• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan peringkat risiko

Dalam dokumen KEVIN BONARDO SIREGAR (Halaman 72-0)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Penilaian Risiko

4.3.4. Penentuan peringkat risiko

Setelah melakukan perhitungan nilai RPN, dilakukan pemeringkatan risiko berdasarkan Risk Priority Number yang dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8. Hasil pemeringkatan Risk Priority Number (RPN) Kode

Risiko Risiko RPN

R-8 Sungai banjir 64

R-7 Cuaca tidak menentu/hujan 48

R-21 Demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak 48

R-18 Demo oleh warga disekitar batching plant 48

R-17 Pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan

akibat pandemi COVID-19 48

R-16 Pekerja terpapar COVID-19 48

R-9 Luas lahan disposal sangat terbatas 36

R-3 Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu

jalan 36

R-24 Struktur tanah yang keras menghambat pekerjaan galian 36 R-23 Area lahan kerja diluar perkiraan, berupa tebing batuan terjal 36 R-14 Lahan sudah terlebih dahulu ditempati masyarakat 36 R-13 Ijin pelepasan kawasan hutan terlalu lama dikeluarkan 36

R-12 Akses menuju lahan disposal sulit 36

R-19 Alat penyemprotan shotcrete rusak tidak dapat digunakan 32 R-22 Pekerjaan galian masih menggunakan sistem mekanis 27

R-10 Jarak lahan disposal jauh 27

R-1 Jalan akses sempit dan berliku-liku 27

R-2 Kondisi tanah tidak stabil 24

R-15 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi

COVID-19 24

R-6 Kapasitas pompa air tidak cukup besar 18

R-5 Pompa air tidak berfungsi dengan baik 18

R-4 Kekurangan alat dewatering 18

R-11 Lahan disposal terkena luapan air akibat banjir 18 R-25 Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan fasilitas 12

R-20 Material sisa penyemprotan shotcrete menumpuk 8

4.3.5. Pemetaan risiko

Setelah mendapatkan nilai severity, occurance, dan detectability, dapat dilakukan pemetaan terhadap setiap risiko keterlambatan yang teridentifikasi.

Pemetaan risiko dibagi menjadi tiga wilayah dengan menggunakan dua kriteria penilaian yaitu severity dan occurance. Tingkatan risiko terdiri atas risiko rendah (low risk) berwarna hijau, risiko menengah (medium risk) berwarna kuning, dan risiko tinggi (high risk) berwarna merah. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui tingkatan risiko dari setiap risiko keterlambatan yang terjadi.

Hasil pemetaan risiko dapat dilihat pada gambar 4.18.

5

Gambar 4.18. Hasil pemetaan risiko

Tabel berikut ini merupakan rincian daftar hasil pemetaan dari seluruh risiko yang telah dipetakan pada gambar 4.18.

Tingkat keparahan risiko keterlambatan (severity)

Tingkat kemungkinan risiko keterlambatan terjadi (occurance)

Risiko rendah (low risk) Risiko menengah

(medium risk) Risiko tinggi (high

risk)

Tabel 4.9. Rincian hasil pemetaan risiko Kode

Risiko Risiko Severity Occurance Detectability RPN Kategori risiko lebar jalan dan bahu jalan

Kode

Risiko Risiko Severity Occurance Detectability RPN Kategori risiko

R-4 Kekurangan

alat dewatering 3 2 3 18 Medium

Dari Gambar 4.18 diketahui bahwa terdapat 3 jenis tingkatan risiko keterlambatan yang terjadi pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket -1, yaitu level high risk, medium risk, dan low risk.

Rekapitulasi tingkatan risiko keterlambatan yang terjadi pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket -1 dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.19. Proporsi pemetaan risiko keterlambatan

Melalui rekapitulasi tingkatan risiko keterlambatan yang terjadi pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket -1 dapat dilihat bahwa 60%

dari risiko keterlambatan yang terjadi berada pada level high risk, 32 % berada pada level medium risk, dan 8% sisanya berada pada level low risk.

