mengatakan banyak yang aktif dalam kegiatan pembinaan warga gereja.125 Berdasarkan jawaban informan dapat disimpulkan bahwa dalam program pembinaan warga gereja, tidak semua para anggota jemaat aktif.

Pertanyaan kesepuluh masih terkait dengan pelaksanaan program yakni tentang komunikasi dalam pembinaan. Jawaban JL, dalam proses pembinaan biasanya khotbah dan pernah diterapkan metode sharing sehingga terbuka untuk berbagi kisah dan pengalaman hidup berkaitan dengan materi/firman yang disampaikan.126 MK memberikan jawaban bahwa untuk pembinaan terhadap anggota jemaat diupayakan melalui kunjungan-kunjungan dari rumah ke rumah, di dalamnya kami saling berkomunikasi tentang bagaimana keberadaan kehidupan mereka. Melalui proses ini terjadi komunikasi dua arah. 127 Dapat disimpulkan bahwa pembinaan yang diterapkan melalui metode khotbah. Metode lainnya seperti sharing dan perkunjungan dari rumah ke rumah jika ada dapat membuat terciptanya komunikasi dua arah.

Pertanyaan kesebelas terkait dengan hambatan dalam pembinaan terhadap warga gereja. Jawaban MK, tidak ada yang membedakan pelayanan di TPA dan bukan TPA. selama dijadwalkan maka harus melayani, sehingga tidak ada hambatan dalam pelayanan terhadap orang-orang di TPA. 128 JL memberikan jawaban, hambatan yang biasanya terjadi adalah terkait dengan waktu yang disesuaikan dengan pekerjaan mereka sehingga ada kalanya ibadah molor ataupun mereka tidak hadir tepat waktu. 129 Dapat disimpulkan bahwa hambatan dari para pelayan yang memimpin tidak ada. Namun hambatan yang sering terjadi lebih mengarah kepada para anggota jemaat yang menyesuaikan dengan pekerjaan mereka sehari-hari sehingga ada waktu

124 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call (lihat lampiran 1 no.1 butir 9), 117.

125 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal16 Juli 2022 pukul 19.00 WITA melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 9), 120

126 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 10), 120

127 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call (lihat lampiran 1 no.1 butir 10), 117.

128 Hasil Wawancara dengan MK pada tanggal 27 Juli 2022 pukul 10.15 WIB melalui voice call (lihat lampiran 1 no.1 butir 11), 117.

129 Hasil Wawancara dengan JL pada tanggal 22 Juli 2022 pukul 11.30 WIB melalui voice call Whatsapp (lihat lampiran 1 no.2 butir 11), 120.

dimana mereka tidak hadir tepat waktu ataupun ibadah mengalami keterlambatan.

4. Evaluasi Produk Program Pembinaan Warga Gereja

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan oleh Eva Monica Teresa Kodongan & Lamhot Naibaho (Disertasi, 2022) bahwa Evaluasi product bertujuan untuk menunjukkan masukan tentang bagaimana keputusan dalam kelanjutan program dan juga mengenai hasil yang dicapai dalam pelaksanaan program. MK mengatakan dengan pengajaran-pengajaran yang diberikan menumbuhkan iman percaya, semakin mengenal kebenaran. Melalui pembinaan yang kita berikan mampu membuat mereka menerima keadaan mereka karena selalu diingatkan untuk tetap bersyukur dengan setiap keadaan yang ada.130 Jawaban JL, Pembinaan yang sering diberikan bermanfaat bukan hanya dari sisi rohani tetapi jasmani. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sosial.131 Berdasarkan hasil wawancara, dapat ditarik kesimpulan bahwa manfaat program pembinaan ini dapat dilihat dari bagaimana para anggota jemaat mampu menerapkan secara praktis setiap ajaran yang mereka terima. Melalui pembinaan yang dilakukan mampu membuat mereka menerima keadaan mereka karena selalu diingatkan untuk tetap bersyukur dengan setiap keadaan yang ada serta tentang pemenuhan kebutuhan social.

B. PENERAPAN EVALUASI MODEL CIPP PADA PEMBINAAN WARGA

Dokumen terkait