• Tidak ada hasil yang ditemukan

Figur Kharismatik: Simbolisasi Ideologi Partai

Dalam dokumen SISTEM KEPARTAIAN INDONESIA (Halaman 150-153)

Tujuan Intruksional Bab 4

B. Dukungan Kelompok Keagamaan

3. Figur Kharismatik: Simbolisasi Ideologi Partai

Kedekatan secara emosional terhadap pemimpin, tokoh, atau figur nasional dari partai politik tertentu dalam pemilu pasca reformasi

251 Jaenuri, konflik elit di Partai Amanat Nasional, Tesis S-2, 2008.

cukup menonjol dalam kesuksesan partai meraih suara. Tokoh-tokoh yang relatif dikenal luas secara nasional adalah variabel yang relatif independen untuk menarik massa agar memilih partai di mana sang tokoh merupakan pimpinan di partai tersebut. Orang memilih Golkar, PDI-P, PKB, PAN, PPP, PBB, dan lain-lain bukan karena daya tarik partai-partai itu sendiri, tapi lebih karena ada tokoh-tokoh karismatis terlibat di pucuk kepemimpinan partai.

Pada pemilu 1999, Habibie yang merupakan putra Sulawesi telah medorong perolehan suara Golkar di Sulawesi dibanding dari daerah-daerah lain, termasuk dari Jawa. Keunggulan PDI-P atas partai-partai lain yang punya kesamaan historis dan sosiologis seperti PDI Budi Hardjono, PNI Supeni, PNI Marhaen, dan lain-lain juga karena karena ketokohan Megawati sebagai Putri Soekarno. Selain itu, Megawati merupakan tokoh yang sangat tidak diuntungkan sepanjang sejarah politik Orde Baru yang secara nasional mendapat ekspos cukup besar dari media massa.252 Kemenangan PAN relatif terhadap partai-partai Muslim modernis lain seperti PBB, PK, Partai Masyumi, sebagian besar dapat dijelaskan dengan kehadiran Amien Rais sebagai tokoh nasional di pucuk kepemimpinan partai tersebut.253 Keunggulan pengumpulan suara PKB dibanding partai-partai NU yang lain seperti PNU, PKU, dan Partai Suni, dan bahkan PPP sendiri, merupakan hasil dari ketokohan Gus Dur di partai tersebut, bukan karena faktor ke-NU-an itu sendiri.254

252 Pada masa pemerintahan Orde Baru, walaupun PDI masih diberi kesempatan untuk ikut maju sebagai konstestan pemilu, namun keberadaan PDI tidak boleh berkembang.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Orde Baru adalah dengan mengeliminir keberadaan keluarga Soekarno dalam kepengurusan, termasuk Megawati. Oleh karena itu, ketika megawati terpilih menjadi pimpinan PDI menggantikan ketua lama Soerjadi, maka pemerintah berusaha untuk menggagalkannya dengan cara membuat Munas tandingan.

Peristiwa yang terkenal proses penggusuran kepemimpinan Megawati, adalah peristiwa kudeta satu Juli yang dikenal dengan peristiwa “kuda tuli”. Dalam peristiwa ini menurut beberapa sumber telah terjadi korban yang cukup banyak, namun secara pasti angka berapa jumlah pastinya tidak ada data yang pasti.

253 Amin Rais adalah tokoh repormasi yang berjuang bersama Mahasiswa untuk menuntut Presiden Soeharto lengser. Setelah reformasi bergulir, Amin Rais memprakarsai lahirnya PAN. Karena figur Amin Rais inilah maka PAN dalam pemilu Legislatif 1999 punya dukungan yang cukup luas, khususnya di kalangan Santri Mordernis (Muhammadiyah) karena memang Amin Rais Merupakan mantan Pinpinan Pusat Muhammadiyah, selain bersatru sebagai dosen Ilmu Politik Jurusan Hubungan Internasional UGM.

