• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: PEMBAHASAN

B. Faktor Penyebab Tidak Terlibatnya Masyarakat Lingkar

Udang di Desa Menceh Kecamatan Sakra Timur.

Berdasarkan informasi dan data yang ditemukan di lapangan bahwa

ketidakterlibatan masyarakat dalam perusahaan tambak udang disebabkan

oleh beberapa hal antara lain:

1. Masyarakat Tidak Cocok Dengan Upah/Gaji Yang Diperoleh.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan

masyarakat (informen) menunjukan bahwa 95% informen

mengungkapkan alasannya tidak ingin terlibat atau bekerja di

perusahaan tambak udang karena gaji/upah yang diberikan oleh

perusahaan kepada karyawan yang terlalu kecil yakni sebesar Rp,

500.000/bulan, yang menurut informen jumlah ini tidak sesuai dengan

beban kerja dalam pekerjaanbudi daya udang. Murdi, salah satu

informen yang merupakan warga Desa Menceh Kecamatan Sakra

Timur mengatakan sebagai berikut:

“Ite ne bahkan batur-batur sik lain ndek ne mele begawean lek tambak udang sengak gaji ne sekedik. Gaji lek tambak arak Rp, 500.000 sekali sebulan. Sementare, ndek ne cukup jok keluarge. Seande ne gaji Rp, 1.000.000 atau Rp, 1.500.000 jak mele te.

58

Sengak pegawean tambak no ye berat, apelagi ndek te tebeng

olek-lalo jok bale selame ne begawean” (wawancara hari

Kamis, 6 Juni 2013).

Dari kutipan wawancara diatas, mempertegas ketidakinginan

masyarakat untuk terlibat bekerja di perusahaan tambak udang karena

gaji yang sedikit. Gajinya hanya sebesar Rp, 500.000/bulan. Jumlah

gaji yang sedemikian menurut masyarakat tidak cukup untuk

kebutuhan keluarga. Sementara dalam UU No. 13 Tahun 2003 pasal

88 ayat 1 (dalam Sudiono, 2006:51) menegaskan bahwa setiap buruh

atau pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi

penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Masyarakat (informen) menilai pekerjaan budi daya udang

merupakan pekerjaan berat dengan aturan yang sangat mengikat,dan

lingkungan kerja yang ekstrim. Untuk itu,masyarakat mengharapkan

gaji pokok yang diperolehseharusnya lebih besar yakniminimal

sebesar Rp, 1.000.000 atau Rp, 1.500.000/bulan.

Sejumlah gaji yang disebutkan diatas menjadi harapan sebagian

besar informenuntuk mendorong motivasi masyarakat untuk terlibat

bekerja dalam perusahaan tambak udang. Karena pemberian upah

yang sesuai dengan harapan kepada karyawan/buruh akan

menghasilkan hubungan pekerja dengan perusahaan yang lebih baik

yang diikuti oleh hasil produksi yang maksimal.

Sehubungan dengan itu, Sudiono (2006:43) menegaskan bahwa

sistem remunerasi atau pemberian upah/imbalan suatu perusahaan

59

satu faktor penting dalam hubungan industrial karena upah menjadi

jaminan untuk dapat terus bekerja.

Selain itu, beberapa informen juga mengungkapkan

keinginannya untuk bekerja di perusahaan sebagai penjaga daripada

bekerja sebagai karyawan budi daya udang (anak petakan). Seperti

halnya Sudarman, yang mengatakan “saya lebih tertarik bekerja sebagai penjaga daripada sebagai karyawan anak petakan”.Hal ini dikarenakan bahwa gaji penjaga yang hanya bekerja pada malam hari

saja mendapatkan upah sebesar Rp, 1.000.000/bulan, dibandingkan

dengan bekerja budi daya udang sebagai karyawan anak petakan yang

gajinya hanya sebesar Rp, 500.000/bulan dengan beban kerja yang

berat.

