• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Dalam dokumen BELLA RIDA SAFIRA NIM: (Halaman 77-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Pada analisis univariat di ketahui bahwa responden (66,2%) mengetahui jenis dari imunisasi dasar lengkap itu seperti apa saja. Dan dari pertanyaan mengenai untuk apa diberikan imunisasi-imunisasi tersebut rata-rata responden mengetahuinya, misalnya tujuan diberikannya imunisasi DPT ada sebanyak 55 responden (80,9%) dan tujuan diberikannya imunisasi BCG ada sebanyak 42 responden (61,8%). Tempat untuk dilaksanakannya imunisasi, juga banyak responden yang tahu kemana yang harus dituju (64,7%).

Penelitian oleh Afriani (2013) mengatakan bahwa hampir 100% ibu mengetahui (pernah mendengar) tentang program imunisasi dan tujuan imunisasi (agar anak sehat atau tidak sakit). Hal ini menunjukkan bahwa informasi mengenai program imunisasi dasar dan tujuannya telah disebarluaskan dengan berbagai cara, sampai kepada masyarakat. Pada bagian kuesioner mengenai pengetahuan manfaat dari masing-masing vaksin hampir semuanya salah, pertanyaan yang dijawab benar paling banyak ialah mengenai manfaat imunisasi polio (37,1%). Untuk menilai hubungan antara pengetahuan ibu dan kelengkapan imunisasi dasar pada anak akan lebih baik jika pertanyaan mengacu pada pengertian, tujuan, manfaat, jenis dan jadwal imunisasi, sehingga dapat terlihat apakah ibu mengetahui kapan dan berapa kali anak harus mendapat imunisasi.

Hasil penelitian pengetahuan terhadap kelengkapan imunisasi dari 68 responden diperoleh 67,6% yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

melakukan imunisasi dasar dibandingkan tidak lengkap namun masih ada juga di jumpai responden yang memiliki pengetahuan baik tetapi tidak lengkap memberikan anak mereka imunisasi.

Sedangkan yang memilki pengetahuan tidak baik paling sedikit melakukan imunisasi dasar lengkap kepada bayi mererka. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh nilai p =0,066 (p value > 0,05) yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kelengkapan imunisasi.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Nugraheni, 2009). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus) (Notoatmodjo, 2007).

Penelitian ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian Mahmudah (2007), yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio dengan tingkat kecemasan pasca imunisasi polio.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pengetahuan yang diperoleh ibu bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pendidikan, informasi, pengalaman dan pemahaman tentang sesuatu yang dipelajari. Pendidikan sangat mempengaruhi suatu tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi. Tingkat pendidikan di Desa Japanan berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan diperoleh SD yaitu 27 orang (32,1%), SMP yaitu 31 orang (36,9%), SMA yaitu 22 orang (26,2%) dan Perguruan Tinggi yaitu 4 orang (4,8%). Selain dari pendidikan formal pengetahuan ibu juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal, misalnya melalui informasi yang diperoleh lewat iklan atau penyuluhan. Informasi juga dapat mempengaruhi pengetahuan ibu tentang imunisasi. Pada jaman modern ini informasi dapat diperoleh dari berbagai media, misalnya media cetak maupun elektronik. Misalnya iklan di televisi yang menayangkan PIN (Pekan Imunisasi Nasional), secara tidak langsung iklan tersebut mengingatkan tentang pentingnya imunisasi (Nugroho, 2012).

