LANDASAN TEORI
2.5 Kanker Serviks
2.5.3 Faktor Resiko
2.5.3 Faktor Resiko
Faktor resiko adalah faktor yang meningkatkan terjadinya sesuatu. Austin Bradford Hill membuat 9 kriteria dari suatu faktor sehingga faktor tersebut dapat dikatakan sebagai faktor yang mempunyai hubungan kausal atau merupakan faktor resiko yaitu : 1. Kekuatan hubungan
2. Temporal
Kausal mendahului akibat. 3. Respon terhadap dosis
Makin besar paparan, makin tinggi kejadian penyakit. 4. Reversibilitas
Penurunan paparan akan diikuti penurunan kejadian penyakit. 5. Konsistensi
Kejadian yang sama akan berulang pada waktu, tempat dan penelitian yang lain. 6. Kelayakan biologis
Sesuai dengan konsep biologi. 7. Spesifitas
Satu penyebab menimbulkan satu Akibat. 8. Analogi
Ada kesamaan untuk penyebab dan akibat yang serupa. 9. Bukti eksperimen
Beberapa orang yang mengatakannya sangat diperlukan untuk menyimpulkan kausal.
Obat untuk penyakit kanker belum bisa diketahui secara pasti. Itu sebabnya pencegahan primer dengan menghindari faktor resiko adalah yang paling mungkin untuk dilakukan. Adapun faktor resiko seorang wanita terkena kanker serviks, diantaranya ialah:
1. Usia
Menurut Sirait et al (2003) frekuensi usia tertinggi penderita kanker serviks di RS Kanker Dharmais Jakarta ialah usia 40-49 tahun (35,9%) dan usia 50-59 tahun (28,3%). Hasil ini juga sesuai dengan hasil penelitian Nasution (2008) yang menyatakan penderita kanker serviks terbanyak dijumpai di RSU. Dr. Pirngadi Medan berusia antar 40-49 tahun yaitu 47,5%.
2. Usia menikah
Usia pertama kali menikah atau usia pertama kali melakukan hubungan seksual merupakan salah satu faktor yang cukup penting. Semakin muda seorang wanita melakukan hubungan seksual semakin besar resiko untuk terkena kanker serviks.
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa banyak responden yang menderita kanker
serviks menikah pada usia ≥ 20 tahun sebanyak 57,1% (2008) dan 59,1% (2009)
(Arumugam, 2010). Setyarini (2009), menyatakan bahwa penderita kanker serviks yang menikah usia 20 tahun beresiko untuk terkena kanker serviks 5 kali lebih besar daripada pasien yang menikah pada usia > 20 tahun.
3. Stadium klinis
Stadium klinis merupakan proses untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran kanker. Gejala kanker serviks tergantung pada tingkat stadiumnya. Pada tahap dini (pra-kanker), sering tidak menimbulkan gejala sama sekali kecuali keluhan seperti gangguan menstruasi, keputihan, kadang ditemukan adanya pendarahan vagina di luar masa haid, keluhan sakit pendarahan sewaktu melakukan hubungan suami istri, dan adanya infeksi pada saluran kandung kemih. Pada stadium lanjut mengakibatkan rasa sakit pada panggul, pendarahan yang berbau amis, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, dan anemia karena pendarahan.
Penentuan stadium klinis kanker serviks yang sering digunakan yaitu sistem FIGO (International Federation of Gynecology and Obstetric). Klasifikasi kanker serviks berdasarkan FIGO dapat dilihat pada tabel di bawah ini (American Cancer Society, 2010).