254 Gus Dur terkenal sebagai tokoh populis, dan banyak yang lebih menyebutnya seniman ketimbang kyai. Selama memimpin NU, Gus Dur terkenal dengan gerakan-gerakan politiknya yang kerap mengundang konstroversi, termasuk menarik dukungannya terhadap PPP pada saat dipimpin Idham Khalid, dan bergandengan dengan Golkar. Menurut Bruinessen, pengaruh penggembosan NU atas perolehan suara PPP dalam pemilu ternyata

Sebab kalau ke-NU-an itu sendiri yang dominan, maka partai-partai NU yang lain juga akan mendapat suara yang cukup hingga PKB tidak keluar sebagai partai NU yang besarnya mencolok dibanding partai-partai NU yang lain. Begitu juga keberadaan Susilo Bambang Yudhoyono, yang merupakan figur sentral dari keberadaan Partai Demokrat.255

Karena Partai Demokrat sangat diwarnai oleh popularitas SBY, maka citra Partai Demokrat, sangat bergantung dari naik dan turunnya citra SBY. Hal ini sangat disadari oleh para kader Partai Demokrat di Malang Raya, dimana saat tahun 2004 orang terbius oleh yang namanya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Untuk mempertahankan suara yang diperolehnya, para kader Partai Demokrat berusaha mensosialisasikan siapa itu SBY, dan keberhasilan-keberhasilan pemerintah yang merupakan nilai positif bagi Presiden SBY, dengan harapan punya imbasan pada citra Partai Demokrat.

Keadaan tokoh atau figur populer ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan konsep kepemimpinan kharismatik, serta budaya paternalis di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa.256 Untuk beberapa pemilu ke depan, kekuatan partai politik di Tanah Air akan banyak ditentukan sejauh mana partai-partai tersebut mampu melakukan recruitment terhadap tokoh-tokoh yang populer di mata massa pemilih.

dramatis. Pada tiga pemilu sebelumnya, suara PPP tetap kurang lebih stabil. Pada pemilu 1971 keempat Partai Islam memperoleh 27,1 % (dua pertiga di antaranya untuk NU), pada tahun 1977 pun ada pertambahan tipis menjadi 27,8%, dan pada tahun 1982 turun sedikit.

Akan tetapi, pada tahun 1987, perolehan siara PPP menurun menjadi 16 %. Lebih jelasnya lihat Martin Van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana baru.

Yogyakarta : LKIS, 1994.

255 Kasus pemilu 2004, besarnya perolehan suara Partai Demokrat juga berkat dari figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai figur yang berlatar belakang militer dan juga punya hubungan dengan Sarwo Edi sebagai mertua, yang pernah berjasa dalam penumpasan gerakan 30.S/PKI. Bahkan dengan perolehan suara 7 % telah menghantarkan SBY menjadi Presiden terpilih langsung pertama pada pilpres 2004.

256 Studi yang paling awal mengenai masyarakat Jawa, khususnya masyarakat desa Jawa, menunjukan peran menentukan dari kepemimpinan dalam membentuk perilaku individu.

Karya Feith (1962-3), Geertz (1960a,1960b, 1965), Hofstede (1971), Robert Jay (1963, 1969), Kuncaraningrat (1967, 1985), dan Sartono Kartodirjo (1966, 1972, dan 1984) tidak hanya menunjukan satu kasus. Masyarakat Jawa umumnya memahami masyarakat dalam dua pembilahan, yaitu wong gedhe orang berpengaruh dan wong cilik orang pada umunya.

Wong gedhe umumnya dipahami sebagai pemimpin yang punya sudut pandang yang sama sebagaimana orientasi masyarakat kota, “orang pintar”, “pengambil keputusan yang epektif”

dan “mempunyai kewengan dalam kehidupan lokal.” Sementara wong cilik disisi lain merupakan pengikut yang hanya dipahami sebagai orang pasif dan masa bodoh, dan “orang yang tidak mengerti”. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam Geertz, Clifford, The Religion of Java (Glencoe : The Free Press, 1960), lihat juga Afan Gaffar, Javanese Voters, A Case Study of Election Under s Hegemonic Party System, (Jogjakarta: Gadjah Mada University Press, 1992).

Kemampuan elite partai untuk membangun citra positif terhadap tokoh partai dan kemampuan untuk mensosialisasikan citra yang positif ini secara massif lewat media massa merupakan poin krusial bagi perkembangan dan kekuatan partai saat ini.257 Ketokohan tetap merupakan faktor krusial, dan setidaknya dalam jangka pendek dan menengah ketokohan akan menjadi tulang punggung untuk menarik massa pemilih di Malang Raya, khususnya bagi partai yang tidak punya basis pemilih tradisional yang jelas.

Dalam dokumen SISTEM KEPARTAIAN INDONESIA (Halaman 150-153)