Meski demikian, pihak perusahaan mengklaim telah

memberikan upah/gaji yang sesuai dengan standar upah minimun

regional(UMR) Nusa Tenggara Barat. H. Sukardi, selaku pimpinan

perusahaan tambak udang mengatakan sebagai berikut:

Kami telah memberikan upah/gaji kepada karyawan kami dengan mengacu pada standar upah minimum regional (UMR)yakni sebesar Rp, 700.000/bulan, ditambah dengan makan 3 x sehari, bahkan lebih yang secara akumulasi ini lebih dari UMR.Kami juga dalam memberikan upah tidak mau sembarangan. Jumlahnya sudah kami perhitungkan dan pertimbangkan bersama. Jadi,masyarakat yang tidak mau bekerja dengan alasan gaji yang sedikit merupkan alasan yang kurang tepat. Masyarakat hanya mencari-cari alasan dengan mengatakan gaji yang sedikit. Padahal masyarakat sendiri malas untuk bekerja di perusahaan tambak udang (wawancara hari Rabu, 19 Juni 2013 di Mataram).

60

Pada dasarnya, sesuai dengan apa yang ditemukan oleh peneliti

terkait dengan permasalahan jumlah gaji yang diperoleh karyawan,

seperti yang diungkapkan oleh masyarakat dan pihak perusahaan

diatas. Saat ini sistem pengupahan atau pembayaran gaji karyawan

telah mengalami perubahan yang berbeda dengan sistem pengupahan

pada awal-awal perusahaan beroperasi. Sistem pengupahan yang

dilakukan perusahaan saat ini yakni dengan cara pengupahan bertahap

sedangkan dahulu tidak demikian.

Sebetulnya jumlah gaji awal karyawan anak petakan memang

sebesar Rp, 500.000/bulan. Akan tetapi jumlah ini sifatnya tidak tetap

untuk selamanya. Melainkan jumlah gaji yang diterima karyawan

tersebut merupakan gaji percobaan (gaji awal) yang nantinya sewaktu-

waktu dimungkinkan dapat mengalami peningkatan-peningkatan atau

kenaikan secara bertahap. Tahapan ini mulai dari jumlah yang paling

minimal sebesar Rp, 500.000/bulan, hingga jumlah maksimal sebesar

Rp, 700.000/bulan.

Hal ini sesuai dengan pengakuan karyawan yang mengakui

adanya tahapan-tahapan peningkatan jumlah gaji yang diterima.

Menurut Mahsum, salah seorang karyawan mengungkapkan bahwa

memang gaji yang mereka peroleh mengalami peningkatan/kenaikan.

Gaji bulan pertama yang diperoleh sebesar Rp, 500.000/bulan,

kemudian naik menjadi Rp, 550.000/bulan, dan saat ini setelah bekerja

61

Jangka waktu peningkatan gaji tersebut memang tidakditentukan

dengan pasti. Artinya bahwa kenaikan gaji tersebut bisa saja diberikan

kepada karyawan dalam jangka waktu yang relatif cepat dan bisa juga

tidak. Hal ini tergantung dari penilaian-penilaian yang dilakukan oleh

perusahaan, seperti ketekunan, kerajinan, sikap, dan perilaku

karyawan dalam bekerja sehari-hari.

Kendati demikian, masyarakat tetap kurang dapat menerima hal

tersebut. Kalaupun gaji karyawan mengalami kenaikan, tetapi

kenaikan tersebut tetap dinilai masih kurang dan belum cocok dengan

harapan masyarakat. Karena jumlah kenaikan gaji maksimal saat ini

sebesar Rp, 700.000/bulan, disamping hal tersebut tidak ada kepastian

waktudan syarat yang jelas bagi karyawan.

