• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS TEMATIK

3.2. Analisis Peluang Investasi Daerah

3.2.4. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Investasi

Aspek transportasi di wilayah Kab Lebak berupa jalan secara umum dalam kondisi baik, meskipun di beberapa tempat ditemui jalan dengan kondisi rusak berat.

Untuk transportasi air terdapat dua pelabuhan yaitu Pelabuhan Perikanan Ikan (PPI) Binuangeun dan pelabuhan milik perusahaan semen yaitu PT Cemindo Gemilang yang berlokasi di daerah Bayah dekat destinasi wisata favorit pantai Sawarna.

Distribusi listrik di Kab Lebak tergolong cukup bagus berkat program listrik masuk desa pada tahun 2017, dengan jumlah pelanggan di tahun 2018 sebanyak 397.155 dan jumlah KWh terjual berkisar 599.157,42 KWh. Meskipun di wilayah Kab Lebak tidak ada pembangkit listrik, tetapi diimbangi dengan jumlah gardu distribusi yang mencapai 2.213 buah.

Faktor Penghambat

Realisasi investasi di Kab Lebak sampai dengan triwulan III-2021 menempati urutan kedua dari bawah dari sembilan daerah di Banten dengan total investasi 532 proyek senilai Rp1.130,29 miliar, dimana 95,32 persen berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri. Capaian realisasi Kab Lebak selama triwulan III-2021 hanya sebesar 1,24 persen dari total realisasi investasi di seluruh Provinsi Banten. Kinerja yang kurang membanggakan tersebut seolah-olah memberi kesan bahwa Kab Lebak kurang menarik investor untuk menanamkan modalnya. Kondisi ini menjadi tantangan stakeholder Pemda Lebak untuk menciptakan iklim investasi yang aman dan lancar.

Kondisi yang lain yang kurang mendukung daya tarik wisata di Lebak adalah belum terdapat lapangan udara, sedangkan perjalanan ke Lebak dari bandara terdekat (Soekarno-Hatta) memakan waktu lebih lama dibanding dari bandara Soetta ke destinasi wisata populer lainnya seperti Yogyakarta, dan Bandung.

4.1. KESIMPULAN

Perekonomian Banten di triwulan III 2021 berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp165,71 trilun, dan berdasarkan atas dasar harga konstan mencapai Rp114,64 triliun. Bila dibandingkan ekonomi Banten triwulan III 2021 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan 0,53 persen (q-to-q), dan bila membandingkan antara triwulan III 2021 terhadap triwulan III 2020 ekonomi Banten mengalami pertumbuhan 4,62 persen (y-o-y). Pada bulan September 2021 Provinsi Banten kembali mengalami deflasi sebesar 0,10 persen karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Angka kemiskinan pada Maret 2021 sebesar 6,66 persen, meningkat 0,03 persen dibandingkan September 2020 dan meningkat 0,90 persen dibandingkan Maret 2020. Salah faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan ini antara lain karena Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan dari 106,01 (Maret 2020) menjadi 99,69 (Maret 2021). Tingkat Penggangguran Terbuka (TPT) Banten pada Februari 2021 adalah 9,01 persen, meningkat 1 bps dibandingkan Februari 2020 (8,01 persen). Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan adalah Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum (1,53 persen) serta Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (1,23 persen). Pada Maret 2021 tercatat ketimpangan pengeluaran penduduk Banten sebesar 0.365. Ratio Gini di perdesaan (0.280) lebih kecil daripada perkotaan (0.369) artinya untuk wilayah Banten ketimpangan di perdesaan lebih rendah dibandingkan perkotaan. Pada September 2021 NTP Banten mengalami peningkatan 1,10 persen (m to m) dari 96,61 persen menjadi 97,71 persen. Capaian ini menempatkan Provinsi Banten pada posisi ke 6 untuk regional Jawa. Pada bulan September 2021 NTN Banten sebesar 101.55. NTN ini didukung oleh kenaikan indeks kelompok penangkapan di laut (1,06 persen) seperti rajungan, ikan teri, kepiting laut, dan cakalang.

