BAB II. LANDASAN TEORI
C. Faktor Sosial dan Personal yang Mendorong Perkembangan
Paloutzian (1996) berpendapat bahwa arti agama bagi seseorang
berubah seiring dengan perkembangan dari anak-anak sampai dewasa seperti
halnya pendewasaan memodifikasi peran agama selama tahap perkembangan
dewasa. Harms (dalam Ploutzian, 1996) mengungkapkan tahap-tahap kognitif
yang dilalui individu dalam perkembangan agama. Tahap-tahap tersebut
adalah:
1. Usia 3-6 tahun: tahap dongeng agama (the fairy tale stage of
religion). Pada tahap ini individu belum bisa membedakan antara
fantasi dan realita. Gambaran dan ide tentang Tuhan setara dengan
cerita raksasa, fabel, hantu, malaikat bersayap, dan Santa Claus.
Figur-figur dalam agama tersebut berperan dalam menghadirkan
figur yang memberi imbalan maupun hukuman.
2. Usia 7-12 tahun: tahap realistik (the realistic stage). Pada tahap ini
individu cenderung membuat konsep religius secara konkret.
individu mulai memandang fantasi tertentu sebagai hal konkret,
misalnya mulai menyadari bahwa Santa Claus adalah fantasi dan
mampu memaknai simbol-simbol agama. Pada tahap ini individu
menyadari fungsi agama dalam konformitas sosial. Dengan
menggunakan simbol-simbol dan melakukan kegiatan keagamaan,
3. Usia 13-18 tahun: tahap individualistik (the individualistic stage).
Pada tahap ini individu sudah memiliki pandangan agama yang
berbeda dengan individu yang lainnya. Harms (dalam Paloutzian,
1996) membaginya ke dalam 3 kategori yaitu konvensional,
mistikal dan kreatif. Pada tahap ini agama tidak lagi digunakan
untuk mendapatkan konformitas sosial tetapi lebih ke fungsi diri
sendiri.
Tokoh lain yang mengungkapkan tahap perkembangan kepercayaan
pada individu adalah Fowler. Fowler (dalam Cremers, 1995) membedakan
antara agama (religion), belief, dan faith. Baginya, faith jauh lebih
fundamental dan pribadi daripada religion dan belief. Faith mendasari belief
dan religion. Fowler (dalam Cremers, 1995) mengatakan bahwa faith
seringkali bersifat kepercayaan religius, namun tidak selalu dan mutlak.
Fowler (dalam Cremers, 1995) mencontohkan, seorang atheis pun memiliki
faith berupa mencari arti dan makna misalnya dalam bentuk konkrit seperti
akal budi manusia, karya sosial, ilmu pengetahuan, dan kesenian. Berdasarkan
pengertian tersebut, Fowler (dalam Crapps, 1995) membagi tahapan
perkembangan agama menjadi lima tahap, yaitu:
1. 0-2 th : Tahap primal faith atau kepercayaan awal (elementer)
Tahap ini berfungsi untuk menciptakan suatu jaringan kuat
sejumlah relasi kepercayaan serta kesetiaan yang tidak dapat
diragukan. Hal ini penting untuk menanggulangi kontingensi
eksistensi yang menjelma dalam ketakutan fundamental akan
ketiadaan dan perasaan tentang rapuhnya segala sesuatu yang ada.
Segala pengalaman negatif yang menimbulkan rasa curiga dasar
ini dapat merajalela ke seluruh segi hidup, dan tentu saja dapat
mempunyai dampak negatif terhadap segala gambaran tentang
Allah.
2. 2-6 th : Tahap kepercayaan intuitif-proyektif
Pada tahap ini individu baru mengenal bahasa dan
memiliki dorongan untuk menjelajah dunia barunya. Segala
pengalaman baru yang perseptif-afektif dan imajinatif ini diangkat
ke dalam medium bahasa untuk diekspresikan dan ―disadari‖.
Maka dari itu, pada tahap ini anak sering bertanya ‗apa‘ dan
‗mengapa‘ demi mencapai objektifitas. Tahap ini berfungsi untuk
memperoleh pengetahuan yang benar dan objektif.
3. 6-11 th : Kepercayaan mistis-harfiah
Pada tahap ini individu tidak lagi memandang Allah dalam
konteks imajinatif melainkan dalam konteks antropomorf. Alah
digambarkan sebagai figur otoritas yang menciptakan
undang-undang dan terikat pada ―resiprositas‖ dan fairness. Dengan
demikian anak mengembangkan suatu sikap perfeksionis yang
yang tak kenal kompromi. Hal ini mendorong individu untuk
berbuat baik demi memperoleh sesuatu yang baik pula, misalnya
berdoa supaya memperoleh pahala.
4. 12-18 : Tahap kepercayaan Sintetis-Konvensional
Pada tahap ini individu berlajar mengambil sudut pandang
orang ketiga. Individu mencoba saling mencocokkan diri dengan
nilai dan perspektif yang belum dipilihnya secara independen.