Penelitian ini juga berbanding terbalik dengan hasil penelitian oleh Sari (2016) yang mengemukakan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebanyak 49,2% bayi mempunyai status imunisasi yang lengkap dengan pengetahuan ibu yang baik sedangkan sebanyak 30,8% bayi mempunyai status imunisasi tidak lengkap dengan pengetahuan ibu yang kurang baik, hal ini menunjukkan sebagian besar ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akan memberikan imunisasi dasar yang lengkap kepada bayinya. Hasil uji statistik dengan menggunakan analisis Chi-square diketahui bahwa nilaip < 0,001, hal ini mempunyai arti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi di wilayah kerja

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Puskesmas Bendo Kabupaten Magetan, artinya semakin baik tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar maka ibu akan memberikan imunisasi secara lengkap kepada bayinya.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan belum tentu menyadari sepenuhnya mengenai pentingnya pemberian imunisasi lengkap kepada bayi mereka. Para responden di Wilayah Kerja Puskesmas Pining ini lebih sering berkumpul bersama para ibu lain untuk saling berbincang dan mencari informasi. Kualitas informasi sangat menentukan tingkat pengetahuan yang diperoleh. Kualitas informasi yang baik akan dapat diterima oleh pendengarnya sehingga tingkat pengetahuan pendengar akan bertambah serta dapat di aplikasikan secara baik dan benar. Hubungan mereka dengan para tetangganya pun layaknya seperti keluarga. Menurut ibu-ibu di lokasi penelitian pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seseorang ibu di daerah ini akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio. Dalam hal tindakan, para responden tidak banyak yang melakukannya namun mereka pada umumnya mengetahui pengertian, jenis imunisasi dan perlunya imunisasi itu sendiri. Di lokasi penelitian ini juga para responden mengungkapkan bahwa para tenaga kesehatan juga sering memberi sosialisasi dan penyuluhan mengenai perlunya posyandu makanya para ibu banyak mengetahui mengenai imunisasi dasar tersebut. Adapula responden yang mengatakan bahwa mereka terkadang terkendala oleh kegiatan rumah dan transportasi untuk pergi ke posyandu.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pengetahuan diperoleh melalui kenyataan dengan melihat dan mendengar sendiri, serta melalui alat-alat komunikasi, juga diperoleh sebagai akibat pengaruh dari hubungan dengan orangtua, kakak-adik, tetangga, kawan-kawan sekolah dan lain-lain (Soekanto, 2007). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah adanya penginderaan terhadap suatu objek dan sangat penting dalam pembentukan tindakan seseorang. mengungkapkan apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif (long lasting).

5.5 Pengaruh Dukungan Keluarga atau Suami Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Lingkungan disekitar responden sangat mempengaruhi pengmbilan keputusan untuk melakukan imunisasi kepada bayi seperti dukungan dari keluarga ataupun suami dalam memberikan informasi yang diperolehnya mengenai imunisasi. Istri membutuhkan informasi penting yang berkaitan dengan imunisasi misalnya tentang jadwal imunisasi, informasi, izin dari suami suami harus secara aktif memberikan informasi dan membaginya kepada istrinya.

Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa dukungan keluarga atau suami pada istri berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi dengan nilai p=0,016 < 0,05 dan OR= 2,297 artinya dukungan keluarga atau suami yang baik berpeluang membuat responden melakukan imunisasi dasar secara lengkap kepada bayi sesuai standar sebesar 2,3 kali lebih tinggi dibanding dukungan keluarga atau suami yang tidak baik.

Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sebanyak 41 responden mengatakan bahwa suami atau orang tua tidak memberi izin dan mendukung ibu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dalam mengimunisasikan bayi mereka. Sebanyak 46 responden mengatakan bahwa keluarga tidak menganjurkan ibu membawa bayi kepelayanan kesehatan agar diberikan imunisasi dasar lengkap. Sebanyak 47 responden mengatakan bahwa keluarga jarang atau bahkan tidak pernah mendengarkan keluh kesah ibu saat mendapatkan kesulitan dalam memberikan imunisasi lengkap pada bayi.

Sebanyak 43 responden keluarga kurang peduli terhadap kebutuhan ibu dalam upaya pemberian imunisasi lengkap pada bayi. Sebanyak 46 responden keluarga turut mengantar ibu untuk sampai ke tempat pelayanan. Sebanyak 45 responden keluarga tidak memberikan pujian kepada ibu karena menyaranan bayi untuk di imunisasikan lengkap. Lingkungan keluarga adalah tempat paling lama nya ibu untuk berinteraksi dengan yang lain nya,sehingga untuk bertukar pikiran dan saling berbagi informasi, ibu lebih banyak berdiskusi dengan keluarga dan suami.

