• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut masyarakat, akibat abrasi besar yang melanda tahun 2002, populasi yang semakin meningkat, juga banyaknya aktivitas manusia yang semakin merugikan lingkungan, menyebabkan banyaknya perubahan ekologis di Desa Muara. Hal inilah yang melandasi PT Pertamina dalam melakukan program rehabilitasi mangrove. Selain aspek pariwisata yang diharapkan semakin menggeliat, PT Pertamina juga tentunya menginginkan ada perubahan lingkungan yang lebih baik, demi kelestarian ekosistem dan kelangsungan kehidupan masyarakat.

Selama tiga tahun program ini berlangsung, yang berarti tahun ini merupakan tahun terakhir adanya kegiatan rehabilitasi mangrove, sudah semestinya diadakan evaluasi tujuan-tujuan yang diharapkan. Salah satunya adalah perubahan lingkungan. Apabila rehabilitasi tersebut dipandang berhasil dalam mempengaruhi perubahan lingkungan, kemungkinan besar aspek pariwisata yang diidamkan akan bisa segera diwujudkan. Akan tetapi, jika belum menyentuh ranah perbaikan ekologis, sejogyanya perusahaan kembali mempertimbangkan keberlanjutan program untuk termin selanjutnya. Tentunya dengan segala perbaikan pada sisi program.

Bab ini menjelaskan mengenai penilaian masyarakat tentang perubahan lingkungan sekitarnya, dianalisis amenggunakan uji beda Independent T menurut dua sudut pandang berbeda, yakni menurut responden penerima dan bukan penerima. Perbandingan juga dianalaisis menurut selisish nilai dari kondisi sebelum dan setelah adanya program rehabilitasi mangrove yang diadakan oleh PT Pertamina di Desa Muara Kecamatan Teluk Naga. Perubahan lingkungan yang dianalisis mencangkup perubahan kondisi air, tanah, frekuensi bencana alam, banyaknya satwa di lingkungan mangrove, dan banyaknya sampah.

Selain itu, dijelaskan pula mengenai hubungan-hubungan yang terkait dengan penilaian masyarakat tentang perubahan lingkungan tersebut. Responden yang menjadi objek pada bab ini adalah responden penerima dan bukan penerima program. Variabel yang akan diuji coba hubungannya dibedakan menjadi dua bagian, bagian pertama untuk responden penerima program, yaitu hubungan implementasi program dengan penilaian perubahan lingkungan, dan bagian kedua untuk responden kontrol yang menghubungkan antara faktor fungsional dengan penilaian perubahan lingkungan.

Perbandingan Penilaian Perubahan Lingkungan

Bagian ini akan membahas mengenai perbandingan penilaian perubahan lingkungan, baik dari segi responden yaitu penerima program dan kontrol, maupun dari segi waktu program yaitu sebelum dan setelah program dilaksanakan. Perbandingan akan disajikan melalui dua cara, pertama dengan menjelaskan hasil uji beda Independen T untuk mendapatkan nilai signifikansi perbandingan penilaian dari kedua responden berbeda, dan yang kedua akan disajikan melalui analisis selisih penilaian yang dimiliki responden sebelum dan setelah program. Keduanya akan dideskripsikan secara lebih rinci dengan

menggambarkan diagram-diagram perbandingan dari tiap indikator perubahan lingkungan yang akan disajikan pada bagian selanjutnya.

Tabel 18 Nilai signifikansi responden menurut penilaiannya terhadap perubahan lingkungan dan indikatornya dengan melakukan uji beda Independent T

Penilaian Responden Nilai Signifikansi Keterangan

Perubahan Lingkungan 0.032* Signifikan

Kondisi Air 0.030* Signifikan

Kondisi Tanah 0.018* Signifikan

Frekuensi Bencana 0.078 Tidak Signifikan

Jumlah Hewan 0.063 Tidak Signifikan

Jumlah Sampah 0.000* Signifikan

Tabel diatas merupakan penjabaran dari hasil uji Independent T yang dilakukan pada responden penerima program dan kontrol. Perbedaan yang signifikan atau tidak dari kedua responden tersebut ditentukan oleh nilai signifikansi yang muncul setelah dilakukan uji. Apabila nilai signifikansi yang diperoleh <0.05, maka terdapat perbedaan nyata yang signifikan diantara penilaian dua responden tersebut.

