• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di samping informasi lain yang telah disajikan dalam Prospektus ini, risiko-risiko usaha berikut ini juga harus dijadikan pertimbangan oleh para investor. Setiap risiko yang dijelaskan di bawah ini dapat berdampak material pada bisnis Perseroan dan Entitas Anak, kondisi keuangan dan hasil operasi dan oleh karena itu dapat memiliki efek negatif pada harga perdagangan efek yang ditawarkan. Tambahan risiko dan faktor-faktor ketidakpastian yang saat ini tidak diketahui Perseroan atau yang saat ini dianggap tidak material oleh Perseroan, dapat memiliki efek negatif pada kondisi bisnis keuangan dan hasil operasi Perseroan dan Entitas Anak.

Seperti halnya bidang usaha lainnya, bidang usaha Perseroan juga tidak lepas dari tantangan dan risiko secara makro maupun mikro. Perseroan dan Entitas Anak telah mengurutkan risiko usaha yang diperkirakan dapat mempengaruhi usaha Perseroan secara umum sesuai dengan bobot risiko, dimulai dari risiko utama Perseroan yang dikelompokkan sebagai berikut:

A. RISIKO USAHA PERSEROAN

1. Risiko Pasokan Bahan Baku, Energi, Barang dan Jasa Utama Perseroan

Operasi Perseroan saat ini sangat bergantung pada ketersediaan berbagai bahan baku dan sumber daya energi, termasuk bijih besi, scrap baja, produk setengah jadi, seperti slab baja dan billet baja serta gas dan listrik. Perseroan memperoleh pasokan bahan baku dari dalam negeri yaitu PT Krakatau POSCO untuk slab baja, dan dari luar negeri yaitu dari negara Brazil, Australia, Rusia, Tiongkok dan Korea Selatan untuk slab baja dan billet baja, sedangkan untuk pasokan sumber daya energi, Perseroan memperoleh dari PT Pertamina (Persero) (“PT Pertamina”), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (“PT PGN”) untuk pasokan gas alam, PT Air Liquide Indonesia (“PT Alindo”) untuk pasokan gas industri serta dari PT Perusahaan Listrik Negara (“PT PLN”) untuk pasokan listrik. Pasokan bahan baku dan sumber daya energi memiliki risiko ketidakcukupan supply serta kenaikan harga.

Setelah Blast Furnace Complex, PLTU tenaga batubara 1 x 150 MW dan boiler batubara 2 x 80 MW mulai beroperasi, Perseroan juga akan bergantung pada ketersediaan iron ore fines dan batubara dalam jumlah yang cukup besar. Perseroan bermaksud untuk memperoleh iron ore fines dari Brazil dan Australia, sedangkan untuk batubara untuk Blast Furnace akan diperoleh dari Australia dan untuk PLTU serta boiler akan diperoleh dari dalam negeri. Pasokan iron ore fines dan batubara memiliki risiko ketidakcukupan supply serta kenaikan harga.

Selain ketergantungan kepada vendor bahan baku dan energi, Perseroan juga bergantung pada beberapa vendor kunci untuk memasok sebagian besar barang dan jasa lainnya yang diperlukan untuk menjalankan operasional bisnisnya. Perseroan bergantung pada pengadaan suku cadang, peralatan dan perlengkapan lainnya, serta sejumlah jasa dari vendor untuk mempertahankan dan mengganti komponen kunci dari pabrik Perseroan dan untuk menjalankan bisnis Perseroan. Jika Perseroan tidak dapat memperoleh bahan baku, energi, barang atau jasa yang memadai secara tepat waktu atau pada kondisi yang dapat diterima, atau jika terdapat peningkatan yang signifikan dalam biaya pengadaan yang dibutuhkan, maka Perseroan tidak dapat memaksimalkan utilisasi kapasitas produksi sehingga dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap bisnis, kondisi finansial, hasil usaha dan prospek Perseroan.

2. Risiko Persaingan dari Perusahaan Baja Lain

Perseroan adalah pemasok terbesar untuk produk flat product di Indonesia dan pemasok domestik terbesar kedua untuk long product. Selama tahun 2015, Perseroan menguasai 39% pangsa pasar HRC dan 29% pangsa pasar CRC domestik. Perseroan mendapatkan persaingan dari impor yang terus meningkat. Secara historis, Perseroan telah menikmati posisi pasar yang kuat relatif terhadap impor dan kebijakan pemerintah yang mendukung sehubungan dengan impor baja, termasuk tarif dan kewajiban impor.