Formasi ideologi yang terbentuk pada tahap ini merupakan awal
bagi seseorang untuk mengkombinasikan nilai dan kepercayaan.
5. 18-35 : Tahap kepercayaan Individutif-reflektif
Tahap ini menghasilkan diri yang membentuk identitasnya
sendiri dan mengadopsi pandangannya sendiri serta mengakui diri
yang terpisah dari orang lain.
6. 35- dst : Tahap kepercayaan konjungtif
Pada tahap ini individu kembali meninjau dirinya secara
raikal sehingga batas-batas diri, kepribadian, dan pandangan hidup
yang sebelumnya telah ditetapkan, sekarang menjadi kabur.
Kebenaran tidak lagi dipandang sebagai kepastian melainkan
relatif. Suatu hal tidak pasti benar atau salah, bahkan pada agama
7. 30- dst : Tahap kepercayaan universal
Tahap ini jarang terjadi dan terutama hanya muncul pada
tokoh besar di sejarah agama. Orang yang masuk tahap ini
memiliki ciri yang mirip dengan manusia matang namun, mereka
melampaui dirinya menuju kedalaman transendensi yang bukan
manusiawi dan alamiah.
Paloutzian (1996) mengamati teori-teori perkembangan agama milik
Harms (dalam Brown, 1973) dan Fowler (dalam Creswel, 1995) dan
mengambil garis besar bahwa setidaknya ada tiga tipe proses psikologis yang
berinteraksi mendorong perkembangan agama, terutama pada remaja. Faktor
psikologis itu adalah kognitif, faktor sosial, dan faktor personal. Sedangkan
pada anak yang lebih muda, faktor yang berinteraksi adalah kognitif dan
faktor sosial.
Perubahan kemampuan kognitif selama perkembangan manusia
mempengaruhi individu dalam memahami agama. Paloutzian (1996)
menggunakan teori perkembangan moral Piaget untuk menjelaskan
perkembangan agama pada anak. Menurut Paloutzian (1996), faktor kognitif
mempengaruhi pemahaman anak terhadap agama seperti perkembangan
bahasa dan imajinasi. Sedangkan selama masa remaja, individu berkembang
ke tahap operasional formal yang membuat remaja secara mental mampu
mengkonseptualisasikan hal abstrak yang diperlukan untuk memahami
kognitif bersifat normatif sehingga tidak akan dibahas lebih lanjut dalam
penelitian ini.
1. Faktor Sosial
Individu memiliki lingkungan sosial yang mempengaruhi
kehidupan beragamanya. Pengalaman yang didapat dari lingkungan sosial
tersebut mempengaruhi pandangan dan kehidupan beragamanya.
Paloutzian (1996) mengatakan Faktor sosial utama yang berpengaruh
pada perkembangan agama anak adalah keluarga dan gereja (dalam hal
ini diartikan sebagai komunitas keagamaan), sedangkan pada remaja
muncul faktor sosial baru seperti teman sebaya dan sekolah. Ragg (2006)
berpendapat bahwa anggota keluarga melalui hubungannya dengan
institusi budaya, membentuk sistem nilai anak mereka. Anak
mengobservasi peran institusional, prioritas pengasuhan, dan cost-benefit
antara keluarga dan institusi budaya dan sejak usia yang sangat muda,
anak-anak memutuskan seberapa pentingnya institusi dan nilai yang
berkaitan dalam hidup mereka. (Ragg, 2006). Noller dan Fitzpatrick
(1993) mengungkapkan hal yang senada, menurut mereka salah satu tugas
orang tua adalah mensosialisasikan anak mereka untuk menjadi anggota
bertahun-tahun dan berbagai variasi perilaku (misalnya makan dengan
mulut tertutup, mencintai Tuhan, jangan menyakiti orang lain, dsb).
2. Faktor Personal
Menurut Paloutzian (1996), Individu pada usia remaja memiliki
banyak pertanyaan berkaitan dengan konsep individualitas dan identitas.
Konsep individualitas merujuk pada proses menjadi diri yang terpisah,
sedangkan identitas merujuk pada proses berkembangnya definisi diri
yang stabil. Proses yang dialami individu ini akan menghasilkan
dorongan pribadi untuk menemukan solusi dari isu tersebut. Fase ini lah
yang mendewasakan individu dan mengembangkan individu untuk
menjadi pengambil keputusan yang mandiri baik terhadap agama maupun
isu lainnya (Paloutzian, 1996).
Pada orang dewasa dan usia lanjut, perkembangan agama tidak
berhenti begitu saja (Paloutzian, 1996). Menurut Paloutzian (1996)
konteks dan fungsi spiritual seseorang kemungkinan akan berubah
Dalam dokumen
Pengalaman sosial-personal individu keluarga beda agama dalam pembentukan pandangan peran agama.
(Halaman 32-39)