Indikator perubahan lingkungan memiliki nilai signifikansi 0.032, berarti terdapat perbedaan yang nyata signifikan pada penilaian perubahan lingkungan dari dua responden. Penilaian responden penerima program cendrung menilai bahwa perubahan yang terjadi pada lingkungannya semakin lama semakin baik. Berbeda dengan penilaian bukan penerima program yang berpendapat bahwa, tidak ada perubahan yang dirasakan masyarakat, berkaitan dengan lingkungannya. Indikator perubahan lain yang memiliki nilai signifikansi berbeda nyata adalah kondisi air, kondisi tanah, dan jumlah sampah. Indikator lain yang memiliki nilai signifikansi tidak berbeda nyata yaknu frekuensi bencana dan jumlah hewan.

Perolehan nilai signifikansi tersebut, bisa kembali diuraikan penjelasan lanjut mengenai perolehan penilaian yang dimiliki responden penerima dan bukan penerima program. Melalui identifikasi penilaian sebelum dan setelah adanya program, maka akan didapatkan selisih penilaian diantara kedua kurun waktu tersebut, menurut penilaian dua responden yang berbeda.

Tabel 19 Selisih penilaian responden penerima program menurut perubahan lingkungan di Desa Muara tahun 2015

Perubahan Lingkungan Sebelum Adanya Program Setelah Adanya Program Selisih Min Max Rata-

Rata Min Max

Rata- Rata Kondisi air 1 9 4.9 1 9 5.2 0.4 Kondisi tanah 2 10 5.6 1 10 6.3 0.7 Frekuensi Bencana 2 10 5.2 2 10 5.9 0.7 Jumlah hewan 1 10 6.2 1 10 5.3 -0.5 Jumlah sampah 1 9 5.3 1 9 5.6 0.1 Total 27.2 28.3 1.1

Tabel 20 Selisih penilaian responden bukan penerima program menurut perubahan lingkungan di Desa Muara tahun 2015

Perubahan Lingkungan Sebelum Adanya Program Setelah Adanya Program Selisih Min Max Rata-

Rata Min Max

Rata- Rata Kondisi air 1 9 5 1 10 5.1 0.1 Kondisi tanah 2 10 6.5 2 9 4.9 -1.6 Frekuensi Bencana 2 9 5.6 1 10 5.6 0 Jumlah hewan 5 10 8.2 2 8 5.5 -2.7 Jumlah sampah 2 10 5.6 2 7 3.6 -2.0 Total 30.9 24.7 -6.2

Kedua tabel diatas, dapat dilihat bahwa terjadi perbedaan yang signifikan dari selisish penilaian sebelum adanya program dan setelah adanya program, dari responden penerima dan bukan penerima program. Hal ini memperkuat hasil uji beda yang dilakukan sebelumnya yang menyatakan bahwa, terjadi perbedaan yang signifikan nyata terhadap penilaian perubahan lingkungan tersebut. Secara keseluruhan, adanya selisih penilaian perubahan lingkungan sebelum dan setelah adanya program, bagi responden penerima program adalah 1.1 poin, sedangkan bagi responden bukan penerima program sebesar -6.2 poin. Hal ini berarti, terdapat pula perbedaan dalam penilaian perubahan lingkungan antara responden penerima dengan bukan penerima program sebanyak 7.3 poin. Penjelasan lanjutan mengenai signifikansi perbedaan penilaian menurut responden dan waktu pelaksanaan program, akan dijelaskan melalui pemaparan berikut.