Dukungan suami merupakan dukungan yang diberikan suami dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Suami adalah orang pertama dan utama dalam memberi dorongan dan dukungan kepada istri sebelum pihak lain turut memberikannya. Sebagian besar dari hasil wawancara kepada ibu-ibu yang mempunyai anak usia 12-24 bulan yang berada di Desa Long Beleh Modang kebanyakan menjawab, dukungan yang di berikan yakni dukungan secara nyata atau berupa uang dan sebagian dari suami hanya sesekali bertanya apakah anaknya sudah dibawa pergi ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi.

Dukungan suami merupakan dukungan yang diberikan suami dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Dukungan suami dalam memantau kesehatan batita sangat dibutuhkan dalam memanfaatkan pelayanan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

kesehatan, dukungan suami merupakan dorongan motivasi terhadap istri baik secara moral maupun material (Bobek, 2005)

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh R. Fadzul (2015) hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan suami terhadap status imunisasi dasar, dikarenakan para suami di Desa Long Beleh Modang kebanyakan bekerja di perusahaan sawit PT.REA KALTIM dengan waktu kerja dari pagi sampai sore sehingga tidak ada waktu untuk memberikan dukungan yang sebagaimana mestinya dilakukan seorang suami, baik itu dukungan secara nyata, dukungan informasi, dukungan emosional maupun dukungan invisible. Penelitian ini sejalan dengan Dewi (2013) yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian imunisasi campak di wilayah Puskesmas Terminal.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2014) mengatakan bahwa keluarga yang memiliki bayi atau balita dengan status imunisasi lengkap terbanyak mendapatkan dukungan dari keluarga untuk memberikan imunisasi bagi bayi atau balita mereka sebesar 97,7%. Sedangkan keluarga yang tidak mendukung pemberian imunisasi pada bayi atau balitanya pada keluarga yang memiliki bayi atau balita dengan status imunisasi tidak lengkap sebesar 81,8%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p 0,000 (p < α) yang berarti ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap kelengkapan imunisasi pada bayi atau balita. OR = 193,500 artinya keluarga yang tidak mendukung bayi atau balitanya diberikan imunisasi beresiko 193,500 kali menyebabkan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ketidaklengkapan imunisasi pada bayi atau balita dibandingkan keluarga yang mendukung bayi atau balitanya untuk diberikan imunisasi.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan masih ada di temukan suami yang tidak mengizinkan istrinya pergi ke puskesmas untuk imunisasi karena suami beranggapan kegiatan itu menyita waktu istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah, sebagian ibu juga banyak tahu tentang manfaat imunisasi tapi tidak melakukan karena tidak di berizin oleh keluarga atau suami dan masih banyak keluarga beranggapan jika memberikan imunisasi itu bisa menyebabkan bayi sakit, mereka juga tidak mau melakukan imunisasi karena masih beranggapan bahwa vaksin atau kandungan imunisasi itu haram.

5.6 Pengaruh Sikap Tenaga Kesehatan Terhadap Kelengkapan Imunisasi Sikap adalah kumpulan perasaan, keyakinan dan kecenderungan perilaku yang secara relatif berlangsung lama yang ditujukan kepada orang, ide, obyek dan kelompok orang tertentu. Sikap merupakan suatu kondisi di dalam diri seseorang yang mempengaruhi perilakunya terhadap obyek sikap, misalnya kepatuhan pasien terhadap anjuran paramedis. Perasaan mencakup dua hal, yaitu perasaan senang ataupun tidak senang terhadap sesuatu. Keadaan perasaan dalam diri seseorang sangat berpengaruh besar terhadap penentuan sikap, sehingga seringkali dikatakan bahwa sikap adalah refleksi dari perasaan senang atau perasaan tidak senang terhadap obyek sikap. Tumbuhnya perasaan senang ataupun tidak senang ini sebenarnya ditentukan pula oleh keyakinan seseorang tentang obyek sikap.

