Berdasarkan hasil survey lapangan (studi lapangan) yang dilakukan oleh perancang dalam berbagai aspek-aspek yang terdapat pada lokasi Istana Maimun telah dilakukan. Tahap selanjutnya dalam proses perencanaan penambahan fasilitas pada lokasi adalah studi kasus proyek sejenis. Pencarian studi kasus proyek sejenis akan sangat membantu ketika memasuki tahap perancangan, karena studi kasus yang dipilih pada proyek tertentu memiliki nilai-nilai positif yang dapat diambil untuk di implementasikan nantinya pada tahap berikutnya, seperti jumlah ruangan, penataan ruang, organisasi ruang, struktur bangunan yang dipakai, teknologi yang digunakan, tampak bangunan, sirkulasi kendaraan, kepekaan arsitek terhadap lingkungan sekitar bangunan (potensi) dan lain- lain.
Penambahan fasilitas yang dipilih untuk lokasi Istana Maimun adalah hotel butik dan apartemen. Pemilihan hotel butik dikarenakan hotel yang akan dibangun berada dilokasi bangunan bersejarah kota Medan. Pengertian hotel butik menurut Anhar (2001), butik hotel adalah dalam kapasitas kecil : memiliki kapasitas 50 kamar (di daerah pinggiran) atau 150 kamar (di daerah perkotaan). Dari jumlah kamar yang dibawah 200 tersebut dapat meningkatkan hubungan antara tamu yang menetap dengan anggota staff, dalam Orisinalitas : kebanyakan butik hotel memiliki konsep yang jauh berbeda dari hotel-hotel bintang lima, sehingga sebuah butik hotel memiliki identitas yang kuat, dalam karya arsitektur yang sustainable : material yang digunakan bervariasi dan kebanyakan konsep
harganya” namum hal ini tidak diterapkan dalam pemilihan material , akan tetapi dalam segi pelayanan dan keramahan yaitu menempatkan keinginan individu di atas segalanya, dalam pasar yang dituju butik hotel tidak mengiklankan diri, mereka berkeyakinan bahwa para turis yang akan mencari keberadaan mereka.
Pemilihan apartemen sebagai fasilitas tambahan juga memiliki suatu pertimbangan khusus bagi perancang. Fasilitas yang akan disediakan pada apartemen adalah apartemen dengan tingkat menengah, sebab melihat kondisi disekitar lokasi Istana Maimun yang pertokoan dan beberapa tempat rekreasi. Unit yang tersedia di apartemen direncanakan oleh perancang "pasarnya" adalah wisatawan yang mencintai sejarah khususnya Istana Maimun sebagai salah satu icon pariwisata kota Medan, sehingga wisatawan atau pembeli lokal yang memiliki unit apartemen merasakan bahwa beliau merupakan bagian dari Istana Maimun juga dengan kecintaannya terhadap istana. Sama seperti hotel butik, perencanaan pembangunan apartemen diharapkan akan menambah minat dan daya tarik wisatawan atau masyarakat lokal untuk berkunjung ke Istana Maimun
Hotel Butik yang dipilih oleh perancang untuk dijadikan studi kasus dengan proyek sejenis adalah Hotel Butik Sala Rattanakosin yang berlokasi di Bangkok dan tepat didepan bangunan ini terdapat Sungai Chao Phraya. Hotel butik dirancang oleh Onion Architect dan selesai pada tahun 2012 (Chitrabongs,2013). Perancang tertarik dengan kasus hotel butik yang ada di Bangkok, sebelum direnovasi bangunan ini dulunya merupakan tujuh unit pertokoan yang berubah fungsi menjadi hotel butik. Tema yang diterapkan oleh arsitek dalam merancang hotel butik menurut perancang, meskipun proyek yang dikerjakan oleh arsitek adalah bangunan komersil dengan fungsi hotel. Arsitek yang menangani proyek ini tidak melakukan hal-hal yang berlebihan seperti penempatan ornamen, melainkan arsitek tersebut peka terhadap kondisi disekitar
bangunan dan membuat bangunan menjadi sederhana tetapi memiliki nilai seni sehingga dari esktetika tampak bangunan seragam dengan bangunan lain (gambar 3.1).
Dalam perencanaan pembangunan hotel butik dengan luas bangunan tujuh unit pertokoan adalah 1.500 m2, Arsitek yang menangani proyek ini merenovasi tujuh unit pertokoan menjadi 17 (tujuh belas) unit kamar tidur, restoran , bar didalam bangunan, bar diluar bangunan (roof top) dan terdapat tempat duduk diluar bangunan (outdoor deck). Hotel butik ini berlokasi di komunitas Ta Tien dan komunitas ini memiliki ciri khusus sehingga dalam peran sosial dan perilaku disekitar hotel ini berlokasi pasar grosir di Bangkok. Bangkok terkenal dengan bangunan bersejarah dengan penataan yang bagus sehingga karakteristik sikap dan perilaku masyarakat setempat mendapatkan peluang untuk membuka usaha dengan menjual pemandangan atau buah tangan dari bangunan bersejarah yang ada di Bangkok. Hal ini dilakukan oleh arsitek yang menangani hotel butik ini, karena pada bagian belakang dan bagian depan diapit oleh bangunan The Temple of Dawn dan pada sisi yang berlawanan oleh bangunan The Temple of the Reclining Buddha sehingga dapat dikategorikan selain hotel ini menjual fasilitas juga menjual pemandangan bangunan bersejarah. Pemandangan ini dapat dilihat dari restoran
Gambar 3.1 Tampak hotel butik Sala Rattanakosin (2013) (Sumber Archdaily.com)
Strategi yang dilakukan oleh arsitek dalam urban context adalah pada bagian tampak bangunan dibuat selaras dengan bangunan disekitar dan tidak dominan. Setiap kamar dan disetiap ruangan diusahakan oleh arsitek untuk mendapatkan pemandangan ke segala arah, karena hotel butik berlokasi di tempat yang strategis. Untuk fasilitas dan interior bangunan sedapat mungkin arsitek mempertahankan barang-barang yang bisa dipakai, contohnya pintu besi pada pintu masuk yang masih digunakan hingga sekarang dan terdapat beberapa kemarik dinding yang dibuat khusus pada hall hotel butik yang dibuat khusus (gambar 3.4 dan gambar 3.5).