Penilaian Perubahan Lingkungan

Perubahan lingkungan ini dinilai dari dua waktu yang berbeda, pada waktu dimana perusahaan belum melaksanalkan program, sekitar tahun 2011 dan saat ini dimana perusahaan tengah menjalankan program di tahun terakhirnya. Untuk mempermudah responden dalam memanggil kembali ingatannya, peneliti membahasakan dengan perumpamaan, kondisi lingkungan lima tahun lalu jika dibandingkan dengan sekarang.

Pada penilaian perubahan lingkungan, kategori penilaian dibedakan menjadi tiga kategori, yakni perubahan yang semakin buruk, yang berarti nilai sebelum adanya program lebih besar dibandingkan dengan nilai setelah adanya program. Kedua, kategori tidak ada perubahan, maksudnya bahwa penilaian antara sebelum dan setelah adanya program tidak ada kenaikan atau penurunan, dengan kata lain perubahan sama dengan nol. Kategori terakhir, yakni perubahan yang semakin baik, yaitu dimana nilai lingkungan setelah adanya program lebih besar dibandingkan nilai sebelum adanya program. Berikut tabel yang menjelaskan hal tersebut.

Pengkategorian ini hanya dimaksudkan untuk mempermudah penulis dalam menggambarkan keadaan masyarakat dalam menilai perubahan lingkungan saja. Pengkategorian tidak dipakai untuk menganalisis hubungan antar variabel. Untuk pengolahan data analisis hubungan, data yang dipakai tetap data interval seperti yang didapatkan pada saat pengumpulan data.

Tabel 21 Jumlah dan persentase responden penerima program menurut penilaianya terhadap perubahan lingkungan di Desa Muara tahun 2015 Penilaian Perubahan Lingkungan Jumlah Persentase

Semakin Buruk 6 16.6

Tidak ada Perubahan 15 41.7

Semakin Baik 15 41.7

Jumlah 36 100

Tabel 21 tersebut menjelaskan bahwa dari 36 responden penerima program yang diteliti, ada sebanyak 6 orang (16.6%) yang menilai perubahan lingkungan kini lebih buruk dari sebelum adanya program, 15 orang (41.7%) menilai baik dulu maupun kini tidak ada perubahan di lingkungannya, sedangkan 15 orang (41.7%) menilai bahwa perubahan yang dialami lingkungannya berangsur membaik dari kondisi sebelumnya.

Dari hasil perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang merupakan anggota kelompok tani menilai kondisi air menjadi membaik setelah adanya program. tidak jarang anggota diberikan materi penyuluhan terkait pentingnya menjaga lingkungan.

Setelah penilaian dijabarkan frekuensinya secara umum, maka selanjutnya akan dijelaskan pula frekuensi indikator-indikator yang berpengaruh dalam pembentukan penialain perubahan lingkungan tersebut. Terdapat lima indikator yang menjadi komponen, yakni perubahan kondisi air, kondisi tanah, frekuensi bencana, jumlah hewan, dan jumlah sampah. Kesemuanya berlaku sebagai komponen baik bagi responden penerima program maupun responden bukan penerima program.

Tabel 22 Jumlah dan persentase responden penerima program menurut penilaiannya terhadap indikator perubahan lingkungan di Desa Muara tahun 2015 Penilaian Indikator Perubahan Lingkungan Semakin Buruk Tidak ada Perubahan Semakin Baik Jumlah % % % % Kondisi Air 13 36.1 9 25.0 14 38.9 36 100 Kondisi Tanah 9 25.0 3 8.3 24 66.7 36 100 Frekuensi Bencana 11 30.6 7 19.4 18 50.0 36 100 Jumlah Hewan 18 50.0 9 25.0 9 25.0 36 100 Jumlah Sampah 14 38.9 8 22.2 14 38.9 36 100

Tabel 22 menjelaskan mengenai perubahan-perubahan kondisi air, tanah, frekuensi bencana, jumlah hewan, dan jumlah sampah. Dimulai dengan menjelaskan perubahan air menurut penilaian masyarakat. Dari 36 responden, terdapat 13 orang (36.1%) yang menilai bahwa air berubah ke kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya, 9 orang (25%) menilai tidak ada perubahan pada air di sekitarnya, sedangkan 14 orang lainnya (38.9%) menilai bahwa air berubah ke ke kondisi yang semakin membaik. Disimpulkan bahwa penilaian perubahan air bagi responden penerima program tergolong berubah semakin baik, karna kondisi air

masa kini lebih baik dibanding dengan kondisi air pada waktu sebelum adanya program