Namun, tidak ada jaminan bahwa Perseroan masih dapat mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar domestik. Dengan semakin membanjirnya impor dan maraknya penyalahgunaan ijin impor maka terdapat risiko bahwa Perseroan tidak akan dapat mempertahankan posisi ini. Selain itu, Indonesia telah menandatangai perjanjian perdagangan bebas seperti ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement), Indonesia-Japan Comprehensive Economic Partnership Agreement (IJ-EPA), AKFTA (ASEAN-Korea Free Trade Agreement) dan AIFTA (ASEAN-India Free Trade Agreement) yang semakin membuka pintu lebar masuknya barang – barang impor termasuk baja ke Indonesia. Berdasarkan perjanjian ini, perdagangan untuk beberapa produk, termasuk komoditas baja telah diliberalisasikan sehingga dikenakan bea masuk impor nol atau lebih rendah dari bea masuk normal. Di sisi lain Perseroan juga menghadapi perilaku perdagangan yang tidak adil (unfair trade) seperti misalnya tindakan dumping atau subsidi dari negara tertentu. Peningkatan impor baja secara berlebihan dan dengan harga yang sangat murah dapat menyebabkan penurunan permintaan produk lokal dan memicu penurunan harga baja domestik yang dapat berdampak negatif terhadap pendapatan dan laba Perseroan. Perseroan juga menghadapi persaingan dari perusahan manufaktur domestik yang memproduksi baja-baja seperti yang diproduksi dan dijual oleh Perseroan. Apabila produsen domestik untuk produk-produk tersebut melakukan pengembangan fasilitas, maka Perseroan dapat terkena dampak negatif.

Selain itu, Perseroan juga harus mematuhi UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. UU ini melarang Perseroan untuk menyalahgunakan posisi yang dominan di pasar Indonesia. Berdasarkan posisi Perseroan yang dominan di pasar Indonesia, Perseroan dilarang untuk mengendalikan produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa yang dapat menimbulkan tindakan monopoli dan/atau persaingan usaha yang tidak sehat. Secara khusus, perseroan dilarang untuk memanfaatkan posisi dominan Perseroan untuk:

a. Menetapkan syarat perdagangan dengan maksud untuk menjauhkan atau membatasi pelanggan untuk memperoleh barang dan atau jasa yang bersaing baik dalam hal harga maupun kualitas

b. Membatasi pasar dan pengembangan teknologi

c. Membatasi pesaing lain yang potensial untuk masuk pasar

Jika Perseroan tidak mematuhi UU tersebut, Perseroan dapat terkena berbagai sanksi administratif yang setara dengan Rp 1 miliar dan Rp 25 miliar dan/atau perintah yang melarang Perseroan untuk terlibat dalam tindakan-tindakan yang dipercaya oleh pihak berwenang dapat menimbulkan tindakan monopoli dan/atau persaingan bisnis yang tidak sehat. Perseroan juga dapat dikenakan sanksi kriminal yang setara dengan denda antara Rp25 miliar dan Rp100 miliar atau Direksi Perseroan atau karyawan Perseroan dapat dikenakan hukuman penjara hingga 6 (enam) bulan. Selain itu, izin usaha Perseroan juga dapat dicabut.

3. Risiko Investasi Proyek Strategis

Saat ini Perseroan sedang melakukan pengembangan guna meningkatkan kapasitas produksi dan fasilitas Perseroan melalui berbagai proyek strategis yang dijadwalkan selesai antara tahun 2016 s.d 2019. Ekspansi ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi pengerolan baja Perseroan dari 3,15 juta ton per tahun pada 2015 menjadi 4,65 juta ton per tahun pada 2019. Program ekspansi Perseroan memiliki risiko yang signifikan, terutama risiko yang terkait dengan pengendalian biaya pembangunan proyek dan risiko ketidakcukupan pendanaan yang diperlukan untuk penyelesaian proyek-proyek sesuai rencana. Selain itu, beberapa proyek yang termasuk dalam program ekspansi

