• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan negara tumbuh, realisasi belanja negara dan pembiayaan juga meningkat. Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah hingga akhir Juni 2021 mencapai Rp886,9 triliun atau mencapai 50,9 persen dari target pada APBN 2021.

Capaian Pendapatan Negara dan Hibah tersebut meningkat 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

Sampai dengan Juni 2021, penerimaan perpajakan mencapai Rp680,0 triliun. Penerimaan perpajakan tersebut tumbuh sebesar 8,8 persen (YoY). Realisasi penerimaan perpajakan didukung utamanya oleh penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Nonmigas, Pajak Pertambahan Nilai/Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN/PPnBM), dan Cukai.

PPh, kontributor terbesar penerimaan perpajakan, mengalami kontraksi sebesar 1,5 persen (YoY). Komponen utama PPh yaitu PPh Non-Migas mengalami kontraksi sebesar 2,9 persen (YoY). Walapun dalam zona kontraksi, capaian tersebut menunjukkan tren perbaikan berkelanjutan. Capaian PPh hingga Juni 2021 masih lebih baik dari Juni 2020 yang terkontraksi 12,5 persen dan kontraksi triwulan I tahun 2021 yang mencapai 13,0 persen.

Dari sisi jenis pajak, beberapa jenis pajak utama mencerminkan kegiatan ekonomi yang tumbuh positif hingga Juni 2021. Pertama, peningkatan terjadi pada PPh Pasal 26. Sampai dengan bulan Juni 2021, PPh pasal 26 terealisasi sebesar Rp32,0 trilun, tumbuh positif sebesar 17,9 persen (YoY). Perbaikan kinerja ini terutama didukung oleh peningkatan pembayaran dividen, bunga, royalti, dan imbalan jasa sejalan dengan meningkatnya ekspektasi

Tabel 18. Realisasi Komponen Pendapatan Negara dan Hibah

Pendapatan Negara dan

Hibah

Realisasi

(triliun Rp) Growth

Tabel 19. Realisasi Komponen Penerimaan Perpajakan Penerimaan

Perpajakan

Realisasi

(triliun Rp) Growth

51

ekonomi. Kedua, peningkatan terjadi pada PPh Final yang sampai dengan akhir Juni 2021 tumbuh positif sebesar 2,2 persen (YoY) dengan realisasi sebesar Rp56,5 triliun.

Capaian PPh Final tersebut ditopang oleh mulai pulihnya aktivitas ekonomi yang mendorong peningkatan kegiatan konstruksi dan permintaaan properti komersial dan residensial.

Selanjutnya, beberapa jenis pajak lainnya masih mengalami tekanan. PPh Pasal 21 mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada Juni 2021 dengan realisasi sebesar Rp76,3 triliun. Senada dengan PPh Pasal 21, PPh Badan dan PPh Pasal 22 impor juga mengalami kontraksi masing masing sebesar 7,3 persen dan 43,5 persen. Kontraksi yang cukup dalam pada PPh Pasal 22 impor karena adanya insentif fiskal bagi pengusaha yang terdampak pandemi Covid-19 khususnya pembebasan PPh Pasal 22 Impor sejak April 2020, yang pada tahun 2021 ini terdapat perluasan Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) yang dapat memanfaatkan insentif melalui PMK No.

9/PMK.03/2021.

Hingga bulan Juni 2021, komponen penerimaan perpajakan yang tumbuh positif yaitu PPN/PPnBM tumbuh 14,8 persen (YoY), PBB dan Pajak Lainnya tumbuh 22,7 persen (YoY), Cukai tumbuh 21,2 persen (YoY), dan Bea Keluar tumbuh 887,7 persen (YoY).

PPN/PPnBM, realisasinya ditopang utamanya oleh penerimaan PPN, terutama PPN Dalam Negeri yang tumbuh sebesar 8,7 persen (YoY), dan PPN Impor yang tumbuh sebesar 20,9 persen (YoY). Indikasi tersebut memberikan sinyal ekonomi mulai bergerak, terutama terlihat dari peningkatan mobilitas masyarakat hingga Juni 2021.