Penilaian perubahan kondisi tanah di Desa Muara, dari 36 responden, terdapat 9 orang (25%) yang menilai bahwa air berubah ke kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya, 3 orang (8.3%) menilai tidak ada perubahan pada air di sekitarnya, sedangkan 24 orang lainnya (66.7%) menilai bahwa air berubah ke ke kondisi yang semakin membaik. Kondisi tanah sekarang lebih baik dibandingakan dengan kondisi tanah sebelum program.

Selanjutnya mengenai penilaian masyarakat mengenai frekuensi bencana. Bencana yang dimaksud adalah bencana alam yang sering terjadi bahkan menjadi rutinitas bagi masyarakat sekitar, seperti abrasi dan banjir. Dari 36 responden, 11 orang (30.6%) menilai bahwa semakin hari bencana alam tersebut terjadi semakin sering. Sejumlah 7 orang (19.4%) menilai tidak ada perubahan frekuensi bencana baik sebelum maupun setelah adanya program, dan 18 orang (50%) menilai setelah adanya program, frekuensi banjir cukup berkurang. Bagi responden penerima program, perubahan frekuensi bencana bergerak ke arah lebih baik, dimana setelah adanya program, bencana yang dialami cendrung lebih jarang dibandingkan dengan dulu sebelum adanya program.

Untuk penilaian terhadap perubahan jumlah hewan menunjukkan bahwa sebanyak 18 orang (50%) dari 36 responden menilai jumlah hewan semakin berkurang, 9 orang (25%) menilai tidak ada perubahan jumlah hewan baik sebelum maupun setelah adanya program penanaman, sedangkan 9 orang (25%) sisanya menilai, justru kini hewan-hewan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dulu. Penilaian jumlah hewan memiliki mayoritas penilaian berbeda dengan indikator lainnya, responden penerima program menilai bahwa hewan semakin tahun semakin sedikit keberadaannya.

Persentase tentang penilaian perubahan jumlah sampah di sekitar mangrove. Dari 36 responden, terdapat 14 orang (39.9%) yang menilai sampah semakin banyak, 8 orang (22.2%) menyatakan tidak ada perubahan mengenai banyaknya sampah, dan 14 orang (38.9%) menilai sampah semakin berkurang banyaknya. Untuk penilaian terhadap jumlah sampah, mayoritas responden penerima program menilai ada perubahan ke arah semakin baik, dimana setelah adanya program rehabilitasi mangrove, masyarakat mengurangi intensitas pembuangan sampah sembarangan, sehingga kini sampah menjadi lebih berkurang.

Gambar 3 Perubahan lingkungan menurut responden penerima program dalam persen

Dari hasil analisis tersebut, dapat dsimpulkan bahwa dari lima indikator penilaian lingkungan, terdapat empat indikator yang menunjukkan perubahan yang semakin membaik, yakni kondisi air, kondisi tanah, frekuensi bencana, dan jumlah sampah. Penilaian jumlah hewan menunjukkan hasil perubahan semakin buruk. Penjelasan atas indikator-indikator tersebut akan dideskripsikan pada subbab berikutnya.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa pandangan responden penerima mengenai perubahan lingkungan dinilai baik. Hal ini dikarenakan mereka mendapatkan penyuluhan dan pengarahan terkait pengelolaan lingkungan. Mereka juga sebagai anggota kelompok tani mempunyai rasa memiliki tersendiri terhadap tanaman yang mereka tanam, meskipun tujuan utama mereka menanam lebih cenderung untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, dibandingkan untuk melestarikan alam, tetap saja ada sisi dimana mereka mengharuskan diri merawat lingkungan. Tau payahnya menanam, membuat mereka jera untuk menebang pohon, membuang sampah disungai, dan sebagainya. Mereka berangsung mengerti, perlakuan tidak baik yang dilakukan pada lingkungan berdampak tidak baik juga terhadap kehidupan mereka.