Perseroan masih dalam tahap awal dan sebagian telah mencapai tahap akhir penyelesaian. Pengeluaran tambahan modal baru yang dibutuhkan Perseroan untuk merealisasikan proyek- proyek seperti proyek pembangunan Blast Furnace Complex, HSM #2, PLTU tenaga batubara 1 x 150 MW serta boiler batubara 2 x 80 MW, yang didasarkan pada studi kelayakan, namun dalam realisasinya dapat terjadi penyesuaian, bergantung pada perubahan kondisi dibandingkan dengan asumsi yang digunakan dalam studi kelayakan sebelumnya. Rencana pelaksanaan proyek strategis Perseroan juga mempunyai risiko aspek teknis dalam merealisasikannya, seperti: keterlambatan konstruksi dan kegagalan oleh kontraktor dan vendor untuk melakukan pekerjaan secara tepat waktu sesuai kontrak, yang dapat berdampak pada peningkatan biaya konstruksi (cost overrun). Selain itu kondisi lingkungan dan geologi yang merugikan, termasuk kondisi cuaca buruk juga dapat mempengaruhi proses penyelesaian proyek sesuai rencana. Operasi dari fasilitas yang telah selesai konstruksi, mempunyai risiko kesulitan operasional yang diantaranya disebabkan oleh kualitas konstruksi/mesin/peralatan, kelangkaan bahan baku, energi dan pasar. Hal ini tentu sangat mempengaruhi kinerja dan merugikan bisnis Perseroan, mengingat besarnya modal yang telah dikeluarkan Perseroan guna mendanai berbagai proyek strategis.

4. Risiko Ketidakmampuan Perseroan Dalam Melakukan Perbaikan Struktur Permodalan Kemampuan Perseroan untuk meningkatkan produksi dan penjualan akan bergantung pada kemampuan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui proyek strategis Perseroan. Strategi investasi untuk merealisasikan proyek strategis Perseroan, akan memerlukan modal yang besar. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2015 dan 30 Juni 2016, kas untuk belanja modal yang telah dikeluarkan oleh Perseroan adalah masing-masing sebesar USD191,06 juta dan USD48,88 juta.

Apabila kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi dan dari aktivitas pendanaan Perseroan tidak cukup untuk mendanai kebutuhan investasi, Perseroan akan membutuhkan tambahan pendanaan dari hutang baru lainnya dan/atau pembiayaan ekuitas.

Pada tanggal 30 Juni 2016, Perseroan memiliki hutang bank yang terdiri dari hutang bank jangka pendek dan hutang bank jangka panjang sebesar US$ 1,74 miliar, yang mewakili 97% dari total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Porsi hutang bank jangka pendek dengan hutang bank jangka panjang adalah 51:49, yang menunjukkan bahwa hampir setengah dari posisi hutang bank saat ini digunakan untuk membiayai proyek-proyek strategis, selain digunakan untuk kebutuhan modal kerja. Tingkat hutang Perseroan tersebut dapat berpengaruh kepada kemampuan Perseroan dalam melakukan perbaikan modal, karena Perseroan harus mendedikasikan sebagian besar arus kas dari operasi untuk pembayaran hutang. Kondisi ini tentu saja dapat mengurangi ketersediaan arus kas guna membiayai modal kerja, belanja modal, membatasi kemampuan Perseroan untuk memperoleh pembiayaan tambahan untuk mendanai modal kerja masa depan, membatasi kemampuan Perseroan untuk meminjam dana tambahan dengan tingkat suku bunga yang bersaing dan persyaratan Perseroan umum yang lainnya.

Jika Perseroan tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan atau mendapatkan modal tambahan yang cukup di masa depan serta menjaga struktur modal yang optimal, maka akan sangat berpengaruh terhadap kinerja bisnis dan kelangsungan usaha Perseroan serta kemampuan Perseroan dalam memberikan hasil kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. 5. Risiko Tidak Berjalannya Skenario Bisnis Perusahaan Joint Venture (JV)

Pada tanggal 27 Desember 2012, Perseroan mendirikan perusahaan patungan dengan Nippon Steel Sumitomo Metal Corporation (“NSSMC”), yaitu sebuah perusahaan baja yang berkedudukan di Jepang, dengan nama PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (PT KNSS). Perusahaan ini didirikan untuk mengembangkan dan membangun galvanizing and annealing processing line yang berlokasi di Krakatau Industrial Estate di Cilegon, Indonesia. Berdasarkan perjanjian joint venture, NSSMC pada awalnya memiliki 80,0% saham dalam PT KNSS, sementara Perseroan pada awalnya memiliki 20,0% saham. Perseroan selanjutnya dapat meningkatkan saham di PT KNSS menjadi maksimal

51,0% saham. PT KNSS memiliki kapasitas sebesar 500.000 metrik ton produk galvanized/ annealed baja lembaran dingin per tahun, dimana diharapkan minimum 20% kebutuhan bahan baku baja lembaran dingin akan dipasok oleh Perseroan.