Realisasi pendapatan negara di Banten Triwulan III Tahun 2021 sebesar Rp34.150,90 miliar, meningkat 12,19 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 (y-o-y) dengan porsi penerimaan perpajakan sebesar 94,95 persen, dan PNBP sebesar 5,05 persen. Belanja Negara di Banten secara keseluruhan sebesar Rp16.512,86, turun 4,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 (y-o-y). Porsi belanja terbesar

4

adalah belanja TKDD sebesar 61,30 persen dan BPP sebesar 38,70 persen. Provinsi Banten mengalami surplus sebesar Rp17.638,04 miliar atau meningkat 34,70 persen dibandingkan tahun lalu (y-o-y). Realisasi anggaran untuk output Layanan Dasar Publik terendah ada pada kelompok infrastruktur karena banyaknya anggaran yang belum terserap terutama untuk kegiatan pembangunan jalan.

Realisasi pendapatan daerah Banten Triwulan III Tahun 2021 sebesar Rp23.184,56 miliar atau meningkat 3,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 (y-o-y) dengan porsi pendapatan transfer sebesar 49,48 persen, diikuti PAD 46,81 persen dan Lain-lain pendapatan yang sah 3,71 persen. Belanja Daerah secara keseluruhan sebesar Rp19.347,22 miliar atau 54,21 persen dari target, mengalami peningkatan sebesar 8,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 (y-o-y) dengan porsi belanja terbesar yaitu belanja operasi sebesar 83,56 dari total belanja.

Pendapatan Negara Konsolidasian Triwulan III-2021 sebesar Rp46.309,02 miliar meningkat 14,77 persen, sedangkan Belanja Negara Konsolidasian sebesar Rp26.404,74 miliar meningkat 9,87 persen (y-o-y). Peningkatan Pendapatan dan Belanja Negara Triwulan III-2021 menghasilkan surplus Rp19.904,28 miliar atau naik 22,00 persen dan dari sisa lebih Pembiayaan Anggaran Triwulan III-2021 sebesar Rp21.566,01 miliar meningkat 14,86 persen dibandingkan tahun 2020 (y-o-y).

Kesejahteraan petani di Banten diukur dari NTP selama triwulan III-2021 menunjukkan tren penurunan. Pada bulan Februari 2021 petani Banten paling sejahtera dibanding petani di provinsi lain di pulau Jawa, tetapi NTP pada bulan-bulan berikutnya menurun ke level di bawah 100. Kondisi nelayan di Banten di ukur dari NTN selama triwulan III-2021 selalu di atas level 100, yang berarti kenaikan indeks harga yang di terima nelayan (It) lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang di bayar nelayan (Ib).

Belanja pemerintah untuk sektor Pertanian dan Perikanan melalui DIPA Kementerian terkait, pembiayaan KUR, serta DAK Fisik Bidang Pertanian, Bidang Irigasi, dan Bidang Kelutan dan Perikanan berdampak pada kesejahteraan petani dan nelayan. Semakin besar realisasi pengeluaran pemerintah untuk petani dan nelayan, maka indeks harga yang harus di bayar (Ib) oleh petani, dan NTN akan naik pula.

Visi Kabupaten Lebak 2019 – 2024 adalah “Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal” yang berarti stakeholder Pemda Kab Lebak optimis melakukan penataan destinasi wisata, salah satunya desa Baduy. Pemda Lebak pada tahun 2019 menawarkan peluang investasi pembangunan fasilitas wisata adat Baduy senilai Rp13,5 miliar. Analisis yang dilakukan oleh PT Surveyor Indonesia

menyimpulkan bahwa investasi pengembangan fasilitas wisata adat Baduy feasible atau layak dilakukan

4.2. REKOMENDASI

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan berakhirnya mengancam pengembangan sektor pariwisata tak terkecuali di Kab Lebak. Untuk itu Pemerintah perlu menciptakan wisata yang aman dengan cara pemberlakuan sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety dan Environment Sustainability) terhadap pemilik / pengelola wisata dan destinasi wisata.

BPS Provinsi Banten “Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Banten Menurut Lapangan Usaha 2016 – 2020”.

BPS Kabupaten Lebak “Statistik Daerah Kabupaten Lebak 2021”

Badan Koordinasi Penanaman Modal “Lebak Regency – Strengthening the Regional Potential Map and Investment Opportunity in 2019”

Dokumen terkait