Selain menjelaskan menurut pandangan responden penerima program, penilaian lingkungan juga dipandang dari sisi responden bukan penerima program. Berbeda dengan penilaian responden penerima program, dari total 20 orang yang menjadi responden bukan penerima program, ada sebanyak 14 orang (70%) yang menyatakan lingkungan kian hari mengalami penurunan, sedangkan sisanya sebanyak 6 orang (30%) menilai lingkungan cukup syarat untuk bisa dibilang mengalami perubahan yang lebih baik pasca program rehabilitasi mangrove. 36,1 35 30,6 50 38,9 25 8,3 19,4 25 22,2 38,9 66,7 50 25 38,9 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Air Tanah Bencana Hewan Sampah

Tabel 23 Jumlah dan persentase responden bukan penerima program menurut penilaiannya terhadap perubahan lingkungan di Desa Muara tahun 2015 Penilaian Perubahan Lingkungan Jumlah Persentase

Semakin Buruk 14 70.0

Tidak ada Perubahan 0 0.0

Semakin Baik 6 30.0

Jumlah 20 100

Selanjutnya akan dijelaskan indikator penilaian perubahan lingkungan menurut pandangan masyarakat biasa sebagai responden bukan penerima program. Indikator yang dibahas tentunya masih sama dengan indikator responden penerima program, yakni perubahan kondisi air, kondisi tanah, frekuensi bencana, jumlah hewan, dan jumlah sampah.

Tabel 24 Jumlah dan persentase responden bukan penerima program menurut penilaiannya terhadap indikator perubahan lingkungan di Desa Muara tahun 2015 Penilaian Indikator Perubahan Lingkungan Semakin Buruk Tidak Ada Perubahan Semakin Baik Jumlah % % % % Kondisi Air 2 10.0 11 55.0 7 35.0 20 100 Kondisi Tanah 6 30.0 11 55.0 3 15.0 20 100 Frekuensi Bencana 6 30.0 8 40.0 6 30.0 20 100 Jumlah Hewan 18 90.0 2 10.0 0 00.0 20 100 Jumlah Sampah 10 50.0 7 35.0 3 15.0 20 100

Tabel diatas menjelaskan frekuensi penilaian masyarakat terhadap kondisi air. Dari 20 responden bukan penerima program, ada sebanyak dua orang (10%) yang menilai kondisi air kini lebih buruk dari sebelum adanya program. Responden yang menilai kondisi air tidak ada peruhan ada sebanyak 11 orang (55%). Responden lainnya sebanyak 7 orang (35%) menilai adanya perubahan lebih baik pada kondisi air. Disimpulkan bahwa penilaian perubahan air bagi responden bukan penerima program tergolong tidak mengalami perubahan, karna kondisi air sekarang dirasa tidak memiliki perubahan berati dengan kondisi air pada waktu sebelum adanya program

Penilaian perubahan kondisi tanah di Desa Muara, dari 20 responden, terdapat 6 orang (30%) yang menilai bahwa air berubah ke kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya, 11 orang (55%) menilai tidak ada perubahan pada air di sekitarnya, sedangkan 3 orang lainnya (15%) menilai bahwa air berubah ke ke kondisi yang semakin membaik. Kondisi tanah sekarang dan kondisi tanah sebelum program masih sama atau tidak ada perubahan.

Selanjutnya mengenai penilaian masyarakat mengenai frekuensi bencana. Bencana yang dimaksud adalah bencana alam yang sering terjadi bahkan menjadi rutinitas bagi masyarakat sekitar, seperti abrasi dan banjir. Dari 20 responden, 6 orang (30%) menilai bahwa semakin hari bencana alam tersebut terjadi semakin sering. Sejumlah 8 orang (40%) menilai tidak ada perubahan frekuensi bencana baik sebelum maupun setelah adanya program, dan 6 orang (30%) menilai setelah adanya program, frekuensi banjir cukup berkurang. Bagi responden bukan

penerima program, perubahan frekuensi bencana baik sebelum maupun setelah adanya program masih sama saja, dengan kata lain program belum berpengaruh dalam mengatasi bencana-bencana yang sering terjadi.