Disamping itu, masyarakat juga melihat adanya Surat Keputusan

(SK) Gubernur Nomor 658 Tahun 2011 yang ditetapkan pada tanggal

14 Desember 2011 tentang penetapan jumlah Upah Minimum

Regional (UMR) yang dikutip dari

http://www.gajimu.com/main/gaji/Gaji-Minimum/ump-2012). pada

hari kamis, 13 Juni 2013 pukul 11.00 wita, menyebutkan bahwa

jumlah Upah Minimum Regional (UMR) NTB untuk Tahun 2011

sebesar Rp, 950.000, dan Tahun 2012 sebesar Rp, 1.000.000.

Sedangkan untuk Tahun 2013 upah minimum yang harus dibayarkan

62

Dari informasi dan data yang diungkapkan diatas menunjukkan

bahwa pengakuan pimpinan perusahaan dengan SK Gubernur NTB

Tahun 2011 mengenai sistem pengupahan yang sesuai standar

menunjukkan terjadi ketidakrelevansian,antara standar upah yang

diberikan oleh perusahaan tambak udang dengan Surat Keputusan

Gubernur NTB.

Fakta ketidaksesuaian dan ketimpangan dalam hal pemberian

upah/gaji kepada karyawan inilah yang menjadi alasan kuat sebagian

besar masyarakat (informen) tetap menolak untuk bekerja di

perusahaan. Masyarakat baru akan bekerja bilamana gaji yang

diberikan sesuai dengan harapan yang telah diungkapkan sebelumnya

atau paling tepat yakni gaji yang sesuai dengan UMR NTB yang telah

ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat. Selain itu,

berdasarkan fakta yang ada informen(masyarakat) juga menilai

tindakan yang dilakukan olehpihak perusahaan merupakan suatu

upayamengeksploitasidan diskriminasiterhadap karyawan.

Fenomena diskriminasi dalam dunia kerja memang tidak dapat

dipungkiri keberadaannya. Terlebih Parrillo (1987:29) dalam

(Soetomo, 1995:97) juga menegaskan bahwa pada kenyataan yang

paling mendasar dalam kehidupan sosial adalah masyarakat terbentuk

dalam suatu bangunan struktur. Oleh sebab itu, melalui bangunan

63

kekuasaan, kesempatan, dan peluang yang lebih baik dari individu

lain.

Kondisi struktural tersebut seringkali didukung oleh berbagai

institusi sosial yang mengandung nilai-nilai sosial yang diskriminatif,

misalnya antar jenis kelamin, antar etnis, antar asal daerah, dan

sebagainya (Julian,1986:15) dalam (Soetomo,1995:97). Nilai-nilai

semacam itu, dalam konteks masalah ini sangat dimungkinkan dapat

mempengaruhi tingkat pemberian upah/gaji oleh pihak perusahaan

yangtentunya memiliki wewenang penuh dalam pemberian upah.

Sehinggahal ini dapat mengarah pada distribusi pendapatan dalam

masyarakat yang kurang dapat memenuhi kebutuhan hidup.

2. Sistem Kerja Yang Berat.

Ketidakterlibatan masyarakat sekitar perusahaan untuk

bekerjamuncul akibat dari sistem kerja yang cukup berat. Sistem kerja

pada perusahaan tambak udang merupakan sistem pekerjaan yang

terus-menerus (berkesinambungan) selama budi daya

berlangsungdalam waktu kerja selama 4 bulan dan tanpa hari libur

meskipun libur resmi.

Sistem kerja seperti ini sebenarnya dalam Undang-Undang No.

13 Tahun 2003 Pasal 85 ayat 1 (dalam Sudiono, 2006:50) tentang

ketenagakerjaan, jelas melarang buruh bekerja pada hari libur resmi.

Akan tetapi dalam pasal 2 dibolehkan jika ada kesepakatan antara

64

upah lembur kerja untuk pekerjaan yang dilakukan pada hari libur

resmi.

Sementara menurut pengakuan informen (masyarakat), bahwa

pembayaran uang lemburyang dimaksudkan Undang-Undang No. 13

Tahun 2003 Pasal 85 ayat 2 diatas, dalam hal membayar waktu kerja

pada hari libur kepada karyawan dalam perusahaan tambak udang

tidak pernah ada sama sekali.

