Pada masyarakat Batak Toba di Kecamatan Dolok Sanggul,terjadinya pemberian tanah melalui pauseang disebabkan beberapa faktor, sebagaimana yang diuraikan berikut ini:
108
Dirman Sinambela, tokoh adat di Desa Sihite I, hasil wawancara tanggal 18 Desember 2013
109 Bontor Sinambela, tokoh adat/ Kepala Desa Janji, hasil wawancara tanggal 18 Desember 2013
1. Faktor Kasih Sayang (Holong Ni Roha )
Wujud rasa kasih sayang orangtua kepada anaknya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya adalah melalui pemberian. Pada masyarakat Batak Toba secara umum dikenal adanya pemberian yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya, baik kepada anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada masyarakat Batak Toba khususnya di Kecamatan Dolok Sanggul, pemberian orangtua kepada anak laki-laki disebut denganpanjaean.
Panjaean diberikan kepada anak laki-laki sebagai modal pertamanya dalam rumah tangga yang baru dibentuknya.Orangtua yang memiliki cukup harta, biasanya memberikan sawah (hauma), ladang, kebun (kobun), rumah (jabu), perhiasan maupun emas sebagaipanjaean. Akan tetapi, bagi orangtua yang keadaan ekonominya lemah,panjaeanyang diberikan dapat berupa hewan peliharaan seperti sepasang ayam maupun alat-alat yang biasa digunakan untuk bertani.110
Dalam hukum adat Batak, dikenal perumpamaan (umpasa) Dompak marmeme anak Dompak marmeme boruyang berarti anak, baik anak laki- laki maupun anak perempuan sama-sama disuapi makanan dengan cara yang sama. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa anak laki-laki dan anak
perempuan tidak dibedakan, dimana masing-masing anak diberi rasa kasih sayang yang sama. Orangtua memberikanpanjaeankepada anak laki-laki, demikian juga kepada anak perempuan juga diberikan apa yang dinamakan
pauseang.
Menurut Tunas Pasaribu, di Desa Pasaribu tanah pauseang diberikan kepada anak perempuan pada setelah melangsungkan perkawinan tanpa membedakan antara anak perempuan tertua dengan yang lebih muda. Pemberian tanah pauseang dilakukan orangtua dikarenakan ingin menunjukkan rasa kasih sayangnya yang tidak pernah putus kepada anak perempuan walaupun telah berumahtangga.111
Orangtua perempuan dengan sukarela memberikan bagian dari hartanya untuk keperluan hidupnya misalnya dengan memberikan ladang untuk menambah sumber mata pencaharian dari keluarga anak perempuannya, sebagaimana yang dilakukan oleh RS. RS memberikan ladang yang ditanami cabai terletak di Desa Silaga-laga yang dimilikinya agar anak perempuan dan menantunya (hela) tersebut dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya mengingat menantunya (hela) maupun anak perempuannya (boru) tersebut tidak memiliki pekerjaan yang layak.112
111Tunas Pasaribu, tokoh adat di Desa Pasaribu, hasil wawancara tanggal 12 Juni 2013 112RS, penduduk Desa Pasaribu, hasil wawancara tanggal 12 Juni 2013
Di samping itu, pemberian tanah pauseang kepada anak perempuan disebabkan oleh karena perempuan bukan sebagai ahli waris dalam hukum adat Batak Toba, pauseang menjadi salah satu cara agar orangtua dapat menunjukkan rasa sayang kepada anak perempuannya dengan tidak melanggar ketentuan adat tentang waris.
2. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi memiliki peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.Sebagaimana yang dikemukakan AT, tanah
pauseang yang diberikan diharapkan dapat menambah penghasilan keluarga anak perempuannya. AT berharap agar hasil yang diperoleh dari ladang dapat dipergunakan sebagai biaya sekolah cucunya.113Hal yang serupa juga dikemukakan oleh MS yang berpendapat bahwa walaupun memberi nafkah keluarga adalah tanggung jawab menantunya (hela)
sebagai seorang suami, akan tetapi sebagai orangtua, MS dapat membantu menambah penghasilan keluarga anak perempuannya tersebut melalui hasil dari ladang yang diberikannya.114
Menurut HP yang meminta tanah pauseang berupa sawah karena suaminya mengalami kesulitan ekonomi yang harus menghidupi 8 (delapan) orang anak yang masih berusia sangat muda. Hasil dari
113AT, penduduk Desa Hutaraja, hasil wawancara tanggal 22 Juni 2013 114MS, penduduk Desa Sihite I, hasil wawancara tanggal 13 Juni 2013
mengusahakan sawah tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.115
Di Desa Janji maupun Desa Sihite I, memberikan tanah kepada anak perempuan yang berdasarkan keadaan ekonomi ini yang disebut sebagai
ulos na so ra burukyang secara harafiah diartikan sebagai ulos yang tidak akan pernah usang. Tanah yang diumpamakan sebagai ulos diberikan untuk selamanya kepada anak perempuan sehingga tidak dapat diminta kembali atau diminta oleh siapapun termasuk saudaranya.116
3. Faktor Tanah sebagai Identitas Kekerabatan
Tanah baik itu berupa pekarangan, ladang, sawah, kebun maupun tanah kosong mempunyai arti yang penting bagi masyarakat Batak Toba.Menurut keyakinan, antara pemilik tanah dengan tanah mempunyai ikatan batin yang bersifat religius-magis. Di samping itu, hubungan erat antara keduanya juga berasal dari sejarah dibukanya desa (huta) tempat tanah tersebut berada. Hal tersebut merupakan hal yang melatarbelakangi adanya hukum tanahmarga.
Hukum tanah marga dimaksudkan sebagai hukum yang mengatur kepada siapa (anggota persekutuan) dan untuk apa peruntukan tanah tersebut digunakan. Pada saat pemimpin persekutuan (pembuka kampung) masih hidup, maka tanah kampung tersebut merupakan tanah persekutuan yang diusahakan
115HP, penduduk Desa Janji, hasil wawancara tanggal 12 Juni 2013
bersama-sama oleh masing-masing anggota persekutuan. Setiap kegiatan mengenai tanah merupakan tanggung jawab dan harus diketahui serta mendapat izin dari pemimpin persekutuan.
Pemimpin persekutuan yang telah meninggal dunia kemudian meneruskan tanggung jawab atas tanah persekutuan kepada keturunannya. Penggunaan istilah tanah marga dikarenakan tanah di desa (huta) tersebut merupakan tanah yang ditempati oleh keturunan marga yang membuka kampung tersebut (marga tano atau marga raja). Dalam perkembangannya,
huta tidak lagi hanya ditempati oleh satu marga saja, tetapi beberapa marga
pendatang karena hubungan perkawinan dengan sistem eksogami yang terjadi.
Marga pendatang tersebut merupakan marga orangtua laki-laki yang melekat pada anak perempuan yang melakukan perkawinan dengan dan tinggal bersama anak laki-laki keturunanmarga tano.