Kinerja penerimaan cukai hingga Juni 2021 tumbuh 21,2 persen (YoY). Pertumbuhan tersebut utamanya dipengaruhi oleh penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang tumbuh sebesar 21,4 persen (YoY). Selanjutnya, kepabeanan didukung oleh capaian bea keluar yang meningkat 887,7 persen (YoY) dibandingkan Juni 2020, terutama disebabkan peningkatan produksi hasil tambang tembaga dan lonjakan harga komoditas kelapa sawit (COP) dan produk turunannya.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) hingga Juni 2021 terealisasi sebesar Rp206,9 triliun atau sebesar 69,4 persen APBN 2021.

Capaian ini meningkat sebesar 11,4 persen (YoY) dibandingkan Juni 2020.

Tabel 20. Realisasi Komponen PNBP Komponen PNBP

APBN 2021

Realisasi

Juni Growth YoY (triliun Rp) (%)

PNBP 298,2 206,9 11,4

Penerimaan SDA 104,1 59,7 9,6

Pendapatan

KND 26,1 15,9 -65,6

PNBP Lainnya 109,2 70,9 30,2

Pendapatan BLU 58,8 60,3 97,4

Sumber: Kementerian Keuangan

52

Pertumbuhan PNBP hingga bulan Juni 2021 dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan tren kenaikan harga komoditas global.

Realisasi Pendapatan Sumber Daya Alam (SDA) sampai dengan Juni 2021 mencapai sebesar Rp59,7 triliun atau 57,4 persen dari target APBN 2021. Realisasi tersebut terdiri atas Pendapatan SDA Migas sebesar Rp39,9 triliun dan Pendapatan SDA Nonmigas sebesar Rp19,8 triliun. Realisasi Pendapatan SDA tersebut tumbuh sebesar 9,6 persen dibandingkan Juni 2020, terutama dipengaruhi kenaikan harga komoditas minyak bumi, mineral, dan batubara.

Pendapatan dari Kekayaan Negara Dipisahkan (KND), realisasinya sampai dengan Juni 2021 mencapai sebesar Rp15,9 triliun atau 60,9 persen dari target APBN 2021. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020, realisasi tersebut turun sebesar 65,6 persen. Penurunan tersebut antara lain disebabkan setoran dividen BUMN Perbankan yang menurun dari sebesar Rp24,7 triliun pada tahun 2020 menjadi sebesar Rp15,9 triliun pada tahun 2021, sebagai dampak dari turunnya kinerja keuangan BUMN akibat pandemi Covid-19. Di samping itu, tidak adanya setoran PNBP dari sisa surplus BI pada tahun 2021 memberikan pengaruh signifikan pada penurunan pendapatan KND.

Selanjutnya, realisasi PNBP Lainnya mencapai Rp70,9 triliun, tumbuh sebesar 30,2 persen (YoY). Pertumbuhan PNBP Lainnya utamanya didukung dari peningkatan PNBP Layanan K/L, utamanya dari kenaikan pendapatan penggunaan spektrum frekuensi radio, layanan agrarian, layanan KUA dan layanan kepolisian. Selain itu, realisasi PNBP Lainnya juga didukung oleh penerimaan BUN antara lain pendapatan premium obligasi dan pendapatan penempatan uang negara pada BI dan Bank Umum. Dari sisi PNBP Badan Layanan Umum (BLU), hingga Juni 2021 terealisasi sebesar Rp60,3 triliun atau tumbuh 97,4 persen (YoY), terutama disumbang dari BLU rumpun pengelolaan dana pada perkebunan kelapa sawit, rumpun pendidikan, dan rumpun barang dan jasa lainnya, terutama BLU di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dari sisi belanja negara, hingga Juni 2021, belanja negara menunjukkan peningkatan.

Realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.170,1 triliun yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat (BPP) yang mencapai Rp796,3 triliun dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang mencapai Rp373,9 triliun. Belanja Pemerintah Pusat, terjadi peningkatan sebesar 19,1 persen dibandingkan dengan periode Juni 2020.

Peningkatan BPP dipengaruhi oleh pertumbuhan belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang tumbuh 28,3 persen (YoY) dan belanja non-K/L yang tumbuh 8,9 persen (YoY).

Realisasi Belanja K/L hingga Juni 2021 mencapai Rp449,6 triliun dan mengalami pertumbuhan sebesar 28,3 persen (YoY). Pertumbuhan belanja K/L teserbut

53

dipengaruhi oleh peningkatan realisasi pada komponen belanja K/L, terutama belanja modal yang mencapai Rp71,6 triliun atau tumbuh sebesar 90,2 persen (YoY).

Realisasi Bantuan Sosial (Bansos) sampai dengan Juni 2021 mencapai Rp76,0 triliun atau sekitar 48,6 persen dari pagu APBN 2021.

Realisasi Bansos tersebut menurun sebesar 23,6 persen (YoY) dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Realisasi tersebut dimanfaatkan untuk penyaluran program-program Bansos reguler antara lain seperti penyaluran bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar dan Program KIP Kuliah, serta bantuan akses layanan kesehatan melalui bantuan iuran bagi PBI program JKN. Selanjutnya, realisasi Bansos juga digunakan untuk mendukung program pemulihan dampak Covid-19 berupa bantuan tunai bersyarat melalui Program Keluarga Harapan, bantuan pangan melalui Program Kartu Sembako, dan bantuan tunai melalui Program Bantuan Sosial Tunai (BST).

Peningkatan realisasi belanja K/L dari perspektif organisasi, sampai dengan Juni 2021 disumbang oleh 15 K/L pagu terbesar yang mencapai 88,0 persen dari total realisasi belanja K/L.

Realisasi tersebut utamanya berfokus pada K/L di bidang perlindungan sosial dan kesehatan, yakni Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan, antara lain untuk pencairan PKH dan Kartu Sembako serta pelayanan kesehatan Rumah Sakit dan penyediaan obat dan vaksin. Peningkatan kinerja belanja K/L juga didorong oleh K/L bidang infrastruktur seperti Kementerian PUPR, antara lain untuk pembangunan jalan, bendungan, dan jaringan irigasi.

Gambar 26. Perkembangan Komponen Belanja Negara

Sumber: Kementerian Keuangan

Tabel 21. Realisasi Komponen Belanja Pemerintah Pusat Sumber: Kementerian Keuangan | *triliun Rp

Belanja Pemerintah

54

Untuk Belanja Pegawai, realisasinya sampai dengan Juni 2021 mencapai sebesar Rp123,64 triliun atau meningkat sebesar 8,4 persen (YoY). Realisasi tersebut digunakan untuk pembayaran Gaji dan Tunjangan ASN/TNI/Polri termasuk pembayaran THR dan gaji ke-13. Di sisi lain, realisasi belanja pegawai Non-K/L hingga Juni 2021 mencapai Rp86,9 triliun, atau meningkat sebesar 11,4 persen dibandingkan periode Juni 2020.

Realisasi Belanja Barang sampai dengan Juni 2021 mencapai Rp178,3 triliun, meningkat 79,6 persen (YoY). Peningkatan tersebut antara lain disumbang oleh pelaksanaan program-program, seperti dukungan penanganan kesehatan, pelaksanaan vaksinasi, pembayaran biaya klaim perawatan pasien Covid-19, dan bantuan pelaku usaha mikro, meskipun ditengah-tengah kebijakan Pemerintah untuk pembatasan kegiatan yang ketat pada awal tahun 2021.