Dengan menggunakan pemetaan risiko, perusahaan dapat menentukan risiko mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani agar tidak menimbulkan kerugian atau meminimalisir kerugian yang terjadi sesuai dengan kondisi perusahaan.

Low Risk Medium Risk High Risk 60%

32%

8%

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan pengolahan dan analisa data yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Identifikasi risiko diawali dengan metode Fault Tree Analysis. Dimulai dengan identifikasi aktivitas, kemudian dilanjutkan menemukan tujuan dari setiap aktivitas serta menentukan top event, maka diperoleh risiko keterlambatan sebanyak 25 risiko dari setiap aktivitas yang terdapat pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-1. Selanjutnya dilakukan perhitungan probability index didapatkan bahwa aktivitas A3-2, yaitu pekerjaan main dam dan coffer dam, memiliki nilai probability index tertinggi sebesar 4,75.

2. Penilaian risiko kemudian dilakukan dengan metode Failure Mode and Effect Analysis. Dengan menyebarkan kuesioner untuk mendapatkan nilai severity, occurance, dan detectability melalui indikator potential effect, risk cause, dan current control akan didapatkan nilai Risk Priority Number (RPN). Berdasarkan perhitungan RPN didapatkan risiko dengan nilai RPN tertinggi, yaitu R-8 (sungai banjir), dengan nilai RPN sebesar 64 dan nilai RPN terendah, yaitu R-20 (material sisa penyemprotan shotcrete menumpuk), dengan nilai RPN sebesar 8. Selanjutnya dilakukan pemetaan risiko menggunakan matriks risiko terhadap keseluruhan risiko yang teridentifikasi didapatkan sebanyak 15 risiko yang berdampak pada pelaksanaan proyek dengan profil risiko level tinggi (high risk).

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan untuk mendukung penelitian selanjutnya adalah:

1. Penelitian terhadap identifikasi risiko dilanjutkan pada paket pekerjaan selanjutnya.

2. Dilakukan langkah mitigasi terhadap risiko keterlambatan yang telah teridentifikasi pada penelitian ini.

3. Dilakukan perhitungan kerugian finansial terhadap risiko keterlambatan yang teridentifikasi agar perkiraan kerugian dapat diketahui apabila risiko tersebut kembali terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Alijoyo, A, Wijaya, B, Jacob, I. 2020. 31 Teknik Penilaian Risiko Berbasis ISO 31010 - Fault Tree Analysis di https://cyberwhale.co.id/wp-content/uploads/2020/03/Fault-Tree-Analysis.pdf (diakses 5 Oktober 2020).

Alijoyo, A, Wijaya, B, Jacob, I. 2020. 31 Teknik Penilaian Risiko Berbasis ISO 31010 – Failure Mode and Effect Analysis di https://lspmks.co.id/wp-content/uploads/2020/06/Failure-Modes-and-Effects-Analysis.pdf (diakses 22 Desember 2020).

Assaf, S.A. Al-Hejji, S. 2006. Causes of Delay in Large Construction Projects.

International Journal of Project Management, 24(4), 349–57.

Badan Standarisasi Nasional. 2016. SNI IEC/ISO 31010. Manajemen Risiko- Teknik Penilaian Risiko, Badan Standarisasi Nasional, Jakarta.

Ericson, C. 1999. Fault Tree Analysis – A History. Proceedings of The 17th International System Conference: 1-9. Seattle, 1999:

The Boeing Company. Tersedia pada:

https://ftaassociates.files.wordpress.com/2018/12/C.-Ericson- Fault-Tree-Analysis-A-History-Proceedings-of-the-17th- International-System-Safety-Conference-1999.pdf

Ervianto, WI. 2004. Teori-Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi, Andi, Yogyakarta.

Ervianto, WI. 2008. Manajemen Proyek Konstruksi Edisi Revisi, Andi, Yogyakarta.

