• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 SEPSIS NEONATORUM .1 Definisi Sepsis Neonatorum .1 Definisi Sepsis Neonatorum

2.3.5 Faktor Risiko Sepsis Neonatorum

a. Usia Gestasi dan Berat Badan Lahir Rendah

Bayi prematur dan memiliki berat badan lahir rendah memiliki risiko 3-10x lipat untuk mengalami kejadian sepsis (Odabasi dan Bulbul, 2020).

Bayi BBLR memiliki risiko infeksi dikarenakan sistem imunitas tubuh yang belum berkembang secara sempurna, kebutuhan akan central venous access, dan rawat inap di rumah sakit (Hornik et al., 2012). Abnormalitas pertumbuhan intrauterin pada bayi BBLR akan berdampak pada gangguan

metabolisme, gangguan endokrinologis, dan gangguan neurologis yang pada akhirnya akan mengganggu sistem imunitas (Tröger et al., 2014).

Lini pertama pada innate immunity adalah physical barrier berupa kulit dan mukosa yang berperan untuk mencegah masuknya patogen.

Selama trimester ketiga, kelenjar sebasea yang ada di kulit akan mulai memproduksi substansi yang kaya akan lipid yang disebut vernix caseosa untuk menghidrasi kulit, mempertahankan pH, dan mengandung protein peptida antimikroba. Bayi yang lahir prematur sebelum trimester ketiga biasanya tidak akan memiliki vernix caseosa dan stratum korneumnya cenderung lebih tipis. Stratum korneum bayi prematur juga akan semakin buruk akibat adanya invasi dari peralatan pendukung hidup seperti akses intravena. Bayi prematur juga mungkin akan memiliki keterbatasan dalam konsumsi ASI, padahal ASI mengandung berbagai substansi imunitas seperti katelisidin, laktoferin, lisozim, dan IgA sekretorik sehingga apabila konsumsi ASI menurun bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Produksi yang tidak efektif dari berbagai respon inflamatorik seperti sel-sel imun, sitokin, kemokin, komplemen, dan reaktan fase akut juga berkontribusi besar pada peningkatan risiko infeksi bayi prematur. Pada bayi lahir cukup bulan, limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma untuk menghasilkan berbagai jenis antibodi dan hal ini disebut dengan class switching. Namun pada bayi prematur, mereka tidak mampu untuk untuk melakukan class switching sehingga jumlah antibodi yang diproduksi akan sangat minim. Selain itu, pada akhir trimester biasanya akan terjadi transfer antibodi IgG dari ibu kepada janin melalui plasenta. Jika bayi lahir prematur, maka transfer IgG tidak akan terjadi dan berakibat pada rendahnya konsentrasi IgG (Collins et al., 2018).

Pada suatu penelitian yang dilakukan di RSUD Ulin Banjarmasin pada tahun 2015, didapati hasil bahwa usia gestasi (prematuritas dan postmaturitas) terbukti berhubungan terhadap kejadian sepsis neonatorum dengan insiden sebesar 59,52% dan OR sebesar 6,526 (Dini et al., 2015).

Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Wangaya

Denpasar di tahun 2018, didapati bahwa dari 20 pasien yang menderita sepsis neonatorum, 14 diantaranya lahir secara prematur (Jaya et al., 2019).

b. KPD Aterm atau KPD Preterm

Salah satu komplikasi yang terjadi akibat pecahnya selaput amnion sebelum persalinan adalah infeksi yang dapat memicu terjadinya sepsis baik pada bayi cukup bulan maupun pada bayi prematur. Terdapat peningkatan risiko sebesar 10x lipat untuk terjadinya infeksi dan sepsis akibat KPD (Ocviyanti dan Wahono, 2018). Hal ini dikarenakan kontaminasi sedikit saja pada jalan lahir dapat langsung berdampak pada kehidupan neonatus (Al-Lawama et al., 2019).

Ketika selaput amnion telah ruptur, maka akan ada waktu bagi mikroorganisme patogen untuk naik dari traktus genitalia ibu menuju amnion (Ofman et al., 2016). Ketika ketuban pecah sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu, periode laten yang lebih lama sebelum dilakukannya persalinan pervaginam akan meningkatkan kemungkinan bayi untuk terinfeksi. Dengan demikian, semakin prematur bayi, semakin lama penundaan antara ketuban pecah dan persalinan, maka akan semakin tinggi kemungkinan sepsis neonatorum terjadi (Gollehon, 2019).

