a. Lalu lintas pejalan kaki
Untuk mendapatkan informasi:
− Jumlah pria dan wanita yang melintas (anak-anak usia tertentu kebawah tidak dihitung).
− Jumlah orang yang melintas pada pagi, siang, sore, dan malam atau menurut jam
− Proporsi potensi konsumen (prentase pembelanjaan dari orang yang melintas).
− Proporsi orang yang berkunjung dari total yang melintas b. Lalu lintas kendaraan
Informasi tentang jumlah dan karakteristik mobil-mobil yang melintas, faktor lebar jalan, kondisi jalan, dan kemacetan akan menjadi nilai tambah atau nilai kurang bagi pelanggan itu menjadi perhatian penting seorang pemasar.
c. Fasilitas parkir
Untuk kota-kota besar, pertokoan atau pusat perbelanjaaan yang memiliki fasilitas parkir yang memadai dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi peritel dibandingkan dengan pertokoan dan pusat belanja yang fasilitas perbelanjaan yang fasilitasnya tidak memadai.
d. Trasportasi umum
Transportasi umum yang banyak melintas di depan pusat perbelanjaan atau pertokoan akan memberi daya tarik yang lebih tinggi karena bentuk konsumen dengan mudah langsung masuk ke area perbelanjaan
e. Komposisi toko
Seorang peritel hendaknya jika ingin membuka toko harus mempelajari lebih dulu toko-toko apa saja yang ada disekitarnya, karena toko yang saling melengkapi akan menimbulkan sinergi.
f. Letak berdirinya gerai
Letak berdirinya gerai sering kali dikaitkan dengan visibility (keterlihatan), yaitu mudah terlihatnya toko dan plang namanya oleh pejalan kaki dan pengendara mobil yang melintas di jalan.
g. Penilaian keseluruhan
Penilaian keseluruhan atau overall rating perlu dilakukan berdasarkan faktor-faktor diatas agar dapat menentukan pilihan lokasi lebih tepat.
Untuk mendapatkan perkiraan potensi yang lebih akurat, diperlukan rumusan perhitungan yang spesifik (Hendri Ma’ruf, 2005,p132).
Gambar 2.15. Tiga tingkat analisis spasial dan menyeleksi lokasi pengecer (James F Engel, 1995,p239)
2.7 Waralaba
2.7.1 Pengertian Waralaba
Franchise adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Perancis, yaitu “Affranchais” yang berarti bebas atau bebas dari perhambatan atau perbudakan (free from servitude), karena sebenarnya hakikat dari pola franchise ini adalah bebas atau mandiri. Bebas disini maksudnya adalah setiap perusahaan dimiliki dan dikendalikan sendiri oleh pemiliknya. Bila
dihubungkan dengan konteks usaha, franchise berarti kebebasan yang diperoleh seseorang untuk menjalankan sendiri suatu usaha tertentu di wilayah tertentu. Sedangkan pewaralabaan (franchising) adalah suatu aktivitas dengan sistem waralaba (franchise), yaitu suatu sistem keterkaitan usaha yang saling menguntungkan antara pemberi waralaba (franchisor) dan penerima waralaba (franchisee). Waralaba sebagai salah satu bentuk kesepakatan, yaitu pemilik dari suatu produk atau jasa mengizinkan orang lain untuk membeli hak distribusi produk atau jasa tersebut dan mengoperasikannya dengan bantuan pemilik.
Franchising mengombinasikan kekuatan, determinasi dan pengalaman dari “mata rantai” atau “jaringan” dari organisasi besar dengan keterampilan kewirausahaan dan komitmen dari unit-unit bisnis yang kecil.
Sedangkan dalam buku Lindawaty (2004, p10-11) upaya memaknai konsep waralaba agar lebih mencerminkan realitas yang terjadi di lapangan, yang dilakukan oleh para akademisi maupun praktisi.
Dalam pertemuan ilmiah yang dilaksanakan di Jakarta oleh IPPM pada tanggal 25 Juni 1991 mengenai konsep perdagangan waralaba (franchising) yang merupakan sistem pemasaran vertikal, dikemukakan beberapa definisi franchise, sebagai berikut :
1. Franchise adalah sistem pemasaran atau distribusi barang dan jasa dimana sebuah perusahaan induk (franchisor) yang memberikan kepada individu atau perusahaan lain (franchisee) yang berskala
kecil dan hak istimewa untuk melakukan suatu sistem usaha tertentu dengan cara tertentu, waktu tertentu, dan di suatu tempat tertentu.