3. Aturan Yang Sangat Mengekang “Kebebasan” Karyawan

Selain gaji yang sedikit dan sistem kerja yang cukup berat,

perusahaan juga menerapkan peraturan yang cukup ekstrim yang

sangat mengikat dan mengekang “kebebasan” karyawan. Hal ini terlihat dari peraturan yang tidak dibolehkannyakaryawan pulang dan

keluar masuk dari lokasi perusahaan meskipun telah selesai bekerja.

Karyawan harus tetap tinggal dalam perusahaan selama budi

daya udang berlangsung yakni selama 4 bulan, dan hanya boleh keluar

setiapwaktu sholat Jum’at dan setelah panen atau sekali dalam 4 bulan, yakni cuti yang diberikan perusahaan selama 2 minggu setelah

panen, serta keluar dengan izin.

Karyawan yang meminta izin keluar harus dengan alasan yang

betul-betul penting seperti izin karena keluarga sakit dan keluarga

meninggal,dan itupun harus dengan seizin manajer

perusahaan.Informen (masyarakat) menilai peraturan ini mengekang

65

Miller(dalam Parker, 1992:94) merupakan suatu hubungan perusahaan

dengan masyarakat (karyawan) dengan jenis interaksi Business-

Dictated, yakni pihak perusahaan menentukan jam kerja karyawannya

tanpa mempertimbangkan efeknya terhadap kehidupan rumahtangga

karyawan.

Para karyawan harus menyesuaikan kehidupan keluarga mereka

dengan kegiatan industri. Hal ini dapat terjadi di dalam suatu

perusahaan dimana buruh tidak terorganisir dalam sebuah struktur

yang jelas.Seperti halnya tenaga kerja sekitar perusahaan yakni

masyarakat Desa Menceh Kecamatan Sakra Timur.

Terkait dengan aturan yang sangat mengekang, beberapa

karyawan dan mantan karyawan mengungkapkan ketidakinginannya

untuk bekerja di perusahaan tambak udang. Suharman, salah satu

mantan karyawan mengatakan sebagai berikut:

Bekerja di tambak udang dengan aturan tidak boleh pulang- pergi selama budi daya terasa seperti dipenjara, karena saya dan teman-teman karyawan lainnya harus tetap tinggal di dalam tambak. Saya lebih baik bekerja di luar negeri sebagai TKI.Karena sama-sama tidak bisa bertemu dengan keluarga setiap hari. Gaji di luar negeri juga lebih besar dibandingkan dengan gaji di tambak udang (wawancara hari Sabtu, 15 Juni 2013).

Tidak hanya karyawan dan mantan karyawan, bahkan sebagian

besar masyarakat juga mengatakan hal yang serupa.Bahwa bekerja

dengan aturan seperti yang ada dalam perusahaan tambak udang sama

halnya dengan bekerja diluar negeri yang tidak bisa bertemu keluarga

66

menurut masyarakat lebih cocok diterapkan kepada karyawan yang

berasal dari luar daerah Lombok Timur yang pastinya jauh dari lokasi

perusahaan tambak udang. Untuk itu, saat ini sebagian besar karyawan

yang bekerja di tambak udang berasal dari luar pulau Lombok, seperti

Jawa, Flores, dan Sumba.

Dengan peraturan perusahaan yang sedemikian rupa,saat ini

sebagian besar masyarakat desa Menceh lebih memilih pergi bakerja

ke luar negeri sebagai TKI (Tenaga Kerja Internasional).Pilihan ini

dilakukan masyarakat dengan mempertimbangkan bahwa bekerja di

luar negeri maupun di perusahaan tambak udang yang berada di dekat

rumah sendiri,sama-sama tidak bebas bertemu dengan keluarga setiap

hari. Gaji sebagai TKI juga lebih besar dibandingkan dengan gaji

karyawan perusahaan tambak udang.