Gaspersz, V. 2002. Total Quality Management, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gray, CF, Larson, EW. 2006. Project Management: The Managerial Process 3th Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc, New York City.

Husen, A. 2011. Manajemen Proyek, Andi, Yogyakarta.

Project Management Institute. 2017. A Guide to the Project Management Body of Knowledge 6th Edition, Project Management Institute, Pennsylvania.

Santosa, B. 2009. Manajemen Proyek Konsep & Implementasi, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Sinaga, YY. Bintang, C, Adi, TW. 2014. Identifikasi dan Analisa Risiko Kecelakaan Kerja dengan Metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis dan FTA (Fault Tree Analysis).

di Proyek Jalan Tol Surabaya – Mojokerto. Jurnal Teknik POMITS, vol. 1, no. 1, hh. 1-5.

Siti, R, Syairudin, B. 2017. Perancangan Profil Risiko Dengan Menggunakan Metode FTA dan FMEA Pada Proses Produksi Pabrik AMDK K3PG. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember: Surabaya.

Soedibyo, I. 2003. Teknik Bendungan, Pradnya Paramita, Jakarta.

Soeharto, I. 1995. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 1, Gelora Aksara Utama, Jakarta.

Soeharto, I. 2001. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 2, Gelora Aksara Utama, Jakarta.

Stamatis, DH. 2003. Failure Modes and Effect Analysis FMEA From Theory to Execution, ASQC Quality Press, Wisconsin.

Stamatelatos, M. 2002. Fault Tree Handbook with Aerospace Applications, NASA Headquarters, Washington, DC.

U.S. Nuclear Regulatory Commission. 1981. Fault Tree Handbook, U.S. Nuclear Regulatory Commision, Washington, DC.

Youwiski, R, Rosyid, DM. 2017. Analisa Keterlambatan Proyek Pada Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Mumugu Papua.

Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember: Surabaya.

LAMPIRAN

Lampiran 1

KUESIONER ANALISIS KETERLAMBATAN PROYEK MENGGUNAKAN METODE FAULT TREE ANALYSIS (FTA)

DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) (STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN LAU

SIMEME PAKET-I)

Responden yang terhormat,

Perkenalkan nama saya Kevin Bonardo Siregar, mahasiswa Fakultas Teknik Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara yang sedang melakukan penelitian tentang “Analisis Keterlambatan Proyek Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) (Studi Kasus Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-1). Dalam rangka pengumpulan data penelitian dan kepentingan ilmiah, saya mohon partisipasi dan kesediaan Bapak/Ibu dalam menjawab kuesioner ini. Privasi Bapak/Ibu akan dilindungi dalam kuesioner ini.

Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner ini.

Hormat saya

Kevin Bonardo Siregar

PETUNJUK PENGISIAN

a. Mohon berikan tanda (√) pada kotak yang tersedia dengan jawaban yang anda anggap benar.

b. Setiap pertanyaan hanya memerlukan satu jawaban.

c. Mohon isi dengan jawaban yang sebenar-benarnya.

d. Berikut adalah petunjuk skala penilaian yang digunakan dalam kuesioner ini.

- Petunjuk penilaian tingkat keparahan risiko keterlambatan (severity)

Rating Kriteria

1 Dapat diabaikan

2 Ringan

3 Moderat

4 Tinggi

5 Fatal

- Petunjuk penilaian tingkat kemungkinan risiko keterlambatan terjadi (occurance)

Rating Kriteria

1 Jarang terjadi

2 Kecil kemungkinan terjadi 3 Mungkin dapat terjadi

4 Sering terjadi

5 Hampir pasti terjadi

- Petunjuk penilaian tingkat risiko keterlambatan terdeteksi (detectability)

Rating Kriteria

1 Sangat mudah terdeteksi

2 Mudah terdeteksi

3 Sedang

4 Sulit terdeteksi

5 Sangat sulit terdeteksi

1. Data responden

Pendidikan terakhir :

