• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKIBAT HUKUM ATAS PERUBAHAN BADAN HUKUM

A. Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Status Bank

Perekonomian nasional mulai menghadapi tekanan berat setelah salah satu Negara ASEAN yaitu Thailand mengalami krisis keuangan dan politik yang pada akhirnya telah membawa contagion effect kepada perekonomian Indonesia. Akibatnya nilai tukar rupiah bergejolak yang disebabkan menguatnya mata uang USD dan terjadinya penurunan arus modal luar negeri secara mendadak serta merebaknya spekulasi.73

Pada bulan Oktober 1997 Pemerintah melaksanakan program reformasi ekonomi dan keuangan dengan bantuan teknis/ keuangan dari IMF, Word Bank dan ABD dan Negara-negara sahabat. Program ini meliputi kebijakan ekonomi makro yang sehat, reformasi sektor keuangan serta kebijakan struktural dan deregulasi disektor riil.

Untuk mengatasi gejolak moneter dan dalam rangka menyehatkan industri perbankan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan moneter selama tahun 1997 sebagai berikut: 74

1. Menaikkan ratio Giri Wajib Minimum dari 3% menjadi 5% terhitung sejak April

73

Buku Annual Report PT. Bank SUMUT Tahun 1997

74

1997 dengan maksud mengurangi jumlah uang beredar dan meredam laju inflasi. 2. Menhapus kebijakan transaksi SBPU-KUK dengan maksud agar masing-masing

perbankan memaksimalkan pemberian kredit kepada pengusaha ekonomi lemah. Menghapus kisaran (band) intervensi dengan maksud agar nilai tukar rupiah terhadap USD diserahkan kepada mekanisme pasar.

4. Memperketat likuiditas rupiah dengan menaikkan suku bunga Standar Bank Indonesia (SBI) dan pengalihan dana BUMN kedalam SBI.

5. Pembatasan pemberian kredit untuk sektor property terhitung sejak Juli 1997 oleh Bank Indonesia.

6. Moral suassion kepada bank-bank umum untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen asset dan kewajiban dengan baik sehingga terhindar dari kesulitan likuiditas dan kerugian karena mismatch.

Namun sampai peghujung tahun 1997 usaha pemulihan ini belum menunjukkan tanda yang menggembirakan bahkan kebijakan pemerintah melikuidasi 16 Bank pada tanggal 1 Nopember 1997 telah mebawa dampak merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan dan tekanan depresiatif terhadap rupiah tidak menjadi berkurang.

Krisis ekonomi nasional ini pada akhirnya telah membawa pengaruh terhadap perkembangan perekonomian Daerah Sumatera Utara yang ditandai dengan tingkat inflasi kumulatif pada tahun fiscal 1997/1998 mencapai 33,51% meningkat tajam bila dibandingkan dengan inflasi kumulatif tahun fiscal 1996/1997 yang hanya sebesar 7,1%. Inflasi yang tinggi ini dipengaruhi oleh terjadinya kenaikan pada sisi

penawaran berupa naiknya ongkos produksi pada sektor industry yang mengandalkan alat produksi/bahan baku impor ditambah adanya berbagai musibah nasional seperti kemarau yang berkepanjangan, kebakaran hutan dan sebagainya yang mengakibatkan gagalnya panen sehingga mengganggu suplai bahan makanan pokok.75

Krisis ekonomi dan moneter yang telah dimuali pada Semester II TA 1997/1998 masih mewarnai kondisi perekonomian nasional pada tahun 1998 yang ditandai dengan masih bergejolaknya nilai tukar rupiah. Tinggi tngkat inflasi dan terjadinya penurunan arus modal secara mendadak maupun capital flight sebagai akibat peralihan kekuasaan pada tanggal 21 Mei 1998 telah pula turut menambah peliknya persoalan ekonomi dan moneter yang dihadapi bangsa ini. Perekonomian Daerah Sumatera Utara sebagai bagian integral dan perekonomian nasional juga mengalami kondisi yang sama, laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada tahun 1998 mengalami penurunan yang sangat tajam hingga menjadi negatip 11,27%. Seperti halnya perekonomian nasional, maka faktor utama terjadinya pertumbuhan negatip tersebut adalah inflasi yang tinggi.76

Perkembangan perbankan baik Nasional Daerah Sumatera Utara mengalami kondisi berat yang ditandai dengan semakin memburuknya kinerja usaha sebagai akibat langsung dari gejolak nilai tukar rupiah. Disamping itu juga ditandai dengan semakin tumbuh suburnya bibit krisis kepercayaan terhadap dunia perbankan. Perbankan nasional mengalami kondisi likuiditas yang sulit sebagai akibat

75

Ibid hal 16

76

melemahnya nilai tukar Rupiah. Kebijakan Pemerintah menerapkan suku bunga Standar Bank Indonesia (SBI) tinggi dalam rangka memperkuat nilai Rupiah telah menjadikan bank-bank mengalami negatip spread.