Adapun karyawan yang memilih bekerja di perusahaan tambak

udang dengan kondisi aturan kerja seperti yang telah diungkapkan

diawal,tidak jarang pada akhirnya dapat menyebabkan karyawan

beramai-ramai melakukan tindakan yang kurang baik, seperti keluar

pulang pergi dengan cara loncat pagar tanpa sepengetahuan penjaga

maupun manajer perusahaan. Hal ini dilakukankaryawan untuk bisa

bertemu dengan keluarganya masing-masing.

Tindakan atau perilaku karyawan ataupun mantan karyawan

tersebut sepenuhnya tidak dapat disalahkan. Karena menurut Soetomo

67

Approach. Maka individu yang perilakunya dianggap merupakan

masalah sosial seperti perilaku karyawan yang loncat pagar secara

diam-diam sebenarnya hanyalah korban dari adanya sistem yang

kurang baik. Karena pendekatan ini melihat adanya suatu sumber

masalahyang muncul dari kesalahan sistem dalam perusahaan itu

sendiri.Seperti sistem aturan yang sangat mengekang kebebasan

karyawan tersebut.

Selain itu, sebagaimana yang telah diungkapkan diawal bahwa

perusahaan menerapkan sistem pengawasan yang super ketat. Namun,

hal ini justru menurut informen dan mantan karyawan kurang setuju

dan kurang nyaman atas perlakuan pihak perusahaan yang (over

protection) atau berlebihan dalam menjaga dan mengawasi karyawan.

Sehingga muncul rasa tidak nyaman, membosankan dan

“ketidakbebasan” yang dirasakan oleh karyawan.

Ketidaknyamanan bekerja dalam perusahaan terkadang juga

disebabkan oleh pengawasan teknisi budi daya yang “arogan” dalam memantau karyawan dalam melakukan pekerjaan, seperti ketika

karyawan memberikan pakan (makanan udang), membersihkan kolam

dan lain-lain. Dikatakan arogan karena seringkali teknisi ini terlalu

berlebihan dalam mengawasi sehingga karyawan merasa tidak

diberikan kepercayaanpenuh dan tidak jarang karyawan dimarahi jika

68

Terkait dengan hal diatas, informen (masyarakat) mengharapkan

suatu sistem kerja, aturan, dan pengawasan yang lebih adil dan

memberikan “kebebasan” bagi karyawan dengan mempertimbangkan kehidupan sosial keluarga dan masyarakat karyawan. Dengan

demikian dapat memberikan suatu kenyamanan dan kepuasan kerja

bagi karyawan. Karena dengan terpenuhinya kepuasan kerja dapat

mempengaruhi prestasi kerja karyawan yang produktif (Handoko,

1989:193).

Secara sederhana, masyarakat mengharapkan bekerja

sebagaimana layaknya orang-orang yang bekerja dalam bidang

pekerjaan lain.Seperti pergi bekerja pagi hari dan pulang kerja pada

sore/malam hari.Hal tersebut dapat diberikan perusahaan kepada

karyawan setelah selesai bekerja dengan memberikan kepercayaan

penuh agar karyawan dapat bertemu dengan keluarga setiap hari dan

bekerja dengan nyaman.

Harapan-harapan masyarakat (informen) yang diungkapkan di

atas sekiranya dapat diwujudkan dalam rangka menciptakan rasa

nyaman bagi karyawan. Komuniksi yang baik secara intensif antara

pihak perusahaan dengan karyawan juga sangat dibutuhkan untuk

membangun hubungan kerja yang baik, mencapai integrasi, dan

equilibrium (keseimbangan) masyarakat.Secara sosiologiskedua pihak

harus terjalin interaksi sosial yang baik karena interaksi sosial menjadi

69

Sementara menurut pimpinan perusahaan terkait denganaturan

kerja yang kurang disetujui oleh pihak masyarakat.Bahwa penerapan

aturan kerja sebagaimana yang diungkapkan diatas merupakan

penetapan atau aturan yang ditetapkan berdasarkan standar perusahaan

yang telah disepakati bersama oleh investor. Peraturan-peraturan

tersebut dimaksudkan pihak perusahaan untuk menghindari resiko

kegagalan budi daya yang diakibatkan oleh berbagai penyakit/virus,

karena udang sendiri sangat rentan dengan penyakit/virus.