Realisasi Belanja Modal sampai dengan Juni 2021 mencapai Rp71,6 triliun atau 29,0 persen terhadap pagu APBN 2021, tumbuh signifikan 90,2 persen (YoY). Pertumbuhan realisasi belanja modal tersebut utamanya dipengaruhi oleh percepatan pelaksanaan proyek infrastruktur dasar dan infrastruktur konektivitas, serta pengadaan peralatan/mesin.

Selanjutnya, realisasi Belanja Non-K/L hingga Juni 2021 mencapai Rp346,7 triliun (37,6 persen terhadap pagunya), tumbuh sebesar 8,9 persen (YoY). Untuk Belanja Pegawai Non-K/L sampai dengan Juni 2021 yang antara lain pemenuhan kewajiban Pemerintah terhadap para pensiunan PNS/TNI/Polri, telah terealisasi sebesar Rp86,9 triliun, tumbuh 11,4 persen (YoY). Peningkatan ini terutama disebabkan oleh pembayaran tunjangan pensiun ke-13 pada tahun 2021 telah dilakukan pada bulan Juni 2021, sedangkan pada tahun 2020 dilakukan pada bulan Agustus.

Selanjutnya, subsidi sampai dengan Juni 2021 telah terealisasi sebesar Rp79,9 triliun atau tumbuh sebesar 12,8 persen (YoY). Peningkatan ini terutama disebabkan realisasi subsidi energi yang mencapai Rp59,5 triliun, terutama dipengaruhi realisasi subsidi listrik yang mencapai Rp25,2 triliun, meningkat sebesar 10,0 persen (YoY), serta subsidi minyak tanah dan subsidi LPG 3 kg yang mencapai Rp34,3 triliun atau meningkat 35,3 persen (YoY). Selain itu, realisasi penyaluran subsidi nonenergi sampai Juni 2021 mencapai sebesar Rp20,4 triliun, atau 31,4 persen dari pagu APBN 2021 yang terdiri dari subsidi kredit program sebesar Rp9,4 triliun, subsidi pupuk sebesar Rp5,2 triliun, subsidi pajak (PPhDTP) sebesar Rp5,0 triliun, dan subsidi PSO sebesar Rp769,7 miliar.

Selanjutnya, TKDD sampai dengan Juni 2021 terealisasi sebesar Rp373,9 triliun atau 47,0 persen dari Pagu APBN 2021. Realisasi tersebut lebih rendah 6,8 persen (YoY),

55

terutama disebabkan oleh realisasi DAU dan Dana Desa yang lebih rendah masing-masing sebesar Rp20,1 triliun dan Rp13,0 triliun.

Dana Alokasi Umum (DAU) hingga Juni 2021 telah disalurkan sebesar Rp206,4 triliun atau mencapai 52,9 persen dari pagu APBN 2021. Realisasi tersebut memperlihatkan adanya penurunan sebesar 8,9 persen (YoY) yang disebabkan beberapa daerah belum dapat memenuhi persyaratan penyaluran DAU sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.07/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 139/PMK.07/2019 Tentang Pengelolaan DBH, DAU dan Dana Otsus dan PMK Nomor 17/PMK.07/2021 tentang Pengelolaan TKDD Tahun Anggaran 2021 Dalam Rangka Mendukung Penanganan Pandemi Covid-19 dan Dampaknya.

Realisasi penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) sampai dengan Juni 2021 mencapai sebesar Rp44,4 triliun atau 43,5 persen dari pagu APBN 2021. Realisasi tersebut meningkat sebesar 6,7 persen (YoY) yang dipengaruhi adanya percepatan penyaluran Kurang Bayar DBH Pajak dan SDA sebesar Rp19,5 triliun. Percepatan tersebut diharapkan dapat memberikan penguatan bagi ruang fiskal daerah.