Dalam rangka mengantisipasi keadaan yang tidak menentu pada tahun 1998, manajemen Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara telah mengeluarkan beberapa kebijakan sebagai berikut:77

1. Mendistribusikan target penghimpunan dana masyarakat kepada seluruh Kantor Cabang BPDSU sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

2. Memberikan kebebasan kepada Pemimpin Cabang untuk melakukan langkah- langkah nyata dalam bidang penghimpunan dana dari masyarakat.

3. Membuat kebijakan baru dalam bidang perkreditan melalui pembatasan ekspansi kredit dan pemilihan prioritas sangat tinggi bagi kredit yang benar-benar fleksibel. 4. Merencanakan dan menyusun program restrukturisasi kredit sehubungan dengan

ketentuan Bank Indonesia.

5. Melakukan revaluasi atas aktiva tetap dan inventaris dalam rangka mencari alternatif pertambahan modal BPDSU.

6. Menyusun program pemasaran tabungan.

7. Melakukan kebijakan dalam bentuk efisiensi disegala bidang terutama untuk biaya

overhead.

8. Mengintensifkan penyelesaian atas kredit bermasalah.

77

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 21 Juli 2013

Dalam program restrukturisasi Perbankan Nasional, Pemerintah mengambil kebijakan yaitu melakukan rekapitalisasi terhadap perbankan yang memenuhi persyaratan. Untuk maksud tersbut Bank Indonesia berdasarkan standar IMF, melakukan review terhadap seluruh Bank untuk mengklasifikasi sakaligus menentukan sejumlah bank yang dapat diikutsertakan dalam program rekapitalisasi. Dengan program ini maka diharapkan Bank akan dapat memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum tidak kurang dari 8%. Khusus bagi Bank Pemerintah Daerah dan Bank BUMN yang memiliki ratio kewajiban penyediaan modal minimum lebih kecil dari 8%, Pemerintah memutuskan untuk diikutsertakan dlam program rekapitalisasi. Keputusan ini diambil mengingat sejarah berdirinya Bank tersebut memiliki misi khusus yaitu bertindak sebagai alat kelengkapan Pemerintah dalam meningkatkan perekonomian nasional maupun daerah dan bertindak sebagai agent of development.78

PT. Bank Sumut termasuk salah satu Bank yang turut serta dalam program rekapitalisasi dengan mengambil tambahan modal sebesar Rp 378.589 juta. Tambahan modal tersebut diperoleh dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 302.871 juta atau 80% dan Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara sebagai pemilik menyetor sebesar Rp 75.718 juta atau 20%. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara sebagai salah satu alat perlengkapan ekonomi daerah yang didirikan dengan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1965 berdsarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1962,

78

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 19 Juli 2013

yang dirubah dengan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1965 dan diatur kembali peraturan pendiriannya dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1993 berdsarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 (dirubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998) tentang Perbankan dirubah statusnya dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas.79

Sedangkan PT. Bank Sumut berfungsi sebagai penggerak dan pendorong laju pertumbuhan didaerah, bertindak sebagai pemegang kas Daerah yang melaksanakan penyimpanan uang daerah serta sebagai salah satu sumber pendapatan Daerah dengan melakukan kegiatan usaha sebagai Bank umum seperti dimaksud pada Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo Undang-Undang Nonor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan.

Berbeda pada saat ini masih berstatus Perusahaan Daerah, dimana hanya menitik beratkan pada kepentingan Perusahaan Daerah itu sendiri. Kemudian pada saat telah menjadi salah satu alat kelengkapan otonomi daerah PT. Bank Sumut mempunyai visi untuk menjadi Bank andalan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah disegala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat, dengan misi mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara propersional yang didasarkan pada prinsip-prinsip compliance. Kemudian dalam menjalankan usahanya

79

PT. Bank Sumut, selalu mengacu pada moto perusahaannya yaitu “Memberikan Pelayanan Terbaik”.80

Salah satu upaya agar PT. Bank Sumut mampu meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat serta sejajar dengan Bank-Bank lain khususnya dalam bidang permodalan, maka Bank harus turut dalam program peningkatan (rekapitalisasi) Bank umum dan juga mengikutkan peran serta, swasta dan masyarakat.