Bagi masyarakat Batak Toba khususnya yang ada di Kecamatan Dolok Sanggul adalah penting untuk mengetahui identitas kekerabatan yang dimulai dari nenek moyang sampai dengan keturunan yang ada saat ini. Hal ini didasarkan pada prinsip Dalihan Na Tolu yang telah diciptakan sejak pemerintahan Raja Sisingamangaraja I (Raja Mangkuntal) dan masih melekat kuat serta menjadi pandangan hidup hubungan kekerabatan masyarakat Batak Toba. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pemberian tanah pauseang
merupakan salah satu faktor agar pihak kerabat suami dari penerima pauseang
tidak hanya mengetahui identitas orangtua (pemberi pauseang), tetapi juga identitas kekerabatannya.117
Tanah bagi masyarakat di Kecamatan Dolok Sanggul merupakan identitas atau tanda pengenal kelompok kekerabatan yang ada. Menurut RP tanah pauseang berupa ladang ubi di Desa Silaga-laga, diberikan agar pihak laki-laki (paranak) tidak hanya mengenal orangtua perempuan (simatua) tetapi juga mengetahui identitas kekerabatan orangtua perempuan (simatua). Menurut RP, identitas kekerabatan orangtua perempuan dirasakan semakin penting apabila telah lahir keturunan dari hasil perkawinan anak perempuannya maupun keturunan selanjutnya.118
Menurut Wilmar Situmorang, dengan menerima dan mengusahakan
pauseang, maka anak perempuan dan suaminya tidak begitu saja melupakan dan tetap menjalin hubungan dengan kerabat orangtua perempuan yang ada di tempat yang sama dengan tanah pauseang yang diberikan. Hal ini penting dilakukan apabila anak perempuan dan suaminya membentuk rumah tangganya di daerah yang jauh dari desa tempat tinggal orangtua perempuan (simatua).119Hal tersebut juga menunjukkan bahwa pemberian tanah pauseang
117Dirman Sinambela, tokoh adat di Desa Sihite I, hasil wawancara tanggal 13 Juni 2013 118 RP, penduduk Desa Silaga-laga, hasil wawancara tanggal 15 Juni 2013
juga bertujuan agar hubungan antara anak perempuan dan keluarga asal tidak terlepas akibat perkawinan.
4. Faktor Kehormatan Keluarga
Pemberian tanah pauseang di Kecamatan Dolok Sanggul tidak hanya didasarkan oleh rasa sayang orangtua kepada anaknya, tetapi juga bertujuan agar anak perempuan dan keluarga perempuan dihormati di hadapan keluarga laki-laki. Sebagaimana dikemukakan oleh HS, pemberian tanah pauseang
adalah untuk menunjukkan bahwa anak perempuan bukan berasal dari keluarga yang kemampuan ekonominya lemah.120
Pemberian tanah pauseang juga tidak terlepas dari keinginan orangtua anak perempuan untuk menunjukkan kepada pihak laki-laki (paranak) dan khalayak ramai bahwa keluarga tersebut adalah keluarga kaya (na mora), yang sukses dan memiliki harta yang berlimpah.Tanah yang dijadikan sebagai
pauseang oleh keluarga yang kaya biasanya telah ditentukan dan diserahkan secara langsung pada saat acara perkawinan anak perempuannya.121
Pemberian tanah melalui pauseang kepada anak perempuan tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Pemberian tanah melalui pauseang dilakukan dengan beberapa pertimbangan seperti kesesuaian antara jumlah tanah yang dimiliki dan jumlah anak maupun perilaku anak perempuan dan suaminya
120HS, penduduk Desa Hutaraja, hasil wawancara tanggal 22 Juni 2013
(hela). Menurut Dirman Sinambela, orangtua tidak memberikan tanah
pauseang kepada anak perempuan apabila jumlah anak lebih banyak dari jumlah tanah yang dimiliki. Orangtua akan mempertimbangkan tanah yang dimiliki untuk diberikan kepada anak laki-laki dan benda-benda bergerak untuk diberikan kepada anak perempuan. Sikap dan perilaku anak perempuan maupun suaminya turut juga menjadi dasar pertimbangan pemberian tanah.Sikap hormat, baik, berbakti maupun hemat merupakan sikap yang menjadi pertimbangan orangtua kepada anak perempuan maupun suaminya.
Menurut Tunas Pasaribu, sesuai dengan hukum waris adat Batak Toba dimana anak laki-laki merupakan ahli waris, orangtua dalam keadaan jumlah tanah yang dimilikinya lebih sedikit dari jumlah anak, akan memberikan tanah hanya kepada ahli waris dan memberikan benda tidak bergerak kepada anak perempuannya.122