2. Penilaian Faktor-Faktor Keterlambatan Proyek

 Penilaian terhadap tingkat keparahan risiko keterlambatan (severity) Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Severity

1 2 3 4 5

A1 Pekerjaan persiapan

A1-1 A2 Pekerjaan jalan

A2-1 jalan dan bahu jalan

A3 Pekerjaan bendungan

A3-1 Pekerjaan dewatering

R-4 Kekurangan alat dewatering R-5

Pompa air tidak berfungsi dengan baik

R-6

Kapasitas pompa air tidak cukup besar

R-7 Cuaca tidak menentu/hujan R-8 Sungai banjir

1. Laki-Laki 2. Perempuan

1. <25 tahun 2. 26 - 30 tahun 3. 31 - 40 tahun 4. 41-50 tahun 5. >50 tahun

1. SMA 2. D3

3. S1 4. S2

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Severity

1 2 3 4 5 terkena luapan air akibat banjir R-16 Pekerja terpapar

COVID-19

A4 Pekerjaan bangunan pengelak A4-1

Pekerjaan terowongan pengelak

R-18

Demo oleh warga disekitar batching A5 Pekerjaan bangunan pelimpah

A5-1

Pekerjaan galian dan timbunan

R-21

Demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Severity

1 2 3 4 5 A6 Pekerjaan bangunan pengambil

A6-1

Konstruksi bangunan pengambil

R-23

Area lahan kerja diluar perkiraan, A7 Pekerjaan bangunan fasilitas

A7-1

 Penilaian terhadap tingkat kemungkinan risiko keterlambatan terjadi (occurance)

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Occurance

1 2 3 4 5

A1 Pekerjaan persiapan

A1-1 A2 Pekerjaan jalan

A2-1 jalan dan bahu jalan

A3 Pekerjaan bendungan

A3-1 Pekerjaan dewatering

R-4 Kekurangan alat dewatering R-5

Pompa air tidak berfungsi dengan baik

R-6

Kapasitas pompa air tidak cukup besar

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Occurance

1 2 3 4 5 terkena luapan air akibat banjir R-16 Pekerja terpapar

COVID-19

A4 Pekerjaan bangunan pengelak A4-1

Pekerjaan terowongan pengelak

R-18

Demo oleh warga disekitar batching plant

A4-2 Pekerjaan penyemprotan

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Occurance

1 2 3 4 5

A5 Pekerjaan bangunan pelimpah

A5-1

Pekerjaan galian dan timbunan

R-21

Demo oleh warga dikarenakan jalan A6 Pekerjaan bangunan pengambil

A6-1

Konstruksi bangunan pengambil

R-23

Area lahan kerja diluar perkiraan, A7 Pekerjaan bangunan fasilitas

A7-1

 Penilaian terhadap tingkat risiko keterlambatan terdeteksi (detectability) Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Detectability

1 2 3 4 5

A1 Pekerjaan persiapan A1-1 A2 Pekerjaan jalan

A2-1 jalan dan bahu jalan

A3 Pekerjaan bendungan

A3-1 Pekerjaan dewatering

R-4 Kekurangan alat dewatering R-5

Pompa air tidak berfungsi dengan baik

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Detectability

1 2 3 4 5

R-6

Kapasitas pompa air tidak cukup besar terkena luapan air akibat banjir R-16 Pekerja terpapar

COVID-19

A4 Pekerjaan bangunan pengelak A4-1

Pekerjaan terowongan pengelak

R-18

Demo oleh warga disekitar batching

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Penilaian Detectability

1 2 3 4 5

A5 Pekerjaan bangunan pelimpah

A5-1

Pekerjaan galian dan timbunan

R-21

Demo oleh warga dikarenakan jalan A6 Pekerjaan bangunan pengambil

A6-1

Konstruksi bangunan pengambil

R-23

Area lahan kerja diluar perkiraan, A7 Pekerjaan bangunan fasilitas

A7-1

Lampiran 2 Hasil identifikasi risiko terhadap pekerjaan pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Event Fault Event Kode

Risiko Risiko Tujuan Aktivitas

A1 Pekerjaan persiapan

A1-1 Mobilisasi sumber daya ke

lokasi T-1

Kesulitan

mobilisasi sumber daya

R-1 Jalan akses sempit dan berliku-liku Mobilisasi peralatan konstruksi, fasilitas kontraktor (kantor, rumah, air bersih, komunikasi, listrik), dll.