Untuk penilaian terhadap perubahan jumlah hewan menunjukkan bahwa sebanyak 18 orang (90%) dari 20 responden menilai jumlah hewan semakin berkurang, 2 orang (10%) menilai tidak ada perubahan jumlah hewan baik sebelum maupun setelah adanya program penanaman. Dengan demikian, tidak ada satupun responden yang menilai adanya pertambahan jumlah hewan selama beberapa tahun terakhir ini. Responden bukan penerima program menilai bahwa hewan semakin tahun semakin sedikit keberadaannya, sehingga perubahannya ke arah yang lebih buruk.

Sedangkan persentase tentang penilaian perubahan jumlah sampah di sekitar mangrove. Dari 20 responden, terdapat 10 orang (50%) yang menilai sampah semakin banyak, 7 orang (35%) menyatakan tidak ada perubahan mengenai banyaknya sampah, dan 15 orang (20%) menilai sampah semakin berkurang banyaknya. Untuk penilaian terhadap jumlah sampah, setengah dari jumlah responden kontrl menilai sampah yang ada di wilayah penanaman mangrove, di pinggir sungai panjang, maupun di daerah pemukinan warga semakin lama semakin banyak.

Gambar 4 Perubahan lingkungan menurut responden bukan penerima program dalam persen

Dari hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa dari lima indikator penilaian lingkungan, terdapat tiga indikator yang menunjukkan tidak adanya pperubahan, yakni kondisi air, kondisi tanah, dan frekuensi bencana. Penilaian jumlah hewan dan jumlah sampah menunjukkan hasil perubahan yang semakin

10 30 30 90 50 55 55 40 10 35 35 15 30 0 15 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Air Tanah Bencana Hewan Sampah

buruk. Penjelasan atas indikator-indikator tersebut akan dideskripsikan pada subbab berikutnya.

Penilaian Perubahaan Kondisi Air

Air merupakan barang yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat pesisir, termasuk bagi masyarakat di Desa Mssuara. Hanya saja, kondisi air yang payau dan keruh kurang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh warga. Abrasi besar yang pernah melanda desa ini menjadikan border antara pemukiman masyarakat dengan bibir pantai semakin dekat, dengan demikian resapan air bersih dan tawar juga semakin sedikit karna tercampur oleh air laut. Masyarakat mengaku sangat kesulitan dalam memperoleh air bersih yang layak untuk digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti mencuci, mandi, minum, masak, dan lain sebagainya. Berbagai usaha telah dilakukan, termasuk menggali sumur untuk mendapatkan air bersih, dulu kedalaman sumur hanya sekitar 8-10 meter untuk bisa mendapatkan air yang layak digunakan, tapi sekarang pada kedalaman tersebut air masih dalam kondisi payau dan keruh sehingga masyarakat ragu untuk menggunakannya. Kini kedalaman sumur bisa mencapai 100-120 meter untuk mendapatkan air layak pakai, tentunya biaya tak murah untuk mendapatkannya, sehingga hanya golongan orang tertentu saja yang memiliki sumur sebagai sumber air layak guna.

Indikator yang digunakan untuk mengukur penilaian perubahan lingkungan ini adalah penilaian terhadap kekeruhan air, rasa air, dan bau air. Berikutnya akan dibahas mengenai persentase dari tiap-tiap indikator tersebut. Akan dibahas pula dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni dari sisi anggota kelompok tani selaku responden penerima program dan dari sisi masyarakat biasa selaku responden bukan penerima program.