Tabel 22. Komposisi Transfer ke Daerah dan Dana Desa

Keterangan Juni 2020 Juni 2021

Alokasi Realisasi Alokasi Realisasi % APBN

Transfer Ke Daerah 692,7 360,7 723,5 346,6 47,9

Dana Perimbangan 653,4 345,3 688,7 333,0 48,4

Dana Bagi Hasil 86,4 41,6 102,0 44,4 43,5

Dana Alokasi Umum 384,3 226,5 390,3 206,4 52,9

Dana Transfer Khusus 182,6 77,2 196,4 82,2 41,8

Dana Otonomi Khusus dan

Dana Keistimewaan DIY 20,9 6,9 21,3 6,9 32,4

Dana Insentif Daerah 18,5 8,5 13,5 6,8 50,0

Dana Desa 71,2 40,0 72,0 27,2 37,9

Total 763,9 400,9 795,5 373,9 47,00

Sumber: Kementerian Keuangan | dalam triliun Rp

Selanjutnya, Dana Transfer Khusus (DTK) sampai dengan Juni 2021, realisasi mencapai Rp82,2 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan DAK Non Fisik. Realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik mencapai sebesar Rp4,8 miliar atau 7,4 persen dari pagu. Realisasi tersebut lebih rendah 9,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Rp5,3 triliun. Kondisi ini disebabkan oleh kepatuhan pemerintah daerah dalam menyampaikan persyaratan penyaluran, juga karena kebijakan pada tahun 2020, yaitu: (1) percepatan penyaluran DAK Fisik Bidang Kesehatan terkait kegiatan pencegahan dan/ atau penanganan

56

Covid-19; dan (2) percepatan penyampaian kontrak kegiatan DAK Fisik dalam aplikasi OMSPAN sesuai dengan Surat Menteri Keuangan tentang Penghentian Barang/Jasa DAK Fisik TA 2020. Kebijakan tersebut tidak berlaku pada tahun 2021 dan penyaluran kembali secara proses normal sebagaimana diatur dalam PMK No. 130/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan DAK Fisik.

Selanjutnya, penyaluran DAK Nonfisik hingga Juni 2021 telah terealisasi sebesar Rp77,3 triliun atau 59,0 persen dari pagu APBN 2021. Realisasi tersebut mengalami kenaikan sebesar 7,5 persen (YoY), yang dipengaruhi oleh Dana Tunjangan Profesi Guru PNSD, yang mengalami peningkatan dari Rp28,04 triliun pada tahun 2020, menjadi Rp30,33 triliun pada tahun 2021. Adapun jenis DAK Nonfisik yang belum disalurkan yaitu Dana Bantuan Biaya Layanan Pengelolaan Sampah (BLPS) dikarenakan masih menunggu rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Penyaluran Dana Desa hingga Juni 2021 terealisasi sebesar Rp27,2 triliun atau 37,8 persen dari pagu APBN 2021. Jumlah tersebut lebih rendah sebesar 32,3 persen (YoY) yang disebabkan oleh adanya perbedaan pola penyaluran Dana Desa dimana pada TA 2020 Pemerintah memberikan relaksasi penyaluran baik dari sisi prosedur maupun persyaratan penyaluran. Selain itu, Dana Desa juga di-earmaked penggunaannya untuk jaring pengaman sosial dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa kepada keluarga miskin atau tidak mampu di desa yang tidak menerima program bantuan sosial dari Pemerintah.

Berdasarkan capaian Pendapatan dan Belanja Negara tersebut, hingga Juni 2021, defisit anggaran mencapai Rp283,2 triliun atau sekitar 1,7 persen terhadap PDB. Besaran tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 yang mencapai 1,6 persen PDB. Selanjutnya, realisasi keseimbangan primer pada Juni 2021 berada pada posisi negatif Rp116,3 triliun dari yang sebelumnya sebesar negatif Rp99,6 triliun pada Juni 2020. Pembiayaan anggaran, hingga Juni 2021 mencapai Rp419,2 triliun, atau terdapat kelebihan pembiayaan sebesar Rp135,9 triliun.

