• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI MENOLONG KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS

B. Motivasi Menolong

3) Faktor yang mempengaruhi perilaku prososial

Sears et. al (1994) mengemukakan setidaknya terdapat tiga faktor yang mendasari seorang individu berperilaku prososial. Faktor tersebut terbagi menjadi tiga yaitu, karakteristik situasi, karakteristik penolong dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan.

a. Karakter Situasi

Karakter situasi menjadi faktor yang menunjang seorang individu melakukan perilaku prososial. Sears (1994) menjelaskan, orang yang altruis sekali pun cenderung untuk tidak menolong dalam suatu situasi tertentu. Maka dari itu, karakteristik situasi menjadi sangat penting dalam menunjang perilaku prososial. Karakteristik situasi meliputi kehadiran orang lain, kondisi lingkungan, dan tekanan akibat keterbatasan waktu.

 Kehadiran orang lain

Kehadiran orang lain di lingkungan sekitar cukup mempengaruhi dalam berperilaku prososial. Hal ini didasari pada anggapan bahwa hadirnya banyak orang, menjadi alasan untuk tidak memberikan pertolongan. Kondisi ini

dipengaruhi oleh adanya suatu peyebaran tanggung jawab, adanya reaksi yang datang dari orang disekitar kejadian, serta rasa takut untuk dinilai.

1. Penyebaran Tanggung Jawab.

Perasaan ini timbul karena hadirnya orang lain. Jika hanya ada satu orang yang mendapati korban, maka orang tersebut mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan pertolongan dan akan menanggung rasa salah dan sesal bila tidak memberikan pertolongan. Namun bila terdapat orang lain di lokasi kejadian untuk memberikan pertolongan, maka tanggung jawab akan terbagi.

2 . Perilaku individu di sekitar lokasi kejadian

Perilaku individu di sekitar lokasi kejadian dapat mempengaruhi bagaimana menginterpretasikan situasi dan bagaimana reaksi yang akan terjadi. Bila orang lain mengabaikan suatu situasi atau memberikan respon seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sehingga orang di sekitarnya beranggapan tidak ada suatu keadaan darurat.

3 . Rasa takut dinilai

Jika kita mengetahui bahwa orang lain memperhatikan perilaku kita, mungkin kita akan berusaha melakukan apa yang menurut diharapkan oleh orang lain dan memberikan kesan yang baik (Sears, 1994). Rasa takut dinilai dalam efek

penonton memungkinkan bisa terjadi, hal ini disebabkan adanya suatu kekhawatiran karena adanya bystander atau pengamat dan timbulnya pertimbangan. Contohnya rasa takut melakukan k e salahan jika memberikan bantuan, rasa takut dinilai menjadi pusat perhatian penonton yang lain dan menimbulkan rasa malu. c.FAKTOR LINGKUNGAN DAN MOTIVASI MENOLONG KORBAN KLL

Sears (1994) menyatakan bahwa, seseorang lebih senang apabila menolong jika cuaca cerah, dan pada siang hari, daripada menolong saat gelap dan cuaca y a n g dingin. Kondisi lingkungan ini dibagi menjadi tiga yaitu, cuaca, ukuran kota, dan kebisingan

1 . Cuaca

Seseorang cenderung akan membantu bila hari cerah dan bila suhu udara cukup menyenangkan yaitu relatif hangat di musim dingin dan relatif sejuk di musim panas.

2. Ukuran kota

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran kota menimbulkan perbedaan dalam usaha menolong orang yang mengalami kesulitan. Persentase orang menolong lebih besar di kota kecil daripada di kota besar.

3. Kebisingan

Peneliti menyatakan bahwa suara bising menyebabkan orang a k a n mengabaikan orang lain di sekitarnya dan memotivasi mereka untuk meninggalkan situasi tersebut.

 Tekanan keterbatasan waktu

Faktor keterbatasan waktu bagi beberapa orang akan mempengaruhi perilaku prososial. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sears, 1994) mengemukakan bahwa seseorang yang sedang tergesa-gesa cenderung untuk menolong lebih kecil daripada yang memiliki banyak waktu luang. Dengan demikian, keterbatasan waktu menjadi hal yang yang tidak bisa dilepaskan dari karakteristik situasi.

b. Karakterisitik penolong

Terdapat faktor penting yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan prososial, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri orang tersebut. Faktor tersebut menurut Sears (1994), dapat dikelompokkan menjadi, faktor kepribadian, faktor suasana hati, faktor rasa bersalah, faktor distress diri dan faktor rasa empatik.

1 . Faktor kepribadian.

Pada beberapa jenis situasi dan tidak pada situasi yang lain. Kepribadian tertentu mendorong individu untuk memberikan pertolongan

2. Suasana hati.

Terdapat beberapa bukti bahwa orang lebih terdorong untuk memberikan suatu bantuan bila mereka berada dalam suasana hati yang baik. Perasaan positif dapat meningkatkan ketersediaan untuk melakukan tindakan prososial.