Pada tanggal 27 Desember 2012, Perseroan mendirikan perusahaan patungan dengan Osaka Steel Co. Ltd. (“OSC”), yaitu sebuah perusahaan baja yang berkedudukan di Jepang, dengan nama PT Krakatau Osaka Steel (PT KOS). Perusahaan ini didirikan untuk mengembangkan dan membangun pabrik baja tulangan dan profil yang berlokasi di Krakatau Industrial Estate di Cilegon, Indonesia. Berdasarkan perjanjian joint venture, OSC pada awalnya memiliki 80,0% saham dalam PT KOS, sementara Perseroan pada awalnya memiliki 20,0% saham. Perseroan selanjutnya dapat meningkatkan saham di PT KOS menjadi maksimal 51,0% saham. PT KOS memiliki kapasitas sebesar 500.000 metrik ton produk baja tulangan dan profil per tahun, dimana diharapkan minimum 20% kebutuhan bahan baku billet baja akan dipasok oleh Perseroan.

Pada tanggal 20 Desember 2013, Perseroan mendirikan perusahaan patungan dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (“PT SI”), yaitu sebuah perusahaan semen yang berkedudukan di Indonesia, dengan nama PT Krakatau Semen Indonesia (PT KSI). Perusahaan ini didirikan untuk mengolah slag, yang merupakan produk sampingan dari Blast Furnace milik Perseroan, menjadi slag powder sebagai bahan baku semen, yang berlokasi di Cilegon, Indonesia. PT KSI memiliki kapasitas sebesar 750.000 metrik ton produk slag powder per tahun, dimana diharapkan minimum 400.000 ton per tahun kebutuhan bahan baku slag akan dipasok oleh Perseroan.

Dengan terbentuknya PT KNSS, PT KOS serta PT KSI, terdapat risiko bahwa joint venture tersebut tidak dapat berjalan seperti yang direncanakan atau sekalipun berjalan, Perseroan tidak dapat memasok kebutuhan beberapa pasokan yang direncanakan semula, seperti baja lembaran dingin, billet, slag dengan harga, jumlah dan kualitas sesuai rencana secara konsisten sehingga tidak dapat mendukung kinerja Perseroan.

Selain itu, kewajiban para pihak dalam PT KNSS, PT KOS dan PT KSI tunduk pada kondisi-kondisi tertentu, beberapa diantaranya berada di luar kontrol Perseroan, dan beberapa diantara lainnya dapat tidak terpenuhi.

6. Risiko Sumber Daya Manusia

Perseroan sangat menyadari bahwa kesuksesan bisnis Perseroan bergantung pada kemampuan daya saing Perseroan, baik dari sisi keunggulan produk maupun strategi bisnis. Perseroan mengidentifikasi bahwa key factor dalam menjaga hal ini adalah keunggulan aspek pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama penyiapan Pimpinan Perseroan serta pengelolaan Personil Kunci (Key Person) yang memiliki kemampuan dalam menjalankan proses dan mengambil keputusan bisnis yang dibutuhkan.

Kekosongan Pimpinan maupun Personil Kunci yang kompeten dapat berakibat buruk bagi Perseroan. Terdapat potensi risiko terkait pengelolaan Personil Kunci dan Pimpinan Perseroan, yaitu jika terjadi pengurangan jumlah Personil Kunci dan Pimpinan Perseroan akibat meninggal dunia, mengundurkan diri atau memilih pindah ke Perusahaan lain maka Perseroan dapat menghadapi kesulitan dalam menggantikan mereka secara cepat khususnya untuk tenaga ahli yang sulit diperoleh di pasar tenaga kerja. Beberapa posisi kunci membutuhkan penyiapan pengetahuan, keahlian serta pengalaman personil yang membutuhkan waktu cukup lama. Kegagalan Perseroan untuk mengganti Personil Kunci dan Pimpinan Perseroan secara cepat dapat berdampak negatif terhadap bisnis Perseroan, serta pada kemampuan Perseroan untuk memenuhi target pendapatan dan profitabilitas serta untuk mengejar strategi pertumbuhan Perseroan.

