• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.3 Opini Going Concern

2.1.3.4 Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Audit

2.1.3.4.1 Profitabilitas

Profitabilitas merupakan analisis laporan keuangan yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan dan mengembangkan operasional perusahaannya. Menurut Brigham dan Houston (2010:146) rasio profitabillitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen asset, dan utang pada hasil operasi.

Menurut Subramanyam dan Wild (2010:43) analisis profitabilitas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Tingkat pengembalian atas investasi ( return on investment – ROI). Untuk menilai kompensasi keuangan kepada penyedia pendanaan ekuitas dan utang.

b. Kinerja operasi. Untuk mengevaluasi margin laba dari operasi

c. Pemamfaatan aset (aset utilization). Untuk menilai efektivitas dan

intensitas aset dalam menghasilkan penjualan, disebut pula perputaran (

turnover).

Pada penelitian ini rasio profitabilitas yang digunakan adalah return on asset (ROA). Arma (2013:16) menyatakan bahwa analisis return on asset dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yan bersifat menyeluruh/komprehensif. ROA yang positif menunjukkan bahwa pada suatu periode total asset yang digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan mampu menghasilkan laba bagi perusahaan, sehingga semakin tinggi nilai ROA maka semakin baik kondisi perusahaan artinya

Sebaliknya, ROA yang negatif menunjukkan bahwa total asset yang digunakan tidak menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, sehingga semakin rendah ROA maka kondisi perusahaan kurang baik dan apabila terjadinya berulang kali semakin kuat keyakinan auditor untuk memberikan opini audit

going concern.

Berdasarkan penelitian Arma (2013), profitabilitas berpengaruh signifikan negatif terhadap opini audit going concern, artinya semakin besar profitabilitas

suatu perusahaan maka semakin kecil probabilitas mendapatkan opini audit going

concern tetapi hasil penelitian yang dilakukan oleh Tampubolon (2011) menyatakan bahwa variabel profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.

2.1.3.4.2 Opini Audit Tahun Sebelumnya

Menurut Rahayu dan Suhayati (2009:73) laporan auditor dianggap sebagai alat formal untuk mengkomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang telah dilakukan oleh auditor dan kesimpulan

yang dicapainya atas audit laporan keuangan. Opini audit going concern tahun

sebelumnya ini akan menjadi faktor pertimbangan penting auditor untuk

mengeluarkan kembali opini audit going concern pada tahun berikutnya. Apabila

auditor menerbitkan opini audit going concern tahun sebelumnya maka akan

semakin besar kemungkinan perusahaan akan menerima kembali opini audit going

concern pada tahun berjalan.

going concern pada tahun sebelumnya lebih cenderung untuk menerima opini yang sama pda tahun berjalan. Kemudian menguji pengaruh ketersediaan informasi publik terhadap opini audit going concern, yaitu tipe opini audit yang

telah diterima perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa model discriminant

analysis yang memasukkan tipe opini audit tahun sebelumnya mempunyai akurasi prediksi keseluruhan yang paling tingg sebesar 89,9 persen dibanding model yang lain.

Menurut Januarti (2009:17) berdasarkan hasil penelitiannya, untuk memperbaiki kinerja perusahaan dibutuhkan waktu yang relatif lama. Hasil penelitian Januarti (2009) juga menyatakan bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan, hal tersebut mengindikasikan bahwa

perusahaan yang tahun sebelumnya menerima opini going concern kemungkinan

besar akan menerima opini yang sama pada tahun berikutnya. Penelitian Pandiangan (2013) menghasilkan hasil yang sama dengan penelitian Januarti (2009), bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap opini audit going concern.

2.1.3.4.3 Pertumbuhan Perusahaan

Pertumbuhan perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah perusahaan tersebut sehat atau tidak, apakah perusahaan tersebut mampu mempertahankan keberlangsungannya ketika menghadapi keadaan ekonomi yang menurun. Pertumbuhan perusahaan dalam penelitian ini dilihat dari segi

penjualan. Menurut Warren et al (2006:300) penjualan adalah jumlah yang

maupun kredit. Retur dan potongan penjualan serta diskon penjualan dikurangkan dari jumlah ini untuk mendapatkan penjualan bersih. Pertumbuhan penjualan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan dalam kondisi

persaingan. Kegiatan utama perusahaan (auditee) dalam menghasilkan laba

didapatkan melalu penjualan.

Menurut Arma (2013:9) pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan biaya akan mengakibatkan kenaikan laba perusahaan. Jumlah laba yang diperoleh secara teratur serta kecenderungan atau trend keuntungan yang meningkat merupaka suatu faktor yang sangat menentukan

perusahaan untuk tetap survive. Sementara perusahaan dengan rasio pertumbuhan

penjualan negatif berpotensi besar mengalami penurunan laba sehingga apabila manajemen tidak segera mengambil tindakan perbaikan, perusahaan dimungkinkan tidak akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Auditee yang mempunyai rasio pertumbuhan penjualan yang positif

mengindikasikan bahwa Auditee dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya

(going concern). Penjualan yang terus meningkat dari tahun ke tahun akan

memberikan peluang Auditee untuk memperoleh peningkatan laba. Semakin

tinggi rasio pertumbuhan penjualan Auditee, akan semakin kecil kemungkinan

auditor untuk menerbitkan opini audit going concern.

Pertumbuhan Penjualan =penjualan bersih t–penjualan bersiht−1 penjualan bersih t−1

Penelitian yang dilakukan oleh Arma (2013) menghasilkan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan negatif terhadap kemungkinan

penerimaan opini audit going concern. Berbeda sedikit dengan penelitian yang

dilakukan oleh Pandiangan (2013) bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern.

2.1.3.4.4 Leverage

Rasio ini berhubungan dengan keputusan pendanaan dimana perusahaan

lebih memilih pembiayaan melalui hutang dibandingkan modal sendiri. Leverage

juga sering diartikan sebagai pendongkrak kinerja perusahaan dan erat

hubungannya dengan utang. Dalam penelitian ini tingkat leverage diukur dengan

menggunakan rasio debt to equity ratio (DER). Menurut Subramanyam dan Wild

(2010:46) solvabilitas atau leverage menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya .

Perusahaan yang baik seharusnya memiliki komposisi modal yang lebih besar dari hutang. Walau bagaimanapun, pendanaan perusahaan yang diperoleh sebagian besar melalui hutang dapat meningkatkan kinerja perusahaan karena

perputaran uang perusahaan lebih cepat. Menurut Brigham dan Houston

(2010:140) istilah leverage akan memberikan tiga dampak penting yaitu (1)

menghimpun dana melalui utang, pemegang saham dapat mengendalikan perusahaan dengan jumlah investasi ekuitas yang terbatas, (2) kreditor melihat ekuitas atau dana yang diberikan oleh pemilik sebagai batas pengaman. Jadi, makin tinggi proporsi total modal yang diberikan oleh pemegang saham, makin

kecil risiko yang dihadapi oleh kreditor, (3) jika hasil yang diperoleh dari aset perusahaan lebih tinggi daripada tingkat bunga yang dibayarkan, maka

penggunaan utang akan “mengungkit” (leverage) atau memperbesar

pengembalian atas ekuitas. Penelitian yang dilakukan oleh Tampubolon (2011) menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit

going concern.

Dokumen terkait