Keadaan psikologis yang mempunyai korelasi khusus dengan perilaku prososial adalah rasa bersalah dan perasaan gelisah yang timbul bila kita melakukan sesuatu yang salah. Keinginan yang kuat untuk mengurangi rasa bersalah dapat menyebabkan seseorang menolong orang yang dirugikan, atau berusaha menghilangkannya dengan melakukan “tindakan yang baik”. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa rasa bersalah yang timbul meningkatkan kebersediaan untuk menolong (Cunningham, 1994).

4. Distres diri dan rasa empati

Distres diri adalah respon atau reaksi pribadi seseorang terhadap penderitaan orang lain, cemas, prihatin, perasaan terkejut, tidak berdaya, atau perasaan apa pun yang seseorang alami. Sebaliknya rasa atau sikap empatik (emphatic concern) adalah suatu perasaan simpati dan perhatian kepada orang lain, untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Perbedaan yang mendasar dari keduanya adalah bahwa penderitaan diri terfokus pada diri sendiri, sedangkan empatik terfokus pada korban.

c. Karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan.

Dalam melaukan tindakan prososial, biasanya seorang penolong akan memilih siapa yang patut untuk ditolong. Misalnya, karena suatu keterbatasan fisik dan materi orang yang menolong, maka tidak semua orang yang menurutnya membutuhkan bantuan dapat dibantu. Oleh

karena itu, karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan menjadi salah faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan perilaku prososial.

1. Menolong orang yang disukai.

Kondisi fisik dalam beberapa situasi akan memungkinkan seseorang untuk melakukan tindakan prososial. Selain itu, faktor kesamaan nasib juga mendorong seseorang untuk dapat membantu orang lain, seperti berasal dari daerah yang sama. 2. Menolong orang yang pantas ditolong.

Seseorang akan memprioritaskan untuk menolong orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan dan berada pada keadaan yang mendesak. Misalnya seorang mahasiswa akan lebih mudah meminjamkan uang kepada temannya yang kehabisan uang karena sakit dari pada kepada mereka yang kehabisan uang karena hura-hura (Mayer et. al, 1994).

Baron et. al (2005) juga menjelaskan faktor-faktor perilaku prososial dengan membaginya menjadi 3 bagian yaitu, faktor situasional, motivasi dan moralitas, keadaan emosional, serta empati.

a. Faktor situasional

Faktor situasional dibagi menjadi 3 yaitu, daya tarik, atribusi dan bentuk-bentuk prososial.

1. Daya tarik (menolong mereka yang disukai)

sejauh mana individu tersebut mengevaluasi korban secara positif (daya tarik). Individu akan cenderung menolong jika orang yang membutuhkan pertolongan menarik di mata orang yang hendak menolong.

2. Atribusi

Atribusi yang dibuat oleh individu mengenai korban yang bertanggungjawab atau tidak terhadap hal yang terjadi padanya. Seorang penolong akan melihat sampai sejauh mana korban yang akan ditolongnya berusaha untuk keluar dari masalah yang meninpanya. Apabila korban t e l a h berusaha untuk menolong dirinya sendiri tetapi tidak mampu, maka korban tersebut akan mendapatkan kesempatan ditolong lebih besar daripada korban yang sama sekali tidak berusaha untuk menyelesaikan masalahnya.

3. Bentuk-bentuk prososial

Pengalaman seseorang terhadap bentuk-bentuk prososial di masa sekarang maupun di masa lalu. Pada suatu penelitian lapangan ada seorang wanita sebagai asisten peneliti mengalami ban motor yang kempes dan memarkirkan motornya ditepi jalan. Pengendara lain akan lebih banyak berhenti dan menolong wanita tersebut jika mereka sebelumnya pernah mengalami suatu situasi dimana wanita lain yang mempunyai masalah yang sama terlihat menerima pertolongan.

b. Faktor Motivasi dan Moralitas

Menurut Baron et. al (2005) terdapat tiga motif utama bagi seseorang ketika dihadapkan pada sebuah dilemma moral yaitu self-interest atau egoism, moral integrity (integritas moral), dan moral hypocrisy. Faktor-faktor inilah yang akan membuat seseorang melakukan perilaku prososial terhadap orang lain.

1. Kepentingan pribadi (self-interest)

Individu memiliki motif utama untuk tidak dipusingkan oleh pertanyaan benar atau salah m a u p u n adil atau tidak. Mereka hanya a k a n melakukan yang terbaik bagi diri mereka sendiri. 2. Integritas moral (moral integrity)

Individu yang termotivasi oleh integritas moral, pertimbangan akan kebajikan, dan keadilan seringkali membutuhkan pengorbanan terkait dengan kepentingan pribadinya untuk melakukan “hal yang dianggapnya benar”.