Pada suatu penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Nusa Tenggara Barat di tahun 2010, ditemukan bahwa responden yang mengalami KPD aterm ≥12 jam dan mengalami sepsis neonatorum adalah sebesar 31 kasus (50,8%) dan yang tidak mengalami infeksi sebesar 30 kasus (49,2%). Sedangkan responden yang mengalami KPD aterm <12 jam yang mengalami sepsis neonatorum adalah sebesar 26 kasus (27,7%) dan yang tidak mengalami infeksi sebesar 68 kasus (72,3%). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa KPD dan durasi terjadinya KPD memiliki hubungan dengan kejadian sepsis neonatorum (Mahayani, 2019). Pada penelitian lain yang dilakukan di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin di tahun 2017, dinyatakan bahwa KPD adalah faktor risiko utama yang dapat menyebabkan sepsis neonatorum jika dibandingkan dengan usia gestasi dan persalinan lama (Yuliana et al., 2019).

c. Prosedur invasif dan Infeksi Nosokomial

Prosedur invasif yang diberikan pada saat neonatus dirawat inap seperti kateterisasi intravena, kateterisasi urin, ventilasi mekanik, kanula nasal, Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), pemberian nutrisi parenteral, atau resusitasi saat lahir seperti intubasi endotrakeal dan pemasangan kateter vaskular umbilikalis diketahui dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri akibat adanya paparan mikroorganisme yang berkoloni di jalan lahir atau masuknya mikroorganisme selama proses resusitasi.

Selama bayi dirawat di rumah sakit, berbagai jenis mikroorganisme patogen yang ada di lingkungan rumah sakit juga dapat menginvasi neonatus melalui infeksi nosokomial (Shane et al., 2017).

d. Korioamnionitis, Kolonisasi GBS, dan Infeksi saluran kemih pada ibu Berbagai jenis infeksi yang terjadi pada ibu dapat meningkatkan risiko neonatus untuk mengalami sepsis sebesar 3x lipat pada korioamnionitis, 3,55x lipat pada infeksi saluran kemih, dan 3,63x pada kolonisasi GBS. Hal ini berkaitan dengan transmisi mikroorganisme secara vertikal (Randis et al., 2018). Apabila cairan ketuban sudah terinfeksi dan cairan ini teraspirasi oleh janin, maka ini juga akan menyebabkan infeksi pada janin yang berakibat pada persalinan prematur, lahir mati, fetal distress, atau sepsis (Bayih et al., 2021).

Wanita dengan infeksi saluran kemih selama kehamilan juga lebih mungkin untuk mengalami KPD, korioamnionitis, dan anemia yang akan menyebabkan bayi lahir prematur, BBLR, maupun Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) akibat sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga meningkatkan risiko terjadinya sepsis neonatorum (Azami et al., 2019).

Selain itu, infeksi saluran kemih yang tidak diobati selama kehamilan dapat berkembang menjadi komplikasi pielonefritis akut yang menyebabkan septikemia, dan hal ini dapat ditrasmisikan secara fetoplasenta sehingga memperburuk kondisi sepsis neonatus nantinya (Nteziyeremye et al., 2020).

e. Demam intrapartum >38 derajat celcius

Neonatus yang lahir dari ibu yang mengalami demam selama persalinan memiliki kemungkinan 6x lebih tinggi untuk mengalami sepsis. Hal ini dikarenakan demam intrapartum adalah salah satu indikasi adanya infeksi pada ibu yang dapat ditularkan kepada bayi dalam rahim atau secara vertikal melalui jalan lahir saat persalinan (Gebremedhin et al., 2016). Demam intrapartum juga telah diidentifikasi sebagai faktor yang berperan dalam transmisi vertikal Streptokokus Grup B (GBS) dari saluran genitalia bawah dan rektum ibu menuju serviks, selaput korioamnion, cairan amnion, dan plasenta terutama jika disertai dengan persalinan yang lama dan sulit, pemeriksaan vagina, dan KPD (Berardi et al., 2014).

f. Genetik

Salah satu komponen penting dalam sistem imunitas tubuh untuk melawan invasi mikroorganisme patogen adalah adanya pengenalan terhadap antigen oleh Pathogen Recognition Receptor (PRR). Dalam kasus sepsis, PRR yang dianggap paling bermakna adalah TLR4. Ketika terjadi polimorfisme ataupun mutasi pada TLR, maka akan terjadi perubahan pada ekspresi, pensinyalan, struktur, dan penurunan fungsi TLR yang kemudian akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada neonatus terutama pada neonatus BBLSR sebesar 3x lipat (Wynn dan Wong, 2017).

Selain itu, beberapa faktor predisposisi lain seperti nilai APGAR yang rendah, cairan ketuban yang berbau dan berwarna, asuhan kehamilan dan persalinan yang kurang baik, keterlambatan penegakan diagnosis sepsis, ibu berkulit gelap, riwayat aborsi berulang, persalinan yang sulit, maternal substance abuse, anomali kongenital, status sosioekonomi yang rendah, penggunaan obat-obatan tertentu (seperti proton pump inhibitor, H2-receptor blocker, dan antibiotik) yang dapat mempengaruhi mikrobioma neonatus dan berkontribusi pada kerentanan, adanya kelainan patologi pada saluran gastrointestinal, laki-laki yang lebih sering 4x dibandingkan wanita, fetal distress seperti asfiksia, serta kehamilan kembar juga berperan dalam terjadinya sepsis neonatorum serta mortalitas dan morbiditas yang ditimbulkannya (Gollehon, 2019).

Dokumen terkait