DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
5.1 Hasil Wawancara
5.1.2 Faktor Siswa
Dari segi faktor siswa yang menjadi faktor utama menghambat pembelajaran membaca puisi kelas V pada anak berkebutuhan khusus yakni kemampuan siswa. Kemampuan siswa berkebutuhan khusus dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dalam pelaksanaan pembelajaran tidak sebaik siswa normal atau reguler. Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru dan kepala sekolah, peneliti mendapatkan informasi bahwa ada beberapa kendala atau kesulitan yang dihadapi siswa. Peneliti secara sengaja tidak melakukan wawancara dengan siswa, karena menghindari adanya ketidakfokusan penelitian. Pemerolehan informasi mengenai siswa berkebutuhan khusus dilakukan dengan cara observasi langsung selama proses pembelajaran dan interaksi siswa dengan siswa lain ataupun guru. Selain itu, informasi mengenai siswa berkebutuhan
khusus juga diperoleh dari wawancara peneliti dengan guru dan kepala sekolah. Dengan begitu, fokus penelitian lebih kepada faktor penghambat guru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca puisi.
Berdasarkan wawancara dengan guru kelas, siswa berkebutuhan khusus dalam pelaksanaan pembelajaran membaca puisi memiliki kendala yakni siswa tidak dapat membaca dan menulis. Siswa yang tidak bisa membaca tentu saja mengalami kesulitan dalam membaca puisi yang memiliki berbagai kriteria penilaian khusus.
Kriteria penilaian membaca puisi terdiri dari pelafalan kata dengan benar, intonasi yang jelas, ekspresi yang sesuai, dan tempo yang tepat. Siswa reguler hanya perlu latihan secara rutin agar kriteria penilaian membaca puisi tersebut dapat tercapai dengan baik. Namun, untuk siswa berkebutuhan khusus menjadi hal yang sulit untuk mencapai kriteria penilaian, karena siswa berkebutuhan khusus tidak menguasai baca dan tulis dengan baik seperti yang dijelaskan pada wawancara GK V 3.
“Untuk pembelajaran puisi di kelas V, ABK tidak dapat mencapai kriteria penilaian dengan baik karena tidak menguasai baca tulis yang baik, terutama membaca karena banyak kendala. Kalau untuk yang bukan ABK tidak terlalu memiliki kendala.”
(Wawancara, GK V 3)
Kemampuan siswa berkebutuhan khusus yang terbatas menjadi kendala utama yakni siswa berkebutuhan khusus tidak dapat membaca dengan baik. Selain hal tersebut, latar belakang siswa berkebutuhan khusus yang sebagian besar berasal dari keluarga yang kurang mampu dan keluarga kurang memperhatikan pendidikan anaknya. Orang tua atau wali siswa berkebutuhan khusus hanya bergantung pada sekolah inklusi untuk mengajarkan anak mereka. Padahal, waktu
siswa lebih banyak digunakan di luar sekolah, sedangkan di sekolah hanya berkisar 6-7 jam per hari. Perhatian orang tua sangat diperlukan bagi siswa berkebutuhan khusus, agar siswa mampu meningkatkan kemampuannya dengan tidak mengandalkan guru sekolah. Apabila antara guru dan orang tua/wali siswa terjalin kerjasama yang baik, tentunya akan mempermudah tugas guru memberikan pembelajaran terhadap siswa berkebutuhan khusus tersebut. Penjelasan mengenai hubungan guru kelas dengan orang tua/wali siswa sesuai dengan wawancara GK V 2.
“Orang tua siswa rata-rata kurang peduli dan kurang tanggap terhadap perkembangan anaknya. Mereka hanya pasrah dan menitipkan atau menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada pihak sekolah. Tapi dulu ada orang tua ABK yang bisa diajak kerjasama dengan baik sampai anak beliau akhirnya bisa baca, beliau sampai nangis. Itu karena ditelateni bersama, jadi anaknya bisa berkembang padahal tadinya sama sekali ngga bisa baca.”
