V. KAJIAN PEMBANGUNAN MANUSIA DI KAB BOGOR
5.1. Pengaruh Belanja Publik dan Belanja Aparatur Terhadap IPM Kab Bogor
5.2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kesehatan
Kualitas pembangunan di sektor kesehatan menurut pendekatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ditentukan oleh indikator tunggal berupa angka harapan hidup (AHH). Angka harapan hidup yang dimaksud dalam hal ini adalah angka harapan hidup waktu lahir yaitu perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir yang akan dicapai oleh sekelompok penduduk. Besaran AHH dipengaruhi oleh angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu saat melahirkan (AKI). Angka kematian bayi adalah besarnya kemungkinan bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun yang dinyatakan per seribu kelahiran hidup. Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain-lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi AHH adalah angka kematian bayi (AKB), angka kematian
ibu (AKI), jumlah pelayanan medis, tingkat gizi balita, penanganan persalinan, jumlah tenaga kesehatan, daya beli, kualitas lingkungan, dan kelembagaan masyarakat.
Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Bogor tahun 2001-2005 cenderung mengalami penurunan dari 52,74 menjadi 42,42 kematian per 1000 kelahiran. Angka ini relatif mendekati AKB di tingkat nasional. Pada tahun 2000 AKB Kabupaten Bogor sebesar 52,74 dan AKB di tingkat nasional sebesar 52,0 kematian per 1000 kelahiran. Keadaan tersebut menunjukkan adanya upaya yang baik dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dalam menekan AKB.
Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan kematian ibu adalah dengan mengetahui jumlah kematian ibu karena kehamilan dan melahirkan. Jumlah kematian ibu di Kabupaten Bogor pada tahun 2001-2005 relatif tidak banyak mengalami perubahan yang mencolok. Rata-rata jumlah kematian ibu karena kehamilan pada 2001-2005 adalah sebesar 62,4 orang. Perkembangan AKB dan jumlah kematian ibu di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Gambar 24.
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Angka Kematian Bayi 52.74 52.74 43.55 43.5 42.42
Jml Kematian Ibu 77.00 39.00 66.00 80.00 50.00
1 2 3 4 5
Gambar 24. Angka Kematian Bayi dan Jumlah Kematian Ibu di Kab. Bogor Tahun 2001-2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006).
Faktor lain yang mempengaruhi angka harapan hidup (AHH) adalah jumlah pelayanan medis atau fasilitas kesehatan. Semakin banyak tersedia fasilitas kesehatan, maka AHH akan semakin meningkat. Perkembangan fasilitas kesehatan di Kabupaten Bogor sejak 2001-2005 cenderung meningkat. Fasilitas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah praktek dokter umum dan spesialis, bidan, rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan rumah bersalin. Perkembangan jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Bogor pada 2001-2005 dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Perkembangan Jumlah Fasilitas Kesehatan Di Kabupaten Bogor Pada Tahun 2001-2005
Fasilitas Kesehatan 2001 2002 2003 2004 2005
Puskesmas 101 101 101 101 101
Puskesmas Pembantu 63 73 73 77 77
Puskesmas Keliling 16 16 18 37 31
Dokter Praktek Umum 123 112 359 548 934
Dokter Praktetk Spesialis 34 52 52 92 50
Rumah Sakit 6 7 7 8 8
Rumah Bersalin 0 82 90 90 90
Total 343 443 700 953 1291
Sumber : Bappeda (Kab. Bogor, 2006)
Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Bogor cenderung mengalami peningkatan. Rata-rata kenaikan jumlah fasilitas kesehatan selama 2001-2005 adalah sebesar 264 fasilitas setiap tahun. Fasilitas kesehatan yang paling dominan adalah dokter praktek umum. Jika dilihat berdasarkan tingkatan pelayanan kesehatan dasar yang diberikan kepada masyarakat, maka tingkatan pertama adalah puskesmas, puskesmas pembantu dan puskesmas keliling. Tingkatan pelayanan yang selanjutnya adalah dokter praktek umum dan spesialis. Tingkatan pelayanan yang paling akhir adalah rumah bersalin dan rumah sakit. Perkembangan fasilitas kesehatan dasar di
Kabupaten Bogor relatif tidak meningkat. Perkembangan fasilitas kesehatan menengah terutama dokter meningkat cukup berarti dan perkembangan fasilitas kesehatan lanjutan relatif tidak meningkat. Untuk meningkatkan kualitas pembangunan sektor kesehatan, maka penyediaan fasilitas kesehatan dasar harus diperbanyak karena dibutuhkan untuk mencegah memburuknya penyakit dan kematian.
