• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Tuan Rumah (Host)

TOKSIKOLOGI INDUSTRI

7. Faktor Tuan Rumah (Host)

Efek yang timbul akibat pajanan bahan berbahaya dapat berbeda pada tiap individu. Banyak faktor pada diri individu yang mempengaruhi kecepatan absorbsi, distribusi didalam badan, detoksikasi, dan ekskresinya. Faktor-faktor itu ialah:

Faktor Genetik. Keadaan genetik seseorang tidak sama dengan orang lainnya, ada individu yang lebih sensitif terhadap bahan kimia tertentu tetapi tidak terhadap bahan kimia lainnya.

Jenis Kelamin. Pada umumnya pria lebih sensitif/peka terhadap bahan kimia yang sifatnya racun terhadap ginjal, sebaliknya wanita lebih peka terhadap bahan kimia yang beracun bagi hati. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan pada proses-proses fisiologis, misalnya wanita bisa membuang bahan berbahaya melalui darah menstruasi, air susu ibu, atau ditransfer ke janin bila sedang hamil. Faktor lainnya ialah pada wanita jaringan lemak relatif lebih banyak dari pada wanita sehingga untuk bahan kimia berbahaya yang sifatnya larut lemak akan mudah tertimbun pada tubuh wanita.

Faktor Umur. Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak umumnya lebih rentan terhadap pajanan bahan kimia berbahaya karena volume udara pernafasan dan kecepatan absorbsi ususnya relative lebih cepat, juga enzim-enzim yang berfungsi menetralisir bahan racun belum berfungsi dengan sempurna. Di sisi lain pada orang yang berusia lanjut juga lebih rentan terhadap pajanan bahan kimia karena biasanya sudah terjadi akumulasi bahan-bahan berbahaya pada usia sebelumnya. Dapat juga dengan bertambahnya usia fungsi enzim-enzim yang berfungsi untuk menetralisir sudah menurun produksinya, atau ekresinya sudah tidak berfungsi dengan baik.

Status Kesehatan. Status kesehatan seseorang sangat menentukan kepekaan individu terhadap bahan berbahaya. Gizi yang cukup penting sekali untuk berfungsinya enzim-enzim sistim pertahanan tubuh. Intake yang cukup protein, vitamin dan mineral sangat penting untuk pembentukan enzim-enzim detoksikasi. Demikian juga lemak dan karbohidrat harus cukup untuk mempermudah terjadinya proses detoksikasi. Vitamin A dan E serta Selenium juga sangat diperlukan karnea berfungsi sebagai antioksidan dan anti radikal bebas yang berfungsi melindungi dari bahan kimia berbahaya. Akan tetapi makanan sendiri sering menjadi sumber pajanan, contohnya arsen, merkuri, kadmium, timah hitam yang banyak pada makanan laut (sea food), yang setelah bertahun-tahun akan terjadi akumulasi bahan-bahan tersebut di dalam tubuh.

Higiene Perseorangan dan Perilaku Hidup. Kebiasaan hidup yang buruk dapat meningkatkan kepekaan seseorang individu. Kebiasaan merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol serta kebiasaan makan obat-obatan dapat menimbulkan reaksi antara bahan yang terkandung dalam minuman, rokok dengan bahan kimia yang terhirup oleh seorang individu. Ratusan macam bahan yang terkandung dalam asap rokok dapat

berinteraksi dengan bahan kimia yang masuk tubuh dan menimbulkan efek negatif. Contohnya enzim sitokrom P.450 yang berfungsi penting untuk proses detoksikasi dapat menurun fungsinya akibat bahan-bahan dalam rokok. Kebiasaan minum alkohol juga meningkatkan kepekaan tubuh terhadap pajanan bahan berbahaya, karena alkohol dapat meningkatkan kecepatan absorbsi di usus (contohnya timah hitam).

Nilai Ambang Batas (NAB) dan Indeks Pemaparan Biologis (Biological Exposure Indices)

Untuk mengetahui apakah bahan-bahan berbahaya yang ada di udara/lingkungan kerja telah membahayakan kesehatan tenaga kerja, maka perlu diukur kadar/konsentrasinya. Jika kadar telah melampaui dari NAB (Nilai Ambang Batas) yang telah ditentukan, maka ini berarti telah membahayakan kesehatan tenaga kerja untuk bekerja di ruangan tersebut. Keadaan ini harus dikendalikan yaitu dengan upaya-upaya menurunkan kadarnya sehingga di bawah NAB (Nilai Ambang Batas) atau upaya memberikan alat perlindungan diri. Nilai Ambang Batas ialah konsentrasi rata-rata bahan kimia yang masih aman bagi pekerja yang terpajan dalam waktu 8 jam kerja sehari atau 40 jam seminggu yang dinyatakan dalam satuan ppm (bagian dalam sejuta) atau dalam mg/m3.