Pihak perusahaan mengkhawatirkan terserangnya udang oleh

virus/penyakit yang dibawa oleh karyawan yang keluar masuk atau

pulang dan pergi setiap hari. Oleh karena itu, pihak perusahaan

menerapkan aturan kerja yang sedemikian rupa dan menerapkan bio

scurity bagi karyawan anak petakan yang izin keluar.

Menurut Suyanto (1994:184), selama pemeliharaan udang,

memang sering ditemukanudang-udang yang sakit. Bahkan sering

menimbulkan kematian yang tidak sedikit. Penyakit udang disebabkan

oleh berbagai jenis penyebab penyakit seperti protozoa, bakteri, hama,

cendawan dan/atau virus, serta tumbuhan lumut yang berlebihan.

Bebagai penyakit ini dapat berasal dari air tambak yang kurang baik.

Apabila kondisi air tempat hidup udang selalu baik, dan udang

memperoleh pakan yang bergizi baik, maka udang tidak akan sakit.

Hal yang terpenting menurut semua pakar adalah menjaga

70

perlu dikwatirkan secara berlebihan dengan menganggap karyawan

yang keluar masuk tambak dapat membawa virus dan menyebabkan

udang menjadi sakit dan mati. Meskipun kemungkinannya memang

ada, akan tetapi jika dikembalikan pada pendapat pakar diatas, maka

tidaklah perlu untuk dikhawatirakan.

Dalam beberapa referensi lainnya, belum ada yang menyebutkan

dengan pasti bahwaudang dapat terserang oleh virus yang berasal dari

karyawan yang sering keluar-masuk lokasi pertambakan. Oleh karena

itu, aturan-aturan yang diterapkan pihak perusahaan dengan alasan

tersebutmerupakan hal yang sepertinya kurang tepat.

Disamping itu, selama pengamatan yang dilakukan peneliti

sejak awal sampai saat ini,baik pengamatan selama observasi

penelitian bahkan pengamatan yang dilakukan dalam kehidupan

sehari-hari peneliti menunjukkan bahwa, penerapan bio scurity yang

dimaksudkan oleh pihak perusahaan belum berjalan dengan maksimal

dan efektif.Bahkan pengamanan yang dimaksudkanhampir dikatakan

tidak pernah ada.

Hal ini juga sesuai dengan pengakuan karyawan dan mantan

karyawan perusahaan tambak udang. Seperti Alfon, Ferdi, Sugeng dan

yang lainnya saat diwawancarai di salah satu warung Dusun Selayar

Desa Menceh (warung sekitar perusahaan)pada waktu malam hari

71

mengatakanbahwa, “setiap malamnya bisa keluar untuk berbelanja

dan untuk keperluan lainnya”.

Berdasarkan penelusuran lebih lanjut yang peneliti lakukan pada

waktu malam hari, tepatnya sekitar waktu sholat Isa sampai pukul

22.00 wita, bahkan diatas waktu itu, para karyawan tambak terlihat

masih berada di luar. Hingga saat ini karyawan dapat keluar masuk

hampir setiap malamnya untuk berbelanja diwarung-warung desa dan

untuk keperluan lainnya tanpa diberlakukan bio scurity tersebut.

4. Kurangnya Semangat (Motivasi) Kerja

Permasalahan motivasi atau semangat kerja karyawan dalam

perusahaan tambak udang juga menjadi salah satu catatan peneliti. Hal

ini karena pemberian motivasi kerja melalui beberapa komponen upah

masih kurang diberikan oleh perusahaan. Menurut beberapa informen

(masyarakat), seperti Mawardi, salah seorang informen mengatakan

bahwa, “bekerja di perusahaan tambak udang tidak ada gairah

bekerja”.