Serikat Karyawan Perseroan terbentuk dengan mulai berdirinya Serikat Karyawan Krakatau Steel (“SKKS”) pada tanggal 18 Mei 1999 sebagai mitra strategis Perseroan. Selain itu, Perseroan bersama serikat karyawan telah menandatangani Perjanjian Kerja Bersama (“PKB”) yang terus diperbarui tiap periode untuk mengakomodasi aspirasi karyawan. Dengan perkembangan peraturan mengenai ketenagakerjaan terutama masalah perupahan, Perseroan tidak menjamin bahwa semua tuntutan perubahan dapat dipenuhi dan tidak menimbulkan permasalah industrial dengan

karyawan dan Serikat Karyawan. Terjadinya masalah-masalah terkait hubungan industrial tersebut dapat mengganggu operasi Perseroan serta dapat memberikan dampak yang negatif pada bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek usaha Perseroan.

7. Risiko Ketidakcukupan Pertanggungan Asuransi Perseroan

Proses manufaktur Perseroan sangat bergantung pada bagian penting dari peralatan pengolahan dan pembuatan besi baja yaitu Iron Making, Steel dan Rolling Mill, serta peralatan penunjang produksi yang dapat berhenti sebagai akibat dari kerusakan tak terduga seperti : kebakaran, ledakan, kondisi cuaca buruk atau bencana alam. Setiap terjadinya gangguan dalam kemampuan produksi memungkinkan Perseroan untuk mengeluarkan dana yang besar untuk memperbaiki fasilitas yang rusak serta dapat berdampak negatif terhadap likuiditas dan profitabilitas Perseroan. Guna menjamin kelangsungan bisnis kedepan, Perseroan memiliki asuransi atas kerusakan properti all-risk yang disebabkan oleh kecelakaan (seperti kebakaran, bencana alam) dan kerusakan mesin, serta selalu berusaha untuk memperpanjang periode polis asuransi serupa untuk properti dan proyek Perseroan di waktu yang akan datang. Perseroan juga memiliki asuransi all- risks yang memberikan perlindungan maksimum untuk kebakaran dan penyebab lain sejenis serta kehilangan dan kerusakan hingga USD 500 juta per kejadian. Perseroan menjaminkan asetnya dengan coverage limit (limit jaminan dibandingkan dengan nilai aset yang dijamin) sebesar 20%. Namun demikian, terdapat potensi risiko terkait kemungkinan ketidakcukupan pertanggungan asuransi Perseroan untuk menutupi seluruh kerugian atas fasilitas produksi Perseroan di Cilegon, ketika terjadi suatu force majeur, mengingat declare value untuk fasilitas produksi Perseroan, yaitu sebesar USD 2,5 miliar pada tanggal 1 Mei 2016. Sementara itu peristiwa kecelakaan tertentu, seperti nuklir, perang, terorisme, kerusakan, korosi dan polusi tidak tercakup dalam polis asuransi, padahal peristiwa tersebut dapat mengekspos Perseroan kepada potensi kerugian yang sangat besar, karena dikecualikan atau tidak ditanggung asuransi.

Selain kerusakan properti Perseroan yang disebabkan oleh kecelakaan, Perseroan dapat mengalami gangguan bisnis Perseroan atau menjadi subyek klaim oleh pihak ketiga yang terluka atau dirugikan sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut. Perseroan tidak memiliki asuransi gangguan bisnis yang disebabkan kerusakan fasilitas produksi Perseroan. Jika penggunaan fasilitas produksi Perseroan terganggu secara keseluruhan atau sebagian untuk jangka waktu yang panjang sebagai akibat dari peristiwa tersebut, bisnis, prospek usaha, pendapatan, profitabilitas, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan dapat terpengaruh secara negatif. Premi asuransi Perseroan dapat meningkat sebagai akibat dari kondisi pasar atau berdasarkan klaim yang ada, jika ini terjadi Perseroan kemungkinan perlu mengurangi batas cakupan polis atau menyetujui untuk mengurangi persyaratan tertentu dari asuransi. Setiap risiko ini dapat memberikan dampak yang merugikan bagi bisnis, kondisi keuangan, arus kas, prospek dan hasil usaha Perseroan. 8. Risiko Kuatnya Kontrol Pemerintah Atas Pengelolaan Perseroan

Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian BUMN memiliki 80% saham Perseroan yang ditempatkan dan disetor. Setelah PMHMETD I, Pemerintah tetap memiliki 80% dari Perseroan dan akan terus melakukan kontrol atas Perseroan. Dengan demikian, Pemerintah secara efektif akan mengendalikan masalah-masalah yang membutuhkan suara pemegang saham, termasuk struktur Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan, dan menentukan waktu dan jumlah pembayaran dividen. Pemerintah dapat mempengaruhi, dan kemungkinan terus mempengaruhi, strategi dan operasi Perseroan. Kemampuan Pemerintah untuk mempengaruhi jumlah saham yang dapat dijual Perseroan dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk meningkatkan modal dan dapat membatasi kemampuan Perseroan untuk meningkatkan pembiayaan tambahan secara material. Selain itu, Pemerintah memiliki 1 (satu) lembar Saham Seri-A Dwiwarna di Perseroan yang memberikan Pemerintah, diwakili oleh Kementerian BUMN, hak-hak tertentu seperti diperlukannya persetujuan untuk, antara lain, pencalonan, pemilihan dan pengangkatan Dewan Komisaris

konsolidasi, akuisisi atau spin-off. Seluruh kandidat untuk pemilihan Dewan Komisaris dan Direksi ini harus dinominasi oleh pemegang Saham Seri-A Dwiwarna. Hak-hak Pemerintah yang melekat pada Saham Seri-A Dwiwarna ini membatasi kemampuan pemegang saham publik untuk mempengaruhi hal-hal tertentu yang berkaitan dengan Perseroan. Di dalam Anggaran Dasar Perseroan, Pemerintah tidak dapat mentransfer Saham Seri-A Dwiwarna. Hak Pemerintah sehubungan dengan Saham Seri-A Dwiwarna tidak akan hilang kecuali anggaran dasar Perseroan diubah, hal ini akan memerlukan persetujuan dari Pemerintah sebagai pemegang Saham Seri-A Dwiwarna.

Terdapat kemungkinan bahwa pemerintah akan menggunakan kontrol dan pengaruhnya untuk kepentingan Perseroan. Kepentingan Pemerintah dapat juga pada sewaktu-waktu bertentangan dengan kepentingan Calon Investor. Sebagai contoh, Pemerintah dapat meminta Perseroan untuk melakukan transaksi yang tidak sejalan dengan kepentingan terbaik Perseroan, termasuk terlibat dalam transaksi dengan pihak yang berada di bawah pengendalian bersama dengan Perseroan, dengan kondisi yang tidak ditentukan oleh pasar. Meskipun Perseroan telah berusaha untuk mengeksekusi dan terus berupaya untuk bernegosiasi tentang seluruh transaksi dengan pihak yang terkait dengan arm’s-length basis dan telah membuat dan mengadopsi prosedur untuk melakukan transaksi dengan pihak terkait, konflik kepentingan tetap bisa timbul antara Perseroan, perusahaan afiliasi, perusahaan pemerintah lainnya, dan pemegang saham utama Perseroan. Setiap instruksi atau konflik kepentingan dapat berdampak negatif terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha operasional, dan prospek usaha Perseroan. Pengaruh Pemerintah yang sangat kuat dapat memberikan dampak merugikan terhadap bisnis, prospek, kondisi keuangan, likuiditas dan hasil usaha Perseroan.

9. Risiko Perubahan Teknologi

Walaupun secara umum teknologi yang digunakan dalam industri baja tidak berubah secepat industri lain, Perseroan masih dapat menghadapi persaingan dikarenakan teknologi yang saat ini sedang dikembangkan atau yang akan dikembangkan di masa yang akan datang. Pengembangan atau penerapan teknologi, jasa atau standar baru atau alternatif di masa depan dapat mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap model bisnis, perolehan atau penggunaan fasilitas atau peralatan baru, pengembangan produk baru dan penambahan layanan Perseroan, serta investasi substansial baru oleh Perseroan. Perseroan tidak dapat memprediksi secara akurat bagaimana perubahan teknologi di masa mendatang akan mempengaruhi operasi Perseroan atau daya saing fasilitas atau produk Perseroan. Perseroan tidak bisa menjamin bahwa teknologi Perseroan tidak akan usang, atau akan mengadapi kompetisi dari teknologi-teknologi baru di masa depan, atau bahwa Perseroan akan mampu untuk memiliki teknologi baru yang diperlukan untuk bersaing dalam keadaan yang telah berubah dalam kondisi komersial yang dapat diterima.

10. Risiko Pengoperasian Bisnis Inti Perseroan Yang Seluruhnya Berlokasi / Terkonsentrasi di Cilegon

Secara substansial, seluruh kegiatan Perseroan saat ini dan yang direncanakan, termasuk seluruh produksi baja Perseroan, berlokasi dan akan dilokasikan di komplek Perseroan di Cilegon. Perseroan tidak memiliki rencana produksi alternatif atau fasilitas alternatif jika Perseroan