Jumlah tersebut lebih rendah dari realisasi kelebihan pembiayaan periode yang sama tahun 2020 yang mencapai Rp159,0 triliun.

Gambar 27. Perkembangan Realisasi Defisit APBN

57

Dengan kondisi defisit anggaran tersebut, posisi utang pemerintah per akhir Juni 2021 mencapai sebesar Rp6.554,6 triliun, dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB diperkirakan sebesar 41,4 persen. Secara nominal, posisi utang Pemerintah Pusat mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode Juni 2020. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi Indonesia yang masih berada dalam fase pemulihan akibat perlambatan ekonomi yang terjadi di masa pandemi Covid-19.

Pembiayaan anggaran secara neto hingga Juni 2021 mencapai Rp419,2 triliun atau 41,7 persen dari pagu APBN 2021. Realisasi tersebut meningkat sebesar 0,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Realisasi pembiayaan anggaran tersebut utamanya bersumber dari pembiayaan utang yang mencapai Rp443,0 triliun, terdiri dari Surat Berharga Negara (neto) sebesar Rp464,0 triliun dan Pinjaman (neto) sebesar negatif Rp20,9 triliun.

Realisasi pembiayaan utang tersebut termasuk pembelian SBN oleh Bank Indonesia sesuai SKB I yang mencapai Rp120,1 triliun, terdiri dari SUN sebesar

Rp79,7 triliun dan SBSN sebesar Rp40,5 triliun. Secara umum, kebutuhan pembiayaan utang melalui penerbitan SBN menurun sebagai dampak dari penurunan nominal defisit, optimalisasi penggunaan SAL, dan penyesuaian utang jatuh tempo.

Selanjutnya pemerintah juga telah merealisasikan pembiayaan investasi berupa pengeluaran investasi sebesar Rp25,6 triliun yang merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional. Realisasi pembiayaan investasi sampai dengan 30 Juni 2021 mencapai Rp25,6 triliun atau 13,9 persen dari pagu APBN 2021.

Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi

pada periode yang sama tahun 2020 yang sebesar Rp6,0 triliun. Peningkatan ini Gambar 28. Perkembangan Utang

Pemerintah Pusat

Sumber: Kementerian Keuangan

Tabel 23. Perkembangan Komponen Pembiayaan Sumber: Kementerian Keuangan | *triliun Rp

4.418,3 4.786,6

2018 2019 2020 Juni 2021

Rp Triliun Persen PDB

58

dipengaruhi oleh realisasi investasi kepada BLU yang cukup besar dan realisasi investasi pemerintah.

Tabel 24. Rincian Realisasi Anggaran PC-PEN 2021 Klaster

Realisasi Audited

2020

Alokasi 2021

Realisasi s.d.

30 Juli

% Pagu 2021

Kesehatan 62,7 215,0 65,6 30,5

Perlindungan Sosial 216,6 186,6 91,8 49,2 Dukungan UMKM

dan Koperasi

173,0 162,4 52,4 32,3

Insentif Usaha 58,4 62,8 48,5 77,0

Program Prioritas 65,2 117,9 47,3 40,1

Total 575,9 744,8 305,5 41,0

Sumber: Kementerian Keuangan | dalam triliun Rp

Dari sisi anggaran penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Pemerintah telah menganggarkan sebesar Rp744,8 triliun pada tahun 2021 yang terbagi ke dalam 5 klaster, yaitu kesehatan sebesar Rp215,0 triliun, perlindungan sosial sebesar Rp186,6 triliun, insentif usaha sebesar Rp62,8 triliun, dukungan UMKM dan korporasi sebesar Rp162,4 triliun, dan program prioritas sebesar Rp117,9 triliun.

Alokasi tersebut meningkat sebesar 29,3 persen dari realisasi tahun 2020 sebesar Rp575,9 triliun.

