LANDASAN TEORI A. Tinjuan Pustaka
1. Fee Audit
a. Pengertian Fee Audit
Fee audit atau imbalan audit merupakan imbalan yang diterima oleh
akuntan publik dari entitas kliennya sehubungan dengan pemberian jasa audit, definisi ini menurut PP No. 2 Tentang Penentu Imbalan Jasa Audit.
Fee audit yang dibayarkan oleh klien kepada auditor merupakan bentuk
balas jasa yang diberikan auditor kepada klien dan sebagai bentuk penggantian atas besarnya biaya kerugian yang dikeluarkan selama melakukan audit.
Menurut SPAP Seksi 240.1 (2011:33), dalam melakukan negoisasi mengenai jasa profesional yang diberikan praktisi dapat mengusulkan jumlah imbalan jasa profesional yang dipandang sesuai. Kenyataannya jumlah fee jasa profesional yang diusulkan oleh praktisi yang satu lebih rendah dari Praktisi yang lain bukan merupakan pelanggaran terhadap kode etik profesi. Namun, ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi dapat saja terjadi dari besaran imbalan jasa profesional yang diusulkan. Berdasarkan surat keputusan ketua umum institut akuntan publik Indonesia No: kep. 024/ IAPI/ VII/ 2008 dalam menetapkan fee audit, hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh akuntan publik, adalah sebagai berikut:
2) Tugas dan tanggung jawab menurut hukum 3) Independensi
4) Tingkat keahlian dan tanggung jawab yang melekat pada pekerjaan yang dilakukan, serta tingkat kompleksitas pekerjaan
5) Banyaknya waktu yang diperlukan secara efektif digunakan oleh akuntan publik dan stafnya untuk menyelesaikan pekerjaan
6) Basis penetapan fee yang telah disepakati
Jadi fee audit merupakan besarnya balas jasa yang diterima oleh auditor independen dan yang dibayarkan oleh klien setelah melakukan audit.
b. Faktor-faktor Penentu Besarnya Fee Audit
Berikut ini merupakan indikator fee audit, Agoes (2012: 46): 1) Risiko audit
Besar kecilnya fee audit yang diterima oleh auditor dipengaruhi oleh risiko audit dari kliennya.
2) Kompleksitas jasa yang diberikan
Fee audit yang akan diterima auditor, disesuaikan dengan tinggi
rendahnya kompleksitas tugas yang akan dikerjakannya. Semakin tinggi tingkat kompleksitasnya maka akan semakin tinggi fee audit yang akan diterima oleh auditor.
3) Tingkat keahlian auditor dalam industri klien
Auditor yang memiliki tingkat keahlian yang semakin tinggi akan lebih mudah untuk mendeteksi kecurangan-kecurangan pada laporan keuangan kliennya.
4) Struktur biaya KAP
Auditor mendapatkan fee-nya disesuaikan dengan struktur biaya pada masing-masing KAP. Hal ini dikarenakan untuk menjaga auditor agar tidak terjadi perang tarif.
2. Profesionalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesional berasal dari kata profesi yang berarti bidang pekerjaan yang dilandasi keahlian tertentu. Sedangkan profesional adalah bersangkutan dengan profesi memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Profesionalisme adalah mutu, kualitas dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional (Depdiknas, 2013). Menurut Arrens, et al. (2012:68), mendefenisikan profesional merupakan bertanggung jawab untuk berperilaku lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab secara individu dan ketentuan dalam peraturan dan hukum yang berlaku di masyarakat.
Alasan utama mengharapkan tingkat perilaku profesional yang tinggi oleh setiap profesi adalah kebutuhan akan kepercayaan publik atas kualitas jasa yang diberikan oleh profesi, tanpa memandang individu yang menyediakan jasa tersebut (Arens, et al. 2008). Menurut Permenpan Nomor Per/04/M.PAN/03 /2008 auditor wajib mematuhi prinsip-prinsip perilaku profesional seperti: integritas, obyektivitas kerahasiaan dan kompetensi. Dalam Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2011 tentang Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan, profesionalisme
adalah kemampuan, keahlian, dan komitmen profesi dalam menjalankan tugas.
Auditor dituntut untuk bersikap profesional. Maka dari itu, segala bentuk tekanan dan intervensi dari klien hendaknya dijadikan sebagai sebuah tantangan dalam kaitannya dengan pekerjaan sebagai akuntan publik. Dalam pengertian umum, seseorang dapat dikatakan profesional jika memenuhi tiga kriteria, yaitu mempunyai keahlian untuk melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya, melaksanakan suatu tugas atau profesi dengan menetapkan standar baku di bidang profesi yang bersangkutan dan menjalankan tugas profesinya dengan mematuhi etika profesi yang telah ditetapkan (Herawaty et al., 2008:3).