Perkembangan jumlah tenaga medis selama 2001-2005 memperlihatkan adanya peningkatan. Jika dihitung berdasarkan rasio jumlah tenaga medis dengan jumlah penduduk, maka diperoleh : rasio jumlah dokter dengan penduduk sebesar 1 : 17.953 orang, dan rasio jumlah perawat dengan penduduk sebesar 1: 9.225. Rasio
jumlah bidan dengan penduduk perempuan jika diketahui sex ratio sebesar 103,34%
maka diperoleh angka sebesar 1 : 2.192 (Tabel 21).
Tabel 21. Perkembangan Jumlah Tenaga Medis Di Kabupaten Bogor Pada Tahun 2001-2005 Uraian 2001 2002 2003 2004 2005 Rasio T. Medis dg Pddk Jml Penduduk 3.352.490 3.599.462 3.791.784 3.945.411 4.100.934 Dokter Umum 112 123 123 184 216 Dokter Gigi 57 60 60 56 63 1 : 17.953 Perawat 273 360 360 418 654 1 : 9.225 Bidan 823 823 823 850 882 1 : 2.192
Sumber : Bappeda (Kab. Bogor, 2006)
Rasio jumlah dokter dengan penduduk di Kabupaten Bogor sangat jauh dari
jumlah rasio ideal. Rasio ideal dokter dengan penduduk adalah sebesar 1 : 2.500.4
Rasio jumlah bidan dengan penduduk perempuan di Kabupaten Bogor yang sebesar
_______________________
4) Rasio ideal menurut Indikator Indonesia Sehat 2010 sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No 1202/MENKES/VIII/2003.
1 : 2192 juga relatif kurang jika dibandingkan dengan rasio ideal yaitu 1 : 1.000. Berdasarkan persentase pelayanan persalinan yang dilakukan oleh bidan terlihat pula bahwa cakupan pelayan persalinan belum mencapai 100 persen. Jumlah persentase pelayanan persalinan oleh bidan di Kabupaten Bogor pada tahun 2001-2005 cenderung tetap yaitu berkisar 57 – 63 persen.
Beberapa faktor yang menyebabkan kurang optimalnya pelayanan persalinan oleh bidan adalah faktor ekonomi seperti daya beli yang rendah dan faktor budaya
berupa masih diminatinya persalinan oleh tenaga persalinan tradisional (sunda : paraji).
Penanganan persalinan yang kurang baik dapat menyebabkan terjadinya peristiwa kematian ibu melahirkan. Perkembangan jumlah persalinan yang ditangani oleh tenaga medis di Kabupaten Bogor pada tahun 2001-2005 dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Perkembangan Jumlah Persalinan Di Kabupaten Bogor Pada Tahun 2001-2005
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
Jml persalinan 100.974 70.830 110.085 112.544 107.622
Jml persalinan Medis 57.656 43.137 67.702 71.147 64.578
Persentase 57,10% 60,90% 61,50% 63,22% 60,00%
Sumber : Bappeda (Kab. Bogor, 2006)
Berdasarkan tingkat gizi selama tahun 2001-2005 dapat dikatakan bahwa secara umum balita yang ada di Kabupaten Bogor relatif memiliki tingkat gizi yang baik. Persentase balita yang bergizi baik dan lebih pada tahun 2001-2005 rata-rata sebesar 88,19 persen. Namun demikian persentase balita bergizi kurang dan buruk selama periode yang sama ternyata relatif masih tinggi yaitu sebesar 11,81 persen. Jika ditinjau dari keinginan untuk menekan jumlah balita penderita gizi buruk dan
kurang, angka persentase sebesar 11,81 persen relatif tinggi karena berada di atas 10 persen. Tingkat gizi buruk dan kurang yang terjadi selama 2001-2005 juga memperlihatkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut menuntut adanya perbaikan dalam hal penanganan gizi balita di Kabupaten Bogor. Tingkat gizi balita di Kabupaten Bogor selama tahun 2001-2005 dapat dilihat pada Gambar 25. 0 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 Jm l Balit a 3 3 0 5 3 8 3 7 9 0 7 7 4 7 3 1 9 3 4 7 6 4 6 2 4 8 0 6 4 2 Gizi Bu r u k 3 2 9 2 3 8 4 7 4 0 9 9 5 2 2 6 4 3 1 3 Gizi Ku r an g 3 8 8 7 6 4 8 8 6 7 4 3 9 1 7 4 6 8 1 2 5 0 0 4 3 Gizi Baik 2 8 5 3 0 4 3 2 4 2 1 9 3 2 3 2 1 9 3 5 0 0 3 7 4 0 7 5 7 7 Gizi Leb ih 3 0 6 6 2 1 4 4 1 0 1 9 5 8 7 4 3 8 7 1 8 7 0 9 2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5
Gambar 25. Tingkat Gizi Balita di Kab. Bogor Tahun 2001-2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006).
Faktor mendasar yang diduga mempengaruhi kualitas pembangunan sektor
kesehatan adalah daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat yang semakin baik
akan semakin mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Untuk mengetahui pengaruh daya beli terhadap sektor kesehatan di Kabupaten
pengaruh daya beli terhadap sektor kesehatan terutama angka harapan hidup (AHH) di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Gambar 26.