Tabel 25 Jumlah dan persentase responden penerima program menurut penilaiannya terhadap indikator perubahan kondisi air di Desa Muara tahun 2015 Responden Penilaian Perubahan Air Semakin Buruk Tidak Ada Perubahan Semakin Baik Jumlah % % % % Penerima Program Kekeruhan Air 9 25.0 15 41.7 12 33.3 36 100 Rasa Air 8 22.2 22 61.1 10 27.8 36 100 Bau Air 4 11.1 25 69.4 3 8.3 36 100 Bukan Penerima Program Kekeruhan Air 6 30.0 5 25.0 9 45.0 20 100 Rasa Air 2 10.0 14 70.0 4 20.0 20 100 Bau Air 10 50.0 5 25.0 5 25.0 20 100

Program rehabilitasi dengan penanaman 375.000 mangrove di bibir pantai, pinggir sungai, juga empang-empang, diharapkan berimplikasi pada membaiknya kondisi air yang bisa dimanfaatkan warga. Program yang telah dilaksanakan semenjak tahun 2012 ini bisa menahan kiriman sampah-sampah banjir yang tertahan oleh akar-akar pohon dan tidak masuk ke sungai panjang, selain itu akar mangrove yang bisaturut menetralisir air dari kotoran sehingga dapat berguna bagi keperluan warga.

Hanya saja, penilaian ini tidak serupa dengan responden bukan penerima program. Responden bukan penerima program lebih berpendapat bahwa kondisi air baik sebelum program berjalan sampai saat penelitian ini dilakukan, belum terdapat perubahan yang menggembirakan. Menurutnya, kondisi air masih sama seperti dulu, sulit akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, karna tak semua warga memiliki sumur ataupun mampu membeli air. Persoalan jamban juga menjadi alasan, tidak semua rumah memiliki jamban sehingga mengharuskan warga untuk memanfaatkan sungai panjang untuk menggantikan jamban. Keadaan ini seringkali dialami oleh responden bukan penerima program.

Masyarakat juga mengeluhkan keruhnya air di sungai panjang yang membentang di pinggiran pemukiman. Dulu sebelum abrasi melanda, sungai masih banyak dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari, tapi karna sekarang sudah tercemar dengan sampah-sampah bawaan banjir, sungai menjadi keruh dan menjadi tak layak guna lagi. Dulu saat masih banyak mangrove di pinggiran pantai, sampah tersebut tersangkut di akar-akar pohon sehingga tidak masuk ke sungai panjang.

Hasil uji beda yang telah dilakukan diatas, perubahan kondisi air memiliki nilai signifikansi sebesar 0.030, nilai tersebut >0.050 yang merefleksikan bahwa penilaian perubahan kondisi air memiliki nilai signifikansi yang berbeda nyata. Sama halnya dengan perubahan lingkungan, responden penerima program menilai bahwa kondisi air lebih berubah ke arah yang lebih baik pasca adanya program. berbeda dengan penilaian bukan penerima program yang menilai kondisi air sama sekali belum berubah.

Data lain mengenai selisih penilaian responden menrut waktu pelaksanaan program juga menunjukkan bahwa, nilai rata-rata penilaian kondisi air pada responden penerima program sebelum program dilaksanakan adalah 4.9, sedangkan nilai setelah adanya program adalah 5.2. bila dicari selisih penilaian diantara dua kondisi tersebut, maka nilai yang didapatkan adalah 0.4. adanya perubahan yang cukup baik menurut penilaian responden penerima program terhadap kondisi air. Bagi responden bukan penerima program, penilaian kondisi air sebelum adanya program sebesar 5.1, setelah adanya program sebesar 5, sehingga selisih nilai diantara keduanya adalah -0.1. Hal ini berarti selisih penilaian setelah dan sebelum program adalah -0.1, yang menunjukkan bahwa adanya perubahan kondisi air ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya. Penggambaran selanjutnya mengenai perbedaan penilaian antara responden penerima dan bukan penerima program tentang kondisi air, akan digambarkan melalui diagram persentase penilaian dari kedua responden tersebut.

Gambar 5 Penilaian perubahan kondisi air oleh penerima program dan bukan

Dokumen terkait