(Wawancara, GK V 2)
Di SD Kalinyamat Kulon 3 sebagian besar orang tua/wali siswa bekerja merantau di luar kota. Siswa sebagian besar dititipkan di rumah neneknya atau saudara dekat lainnya. Hal tersebut mengakibatkan kurang terjalin komunikasi yang baik antara guru dan orang tua/wali siswa. Hubungan antara pihak SD Kalinyamat Kulon dan orang tua/wali siswa berdasarkan wawancara KS 3 dan wawancara GK V 3 sebagai berikut.
“Hubungan antara sekolah dengan orang tua/wali murid ya biasa-biasa saja, cuek, tidak sering konsultasi.”
(Wawancara, KS 3)
“Karena orang tua murid jarang di rumah, paling ketemu kalau penerimaan rapor, sedangkan penerimaan raporpun sering diwakilkan bude atau neneknya, jadi kita mau menyampaikan ke orang tua langsung tidak bisa, kelurga anak ABK kurang perhatian”
Di SD Pekauman 8 berbeda dengan kedua SD lain yakni SD Slerok 2 dan SD Kalinyamat Kulon 3. Perbedaannya yaitu jenis siswa berkebutuhan khusus lebih beragam, sehingga pembelajaran sulit untuk dilaksakan bagi siswa yang memiliki ketunaan cukup berat. Padahal sekolah inklusif seharusnya hanya menerima siswa berkebutuhan khusus (SBK) dengan jenis berkesulitan belajar atau tuna grahita ringan yang lebih mudah untuk ditangani guru kelas. Karena ketunaan yang cukup berat harus ditangani dengan penanganan khusus oleh tenaga ahli dan tidak dapat diatasi oleh guru kelas/reguler.
“Jenis siswa berkebutuhan khusus yang ada di SDN Pekauman 8 yaitu slow learner (SL), bisu atau tuli, cacat penglihatan, superior, dan keterbelakangan mental ringan.”
(Wawancara, KS 8)
Bagi siswa berkebutuhan khusus yang memiliki ketunaan dengan tingkat sulit atau berat biasanya dirujuk ke Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Namun, untuk orang tua/wali siswa yang kurang mampu biasanya tidak bersedia untuk dirujuk ke SDLB karena biayanya cukup mahal. Oleh karena itu, pihak sekolah merasa terbebani dengan adanya hal tersebut, karena siswa dengan tingkat ketunaan yang sulit tidak dapat ditangani dengan baik. Adapula siswa low vision atau cacat penglihatan yang sudah diberi bantuan oleh pemerintah namun orang tua/wali siswa tidak melakukan pengobatan lanjutan. Hal tersebut dikarenakan pengobatan dilakukan di luar kota yakni di Kota Jakarta, sehingga orang tua merasa terbebani pada biaya transportasi, walaupun biaya pengobatan mendapat bantuan dari pemerintah. Hubungan Orang tua/wali siswa dengan sekolah yang masih kurang bekerjasama dan kurang bisa menerima saran sekolah, sesuai dengan wawancara GK V 8.
“Orang tua siswa kurang ada kerjasama dengan guru, dan lebih menyerahkan seluruh proses belajar siswa pada sekolah dan guru. Serta sering tidak mengikuti saran guru untuk meningkatkan kemampuan anaknya. Sering ada siswa yang sudah tidak mampu dibelajarkan di sekolah inklusi, namun pihak orang tua tidak mau jika anaknya dirujuk ke SDLB. Padahal anak itu butuh penanganan khusus yang hanya bisa ditangani di SDLB. Kami guru sekolah inklusi kan tidak seperti guru SDLB yang memang sudah dapat pendidikan mengenai ABK.”
(Wawancara, GK V 8)
Faktor penghambat guru dalam pembelajaran membaca puisi yang terdapat pada siswa yakni kemampuan siswa dan latar belakang orang tua siswa.