terjadi di Indonesia khususnya daerah perdesaan. Apa motivasi masyarakat secara mandiri memperbaiki jalan berlubang dengan bekerja sendiri? Meski sebenarnya hal semacam ini terjadi juga di daerah perkotaan, fenomena yang terjadi di perdesaan lebih menarik.
Berdasarkan observasi dan wawancara dapat dikupas beta-pa menariknya fenomena mandiri masyarakat perdesaan. Mereka melakukannya secara bergotong royong dengan swadana. Tidak sedikit dana yang mereka keluarkan untuk itu.
Jalan merupakan infrastruktur yang mempunyai peran vital dalam kehidupan masyarakat. Peranan jalan penting dalam bidang apa saja. Jalan menghubungkan tempat satu ke tempat yang lainnya. Kualitas jalan yang baik akan memberikan kenyamanan yang lebih bagi penggunanya. Lantas bagaimana bila jalan ber-aspal yang seharusnya menjadi tempat lewat yang nyaman bagi para pengendara mengalami kerusakan dan tidak segera diper-baiki?
Di Desa Joho, Pracimantoro sebagian jalan beraspal meng-alami kerusakan. Kerusakan jalan banyak ditemukan dari Praci-mantoro bagian selatan hingga Desa Joho. Selain retak-retak,
FENOMENA WARGA DESA MANDIRI:
PERBAIKI JALAN BERASPAL
Wisnu Dwi Saputra SMA Negeri 1 Rongkop
jalanan beraspal juga berlubang. Karena tidak mendapat perhati-an, kerusakan semakin parah bahkan ukuran lubang jalan sema-kin besar. Lubang jalan yang parah bisa berdiameter kurang lebih satu meter dan kedalaman sepuluh hingga lima belas sentimeter. Saat musim hujan keadaan jalan semakin mengenaskan. Lubang jalan tergenangi air sehingga lubang tidak terlihat oleh pengguna jalan. Saat inilah sering terjadi kecelakaan. Para warga mengeluh karena keadaan jalan yang seperti ini membahayakan para pe-ngendara yang lewat. Keadaan inilah yang menyadarkan sebagi-an warga peduli menambal-nambal jalsebagi-an dengsebagi-an beton dsebagi-an dengsebagi-an alat seadanya.
Kemauan Masyarakat
Apa sebenarnya yang dimaui masyarakat? Bapak Misran sebagai salah satu warga yang bekerja dan mendukung gerakan ini menjawab beberapa pertanyaan penulis. Di antara pertanyaan yang dilontarkan sebagai berikut. (1) Apakah Bapak memper-baiki jalan ini atas kemauan bapak pribadi? (2) Apa yang mem-buat Bapak semangat memperbaiki jalan ini? (3) Apakah Bapak mendapat bayaran atau upah kerja? Pak Misran menjawab sambil tersenyum. “Jalan ini sangat penting bagi siapa saja yang lewat, dan saya rasa berbuat baik pada banyak orang adalah hal yang sangat baik. Kami mengerjakan perbaikan jalan dengan ikhlas dan atas dasar kemauan diri sendiri. Lagi pula kami tidak mengerja-kan perbaimengerja-kan jalan ini sendirian. Pekerjaan tidak terasa berat,” jawab Bapak Misran. Kemudian, untuk pertanyaan kedua ia men-jawab hal yang hampir serupa dengan men-jawaban awal, yaitu ia semangat karena ingin berbuat baik pada banyak orang. Untuk masalah upah, ia tidak memperolehnya. Ia pribadi juga tidak meng-harapkan upah sedikitpun. Seperti itulah salah satu tanggapan dari pekerja yang suka rela memperbaiki jalan aspal itu.
Masih ada beberapa pertanyaan yang belum sempat penulis tanyakan. Penulis pun mencoba bertanya kepada salah satu pe-kerja perbaikan jalan aspal yang lain. Penulis bertemu dengan
Bapak Kasito, beberapa pertanyaan yang saya sampaikan kepada beliau. (1) Apakah menurut bapak baik menambal jalan berlubang ini tanpa perintah dari atasan (pemerintah)? (2) Apakah bapak tidak merasa rugi dengan pembelian material-material yang di-gunakan untuk pembangunan ini? (3) Apakah bapak mendapat bantuan dana dari warga lain yang saat ini tidak ikut bekerja? Pertanyaan penulis yang terkesan kurang sopan ini mendapat tanggapan yang cukup baik dari Bapak Kasito. Beliau menjawab dengan panjang lebar. Baginya apa yang dilakukan dengan rekan-rekannya adalah hal yang baik. “Daripada menunggu perbaikan dari pemerintah yang sangat lama, lebih baik kami merperbaikinya sendiri. Lagi pula dengan perbaikan ini kami lebih merasa nyaman. Kami memang sangat berharap adanya perbaikan dari pemerin-tah. Namun, beberapa kali kami mengajukan permohonan, tidak ada respon. Merasa rugi sih tidak, kami membeli bahan material dengan dana bersama. Dana ini juga kami peroleh dari beberapa warga yang pro (sependapat) dengan kami. Dengan cara seperti ini justru kami dapat membuktikan bahwa kami sebagai warga biasa pun dapat mengatasi kerusakan sarana umum di daerah kami sendiri,” tuturnya.