Umumnya, semakin banyak aspek positif di dalam keyakinan maka akan semakin senang terhadap obyek sikap, sebaliknya bila aspek negatif dalam keyakinan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

semakin banyak maka akan muncul ketidaksenangan terhadap obyek sikap, misalnya dalam proses pelayanan, semakin banyak hal positif yang ditunjukkan oleh bidan dalam memberikan layanan kepada pasien, maka semakin positif keyakinan dalam diri pribadi klien sehingga mereka menjadi semakin senang terhadap pelayanan kesehatan tersebut (Azwar, 2013).

Berdasarkan hasil penelitian ini yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sikap tenaga kesehatan adalah variabel yang sangatberpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Pining (p=0,001 <

0,05) dan OR= 55,050 artinya sikap tenaga kesehatan yang baik berpeluang membuat responden melakukan imunisasi dasar secara lengkap kepada bayi sesuai standar sebesar 55 kali lebih tinggi dibanding sikap tenaga kesehatan yang tidak baik.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Triani (2015) yaitu mengenai analisis univariat pada variabel sikap menunjukkan bahwa ibu yang memiliki sikap positif tentang imunisasi sama banyak dengan ibu yang memiliki sikap negatif tentang imunisasi. Hanya sebagian kecil responden yang tidak mendapatkan pelayanan imunisasi yang kurang baik (10%). Sedangkan berdasarkan variabel hambatan untuk mendapatkan pelayanan imunisasi, sebagian kecil responden yang memiliki hambatan untuk mendapatkan pelayanan imunisasi (18,75%).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachman (2015) Hubungan peran petugas kesehatan dengan pemberian imunisasi hepatitis hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 42 responden yang menyatakan peran

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

petugas kesehatan kurang baik sebagian besar cakupan pemberian imunisasi Hepatitis B tidak lengkap, yaitu 35 orang (83,3%). Sementara itu, dari 23 responden yang menyatakan peran petugas kesehatan baik terdapat 15 orang (65,2%) dengan cakupan pemberian imunisasi hepatitis B yang lengkap pada bayi 6-12. Analisis chi-square menunjukkan bahwa peran petugas kesehatan signifikan berhubungan dengan pemberian imunisasi hepatitis B (p=0,000) pada bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi tahun 2015.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Novitasari (2013) yang mengatakan bahwa dari responden tenaga kesehatan,tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku tenaga kesehatan dengan cakupan imunisasi Hepatitis B 0. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p=0,821 dengan interpretasi tidak ada hubungan jika p>0,05.

Rincian jawaban pertanyaan untuk masing-masing indikator dalam mengukur sikap petugas kesehatan mengenai imunisasi dasar lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini, diketahui sebanyak 37 responden (54,4%) tidak pernah mendapat penyuluhan tentang imunisasi dasar lengkap dari petugas kesehatan. Sebanyak 45 responden (66,2%) merasakan bahwa petugas imunisasi memberitahukan ibu secara jelas urutan jadwal imunisasi yang akan di laksanakan. Sebanyak 42 responden (61,8%) mengatakan bahwa petugas kesehatan memberitahuan ibu ada atau tidaknya jadwal pelayanan imunisasi.Sebanyak 46 responden (67,6 %) mengatakan petugas kesehatan mendatangi rumah jika ibu tidak datang mengimunisasi bayinya. Sebanyak 47 responden (69,1%) petugas kesehatan pernah mengunjungi rumah ibu untuk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

memberi penjelasan tentang imunisasi dasar lengkap. Sebanyak 46 responden (67,6%) petugas kesehatan bersikap ramah dan sopan dalam memberikan pelayanan imunisasi . Sebanyak 38 responden (55,9%) setiap ibu yang mendatangi tempat pelayanan imunisasi langsung dilayani segera oleh petugas kesehatan.