R-2 Kondisi tanah tidak stabil A2 Pekerjaan jalan

A2-1 Pekerjaan peningkatan jalan

masuk T-2

Perubahan desain pada waktu pelaksanaan

R-3

Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu jalan

Memperlebar jalan masuk ke area konstruksi

A3 Pekerjaan bendungan

A3-1 Pekerjaan dewatering

T-3

Pengalihan air tanah kurang efektif

R-4 Kekurangan alat dewatering

Mengeringkan area kerja di sekitar area bendungan untuk pekerjaan galian dan timbunan R-5 Pompa air tidak berfungsi dengan

baik

R-6 Kapasitas pompa air tidak cukup besar

T-4 Lokasi kerja tergenang

R-7 Cuaca tidak menentu/hujan R-8 Sungai banjir

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Event Fault Event Kode

Risiko Risiko Tujuan Aktivitas

A3-2 Pekerjaan main dam dan main cofferdam

T-5 Keterbatasan lahan disposal

R-9 Luas lahan disposal sangat terbatas

Membersihkan lahan, menggali galian biasa, galian pasir, galian batu keras, menimbun material inti kedap air, material filter, material batu, dan proteksi rip-rap R-10 Jarak lahan disposal jauh

R-11 Lahan disposal terkena luapan air akibat banjir

R-12 Akses menuju lahan disposal sulit

T6 Rumitnya masalah pembebasan lahan

R-13 Ijin pelepasan kawasan hutan terlalu lama dikeluarkan

R-14 Lahan sudah terlebih dahulu ditempati masyarakat

R-15 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19 R-16 Pekerja terpapar COVID-19

T-8

Pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan akibat pandemi COVID-19 A4 Pekerjaan bangunan pengelak

A4-1 Pekerjaan terowongan

pengelak T-9 Gejolak sosial di

sekitar lokasi R-18 Demo oleh warga disekitar batching plant

Menggali terowongan pengelak sepanjang 652,38 meter

A4-2 Pekerjaan penyemprotan

shotcrete T-10

Kondisi peralatan tidak memadai

R-19 Alat penyemprotan shotcrete rusak

tidak dapat digunakan Menyemprot material shotcrete untuk penunjang dan proteksi terowongan pengelak R-20 Material sisa penyemprotan

shotcrete menumpuk

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Event Fault Event Kode

Risiko Risiko Tujuan Aktivitas

A5 Pekerjaan bangunan pelimpah

A5-1 Pekerjaan galian dan timbunan

T-11 Gejolak sosial di

sekitar lokasi R-21 Demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak

Menggali dan menimbun tanah bangunan pelimpah

T-12 Produktifitas

rendah R-22 Pekerjaan galian masih menggunakan sistem mekanis A6 Pekerjaan bangunan pemgambil

A6-1 Konstruksi bangunan

pengambil T-13

Ketidakpastian kondisi di lapangan

R-23 Area lahan kerja diluar perkiraan,

berupa tebing batuan terjal Menggali dan menimbun tanah bangunan pengambil

R-24 Struktur tanah yang keras menghambat pekerjaan galian A7 Pekerjaan bangunan fasilitas

A7-1 Konstruksi bangunan

fasilitas T-14

Konstruksi bangunan fasilitas terhambat

R-25 Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan fasilitas

Membangun rumah dinas, pos jaga, kantor konsultan dan PU, gudang, rumah generator, bengkel, gardu pandang, dan kantor kontraktor