Gambar 3.2 Pemandangan bangunan bersejarah dari kamar tidur hotel (2013)
(Sumber. Wison tungthunya)
Gambar 3.3 Salah satu fasilitas hotel yang menjual pemandangan (2013) (Sumber. Archdaily.com)
Pada struktur bangunan hotel butik, arsitek memilih material untuk menciptakan karakter yang kuat pada hotel ini yaitu dengan material dark-gold laminated glass, keramik hitam dan putih dan penggunaan aluminium panel. Material yang dipakai dapat membuat hotel butik ini dengan keserdahaannya terdapat kesan modern. Pada sebagian dinding ruangan hotel butik ini, material yang digunakan berupa semen dengan texture yang alami sehingga tercipta suasana alami pada ruangan (gambar 3.6). Arsitek memanfaatkan cahaya alami dengan penggunaan void didalam bangunan dan bukaan pada kamar hotel yang semaksimal mungkin untuk mengurangi energi listrik yang akan dipakai pada bangunan (gambar 3.7). Tata guna lahan disekitar hotel butik ini dipenuhi dengan pertokoan dan diapit oleh dua bangunan bersejarah di Bangkok.
Gambar 3.4 Salah satu penyelesaian interior oleh Onion Architect (2013)
(Sumber. Archdaily.com)
Gambar 3.5 Pintu masuk hotel (2013) (Archdaily.com)
Nilai positif yang dapat diambil dari studi kasus hotel butik Sala Rattanakosin jika di kaitkan dengan penambahan fasilitas lokasi Istana Maimun adalah rancangan yang dibuat harus peka terhadap keadaan sekitar dengan penggunaan struktur atau material yang unik sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang dan bangunan yang dirancang diusahakan penggunanya dapat menikmati dan melihat Istana Maimun dari ruangan, karena tujuan utama dari penambahan fasilitas ini adalah untuk meningkatkan kunjungan dan nilai Istana Maimun sebagai bangunan bersejarah.
Apartemen yang dipilih oleh perancang untuk dijadikan studi kasus dengan proyek sejenis adalah Neo Bankside (Adrian Welch,2013). Apartemen Neo Bankside (Gambar 3.8) berdekatan dengan Tate Modem musem, sebelum bangunan Tate Modern berubah menjadi museum dulunya bangunan ini merupakan pembangkit listrik. Proyek apartemen
Gambar 3.6 Material dinding berupa semen ekspose (2013) (Sumber. Archdaily.com)
Gambar 3.7 Pemanfaatan void untuk mengurangi energi listrik pada siang hari (2013) (Sumber Archdaily.com)
ini ditangani oleh Rogers Stirk Harbour + Patners dan The Development Manager adalah Native Land. Luas area proyek sekitar 28.600 m2. Penerapan tema dalam apartemen ini adalah penggunaan warna-warna pada bagian tampak bangunan dengan kombinasi material baja menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan disekitarnya, penggunaan kaca sebagai tampak bangunan ditujukan agar para pengguna dapat melihat bangunan Tate Modern secara keseluruhan. Struktur organisasi dikendalikan oleh GC Bankside LLP dengan memfokuskan kepada kota London dan sekitarnya untuk menyediakan hunian yang mewah dengan unit apartemen sekitar 34 unit. Peran sosial, karakteristik lingkungan sekitar dan aspek politik dapat di liat pada lingkungan disekitar Neo Bankside, dimana terdapat perkantoran, museum , almhouse, taman dan pertokoan yang menawarkan ruang publik sehingga lokasi memiliki nilai yang mahal.
Konteks apartemen yang dilakukan arsitek terhadap kota adalah dengan membuat jalur untuk publik agar dapat menuju ke bangunan bersejarah, membuat bangunan yang dirancang sebagai landmark, merencanakan tinggi bangunan dengan memperhatikan skyline agar memperindah kota (gambar 3.9). Untuk sirkulasi menuju apartemen dapat diakses dengan kendaraan yang dapat memakirkan kendaraan ke lantai bawah tanah, dari
Gambar 3.8 Apartemen Neo Bankside (2012) (Sumber. Archdaily.com)
dan untuk pejalan kaki dapat mengakses dari segala arah. Kepekaan arsitek terhadap lingkungan sekitar diterapkan dalam pemilihan material yang cocok dengan konteks sekitar, agar mengurangi dampak terhadap lingkungan dan terdapat penampungan air hujan pada lantai bawah tanah berupa tangki yang dibuat dari beton, jadi material yang digunakan pada tangki tetap dapat menjaga kadar air tanah dan memenuhi kebutuhan air irigasi.
Dari studi kasus apartemen, nilai positif yang dapat diambil adalah penggunaan material kaca pada tampak bangunan agar pengguna dapat melihat lingkungan sekitar secara keseluruhan, perencaan yang secara meyeluruh terdapat kota (skyline) dan air hujan yang pada suatu tempat dan dapat digunakan lagi.
Gambar 3.9. Skyline apartemen terhadap kota (2012) (Sumber. Archdaily.com)
BAB IV