2. Franchise adalah sebuah metode pendistribusian barang dan jasa kepada masyarakat konsumen, yang dijual kepada pihak lain yang berminat. Pemilik dari metode yang dijual ini disebut franchisor sedang pembeli hak untuk menggunakan metode ini disebut franchisee.
3. Franchising adalah suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor dan franchisee.Franchisor menawarkan dan berkewajiban menyediakan perhatian terus-menerus pada bisnis dari franchisee melalui penyediaan pengetahuan dan pelayanan.Franchise beroperasi dengan menggunakan nama dagang, format, atau prosedur yang dipunyai, serta dikendalikan oleh franchisor.
2.7.2 Elemen-Elemen Pokok
Dalam buku Lindawaty (2004, p13-14) menunjukkan bahwa franchise pada dasarnya mengandung elemen-elemen pokok sebagai berikut:
• Franchisor yaitu pihak pemilik atau produsen dari barang atau jasa yang telah memiliki merek tertentu serta memberikan atau melisensikan hak eksklusif tertentu untuk pemasaran dari barang atau jasa itu.
• Franchisee yaitu pihak yang menerima hak eksklusif itu dari franchisor.
• Adanya penyerahan hak-hak secara eksklusif (dalam praktik meliputi berbagai macam hak milik intelektual atau hak milik perindustrian) dari franchisor kepada franchisee.
• Adanya penetapan wilayah tertentu, franchisee area dimana franchisee diberikan hak untuk beroperasi di wilayah tertentu.
• Adanya imbal-prestasi dari franchisee kepada franchisor yang berupa Initial Fee dan Royalties serta biaya-biaya lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.
• Adanya standar mutu yang ditetapkan oleh franchisor bagi franchisee, serta supervisi secara berkala dalam rangka mempertahankan mutu.
• Adanya pelatihan awal,pelatihan yang bersifat berkesinambungan, yang diselenggarakan oleh franchisor guna peningkatan keterampilan.
2.7.3 Jenis Waralaba
Berdasarkan pendapat Leon, Mary dan William (2003) dalam buku Hakim (2008, p21) sistem kewaralabaan dibedakan menjadi dua kategori besar, yaitu waralaba produk dan merek dagang serta waralaba format bisnis. Dua tipe sistem perwaralabaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Product and Trademark Franchising (Waralaba Produk dan
Merek Dagang)
Dalam format ini, franchisor memberikan kepada franchisee hak untuk menjual secara luas suatu produk atau brand tertentu.
Dalam Product and Trade-Name Franchise (atau sering disingkat product franchise), pemberi waralaba menghasilkan produk dan penerima waralaba menyediakan outlet untuk produk yang
dihasilkan pemberi waralaba.
2. Business Format Franchising (Waralaba Format Bisnis) Franchisor memberikan kepada franchisee hak untuk memasarkan suatu produk atau merek dagang tertentu serta
menggunakan sistem operasi lengkap dari franchisor. Dalam Business Format Franchises (atau disebut operating system franchises), penerima waralaba diberi lisensi untuk melakukan
usaha dengan menggunakan paket bisnis dan merek dagang yang telah dikembangkan oleh pemberi waralaba.
Dalam buku Jackie, Miranty dan Yanti (2006, p71-72) mengkategorikan waralaba menjadi empat tipe sebagai berikut : 1. Product Franchising (Trade-Name Franchising)
Franchisor menghasilkan produk dan franchisee menyediakan outlet untuk produk yang dihasilkan pemberi franchisee.
Contohnya : pompa bensin Pertamina
2. Manufacturing Franchising (Product-Distribution Franchising)
Bentuk ini sering digunakan dalam industri makanan dan minuman ringan. Contohnya : usaha franchise Pepsi Cola,
Coca-Cola. Dimana si franchisor memberi hak eksklusif untuk memproduksi secara lokal dan kepada dealer untuk mendistribusikan usahanya ke daerah tertentu.
3. Business-Format Franchising (Pure/Comprehensive Franchising)
Suatu pengaturan dimana franchisor menawarkan serangkaian jasa yang luas kepada franchisee, mencakup pemasaran advertensi (iklan), perencanaan strategik, pelatihan produksi dari manual dan standar operasi, pedoman pengendalian mutu dan lain-lain.
4. Franchise Pribadi
Usaha bisnis jaringan franchise yang dimiliki dan dikembangkan oleh satu orang dan biasanya dengan menjual nama orang yang bersangkutan.
2.8 Pola Waralaba Indomaret
2.8.1 Pola Kerjasama Waralaba