Menurut Notoatmodjo (2010) jika seseorang sudah menyenangi suatu obyek, maka ada kecenderungan orang tersebut akan bergerak untuk mendekati orang tersebut dan memiliki sikap positif. Sebaliknya, bila seseorang tidak menyenangi obyek itu, maka cenderung akan menjauhi obyek tersebut dan memiliki sikap negatif. Sebagai contoh dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit bila para pasien menyenangi sikap para pelayan kesehatan dalam melayaninya maka pada suatu ketika para pelanggan itu cenderung untuk datang kembali ke rumah sakit yang bersangkutan. Namun bila sikap dari para pelayan kesehatan di rumah sakit itu tidak disenangi pasien maka kemungkinan mereka tidak akan kembali lagi ke rumah sakit yang bersangkutan.

Dalam penentuan sikap yang utuh, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya kasus pemberian Imunisasi, apabila seorang ibu telah mendengar dan mendapat penjelasan dari petugas kesehatan pentingnya pemberian imunisasi secara lengkap maka ibu akan berpikir dan berusaha untuk memberikan/membawa anaknya ke puskesmas/

posyandu untuk mendapatkan imunisasi secara lengkap, akan tetapi karena lingkungan belum ada yang menerapkannya, maka ibu tersebut enggan untuk memberikan imunisasi sesuai dengan jadwal yang seharusnya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Sikap tenaga kesehatan mengenai kelengkapan imunisasi juga mempengaruhi keinginan para responden untuk melaksanakan imunisasi kembali ke posyandu atau puskesmas. Tenaga kesehatan yang memiliki sikap yang baik untuk mempengaruhi para responden telah dilakukan melalui penyuluhan tentang imunisasi di puskesmas supaya mudah untuk di mengerti oleh responden, dan juga responden merasakan bahwa petugas telah jelas memberitahukan urutan jadwal imunisasi yang akan di laksanakan.

Dan juga para reponden mengungkapkan kesenangan mereka terhadap petugas kesehatan mendatangi rumah jika ibu tidak datang mengimunisasi bayinya dan dalam berkata serta bertindak petugas kesehatan bersikap ramah dan sopan dalam memberikan pelayanan imunisasi. Selama di puskesmas juga responden merasakan nyaman untuk melakukan imunisasi kepada bayi, para ibu tidak menunggu lama untuk segera mendapat imunisasi, karena tenaga kesehatan langsung sigap menangani bayi mereka, sehingga para ibu tidak meras kuatir bila tugas rumah mereka masih ada yang belum selesai.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

74 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada tiga variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi yaitu variabel sikap tenaga kesehatan, dukungan keluarga/ suami dan pekerjaan.

2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendidikan dan pengetahuan tidak memilki hubungan yang signifikan terhadap kelengkapan imunisasi.

3. Berdasarkan hasil penelitian ini yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sikap tenaga kesehatan berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Pining artinya sikap tenaga kesehatan yang baik berpeluang membuat responden melakukan imunisasi dasar secara lengkap kepada bayi sesuai standar sebesar 55 kali lebih tinggi dibanding sikap tenaga kesehatan yang tidak baik.

4. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa dukungan keluarga/ suami pada istri berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Pining dengan nilai artinya dukungan keluarga/ suami yang baik berpeluang membuat responden melakukan imunisasi dasar secara lengkap kepada bayi sesuai standar sebesar 2,2 kali lebih tinggi dibanding dukungan keluarga/ suami yang tidak baik.

5. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa pekerjaan ibu berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pining artinya responden yang memiliki pekerjaan berpeluang membuat responden melakukan imunisasi dasar secara lengkap kepada bayi sesuai standar sebesar 1,3 kali lebih tinggi dibanding ibu yang tidak memiliki pekerjaan.