Berdasarkan Gambar 26 dapat disimpulkan bahwa di Kabupaten Bogor daya beli relatif tidak begitu berpengaruh terhadap angka harapan hidup (koefisien korelasi = -0,30). Namun jika dilihat dari tahun 2001-2006, daya beli memiliki korelasi yang tinggi dengan angka harapan hidup (koefisien korelasi = 0,8721). Semakin tinggi daya beli akan semakin tinggi angka harapan hidup. Hal ini dapat difahami karena dengan adanya daya beli yang tinggi maka masyarakat dapat membiayai kebutuhan kesehatan yang diperlukan.
4 14 24 34 44 54 64 74 510 520 530 540 550 560 570 580 Daya Beli A ngk a H a ra pa n H id u p 2000 1998 2006 2001 1997 1996 1999
Gambar 26. Diagram Pencar Hubungan Antara Daya Beli Dengan Angka Harapan Hidup di Kab. Bogor Tahun 1996-2006.
Faktor kualitas lingkungan diduga berpengaruh terhadap kualitas pembangunan sektor kesehatan terutama berkaitan dengan faktor budaya hidup sehat. Indikator dari adanya budaya hidup sehat di bidang kesehatan yang baik adalah meningkatnya kualitas lingkungan. Perkembangan kualtias lingkungan hidup
sehat di Kabupaten Bogor salah satunya dapat dilihat dari kondisi rumah tangga yang memiliki sarana air bersih dan jamban keluarga (Tabel 23.)
Tabel 23. Perkembangan Rumah Tangga Yang Memiliki Sarana Air Bersih Dan Jamban Keluarga Di Kabupaten Bogor Pada Tahun 2001-2005
Indikator Lingkungan 2001 2002 2003 2004 2005
Rumah dengan Sarana Air Bersih 331.449 332.543 387.911 400.449 502.051 Rumah dengan Jamban Keluarga 232.950 233.749 275.451 283.121 343.922 Jumlah Rumah Tangga 615.619 617.077 716.761 736.526 892.377
Sumber : Bappeda (Kab. Bogor, 2006)
Sejak tahun 2001-2005 jumlah rumah tangga yang memiliki sarana air bersih dan jamban keluarga cenderung meningkat. Rata-rata peningkatan jumlah sarana air bersih dan jamban keluarga mencapai 42.651 rumah tangga (11,4 persen per tahun) dan 27.743 rumah tangga (10,61 persen per tahun). Jika dilihat dari persentase kepemilikan sarana air bersih dan jamban keluarga, maka persentase kepemilikan sarana air bersih di Kabupaten Bogor rata-rata adalah sebesar 54,5 persen dari rumah tangga yang ada. Adapun persentase kepemilikan jamban di Kabupaten Bogor adalah sebesar 38,23 persen. Jika diasumsikan kepemilikan sarana air bersih juga mencakup kepemilikan jamban dan sebaliknya, maka paling tidak di Kabupaten Bogor masih terdapat rumah tangga yang tidak memiliki sarana air bersih sekaligus jamban sebesar rata-rata 50.953 rumah tangga atau sekitar 7,02 persen.
Faktor kelembagaan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan salah satunya dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pos pelayanan kesehatan terpadu (posyandu). Posyandu adalah bentuk partisipasi masyarakat untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara swakelola terutama pelayanan kesehatan untuk balita. Semakin banyak jumlah posyandu menunjukkan
semakin meningkatnya kelembagaan masyarakat di bidang kesehatan. Perkembanguan jumlah posyandu di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Perkembangan Jumlah Posyandu Di Kabupaten Bogor Tahun 2001-2005
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
Jumlah Balita 330.538 379.077 473.193 476.462 480.642
Jumlah Posyandu 3.815 3.825 3.923 3.923 3.924
Rasio Posyandu dan Balita 1 : 86,64 1 : 99,11 1 : 120,63 1 : 121,45 1 : 122,49
Sumber : Bappeda (Kab. Bogor, 2006)
Selama periode 2001-2005 jumlah posyandu tidak mengalami peningkatan yang berarti. Jika dihitung berdasarkan rasio jumlah posyandu dengan jumlah balita yang ada maka diperoleh angka rata-rata rasio sebesar 1 : 110. Angka rasio ini relatif kecil karena setiap posyandu harus menangani lebih dari 100 balita. Jika diasumsikan pelayanan di posyandu memerlukan 3 menit per balita, maka diperlukan sekitar 300 menit atau 5 jam setiap kali mengadakan pelayanan. Pelayanan posyandu yang optimal diharapkan hanya berlangsung selama 2,5-3 jam. Untuk itu diperlukan penambahan jumlah posyandu sebanyak dua kali lipat dari jumlah yang ada sehingga rasionya menjadi 1 : 50.