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa profesionalisme auditor adalah perilaku, tujuan, dan kualitas untuk membentuk orang-orang profesional yang berprofesi sebagai auditor independen yang menjunjung tinggi kode etik dan standar yang berlaku untuk mendukung profesinya.
Didalam SPAP terdapat beberapa tipe standar profesional yang terbagi menjadi enam tipe standar profesional yang dimodifikasikan dalam standar auditing, standar atestasi, standar jasa akuntansi dan review, standar jasa konsultasi, standar pengendalian mutu, dan aturan etika kompartemen akuntan publik.
3. Independensi
a. Pengertian Independensi
Mulyadi (2011:26) menyatakan bahwa Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya. Independensi adalah suatu keadaan atau posisi dimana seseorang tidak terikat ada pihak manapun, artinya kebaradaan subyek merupakan wujud sebuag kemandirian, yang tidak mengusung kepentingan organisasasi atau pihak tertentu. Independensi dalam kontek sosial juga merupakan hak subyek sebagai manusia, yang memiliki hak bebas dan merdeka tanpa tekanan maupun intervensi dari pihak lain. Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor dibayar oleh kliennya atas jasanya tersebut.
Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak di bawah pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil keputusan dan tindakan (Agose & Ardana, 2009:146). Auditor terkadang mengalami dilema etika yang melibatkan pihak antara nilai-nilai yang bertentangan, sehingga klien bisa saja mempengaruhi proses audit yang dilakukan auditor yakni dengan menekan auditor untuk mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan.
Tekanan klien merupakan suatu hal yang sudah menjadi resiko dari profesi akuntan publik. Tekanan klien dapat mempengaruhi kualitas audit dan opini audit yang dihasilkan. Auditor memegang tanggung jawab yang sangat besar untuk dapat dapat bertahan dalam tekanan klien. Auditor juga dituntut untuk tetap independen dan mempertahankan obyektifitasnya, melaporkan hasil temuan-temuan yang sesuai dengan yang ditemukan di lapangan.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa independensi auditor adalah sikap yang ada pada diri auditor yang bebas, tidak memihak, dan tidak berada dibawah tekanan dari pihak lain dalam mengambil sebuah keputusan, yang kemudian keputusan tersebut harus berdasarkan keadaan yang sebenarnya.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Independensi Auditor
Pada jurnal penelitian Suryo (2012) terdapat empat faktor yang mempengaruhi independensi auditor, yaitu sebagai berikut :
1) Ukuran Kantor Akuntan Publik
Penggolongan ukuran besar kecilnya kantor akuntan publik, dikatakan besar jika kantor akuntan publik tersebut berafiliasi atau mempunyai cabang dan kliennya perusahaan-perusahaan besar mempunyai tenaga profesional diatas 25 orang. Kantor Akuntan Publik dikatakan kecil jika tidak berafiliasi, tidak mempunyai cabang dan kliennya perusahaan kecil dan jumlah profesionalnya kurang dari 25 orang (Arens, et al, 2008). Kantor akuntan publik yang besar lebih
independen dibandingkan dengan kantor akuntan publik yang lebih kecil, alasannya bahwa kantor akuntan publik yang besar hilangnya satu klien tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatannya, sedangkan kantor akuntan publik yang kecil hilangnya satu klien adalah sangat berarti karena kliennya sedikit.
2) Lama Hubungan Audit
AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) menggolongkan lamanya penugasan audit seorang partner kantor akuntan publik pada klien ditentukan menjadi 5 tahun atau kurang dan lebih dari 5 tahun. Shockley (1981), menyatakan bahwa seorang partner yang memperoleh penugasan audit lebih dari lima tahun pada klien tertentu dianggap terlalu lama, sehingga dimungkinkan memiliki pengaruh yang negatif terhadap independensi auditor, karena semakin lama hubungan auditor dengan klien akan menyebabkan timbulnya ikatan emosional yang cukup kuat. Jika ini terjadi, maka seorang auditor yang seharusnya bersikap independen dalam memberikan opininya menjadi cenderung tidak independen.
3) Besarnya Biaya Jasa Audit
Biaya jasa audit yang besar berhubungan dengan makin tingginya risiko melemahnya independensi auditor. Alasannya kantor akuntan publik yang menerima audit fee yang besar merasa tergantung pada klien, meskipun laporan keuangan klien mungkin tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Kantor akuntan publik
yang menerima audit fee yang besar dari seorang klien takut kehilangan klien tersebut, karena akan kehilangan sebagian besar pendapatannya, sehingga perilaku mereka cenderung tidak independen. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi kualitas audit dari auditor tersebut.