Kurangnya semangat kerja ini disebabkan oleh berbagai hal

seperti kurangnya tunjangan-tunjangan, gaji pokok yang tidak sesuai,

bonus yang tidak pasti, menjadikan masyarakat tidak ada motivasi

untuk ikut terlibat bekerja dalam perusahaan, terlebih-lebih bagi

masyarakat pemula. Sementara menurut pengakuan mantan karyawan

72

bosan, malas untuk bekerja yang pada akhirnya mempengaruhi hasil

budi daya yang kurang baik.

Sehubungan dengan itu, menurut pengakuan pihak perusahaan

bahwa, manajemen perusahaan telah menerapkan sistem bonus, yakni

bonus setiap panen atau sekali dalam 4 (empat) bulan dengan jumlah

tergantung dari tingkat keberhasilan budi daya, dan bonus kebersihan

petakan tambak sebesar Rp, 200.000/dua petak setiap bulan.

Sementara menurut Sudiono (2006:19), komponen upah dalam

suatu perusahaan besar tidaklah cukup hanya bonus yang disebutkan

diatas, melainkan terdapat beberapa komponen komponen upah

lainnya seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 1. Komponen upah diluar gaji pokok.

Nama Upah Jenis Upah

Upah Tetap Upah pokok dengan standar UMR Tunjangan keluarga

Tunjangan masa kerja Berbagai tunjangan Tunjangan makan

Tunjangan transportasi Tunjangan kesehatan Tunjangan pendidikan Bonus prestasi

Insentif untuk pekerjaan per satuan hasil

Tunjangan kerja shift Tunjangan tugas khusus Tunjangan kopi

73

Lembur hari kerja Lembur hari minggu Lembur libur

Berdasarkan data komponen-komponen upah diatas, jika

dikaitkan dengan perusahaan tambak udang maka nampak jelas

terlihat masih kurangnya pemberian motivasi kerja melalui

komponen-komponen upah. Sementara hal yang tidak kalah

pentingnya dalam sebuah perusahaan adalah menanamkan semangat

dan motivasi kerja bagi karyawan.

Menanamkan motivasi dan semangat kerja menurut Handoko

(1989:155) dapat dilakukan dengan cara pemberian kompensasi.

Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan

sebagai balas jasa untuk kerja mereka. Seperti dana-dana tambahan di

luar gaji pokok sebagaimana yang disebutkan dalam tabel diatas.

Machfoedz (2007:141) juga mengatakan memberikan sebuah

motivasi melalui sistem kompensasi kepada bawahan dapat

mendorong karyawan mengerjakan yang terbaik. Motivasi adalah

dorongan dan arahan perilaku melalui insentif, perhatian, pujian,

peningkatan upah/gaji, dan hadiah yang diberikan dengan tepat oleh

manajer kepada karyawan untuk bekerja lebih giat dan lebih baik.

Motivasi juga dapat menjadikan pekerjaan dan lingkungan kerja

menjadi lebih menyenangkan sehingga dapat memperoleh hasil yang

74

5. Lingkungan Kerja Yang Ekstrim

Menurut informen (masyarakat) ketidakterlibatan masyarakat

juga disebabkan oleh lingkungan kerja yang ekstrim. Seperti yang

telah diungkapkan diawal bahwa perusahaan tambak udang

merupakan perusahaan yang terletak tepat dipinggir pantai Desa

Menceh dengan cuaca panas dan ditambah dengan uapan air tambak

yang mengandung unsur garam yang cukup tinggi dan unsur lainnya

dari hasil putaran kincir tambak. Uapan air tambak bercampur dengan

panas ini menempel ditubuh yang menurut pengakuan beberapa

mantan karyawan seperti yang pernah dialami dapat menyebabkan

Dokumen terkait