Perubahan bentuk badan hukum ini juga sejalan dengan program penyehatan perbankan yang mengharuskan Bank untuk memperbaiki struktur modalnya. Sebagai Bank yang termasuk dalam program rekapitalisasi, dimana Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara akan memperoleh tambahan modal 80% (delapan puluh persen) dari Pemerintah Pusat dan 20% (dua puluh persen) dari Pemerintah Daerah sebagai pemegang saham. Pada saat ini program ini telah dapat dipenuhi melalui bantuan Pemerintah Pusat sebesar Rp 67,6 (enam puluh tujuh koma enam milyar rupiah) (Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1999) dan Pemerintah Daerah sebesar Rp 16,9 (enam belas koma Sembilan milyar rupiah) yang diperoleh melalui pinjaman Pemerintah Daerah dari Departemen Keuangan.81

Keikutsertaan Pemerintah Pusat dan swasta serta masyarakat untuk memenuhi kecukupan permodalan, Bank memerlukan suatu kedudukan hukum yang jelas dan

80

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 19 Juli 2013

81

sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku serta mampu meningkatkan pengelolaan manajemen Bank.

Sedangkan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara pada bentuk Bank Pembangunan Daerah sulit untuk meningkatkan modalnya, baik itu dari Pemerintah Daerah maupun dari pihak ketiga (investor). Faktor tersebut dikarenakan bentuk Badan Hukum Perusahaan Daerah ini kurang diminati investor, karena kesan yang timbul bahwa operasional Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara hanya bersifat lokal/daerah. Dengan perubahan bentuk badan hukum menjadi Perseroan Terbatas diharapkan masyarakat maupun investor akan lebih berminat terhadap saham yang dimiliki Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Akibat kurangnya peningkatan modal tersebut Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara sulit untuk berkembang.82

Selain itu salah satu faktor yang mendorong pengalihan bentuk Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas disebabkan karena bentuk Perusahaan Daerah dalam menjalan usahanya banyak terikat dengan peraturan-peraturan yang dibedakukan terhadap Perusahaan Daerah tersebut, sehingga dapat mengekang dan membatasi gerak dari perusahaan. Dengan demikian fleksibilitas dari perusahaan tidak jelas, mengakibatkan tidak tercapainya sasaran yang ingin dicapai Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Dalam kenyataannya sebagai bentuk badan hukum, Perusahaan Daerah sering terjadinya ikut campur pihak birokrasi Pemerintah

82

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 21 Juli 2013

daerah dalam mengambil kebijaksanaan, sehingga mengakibatkan kurangnya kemampuan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dalam mengembangkan usahanya. Setelah perubahan status, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara menjadi Perseroan Terbatas, maka Direksi Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dapat mengambil keputusan-keputusan yang dapat meningkatkan kinerja/manajemen Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara tanpa harus selalu terlebih dahulu meminta tanggapan/izin dari Pemerintah Daerah Sumatera Utara.83

Selanjutnya faktor lain yang mendorong perubahan bentuk badan hukum Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara menjadi Perseroan Terbatas disebabkan adanya dorongan yang diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan yang dimaksud adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1998 yang memberikan kesempatan yang luas kepada seluruh Bank Pembangunan Daerah di Indonesia untuk merubah badan hukumnya. Dasar pemikiran untuk melakukan perubahan bentuk badan hukum ini adalah dalam rangka upaya mengantisipasi era perdagangan bebas dimasa yang akan datang.

Adapun yang menjadi faktor penyebab perubahan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara menjadi PT. Bank Sumut adalah sebagai berikut:84

1. Meningkatkan permodalan Bank dengan memberikan kesempatan kepada Pemerintah Pusat maupun pihak ketiga untuk turut serta menanamkan modal.

83

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 21 Juli 2013

84

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 21 Juli 2013

2. Meningkatkan daya saing Bank untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi Nasional maupun global.

3. Memperluas wilayah dan produk usaha Bank.

4. Membantu dan mendorong perekonomian rakyat dengan memperioritaskan golongan ekonomi lemah dalam pemerataan pembangunan daerah.

5. Peningkatan manajemen dan daerah operasional.

6. Dorongan dan dukungan dari ketentuan perundang-undangan.

B. Proses Perubahan Status Badan Hukum dari Perusahaan Daerah Bank

Dokumen terkait