KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka
2) KOMPENSASI NONFINANSIAL
2.1.2 Fleksibilitas kerja
Fleksibilitas jam kerja ditandai dengan tiga prinsip kerja, yaitu: 1) kontrak fleksibilitas yaitu mengenai kontrak kerja, 2) spasial fleksibilitas yaitu kontrol pekerja dan pilihan mengenai lokasi pekerjaan mereka, dan 3) fleksibilitas sementara yaitu pilihan mengenai jam kerja (Kossek, Ozeki, & Hills, 2008). Pandangan mengenai fleksibilitas jam kerja berbeda antara perusahaan dan karyawan. Adanya fleksibilitas jam kerja perusahaan berharap karyawannya mampu beradaptasi dengan perubahan karena tuntutan pasar. Sedangkan karyawan melihat fleksibilitas jam kerja sebagai alat untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan sosial (Costa & Sartori, 2006).
Dalam penelitian ini, difokuskan hanya pada pandangan individu atau karyawan terhadap pengaturan jam kerja fleksibel. Individu tersebut merupakan seseorang yang bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangga dengan kehidupan di tempat kerja. Hal tersebut merupakan salah satu keuntungan dari pengaturan jam kerja fleksibel karena karyawan dapat menyesuaikan dan menyeimbangkan antara kehidupan rumah tangga dengan kehidupan di tempat kerja (Hall & Parker, 2003).
Dampak negatif dari fleksibilitas jam kerja ini salah satunya adalah menurunnya kemampuan dan kekuatan pada pekerja tertentu, seperti pada karyawan yang lebih tua yang kemampuannya mungkin tidak sama dengan karyawan yang lebih muda. Stress, waktu tidur, dan kesehatan mental merupakan dampak lain dari fleksibilitas jam kerja bagi karyawan (Costa & Sartori, 2006). Sedangkan dampak positifnya adalah fleksibilitas jam kerja diduga mampu mengurangi konflik antara pekerjaan-keluarga yang biasa terjadi di lingkungan kerja (Hatta, 2011).
Sejumlah penelitian di bidang akuntansi menemukan pentingnya penggunaan fleksibilitas jam kerja dalam mengatasi konflik pekerjaan-keluarga. Almer dan Kaplan (2002). menemukan hubungan yang kuat antara penggunaan fleksibilitas jam kerja dengan kepuasan kerja yang semakin tinggi dan semakin menurunnya keinginan untuk keluar dari perusahaan. Penelitian lanjutan dilakukan oleh Pasewark dan Victor (2006) menunjukkan penggunaan fleksibilitas jam kerja terbukti memiliki hubunga langsung antara konflik pekerjaan-keluarga dan keinginan untuk keluar dari pekerja.
2.1.3 Kinerja Karyawan a. Pengertian Kinerja
Kinerja berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, unjuk kerja atau penampilan kerja (D.R. Rahadi, 2010: 1). Sebagaimana dikemukakan oleh Anwar P. Mangkunegara (2004: 67) bahwa istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau
prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Anwar P. Mangkunegara (2004: 67) menyatakan bahwa pada umumnya kinerja dibedakan menjadi dua, yaitu kinerja individu dan kinerja organisasi. Kinerja individu adalah hasil kerja karyawan baik kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan, sedangkan kinerja organisasi adalah gabungan dari kinerja individu dengan kinerja kelompok.
Kinerja mengacu pada kadar pencapaian tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan (Simamora, 2006: 339). Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. Sedangkan menurut Sedarmayati (2001), kegiatan yang paling lazim dinilai dalam organisasi adalah kinerja seseorang, yaitu bagaimana ia melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan suatu jabatan, pekerjaan, atau peranan dalam organisasi. Kinerja bisa diketahui jika individu atau kelompok individu tersebut mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini berupa tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai. Tanpa ada tujuan atau target, kinerja seseorang atau organisasi tidak mungkin dapat diketahui karena tidak ada tolok ukurnya. Melalui beberapa pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh individu ataupun kelompok dalam suatu organisasi, dalam menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab yang diberikan organisasi, melalui kriteria-kriteria atau standar kinerja karyawan yang berlaku dalam organisasi, dalam upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan.
b. Pengukuran Kinerja
Tidak semua kriteria pengukuran kinerja dipakai dalam penilaian kinerja karyawan, tentu hal ini harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan dinilai. Terdapat tiga variabel penting yang harus
dipertimbangkan dalam pengukuran kinerjanya yaitu (input), perilaku (proses), dan hasil kerja (output) (Mahmudi, 2005).
1) Kinerja berbasis pelaku
Lebih menekankan pada pegawai pelaksana kinerja. Pengukuran kinerja difokuskan pada pelaku dengan atribut-atribut, karakteristik dan kualitas personal yang dipandang sebagai faktor utama kinerja. 2) Kinerja berbasis perilaku
Tidak semata-mata berfokus pada faktor pegawai, namun berkonsentrasi pada perilaku yang dilakukan seseorang dalam melakukan kerja.
3) Kinerja berbasis hasil kerja
Kinerja berbasis hasil kerja difokuskan pada pengukuran hasil. Selain memfokuskan pada hasil juga harus tetap memperhatikan faktor perilaku dan kualitas personal.
Anwar P. Mangkunegara (2006) menyatakan, kinerja dapat diukur dengan mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut:
1) Kualitas yaitu mutu pekerjaan sebagai output yang dihasilkan.
2) Kuantitas yaitu mencakup jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan dalam kurun waktu yang ditentukan.
3) Ketetapan waktu, menyangkut tentang kesesuaian waktu yang telah direncanakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yoga Pratama (2014), variabel kinerja karyawan diukur menggunakan indikator ukuran-ukuran kinerja karyawan yang dikemukakan oleh D.R Rahadi (2010: 36) yaitu sebagai berikut:
1) Quantity of work
Jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode yang ditentukan. 2) Quality of work
Kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
3) Job Knowledge
Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilannya. 4) Creativeness
Keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain atau sesama anggota organisasi.
6) Dependability
Kesadaran untuk dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.
7) Initiative
Semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
8) personal Qualities
Menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramahtamahan, dan integritas pribadi.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
Mahmudi (2005) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah sebagai berikut:
1) Faktor personal/individual, meliputi: pengetahuan, ketrampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu.
2) Faktor kepemimpinan, meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan, semangat, arahan dan dukungan yang diberikan manajer dan team
leader.
3) Faktor tim, meliputi: kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam suatu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan dan keeratan tim.
4) Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastuktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja dalam organisasi.
5) Faktor kontekstual (situasional), meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal. Setiap faktor-faktor tersebut harus dipahami dan diperhatikan oleh seluruh anggota organisasi baik atasan maupun karyawan, agar kinerja yang baik dari setiap anggota organisasi dapat terwujud sehingga akan berdampak pada tercapainya target dan tujuan organisasi.