3. Hiprokisi Moral (moral hyprocisy)

Individu akan didorong oleh kepentingan pribadinya tetapi juga akan mempertimbangkan penampilan luar mereka. Sehingga hal ini penting bagi mereka untuk terlihat peduli, sementara mereka sebenarnya tetap mengutamakan kepentingan-kepentingan pribadi.

c. Faktor Keadaan Emosional

Suasana hati yang baik atau mood yang bagus akan meningkatkan peluang terjadinya tindakan prososial, sedangkan kondisi suasana hati

yang tidak baik akan menghambat tindakan prososial.

d. Empati

Motif altruistic menajdi dasar rasa empati pada seseorang (Baron, 2005). Selain itu, Sarwono (2009) menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku prososial dapat dipicu oleh faktor dari luar dan dari dalam diri seseorang.

Faktor luar/ Pengaruh situasi terhadap tindakan prososial

a. Bystanders

Penelitian Darley et. al (1996) menyatakan adanya kehadiran orang sekitar sangat berpengaruh pada perilaku menolong orang lain yang kebetulan bersama kita di tempat kejadian (Bystanders). Semakin banyak oramg lain semakin kecil kemungkinan untuk menolong dan sebaliknya apabila kita seorang diri cenderung untuk menolong.

b. Daya tarik

Sejauh mana seseorang melihat korban yang membutuhkan pertolongan dengan positif, akan mempengaruhi seseorang untuk memberikan bantuan. Faktor daya tarik yang dapat meningkatkan terjadinya kesempatan untuk menolong antara lain memiliki kesamaan baik dalam hal yang disukai ataupun kesamaan sifat atau pun memiliki penampilan yang menarik.

Individu akan termotivasi untuk membantu orang lain apabila kejadian yang menimpa korban adalah di luar kendali korban, maksudnya adalah orang tersebut mengalami kesulitan bukan karena kesalahannya tetapi murni karena musibah yang menimpanya. Contohnya seseorang akan lebih menolong orang yang membtuhkan uang karena terkena bencana dibandingkan dengan orang yang kalah bermain judi.

d. Ada model

Teori pembelajaran sosial menjelaskan model tingkah laku menolong akan dapat mendorong seseorang untuk memberikan pertolongan pada orang lain.

e. Desakan waktu

Orang yang sibuk dan tergesa-gesa cenderung untuk tidak menolong daripada orang yang memiliki waktu lebih banyak.

Faktor dari dalam diri terhadap tindakan prososial

1. Suasana hati (mood)

Suasana hati seseorang dapat mempengaruhi keputusannya untuk menolong. Sarwono (2002) menjelaskan bahwa keadaan hati seseorang dapat mempengaruhi perilaku menolong. Perbedaan adanya perasaan negatif pada anak-anak dan orang dewasa adalah perasaan negatif pada anak akan menghambatnya untuk melakukan perilaku menolong tetapi pada orang dewasa akan mendorongnya melakukan perilaku menolong karena orang dewasa telah

merasakan menfaat dari perilaku menolong a k a n mengurangi perasaan negatif yang tengah dialaminya sedangkan pada anak-anak belum ada kemampuan itu. Namun perasaan negatif yang terlalu mendalam misalnya karena kematian anggota keluarga, pada orang dewasa juga akan menghambat perilaku prososial. Mereka akan lebih fokus pada dirinya sendiri.

2. Faktor sifat

Sarwono (2009) memngemukakan bahwa orang dengan sifat pemaaf memiliki kecendrungan untuk mudah menolong. Orang yang memiliki kendali diri yang baik (self monitoring) juga cenderung lebih penolong, dengan menolong ia akan memiliki penghargaan sosial yang tinggi (White et. al, 2009). Sarwono (2002) menjelaskan faktor-faktor dalam diri yang menyusun kepribadian altruistik, yaitu rasa tanggung jawab sosial, memiliki internal locus of control, kepercayaan pada dunia yang adil, adanya empati, dan egosentrisme yang rendah.

3. Jenis kelamin

Keterlibatan faktor gender untuk menolong sangat tergantung pada situasi dan kondisi. Laki-laki cenderung akan terlibat pada aktifitas menolong darurat yang membahayakan, misalnya menolong seseorang dalam bencana kebakaran. Hal ini didasarkan pada peran laki-laki yang dipandang lebih kuat dari perempuan karena mempunyai kemampuan untuk melindungi. Sementara perempuan,

kebanyakan tampil menolong untuk memberi dukungan emosi, mengasuh dan merawat.

Eisenberg et. al (2006) juga menjelaskan adanya aspek-aspek kepribadian yang mempengaruhi perilaku prososial, seperti tempramen, emosi, asertif, self esteem, self- efficacy, agama, nilai-nilai dan tujuan. Beberapa aspek kepribadian tersebut berhubungan dengan faktor genetik seseorang. Faktor lain yang berpengaruh terhadap perilaku prososial juga dikemukakan oleh Caprara et. al (2005), menurutnya jenis kelamin dan usia juga berpengaruh terhadap perilaku prososial.