Apabila pengendalian lingkungan tidak berhasil menurunkan kadar bahan berbahaya di lingkungan kerja, maka untuk mengetahui risiko bahaya pada kesehatan tenaga kerja dapat dilakukan pemantauan biologis (biological monitoring) dan hasilnya dibandingkan dengan Indeks Pemaparan Biologis (Biological Exposure Indeks). Indeks Pemaparan Biologis (Biological Exposure Indices) ialah suatu nilai yang menunjukkan konsentrasi zat indikator biologis (determinan) pada pemantauan biologis dari spesimen tenaga kerja yang dalam kondisi sehat dan terpajan bahan kimia pada waktu bekerja dengan beban kerja dan aktivitas yang normal sesuai ketentuan pada Nilai Ambang Batas.

Nilai Indeks Pemaparan Biologis ini menjadi pedoman dalam pemantauan biologis (biological monitoring), dimana bila pada pemantauan biologis didapatkan nilai (konsentrasi) di bawah indeks pemaparan biologis, maka umumnya tenaga kerja tidak mengalami gangguan kesehatan. Dengan demikian Indeks Pemaparan Biologis merupakan suatu nilai panduan untuk menilai hasil pemantauan biologis yang penentuan nilainya ditentukan dengan mengacu pada nilai NAB.

Bahan Kimia Toksik

Bahan kimia beracun yang dipergunakan dalam kehidupan manusia terus bertambah jenisnya. Sampai saat ini diperkirakan hampir 15.000 jenis bahan kimia yang dikenal dan belum semuanya diketahui secara pasti bahayanya terhadap kesehatan. Hanya bahan kimia yang telah lama kita pakai terutama dalam industri yang baru diketahui sifat bahayanya. Secara garis besar bahan-bahan tersebut dapat digolongkan menjadi 5 (lima) golongan:

a. Senyawa logam dan metaloid b. Bahan pelarut

c. Pestisida d. Gas beracun e. Pestisida

Beberapa contoh dari golongan bahan berbahaya tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 12.2. Contoh Bahan Kimia Beracun

No Jenis Zat Beracun Jenis Bahan Gangguan Kesehatan

1 Logam/metaloid Pb Syaraf , ginjal dan darah

Hg (organic & inorganic) Syaraf, ginjal

Cadmium Hati, ginjal dan darah

2 Bahan pelarut Hidrokarbon alifatik

(bensin, minyak tanah) Pusing dan koma Hidrokarbon

terhalogenisasi (kloroform, CCl4)

Hati dan ginjal

Alkohol (etanol, methanol) Syaraf pusat, leukemia, saluran pencernaan

Glikol Ginjal, hatidan tumor

3. Gas-gas beracun Aspiksian sederhana (N2,

Argon, Helium) Sesak nafas, kekurangan oksigen

4. Karsinogen Benzene Leukimia

Asbes Paru-paru

Bensidin Kandung kencing

Vinil klorida Hati, paru-paru, syaraf pusat, darah

5. Pestisida Organoklorin,Organofosfat,

Karbamat, Arsenik Pusing, kejang, hilang kesadaran, kematian

Pemantauan dan Pengendalian a. Sistim Labeling

Untuk mencegah terjadinya penyakit/kecelakaan akibat kerja maka perlu dilakukan tindakan pencegahan antara lain dengan sistim labeling. Memberikan informasi yang jelas tentang bahan-bahan berbahaya sangat diperlukan terutama kepada para supervisor dan para pekerja. Bagi yang berpendidikan rendah diperlukan informasi yang mudah dikenal, sehingga dengan cepat pula dapat bersikap hati-hati dalam penanganannya. Pemberian informasi tersebut dikenal dengan sistim labeling atau pemberian etiket.

b. Pemantauan Lingkungan Kerja

Pemantauan kualitas lingkungan kerja amat diperlukan dalam kesehatan dan keselamatan kerja untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja. Dalam pemantauan ini dilakukan sampling dan analisa untuk mengetahui:

• Jenis kontaminan ( misalnya H2S, SO2, NOx, CO )

• Jumlah/konsentrasi kontaminan ( ppm atau mg/m3 )

Data hasil pemantauan ini kemudian dibandingkan dengan NAB yang ada dan merupakan salah satu fakta yang obyektif apakah kondisi lingkungan kerja memenuhi persyaratan kesehatan kerja. Bila tidak memenuhi persyaratan kesehatan kerja, maka perlu dilakukan pengendalian sumber bahaya. Apabila pengendalian sumber bahaya

tidak berhasil dengan baik, maka pekerja potensial terpapar bahan berbahaya, dan untuk mengetahui risiko bahaya terhadap kesehatan tenaga kerja dapat dilakukan pemantauan biologis.

c. Pemantauan Biologis (Biological Monitoring)

Bahan kimia yang bersifat racun dapat menimbulkan efek lokal (ditempat masuk bahan kimia) atau efek sistemik (keseluruh tubuh atau ke organ tubuh).

Tubuh akan terganggu dengan masuknya zat racun tersebut dan dengan berbagai mekanisme tubuh berusaha melakukan detoksikasi terutama oleh organ hati. Ada beberapa cara detoksikasi dan hasil metabolitnya sebagian atau seluruhnya dikeluarkan/diekresikan melalui urine, tinja, keringat atau udara pernafasan. Dapat pula bahan tersebut di timbun pada organ-organ tubuh seperti kuku, rambut yang kadarnya sebanding dengan kadar dalam darah.