Jawaban Bapak Kasito begitu tegas saya tambah tergugah. Apa yang dilakukan Bapak Kasito dan rekan-rekannya ternyata sangat baik. Di sisi lain, ada beberapa warga yang kurang setuju. Namun, hal itu wajar.
Pada hari lain penulis berdiskusi dengan teman sekelas yang kebetulan juga satu kampung. Dia merupakan salah satu dari beberapa warga desa yang sebenarnya tidak setuju dengan per-baikan jalan yang dilakukan oleh warga desa secara mandiri ter-sebut. Baginya perbaikan jalan macam yang dilakukan para warga memang bagus, dan itu membuktikan kemampuan para warga dalam pembangunan. Namun, yang membuat ia tidak setuju adalah perbaikan jalan dengan prasarana yang tidak memadai mengakibatkan perbaikan kurang maksimal. Jalan mudah rusak kembali. Selain itu, perbaikan jalan tersebut hanya akan
memper-parah kerusakan jalan dan semakin mebahayakan. “Saya sangat yakin maksud warga memperbaiki jalan dengan campuran semen dan pasir (beton) tersebut sebenarnya hanya untuk mendapat perhatian pemerintah,” ungkapnya. Sebagai seorang pelajar wajar pendapatnya kritis. Penulis menghargai pendapatnya.
Selain berdiskusi dengan teman sebaya penulis juga mencoba berbincang dengan ibu kepala desa. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya apa yang dilakukan para warga dalam memperbaiki jalan beraspal dengan beton ini kurang benar. Yang pertama, me-reka menggunakan bahan yang tidak standar. Meme-reka juga diang-gap mengabaikan perintah yang diberikan dari atasan. Seharusnya mereka hanya memberi tanda putih pada sekitar lubang. Tenaga kerja professional dari pemeintah akan memperbaikinya. Namun, warga kurang sabar atau mungkin sudah kecewa dengan lambat-nya perbaikan yang akan diberikan oleh pemerintah.
Perbaikan jalan yang dilakukan masyarakat secara mandiri merupakan cara yang baik. Meskipun demikian, masyarakat ha-rus tahu bahwa ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam setiap langkahnya. Menambal jalan beraspal dengan cara yang tidak standar justru akan mempercepat kerusakan jalan raya.
Wisnu Dwi Saputro. Alamat rumah di Joho, Pracimantoro, Wonogiri. Sekolah di SMAN 1 Rong-kop yang beralamat di Jalan Sadeng Km 25, Semugih, Rongkop, Gunungkidul. Jika ingin berkorespondensi dengan Wisnu DP. dapat menghubungi ponsel 085647539564 email [email protected]. Judul esai “Fenomena Warga Desa Mandiri Perbaiki Jalan Beraspal”
Apakah kalian pernah melihat rasulan? Atau baru mendengar-nya sekarang? Rasulan atau yang disebut bersih desa adalah acara yang diselenggarakan suatu desa setiap setahun sekali sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil panen di desa mereka.
Salah satu wilayah yang masih melestarikan rasulan adalah Kabupaten Gunungkidul. Di Kabupaten Gunungkidul, hampir semua desanya melakukan tradisi rasulan yang dilaksanakan pada hari tertentu sesuai dengan penanggalan Jawa. Ritualnya pun tidak selalu sama, seperti sesajian dan peralatan pada tiap-tiap daerah atau desa, karena mereka mempunyai kepercayaan yang berbeda pada leluhur yang membawa tradisi tersebut. Rasulan
memang merupakan tradisi yang paling menarik dan dinanti-nantikan oleh banyak orang. Banyak masyarakat dari luar daerah bahkan dari luar negeri datang untuk menyaksikannya. Dahulu tradisi rasulan itu sangat sakral, tetapi sekarang setelah terpenga-ruh oleh budaya modern, sudah berkurang kesakralannya dan maknanya pun berubah serta rawan sekali punah.
Makna Rasulan
Rasulan memiliki makna yang selalu dikaitkan dengan cerita Dwi Sri sebagai dewa para petani. Sebelum acara dimulai warga