Tabel 2.1 Klasifikasi Stadium Klinis Kanker Serviks Menurut FIGO
Stadium Patologi
0 Karsinoma in situ (kanker pranvasif)
I Kanker serviks yang terbatas hanya pada serviks (penyebaran ke corpus diabaikan)
I a Invasi kanker didiagnosa dengan mikroskopi
I a1 Invasi minimal, semua lesi yang dapat dilihat dengan mikroskop
I a2 Kedalaman invasi stroma 3,00 mm atau kurang dan 7,00 mm atau kurang pada penyebaran yang mendatar
dan 7,00 mm atau kurang pada penyebaran yang mendatar
I b1 Secara klinis lesi dapat dilihat 4,00 cm atau kurang dengan pembesaran maksimal
I b2 Secara klinis lesi dapat dilihat 4,00 atau lebih denganpembesaran maksimal
II
Karsinoma menyerang di luar serviks tetapi belum meluas ke dinding pelvis dan 1
3 distal vagina
II a Tanpa ada keterlibatan parametrium yang nyata
II b Melibatkan parametrium nyata
III Tumor meluas ke dinding pelvis dan/atau meliputi
1
3 distal vagina dan/atau menyebabkan hydronephrosis atau tidak berfungsi ginjal
III a Tumor meluas ke 1
3 distal vagina, tidak menyebar ke dinding pelvis
III b Tumor menyebar ke dinding pelvis dan/atau menyebabkan
hydroneprosis atau tidak berfungsinya ginjal
IV a
Tumor myerang mukosa dari kandung kemih atau rectum dan/atau sudah keluar dari pelvis. Edema bulosa pada kandung kemih saja tidak boleh dimasukkan pada stadium T4
IV b Menyerang ke organ yang lain
Sumber: American Cancer Society, 2010
Nasution (2008) melaporkan stadium klinis yang memiliki proporsi tertinggi pada penderita kanker seviks ialah stadium lanjut (IIb-IVb) 57,9% dan penderita kanker serviks dengan stadium dini (0-IIa) 42,1%. Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sirait et al (2003), penderita kanker serviks di RS Kanker Dharmais Jakarta kebanyakan datang pada stadium IIIb sebesar 38,0% yang diikuti stadium IIb sekitar 25,5%.
4. Tingkat pendidikan
Dari hasil penelitian, terlihat bahwa banyak penderita kanker serviks mempunyai tingkat pendidikan yang rendah sebanyak 54,3% (2008) dan 62,5% (2009) (Arumugam, 2010). Hasil yang hampir sama juga terlihat pada penelitian di RSU. Dr. Pirngadi diperoleh penderita kanker serviks yang berpendidikan rendah sebesar
50,3%, berpendidikan menengah 38,8% dan berpendidikan tinggi sebesar 10,9% (Nasution, 2008).
5. Kontrasepsi
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa banyak responden yang menderita kanker serviks tidak pernah menggunakan kontrasepsi sebanyak 71,4% (2008) dan 64,8% (2009) (Arumugam, 2010). Setyarini (2009), mengatakan bahwa penggunaan kontrasepsi dalam jangka > 4 tahun meningkatkan resiko kanker serviks sebesar 0,20 kali lebih besar daripada penggunaan kontrasepsi 4 tahun.
6. Paritas
Berdasarkan hasil penelitian Arumugam (2010), terlihat bahwa banyak responden
yang menderita kanker serviks mempunyai jumlah paritas ≥ 3 sebanyak 80% (2008)
dan 59,1% (2009). Menurutnya, peningkatan infeksi semakin besar pada persalinan melebihi 3 kali, diperkirakan risiko 3 – 5 kali lebih besar pada wanita yang sering melahirkan untuk terjadi kanker serviks. Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Melva (2008), proporsi terbesar terjadi pada wanita yang mempunyai
paritas ≥ 3.
7. Frekuensi ganti pasangan
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa banyak responden yang menderita kanker serviks hanya menikah 1 kali sebanyak 87,1%.(2008) dan 71,6% (2009) (Arumugam, 2010). Menurut Melva (2008), resiko seseorang untuk terkena kanker serviks dengan menikah lebih dari 1 kali ialah 1,48 kali lebih tinggi dari wanita dengan frekuensi pernikahan 1 kali.
8. Merokok
Beberapa penelitian melaporkan bahwa resiko terkena kanker seviks akan menjadi lebih tinggi pada wanita perokok dibanding tidak merokok. Rokok membuat daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terhadap infeksi HPV. Namun ada anggapan bahwa zat-zat yang terkandung dalam asap rokok seperti nikotin dan tar dapat mempengaruhi sel-sel selaput lendir (mukosa) saluran pernapasan dan juga saluran organ lain dalam tubuh manusia termasuk mukosa leher rahim wanita (Melva, 2008).
BAB 3