5.2 Saran

Saran-saran disampaikan kepada pihak terkait yaitu :

1. Tenaga kesehatan di Puskesmas Pining disarankan pada tenaga kesehatan untuk tetap ramah dan mempertahankan sikap baik kepada ibu serta tetap memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu mengenai pentingnya imunisasi dasar yang lengkap kepada bayi.

2. Ibu yang anaknya akan di imunisasi

a. Bila ibu, berpengetahuan kurang baik untuk bertanya pada tenaga kesehatan tentang imunisasi dan tujuan pentingnya kelengkapan imunisasi tersebut sehingga pengetahuan ibu meningkat.

b. Memberikan kepercayaan dan pemahaman kepada suami supaya bisa diizinkan melakukan imunisasi lengkap kepada bayi

3. Suami kiranya memberikan dukungan informasional pada istri serta memberi izin kepada istri untuk melakukan imunisasi lengkap kepada bayi. Karena berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dukungan suami masih rendah pada istri, untuk itu diharapkan ada perubahan perilaku suami menjadi lebih baik dalam memberikan dukungan pada istri.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

76

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, 2005. Cellular and Molecular Immunology, Edisi Kelima, Elsevier Sunders, Philadelpia.

Achmadi, 2006, Imunisasi Mengapa Perlu, Jakarta: Buku Kompas.

Afriani, 2013, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Anak dan Penglolaan Vaksin di Puskesmas dan Posyandu Kecamatan X Kota Depok, Yogyakarta, Jurnal Kesehatan

Anoraga, P . 2005, Psikologi Kerja, Jakarta : Rineka Cipta

Bambang, 2005. Metode Penelitian Kuantitatif Teori dan Aplikasi, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada

Charles Abraham, 1997, Psikologi Untuk Perawat, Jakarta : EGC.

Depkes RI. 2009. Pedoman Operasional Program Imunisasi di Indonesia, Ditjen PPM & PLP, Jakarta

.2012. Profil Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2012

.2005. Model Pelatihan Tenaga Pelaksana Imunisasi Puskesmas, Ditjen PP & PL, Jakarta

Dinkes Kabupaten Gayo Lues, 2016, Profil Kesehatan Kabupaten Gayo Lues 2016, Gayo Lues.

Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005, Model Pelatihan Tenaga Pelaksanan Imunisasi Puskesmas, Jakarta:Ditjen PP & PL Depkes RI.

Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, Badan Litbangkes, Kemenkes RI

Hidayat. 2011. Menyusun Skripsi dan tesis Edisi Revisi.

Bandung:INFORMATIKA

I.G.N Ranuh, Dkk, 2008, Pedoman Imunisasi di Indonesia, Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia.

I.Made Setiawan, 2008, Penyakit Campak : CV Agung Setya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Indiarti, 2007, A To Z The Golden Age, Yogyakarta : Andi Offset.

Istriyati, Elly, 2011, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi di Desa KumpulRejo Kec. Argomulyo Kota Salatiga, Semarang, Skripsi

Kemenkes RI., 2013. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2010). Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional (GAIN UCI 2010-1014). Jakarta.

Marimbi, Hanum, 2016. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar Pada Balita. Yogyakarta:Nuha Medika

Maryunani, Anik, 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan.

Jakarta Timur:Trans Info Media

Munib, 2006, Pengantar Ilmu Pendidikan, Semarang : UPT MKK Universitas Negeri Semarang.

Notoatmojo, S. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Refisi.

Jakarta:PT. Rineka Cipta

Novitasari, 2013, Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu serta Tenaga Kesehatan Terhadap Cakupan Imunisasi Hepatitis 0 di Kota Semarang, Bandung, Skripsi

Novitasari, 2013, Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu serta Tenaga Kesehatan Terhadap Cakupan Imunisasi Hepatitis 0 di Kota Semarang, Bandung, Skripsi

Dalam dokumen BELLA RIDA SAFIRA NIM: (Halaman 77-0)

Dokumen terkait