Sampai dengan 30 Juli 2021, realisasi program penanganan Covid-19 dan PEN mencapai Rp305,5 triliun atau 41,0 persen dari pagu. Rincian realisasi tersebut mencakup klaster kesehatan sebesar Rp65,6 triliun terutama untuk mendukung pelaksanaan 3T dan 3M, bantuan Iuran JKN, serta insentif perpajakan kesehatan.

Klaster perlindungan sosial terealisasi sebesar Rp91,8 triliun, terutama untuk program Bansos untuk keluarga miskin antara lain untuk Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, dan Bansos Tunai, serta program Bansos lainnya, yaitu BLT Desa, Kartu Pra Kerja, dan bantuan kuota internet untuk peserta dan tenaga didik.

Selanjutnya, realisasi program prioritas ialah sebesar Rp47,3 triliun yang digunakan untuk program padat karya, pariwisata, ketahanan pangan, ICT dan pengembangan kawasan strategis. Selain itu, realisasi anggaran dukungan UMKM dan korporasi ialah sebesar Rp52,4 triliun terutama berasal dari Bantuan Pemerintah untuk Usaha Mikro (BPUM), pemberian IJP UMKM dan korporasi untuk KMK dijamin, serta penempatan dana pada perbankan. Terakhir, insentif kepada dunia usaha telah diberikan berupa insentif atas PPh21 DTP, PPh final UMKM DTP, Pembebasan PPh 22 Impor, Pengurangan Angsuran PPh 25, Pengembalian Pendahuluan PPN, dan Penurunan Tarif PPh Badan, dan pemberian insentif usaha, dengan realisasi sebesar Rp48,5 triliun.

59

Tabel 25. Realisasi APBN s.d 30 Juni 2020 dan 2021 (triliun rupiah)

2020 2021

Uraian

APBN Perpres 72/2020

Realisasi s.d.

30 Juni % APBN APBN Realisasi s.d.

30 Juni % APBN

A Pendapatan Negara 1.699,9 812,6 47,8 1.743,7 886,9 50,9

I. Pendapatan Dalam Negeri 1.698,6 810,7 47,7 1.742,8 886,9 50,9

1. Penerimaan Perpajakan 1.404,5 625,0 44,5 1,444,6 680,0 47,1

2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 294,1 185,7 63,1 298,2 206,9 69,4

II. Hibah 1,3 1,9 143,5 0,9 0,0 2,1

B. Belanja Negara 2.739,2 1.069,7 39,1 2.750,0 1.170,1 42,6

I. Belanja Pemerintah Pusat 1.975,2 668,8 33,9 1.954,6 796,3 40,7

1. Belanja K/L 836,4 350,4 41,9 1.032,0 449,6 43,6

2. Belanja Non K/L 1.138,9 318,4 28,0 922,6 346,7 37,6

II. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 763,9 400,9 52,5 795,5 373,9 47,0

1. Transfer ke Daerah 672,9 360,7 52,1 732,5 346,6 47,9

2. Dana Desa 71,2 40,2 56,5 72,0 27,2 37,8

C. Keseimbangan Primer -700,4 -99,6 14,2 -633,1 -116,4 18,4

D. Surplus/(Defisit) Anggaran (A-B) -1.039,2 -257,2 24,7 -1.006,4 -283,2 28,1

% Surplus (Defisit) Anggaran thd PDB -6,34 -1,67 26,3 -5,70 -1,72 30,2

E. Pembiayaan Anggaran 1.039,2 416,6 40,1 1.006,4 419,2 41,7

al. Pembiayaan Utang 1.220,5 421,4 34,5 1.177,4 443,0 37,6

Sumber: Kementerian Keuangan, 2021

60

2.4 Moneter dan Jasa Keuangan

Dalam dokumen PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA DAN DUNIA (Halaman 52-62)

Dokumen terkait