Untuk itu upaya pengendalian dan perlindungan dapat dilakukan dengan pemantauan biologis terhadap tenaga kerja yaitu dengan melakukan pemeriksaan darah, urine, ataupun tinja, atau bahkan kadang-kadang kuku, rambut sesuai dengan sifat bahan kimia yang dicurigai. Jadi pemantauan biologis (biological monitoring) ialah suatu cara untuk menilai pajanan dan risiko terhadap kesehatan tenaga kerja dengan cara mengukur konsentrasi indikator bahan kimia (determinan) pada spesimen biologis dan merupakan indikator uptake dari suatu bahan kimia secara inhalasi. Nilai yang didapat dibandingkan dengan nilai Indeks Pemaparan Biologis (Biological Exposure Indices). Bila nilainya di bawah dari nilai Indeks Pemaparan Biologis maka dapat dikatakan tenaga kerja tidak akan terganggu kesehatannya.

Dengan demikian setiap kelainan yang menjurus pada penyakit akibat kerja dapat diketahui secara dini. Contoh pada keracunan metil merkuri, karena rambut tumbuh relatif konstan maka untuk mengetahui pajanan merkuri selama waktu tertentu digunakan rambut sebagai indikator biologis. Kadar methyl merkuri yang ditimbun pada rambut kurang lebih 250 kali dibandingkan kadar dalam darah;

0.2mikrogram/g dalam darah = 50 mikrogram/ g di rambut.

Indeks Pemaparan Biologis (Biological Exposure Indices) menunjukkan konsentrasi zat indikator biologis (determinan) pada pemantauan biologis dari spesimen pekerja yang dalam kondisi sehat dan terpajan bahan kimia pada waktu bekerja dengan beban kerja dan aktivitas yang normal sesuai ketentuan pada NAB:

Tabel 12.3. Beberapa Nilai BEI Bahan Kimia

Bahan Kimia Spesimen Indikator Biologis BEI

Anilin Urine p-aminophenol 50 mg/g

Benzene Urine S-phenylmercapturic acid 25 µg/g

Cadmium Urine

Darah cadmium 5 µg/g

5 µg/L CarbonDisulfida Urine

2-thiothiazolidine-4-carboxylic acid 5 mg/g

Carbon monoksida Darah

Nafas carboxyhemoglobin

carbonmonoksida < 3.5% Hb

< 20 ppm

Organopospat Darah cholinesterase 70 %

Bahan Kimia Spesimen Indikator Biologis BEI

Phenol Urine total phenol 250 mg/g

Toluene Urine

Darah hippuric acid

toluene 1.6 mg/g

0.05 mg/L

Xylene Urine methylhippuric acid 1.5g/g

Threshold Limit Values and Biological Exposure Indices (ACGIH 2002) d. Pengendalian teknis

Pengendalian teknis ditujukan untuk menjaga agar udara lingkungan kerja tidak terkontaminasi oleh bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan tenaga kerja atau kalaupun ada kontaminasi diupayakan tidak melebihi Nilai Ambang Batas yang ada. Dengan demikian diharapkan tenaga kerja dapat selalu terpelilhara kesehatannya, dan meningkat produktivitasnya. Ada berbagai cara pengendalian teknis ini, dan memerlukan pemilihan cara yang tepat terutama dalam penggunaan jenis bahan baku, teknologi proses dan pemeliharaan peralatan produksi. Beberapa cara pengendalian itu ialah:

• Substitusi: Menggantikan bahan-bahan yang berbahaya yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit dengan bahan yang lebih aman. Misalnya benzene diganti dengan toluene dan xylene, methanol diganti dengan etanol.

• Isolasi: Suatu tindakan untuk melokalisir proses ataupun bahan-bahan yang dapat menimbulkan bahaya, yang selanjutnya diharapkan kontaminasi tidak menyebar ketempat lain.

• Ventilasi: Untuk menggantikan udara yang terkontaminasi di lingkungan kerja dengan udara segar, dengan cara mengalirkan udara yang bersih ketempat yang terkontaminasi.

e. Pengendalian Administrasi

Pengendalian administrasi dilakukan apabila cara-cara pengendalian tersebut di atas tidak atau belum dapat menjaga lingkungan kerja yang memenuhi persyaratan kesehatan kerja. Yang dimaksud dengan pengendalian administrasi ialah pengendalian faktor bahaya di tempat kerja dengan menyertakan sistim managemen. Beberapa cara pengendalian administrasi yang dapat dilakukan ialah:

• Kebersihan umum dan higiene perorangan

• Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala

• Pelatihan dan Pendidikan

• Rotasi pekerjaan

Pemahaman MSDS (Material Safety Data Sheet) f. Penggunaan Alat Pelindung Diri

Bila semua upaya diatas tetap tidak dapat menjaga udara lingkungan kerja atau konsentrasi polutan masih lebih tinggi dari NAB, maka sebagai langkah berikutnya ialah pemberian alat pelindung diri yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada. Beberapa contoh alat pelindung diri ialah:

• Helm

• Masker

• Sarung tangan

• Baju kerja

• Sepatu Kerja