Lampiran 3 Hasil identifikasi potential effect, risk cause, dan current control Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Potential Effect Risk Cause Current Control

A1 Pekerjaan persiapan

A1-1

Mobilisasi sumber daya ke lokasi

R-1 Jalan akses sempit dan berliku-liku

Kendaraan pengangkut logistik konstruksi sulit memasuki area konstruksi

Kondisi jalan masuk existing tidak cukup muat untuk kendaraan pengangkut logistik konstruksi

Pelebaran jalan masuk area konstruksi

R-2 Kondisi tanah tidak stabil

Kerusakan peralatan saat mobilisasi

Tanah disekitar lokasi berupa tanah gambut dan lunak

Pemadatan tanah di jalan masuk area konstruksi A2 Pekerjaan jalan

A2-1 untuk menambah lebar jalan dan bahu jalan

Desain pelebaran jalan masuk direvisi

Masyarakat meminta penambahan lebar dan penambahan bahu jalan

Melakukan mediasi dengan masyarakat sekitar

A3 Pekerjaan bendungan

A3-1 Pekerjaan dewatering

R-4 Kekurangan alat dewatering

Pekerjaan dewatering terhenti/tertunda dan tidak dapat dilakukan dengan efektif

Perecanaan pengadaan alat

dewatering kurang baik Penambahan alat dewatering R-5 Pompa air tidak

berfungsi dengan baik

Peralatan terlalu tua atau tidak dikalibrasi

Melakukan perawatan alat secara berkala

R-6 Kapasitas pompa air tidak cukup besar

Volume air di lokasi diluar perkiraan

Pengadaan alat dewatering baru yang sesuai spesifikasi

R-7 Cuaca tidak menentu/hujan

Penundaan pekerjaan sampai cuaca membaik

Pekerjaan konstruksi dilakukan bertepatan dengan musim hujan

Mengoptimalkan pekerjaan ketika cuaca baik

R-8 Sungai banjir

Penundaan pekerjaan sampai level permukaan air kembali normal

Permukaan air di hulu tinggi Membuat kanal pengalihan air di sekitar lokasi kerja

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Potential Effect Risk Cause Current Control

A3-2

Pekerjaan main dam dan main cofferdam

R-9 Luas lahan disposal sangat terbatas

Material buangan overburden dibuang sebagian ke lahan masyarakat

Lahan belum sepenuhnya bebas

Memepercepat pembayaran ganti untung agar lahan dapat dibebaskan R-10 Jarak lahan disposal jauh Akses menuju lahan harus

memutar jauh

Mengupayakan lahan disposal yang lebih dekat R-11 Lahan disposal terkena

luapan air akibat banjir

Lahan disposal terdapat di dekat sungai

Mengupayakan lahan disposal tidak terdampak luapan air banjir

R-12 Akses menuju lahan disposal sulit

Terdapat lahan disposal yang harus menyebrangi sungai

Mengupayakan lahan disposal yang lebih mudah di akses

R-13

Ijin pelepasan kawasan hutan terlalu lama

dikeluarkan Pelaksanaan konstruksi terhambat akibat terdapat lahan yang belum bebas

Koordinasi yang kurang baik di tingkat pemberi perijinan

Melakukan komunikasi yang intens atara pemangku kepentingan

R-14

Lahan sudah terlebih dahulu ditempati masyarakat

Masyarakat sudah mengolah lahan dan bermukim sebelum lokasi ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Produksi Tetap

Melakukan mediasi dengan masyarakat yang terdapat dan segera membayar ganti untung kepada masyarakat

R-15

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19

Kesulitan mobilisasi material dan tenaga ahli ke lokasi kerja

Adanya peraturan pemerintah yang

memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

Mengoptimalkan pekerjaan fisik yang sedang

berlangsung

R-16 Pekerja terpapar COVID-19

Penghentian sementara aktivitas di lokasi proyek

Dari hasil tes yang dilakukan terdapat pekerja yang terpapar virus COVID-19

Melakukan tes swab antigen, tes PCR dan isolasi terhadap pekerja yang terpapar COVID-19

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Potential Effect Risk Cause Current Control

R-17

Pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan akibat pandemi COVID-19

Penurunan produktifitas di lapangan akibat refocusing anggaran

Kebijakan politik/ekonomi pemerintah berubah akibat pandemi COVID-19

Melakukan reschedule dan mengupayakan pekerjaan fisik sesuai dengan rencana A4 Pekerjaan bangunan pengelak

A4-1

Pekerjaan terowongan pengelak

R-18 Demo oleh warga disekitar batching plant

Aktivitas di sekitar area batching plant dan terowongan pengelak terhenti

Rumah masyarakat retak/

rusak akibat aktivitas di area batching plan dan

terowongan pengelak

Melakukan mediasi antara pihak keamanan dan warga sekitar batching plant

A4-2 shotcrete rusak tidak dapat digunakan

Penyemprotan material shotcrete tertunda menunggu perbaikan alat

Alat penyemprotan material shotcrete tidak berfungsi dengan baik

Memperbaiki peralatan shotcrete dan melakukan perawatan berkala shotcrete pada trap berikutnya terganggu

Proses penyemprotan material shotcrete dilakukan dengan asal

Melakukan penyemprotan shotcrete dengan baik dan benar pada trap selanjutnya

A5 Pekerjaan bangunan pelimpah

A5-1 Pekerjaan galian

dan timbunan R-21

Demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak

Penghentian sementara aktivitas disposal

Jalan akses menuju disposal yang melewati rumah warga rusak

Melakukan pengecoran jalan akses menuju disposal

Kode

Aktivitas Aktivitas Kode

Risiko Risiko Potential Effect Risk Cause Current Control

R-22

Pekerjaan galian masih menggunakan sistem mekanis

Produktifitas pekerjaan galian rendah

Pekerjaan galian masih menggunakan alat berat mekanis seperti excavator

Pekerjaan galian diajukan menggunakan metode blasting

A6 Pekerjaan bangunan pemgambil

A6-1

Konstruksi bangunan pengambil

R-23

Area lahan kerja diluar perkiraan, berupa tebing batuan terjal

Alat berat untuk melakukan penggalian kesulitan memasuki area

penggalian Terdapat perbedaan

interpretasi terhadap kondisi lahan aktual

Merumuskan desain lahan beserta metode pelaksanaan yang sesuai dengan kondisi aktual

R-24

Struktur tanah yang keras menghambat pekerjaan galian

Sering terjadi kerusakan pada alat berat yang menghambat penggalian A7 Pekerjaan bangunan fasilitas

A7-1

Konstruksi bangunan fasilitas

R-25

Terdapat gudang handak disekitar lokasi

bangunan fasilitas

Pengerjaan bangunan fasilitas terhambat

Gudang handak masuk dalam area bangunan fasilitas

Melakukan observasi lokasi gudang handak yang baru

Lampiran 4 Gambar Proyek

Denah Keseluruhan Bendungan

Tipikal Tubuh Bendungan

Denah Terowongan Pengelak

Denah Bangunan Pelimpah

1 2 3 4 5 6

Denah Bangunan Pengambil DENAH PEKERJAAN PENGAMBILAN

POTONGAN MEMANJANG

Tipe Drop Inlet dengan Shaft Pintu Elevasi Ambang: +223,00 Dimensi Shaft : 10.6 m x 10.6 m Fasilitas Pengeluaran :

Hollow Jet Valve

- Diameter : 1, 20 m Butterfly Valve

- Diameter : 1, 20 m

INTAKE

Denah Bangunan Fasilitas

Dalam dokumen KEVIN BONARDO SIREGAR (Halaman 72-0)

Dokumen terkait